NovelToon NovelToon
SURVIVAL DI PLANET SUBIRU

SURVIVAL DI PLANET SUBIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Ponny Sagita

10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LAWAN PERTAMA

...----------------...

"Celia, apakah system semesta melakukan kesalahan saat memilih calon penyintas?"

"Naya, tidak ada yang salah. 4 faktor yang menjadi dasar memilih calon penyintas adalah faktor paling umum yang ditentukan system. Tanpa melihat sifat dan perilaku lain dari calon penyintas tersebut.

Kecerdasan dapat dilihat dari IQ, EQ dan SQ. System tidak memandang mana yang lebih dominan.

Fisik seorang penyintas diukur dari tubuh yang proporsional, sehat dan kuat. System juga tidak memandang mana yang lebih dominan.

Mental seorang penyintas dilihat dari kemampuan mengelola stres, menjaga suasana hati dan berinteraksi dengan yang lainnya. Bukan bagaimana caranya, karena itu pasti dipengaruhi kompleksitas manusia.

Adaptasi sendiri, tentang kemampuan seseorang dapat berbaur ke dalam lingkungan atau budaya lainnya, atau menciptakan lingkungan maupun budaya baru. Juga bukan dilihat bagaimana caranya.

Setiap mahluk hidup memiliki insting naya. Insting untuk bertahan hidup. Tapi cara yang dipilih bisa berbeda beda. Apakah cara itu salah atau benar, disini tidak ada hukum dan moral yang mengikatnya. Semua dimulai dari nol. Dari saat manusia berdiri sendiri."

Aku mulai memahami pola yang dipakai system semesta.

Mencatatnya dalam jurnalku.

...----------------...

"Naya, kemampuanmu mengelola multi skill dan menciptakan senjata baru yaitu cambuk energi, system memberikan hadiah khusus. 50.000 poin system."

...----------------...

Malam berlalu dengan tenang. Setenang sebelum badai datang.

...----------------...

8/1.825, planet subiru, pulau tropis25.

Alarm hp 05.30 wib mengikuti waktu kota Jaya.

Its the day.

Tantangan yang sebenar nya dimulai hari ini.

Penentuan yang sebenarnya dimulai dari sekarang.

Apakah jumlah 10juta manusia di planet subiru akan mulai berkurang dari hari ini, atau belum.

"Celia, apakah 2 box bantuan masih aman untuk diambil?"

"Masa perlindungan masih ada naya, namun box bantuan yang disediakan system berada pada titik rawan. Kamu masih aman untuk mencarinya namun belum tentu bisa mengambilnya."

Rutinitas pagiku tetap seperti biasa.

Membersihkan diri.

Duduk diam sambil sarapan instan.

Berolah raga selama dua jam. Kali ini aku memilih tidak berkeliling pulau, cukup di dalam wilayahku saja. Memantapkan bela diri tangan kosong, senjata kecil, senjata panjang, hingga senjata jarak jauh.

Sembari pendinginan, aku berjalan di batas wilayahku. Mengamati sekitarku. Menggunakan insting dan energi, menemukan beberapa mahluk anomali mengintai dari rerimbunan.

Aku tersenyum kecil. Mari kita lihat, siapa yang bakal membunuh dan dibunuh.

Notif chat mas ben.

- Ben : mahluk mahluk itu mulai bermunculan sayang.

- Aku : iya mas. Beberapa sudah ngintipin dari dalam hutan. Aku menemukan 2 sedang mengincarku.

- Ben : pastikan wilayahmu aman ya nayku.

- Aku : iya masku. Semalam sudah kuperkuat, bahkan menakut nakuti mereka dengan energiku.

- Ben : pintar sayangku. Sebentar lagi masa perlindungan habis. Ayo kita semangat tempur.

- Aku : pasti mas. Aku udah gak sabar mau tempur secara nyata. Selama ini simulasi melulu.

- Ben : hahaha.. Bener. Pastikan kamu selamat ya sayangku. I love u kanaya pradipta.

- Aku : iya mas. Kamu juga. I miss u benito kusuma.

...----------------...

Dong! Dong!

Para penyintas planet subiru. Hitungan jumlah jiwa penyintas di mulai sejak sekarang.

Masa perlindungan telah berakhir. Bantuan 2 kotak tetap disediakan disertai tantangannya.

Setiap penyintas yang gagal bertahan, tidak bisa lagi dilihat para manusia di bumi.

Kesiapanmu ditentukan mulai hari ini.

Bersiap. 10.9.8.7.6.5.4.3.2.1

Tring!

...----------------...

Aku sedang berdiri menghadap hutan ketika suara system semesta bergema di cakrawala.

Posisi berdiriku santai, tangan masuk ke dalam saku cargo pants ku. Bahkan aku menggunakan kacamata aviator.

Tampil keren? Pasti doong.. Kudu keliatan mode siap tempurnya.

Aku mengikat tinggi rambutku, memakai kaos ketat hitam. Ada katana di pinggangku. Combat boots di kakiku. Kurang badass apa coba!

...----------------...

Seekor macan kumbang dewasa muncul dari semak semak dihadapan ku. Perlahan mendekat. Sambil menggeram berusaha menakut nakutiku. Halah! Gak ngefek. Mentalku udah baja ya bang macan.

Aku tau ada temannya masih bersembunyi.

Aku tersenyum sinis. "Maju sini kalian semua. Jangan sembunyi."

Lainnya muncul, namun masih menjaga jarak.

Dengan kemampuan analisa, aku mengetahui level kedua mahluk itu. Jauh chooy!

Aku mau mengetes kemampuan tempurku. Jadi skill dominasi kutahan.

Sring! Kukeluarkan katanaku yang sudah ku upgrade semalam. Lebih ringan, lebih kuat dan lebih mematikan.

Aku keluar dari batas wilayahku. Lalu bergerak cepat dan ringan menuju macan paling depan. Menunduk saat dia melompat hendak menerkam, lalu kuhunuskan pedang dan merobek tepat ke dadanya. Satu macan tumbang.

Macan kedua mengincar dari sisi. Menerkam tiba-tiba dari sampingku, aku masih bisa mengelak.

"Ckckck.. Beraninya main sergap." Komentarku sambil geleng geleng kepala. "Nackal ya ya kamu."

Aku mengendikkan dagu, "Hayuh sini maju!" Tantangku.

Macan itu mulai mengaum keras dan bergerak cepat ke arahku. Tapi masih kurang cepat, aku masih bisa melihat gerakannya. Dalam sekejap kutebaskan pedangku sepanjang tubuhnya. Dan macan kedua tumbang dibelakang ku.

Kedua bangkai macan kumbang menghilang dalam kabut tipis.

Aku masih diam, merasai sekitarku, apakah masih ada energi anomali mendekat. Setelah merasa aman, aku tersenyum sambil menyarungkan kembali katanaku.

"Lihat kan guys! Usaha gak mengkhianati hasil. Itu yang namanya survive."

...----------------...

Di bumi. Chat regional heboh.

Setelah menahan nafas, tegang menonton naya dan penyintas lainnya berjuang melawan mahluk liar. Beberapa sukses tanpa luka apapun seperti naya, beberapa mengalami luka luka namun berhasil.

Namun juga ada yang gagal, layar mereka menghitam dalam sekejap. Keluarga mereka meraung saat itu juga. Kehilangan anggota keluarga di planet antah berantah.

Kolonel hamdi mengurut keningnya yang sakit, beberapa layar penyintas negara pusaka padam, 2 diantaranya milik penyintas kota jaya.

"Buat laporan segera. Dan kirimkan ucapan bela sungkawa untuk keluarga penyintas kota jaya yang gugur."

Di rumah keluarga naya.

"O em jiii... Mba nayaku badass sekaliii!!" Amelia berseru sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.

Yangkung dan yangti, yang tadinya tegang sejak pengumuman dari system semesta, mulai bernafas lega.

"Astogee.. Gak nyangka kan, ti. Mba naya bisa sekeren itu. Lawan 2 macan masa! Gerakannya cepet banget. Hampir gak keliatan." Amelia yang duduk di atas karpet di depan yangti, berbalik dan menyengir lebar.

Yangti mengangguk pelan, senyum samar di wajahnya. Kekuatiran sedikit menguap. Cucunya masih selamat.

Di rumah keluarga ben.

Di tv menampilkan dua tayangan sekaligus, ben dan naya. Ben baru saja berhasil menumbangkan 3 hyena, naya menumbangkan 2 macan kumbang.

Mereka terdiam.

Lalu seruan kemenangan menggema. "WUHUUU!!"

Celia menangis sambil tertawa, "Gak nyangka mereka bakal setangguh itu. Naya.. I love u my dear soulmate."

Papa bas mengusap kepalanya, "Udah jangan nangis. Masih pada sehat wal afiat loh itu."

...----------------...

Back to naya.

Aku bergerak menuju keberadaan 2 box bantuan. Menemukan 1 di titik dimana sebelumnya macan kumbang berada. 1 lagi berada di bawah satu tanaman gympie gympie yang terkenal brutal meracuni orang, bahkan hewan.

Aku menebasnya menggunakan sabit anti racun dan membakarnya.

Kemudian, aku berjalan kembali ke wilayahku. Duduk di depan rumah. Mengeluarkan 2 box bantuan dan menggandakan nya.

Aku mendapatkan :

*2 butir telur ayam.

*2 kantung beras 1 kg.

*2 gayung.

*2 belati.

Kayaknya aku bisa netasin nih telur, kalo berhasil kan mayan ya, bisa beternak.

Semua masuk inventory.

...----------------...

"Celia, hari ini masih ada lagi tantangannya?"

"Tidak ada naya. Selamat kamu berhasil membunuh lawan pertama mu. Kamu mengalahkan 2 macan kumbang dewasa dalam durasi dibawah 10 menit. Termasuk salah satu yang tercepat versi regional."

"Kalau mas ben?"

"Dia juga termasuk yang tercepat versi regional."

"Versi global ada yang lebih cepat ya? Kenapa bisa begitu?"

"Karena beberapa penyintas menggunakan skill mereka. Baik itu skill khusus maupun skill tambahan. Kamu murni hanya menggunakan keahlian pedangmu dan kecepatan refleks. Mas ben mengkombinasikan keduanya, karena jumlah lawannya lebih banyak."

"Oya? Dia lawan apa dan berapa banyak?"

"Mas ben melawan 3 ekor hyena."

Wow sekaleh pacar akuh.

Aku membuka layar hologram, melihat jumlah jiwa penyintas saat ini.

Global :

Sebelumnya : 10.000.000

Saat ini : 9.999.765

Regional :

Sebelumnya : 1.500

Saat ini : 1.480

Dan angka pada kolom 'saat ini' terus bertambah.

Aku hanya bisa menghela nafas.

Setiap individu bertanggung jawab atas dirinya masing-masing. Jika mereka harus mati hari ini, karena mereka tidak belajar dengan benar untuk menjaga diri sejak awal.

...----------------...

1
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak😍
PonsParadiso: tiap hari update, makasih ya udah mau respon.. seneng akuh 😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!