NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Tap tap tap.

Langkah kaki Sony dan Leo menggema di lorong sepi menuju area parkir VIP bawah tanah Hotel Imperial.

Hawa dingin dari mesin pendingin ruangan terasa menusuk kulit di malam yang semakin larut ini.

"Tuan, apakah Anda menyadari ada tikus yang mengikuti kita sejak keluar dari aula lelang tadi?" tanya Leo dengan suara pelan.

Leo terus berjalan di belakang Sony tanpa menoleh sedikitpun ke arah belakang.

Tangan kanan asisten setia itu sudah bersiap di balik jasnya untuk menggenggam gagang senjata api rahasianya.

"Biarkan saja dia merasa menang untuk beberapa menit ke depan, Leo."

"Aku ingin melihat sejauh mana kualitas pembunuh bayaran tingkat S yang sangat dibanggakan oleh Dimas itu."

Sony menjawab dengan santai seolah mereka berdua hanya sedang membicarakan cuaca malam ini.

Wush.

Angin berhembus pelan saat mereka akhirnya memasuki area parkir yang remang-remang.

Mobil sedan hitam mewah mereka sudah terparkir dengan rapi di sudut ruangan yang sepi.

"Buka pintu mobilnya perlahan saja, Leo," perintah Sony dengan nada datar.

"Baik, Tuan."

Cklek.

Leo baru saja menarik gagang pintu mobil saat sebuah kilatan kecil tiba-tiba memantul dari arah pilar beton di kejauhan.

Puff.

Suara tembakan berperedam yang sangat halus memecah kesunyian malam di area parkir tersebut.

Sebuah peluru kaliber tinggi melesat dengan kecepatan gila membelah udara.

Peluru panas itu mengarah lurus menuju kepala bagian belakang Sony.

Tring.

Suara logam berbenturan terdengar sangat nyaring di tengah ruangan beton itu.

Peluru yang seharusnya menghancurkan tengkorak Sony kini berhenti total di udara terbuka.

Sony bahkan tidak membalikkan badannya sama sekali untuk melihat sang penembak.

Dia hanya mengangkat tangan kirinya ke belakang bahu dengan santai.

Pria itu menjepit ujung peluru panas yang berputar tajam itu hanya menggunakan dua jari telunjuk dan jari tengahnya.

Bruk.

Seorang pria berpakaian hitam legam yang berada di balik pilar beton berjarak lima puluh meter langsung jatuh terduduk.

Matanya membelalak lebar melihat pemandangan mustahil yang baru saja tertangkap di depan lensa bidik senapannya.

"I-itu sama sekali tidak mungkin."

"Bagaimana ada manusia biasa yang bisa menangkap peluru penembak jitu murni dengan dua jari telanjang?"

Pria misterius itu bergumam panik dengan nafas yang mulai memburu tidak teratur.

Dia adalah Jaka, pembunuh bayaran tingkat S dari Sindikat Bayangan yang secara khusus disewa oleh Dimas malam ini.

Rekam jejaknya selama ini sangat bersih dan dia tidak pernah gagal membunuh satu target pun dari jarak jauh.

Tapi malam ini, logika akal sehat yang dimilikinya bertahun-tahun baru saja dihancurkan secara paksa.

"Target ini bukan manusia normal, aku harus segera mundur dan membatalkan kontrak."

Jaka berbicara pada dirinya sendiri sambil buru-buru membongkar senapan laras panjangnya dengan tangan gemetar.

Dia tahu betul aturan utama dalam bertahan hidup di dunia gelap pembunuh bayaran.

Jika serangan pertama yang merupakan serangan paling mematikan ternyata gagal, maka nyawanya sendiri yang akan menjadi bayarannya.

Srek srek.

Jaka segera memasukkan bagian-bagian senapannya ke dalam tas panjang dan bersiap untuk berbalik lari.

Namun baru saja dia mengambil satu langkah mundur, tubuhnya seketika membeku menjadi sangat kaku.

"Mau pergi ke mana terburu-buru begitu, tikus kecil?"

Suara berat dan sangat dingin itu tiba-tiba terdengar berbisik tepat di samping telinga kanannya.

Jantung Jaka terasa seperti berhenti berdetak detik itu juga saking kagetnya.

Sony ternyata sudah berdiri dengan tenang tepat di belakang punggung pria pembunuh itu.

Padahal baru sedetik yang lalu Sony masih berdiri membelakanginya sejauh lima puluh meter di dekat mobil.

Glek.

Jaka menelan ludahnya dengan susah payah dan perlahan menoleh ke arah belakang bahunya.

Sony tersenyum tipis sambil menatap bola mata pria itu dalam-dalam seperti menatap sebuah benda mati.

"Siapa namamu?" tanya Sony dengan nada datar yang sangat mengerikan.

"Mati kau monster."

Jaka berteriak histeris berusaha melawan rasa takutnya sambil mencabut pisau beracun dari pinggangnya.

Wush.

Dia mengayunkan pisau tajam itu dengan kecepatan penuh ke arah urat nadi di leher Sony.

Namun bagi Sony, gerakan panik pria itu terlihat sangat lambat seperti seekor siput tua yang sedang berjalan.

Brak.

Sony hanya mengangkat kakinya dan menendang pelan perut pria itu dengan ujung sepatu pantofel mahalnya.

Tapi efek dari tendangan pelan itu sungguh di luar nalar manusia.

Tubuh Jaka terpental sangat jauh ke belakang hingga menabrak dinding beton parkiran dengan sangat keras.

Uhuk.

Darah segar berwarna pekat langsung menyembur keluar dari mulut pembunuh bayaran tersebut membasahi dadanya.

Tulang rusuknya remuk dan organ dalamnya terasa seperti hancur lebur hanya karena satu tendangan ringan barusan.

Sony mulai melangkahkan kakinya perlahan mendekati tubuh Jaka yang sedang sekarat di lantai dingin itu.

Tap tap tap.

Suara langkah sepatu Sony menggema terdengar seperti detak jam kematian bagi sang pembunuh elit.

"A-ampun Tuan."

"Tolong jangan bunuh aku di sini."

Jaka memohon dengan suara putus asa sambil memegangi perutnya yang hancur berantakan.

"Aku bertanya siapa namamu sebelumnya, bukan memintamu untuk mengemis padaku," ucap Sony dingin tanpa belas kasihan.

"J-Jaka."

"Namaku Jaka dari kelompok Sindikat Bayangan cabang wilayah Jakarta."

Jaka menjawab dengan cepat karena takut disiksa lebih jauh lagi oleh pria monster di depannya ini.

"Lalu berapa harga yang Dimas bayarkan untuk kepalaku malam ini, Jaka?" tanya Sony lagi sambil berdiri menjulang.

"S-sepuluh milyar rupiah Tuan."

"Dia mentransfer lima milyar sebagai uang muka satu jam yang lalu secara diam-diam."

Sony mendengus pelan dan menggelengkan kepalanya mendengar jawaban menyedihkan itu.

"Hanya sepuluh milyar untuk nyawaku?"

"Ternyata Dimas benar-benar sudah jatuh miskin parah sekarang."

Sony perlahan berjongkok di depan Jaka lalu mengambil sebuah lambang tengkorak perak yang jatuh dari saku pria itu.

"Aku punya tugas baru yang jauh lebih mudah untukmu malam ini, Jaka."

"Kembalilah pada majikanmu yang sedang gemetar ketakutan itu sekarang juga."

"Berikan lambang tengkorak rongsokan ini padanya beserta sebuah pesan khusus dariku."

Jaka mengangguk dengan cepat berkali-kali meski harus menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.

"P-pesan apa yang harus aku sampaikan padanya Tuan?" tanya Jaka masih dengan tubuh gemetar hebat.

"Katakan saja padanya, jika dia berani mengirim lalat rendahan lagi ke hadapanku esok hari."

"Maka aku sendiri yang akan berjalan datang ke rumahnya dan merobek mulutnya hidup-hidup di depan kekasihnya."

"Apa otakmu bisa mengingat pesan itu dengan baik?"

Sony menatap tajam ke dalam mata Jaka hingga membuat pembunuh elit itu mengompol di celana karena ketakutan setengah mati.

"S-saya mengerti Tuan."

"Saya bersumpah akan menyampaikan pesan itu padanya malam ini juga tanpa terlewat satu kata pun."

Sony segera berdiri kembali lalu melemparkan lambang tengkorak perak itu tepat ke wajah Jaka.

"Pergi merangkak dari hadapanku sekarang juga sebelum aku berubah pikiran."

Jaka memaksakan tubuhnya yang sudah hancur untuk merangkak pergi dari area parkir itu secepat mungkin.

Dia tidak mempedulikan lagi reputasinya di dunia bawah atau sisa uang bayarannya.

Malam ini dia hanya sangat bersyukur karena masih diizinkan menghirup udara setelah berhadapan dengan iblis berwujud manusia sejati.

Leo yang sejak tadi hanya diam mengamati akhirnya melangkah mendekati tuannya.

"Kenapa Anda sengaja membiarkan pria itu hidup, Tuan?"

"Bukankah aturan kita selama ini adalah menghabisi siapapun yang berani menarik pelatuk ke arah Anda?" tanya Leo sedikit bingung.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!