Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Beberapa minggu setelah masa ujian berakhir, papan pengumuman sekolah kembali dipenuhi poster baru — kali ini mengenai pemilihan pengurus OSIS periode berikutnya. Sebagai salah satu wakil ketua yang menjabat, Kieran sudah dipastikan mencalonkan diri sebagai ketua OSIS untuk periode mendatang, sesuatu yang hampir semua orang anggap sebagai formalitas belaka mengingat popularitas dan prestasinya selama ini.
"Kamu pasti menang telak," kata Adrian singkat namun penuh keyakinan, saat mereka berkumpul di ruang OSIS membahas persiapan kampanye.
"Jangan terlalu percaya diri dulu," Kieran menjawab, meski dalam hati ia sendiri cukup yakin dengan posisinya.
Sophia, yang duduk di sudut ruangan menyusun jadwal kampanye, menoleh sejenak. "Ada calon lain yang sudah daftar juga, lho. Dari kelas 10-B."
Kieran mengangkat alis. "Siapa?"
"Namanya... Rean Vale, kalau nggak salah," jawab Sophia, memeriksa daftar pendaftar di kertasnya.
Ruangan itu sejenak hening. Kieran menatap nama itu di kertas Sophia, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar.
"Serius dia daftar?" tanya Ethan, yang kebetulan ikut membantu persiapan sebagai perwakilan kelas 10-B.
"Katanya sih diusulkan sama teman-teman sekelasnya," jelas Sophia. "Setelah lihat dia berhasil bikin ide stan festival sukses besar kemarin, banyak yang percaya dia punya potensi kepemimpinan."
Kieran terdiam, perasaan yang selama ini berusaha ia tekan kembali muncul ke permukaan. Bukan hanya soal Elora sekarang — kini nama Rean juga mulai bersinggungan langsung dengan posisinya sendiri, sesuatu yang selama bertahun-tahun ia anggap sudah pasti menjadi miliknya.
"Bagus, kalau begitu ada saingan yang seimbang," katanya akhirnya, mencoba terdengar tenang meski dadanya terasa berat.
---
Di kelas 10-B, kabar pencalonan Rean menjadi topik hangat sepanjang hari.
"Serius kamu mau maju?" tanya Rean sendiri, sedikit terkejut ketika teman-teman sekelasnya mengumumkan pencalonan itu tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Kamu punya ide bagus, orangnya jujur, dan disukai banyak orang," jelas Lucas. "Kamu cocok banget jadi perwakilan kelas kita di OSIS."
"Tapi aku belum pernah punya pengalaman organisasi sama sekali," Rean masih ragu, merasa belum cukup layak dibanding calon-calon lain yang sudah lebih berpengalaman seperti Kieran.
"Justru itu menarik," Ethan menyemangati. "Kamu bisa bawa perspektif baru yang beda dari biasanya."
Meski masih ragu, dukungan tulus dari teman-temannya perlahan meyakinkan Rean untuk menerima pencalonan itu. Ia memutuskan untuk mencoba, bukan demi mengalahkan siapa pun, melainkan sekadar ingin merasakan pengalaman baru lain yang belum pernah ia coba sebelumnya.
Kabar itu sampai juga ke telinga Elora sore harinya, saat mereka bertemu di ruang klub sastra seperti biasa.
"Kamu maju jadi calon OSIS?" tanyanya penasaran, matanya berbinar penuh dukungan begitu mendengar kabar itu.
"Iya, meski aku masih agak ragu," aku Rean jujur. "Aku belum pernah punya pengalaman memimpin apa pun."
"Kamu pasti bisa," Elora menyemangati tanpa ragu. "Aku yakin kamu punya kualitas yang orang lain nggak punya — kamu tulus, dan orang-orang bisa merasakan itu."
Kata-kata itu membuat kepercayaan diri Rean sedikit bertambah. Ia tersenyum, berterima kasih atas dukungan yang selalu diberikan Elora setiap kali ia ragu terhadap dirinya sendiri.
Namun di balik semangat itu, Elora sendiri menyimpan sedikit kekhawatiran yang tidak ia utarakan. Ia tahu betul reputasi Kieran di sekolah, dan tahu persaingan ini tidak akan semudah yang dibayangkan Rean.
Ia hanya berharap, apa pun hasilnya nanti, persaingan ini tidak akan merusak sesuatu yang selama ini terjalin baik di antara semua orang yang ia sayangi.
---
Sejak pencalonan OSIS diumumkan resmi, suasana sekolah mulai dipenuhi persiapan kampanye dari kedua belah pihak. Kieran, yang selama ini terbiasa unggul tanpa banyak usaha ekstra, kali ini mulai merasakan tekanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kita perlu strategi yang lebih matang," katanya pada timnya, suatu sore di ruang OSIS. "Rean punya dukungan kuat dari kelasnya, dan reputasinya soal festival kemarin masih segar diingat banyak orang."
"Kamu tetap unggul secara pengalaman," Sophia mengingatkan, mencoba menenangkan. "Nggak perlu terlalu khawatir."
Kieran mengangguk, meski dalam hati kekhawatiran itu tidak sepenuhnya hilang. Bukan hanya soal kalah atau menang — ada sesuatu yang lebih personal yang membuatnya sulit berpikir jernih setiap kali nama Rean disebutkan.
Malam itu, sendirian di kamarnya, Kieran termenung lama menatap daftar kegiatan sekolah yang akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan — lomba debat antar kelas, turnamen olahraga, hingga kegiatan amal tahunan sekolah.
Sebuah ide muncul di benaknya, bukan rencana licik, hanya sebuah pemikiran yang perlahan tumbuh dari rasa tidak nyamannya selama ini.
*Kalau Rean sibuk dengan banyak kegiatan lain,* pikirnya, *mungkin dia nggak akan sempat terlalu sering menghabiskan waktu dengan Elora.*
Keesokan harinya, sebagai wakil ketua OSIS yang mengurus jadwal kegiatan sekolah, Kieran memiliki wewenang untuk menentukan pembagian tugas panitia berbagai acara mendatang. Ia mengusulkan nama Rean untuk terlibat dalam hampir semua kepanitiaan besar — panitia lomba debat, panitia turnamen olahraga, hingga panitia acara amal.
"Kita butuh perwakilan dari kelas 10-B di setiap acara," jelasnya pada rapat OSIS, terdengar profesional dan masuk akal di permukaan. "Rean cukup aktif belakangan ini, cocok kalau dilibatkan di berbagai kepanitiaan sekaligus."
Tidak ada yang mencurigai alasan tersembunyi di balik usulan itu. Bahkan Sophia, yang biasanya jeli terhadap detail semacam ini, menganggapnya sebagai keputusan wajar mengingat popularitas Rean yang sedang naik.
---
Beberapa hari kemudian, Rean mendapati dirinya dijadwalkan mengikuti hampir semua kepanitiaan besar sekolah sekaligus, sesuatu yang membuatnya kewalahan namun tetap ia jalani dengan semangat karena tidak ingin mengecewakan siapa pun yang sudah mempercayainya.
"Kamu kelihatan capek banget belakangan ini," Ethan memperhatikan dengan khawatir saat mereka istirahat siang, melihat kantung mata mulai muncul di wajah Rean.
"Jadwalnya emang lumayan padat," aku Rean, meski tetap tersenyum. "Tapi aku nggak apa-apa, kok. Ini pengalaman baru yang seru."
Meski begitu, jadwal yang padat itu membuat waktu Rean untuk sekadar mampir ke klub sastra atau menghabiskan waktu santai dengan Elora menjadi jauh berkurang dibanding sebelumnya.
Elora sendiri menyadari perubahan itu, meski ia tidak tahu alasan sebenarnya di balik jadwal Rean yang tiba-tiba menumpuk.
"Kamu jarang ke klub sastra lagi belakangan ini," katanya suatu sore, ketika kebetulan berpapasan dengan Rean yang tergesa-gesa menuju rapat panitia berikutnya.
"Maaf, ya," Rean tersenyum minta maaf, meski terlihat jelas kelelahan di balik senyumnya. "Jadwal kepanitiaan lagi padat banget. Nanti kalau sudah longgar, aku pasti mampir lagi."
Elora mengangguk mengerti, meski ada sedikit kekecewaan yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Ia tidak tahu bahwa kepadatan jadwal itu bukan sepenuhnya kebetulan, melainkan hasil dari sebuah keputusan yang lahir dari perasaan yang belum sepenuhnya bisa dikendalikan oleh orang yang selama ini ia kenal sebagai sosok yang selalu adil dan bijaksana.
Sementara itu, di ruang OSIS, Kieran menatap jadwal kepanitiaan yang baru saja ia susun, perasaannya campur aduk antara lega dan sedikit rasa bersalah yang samar-samar mulai muncul di dasar hatinya — perasaan yang, untuk sekarang, masih bisa ia yakinkan sebagai keputusan yang wajar dan masuk akal.