Novel INDA dari episode 1-133 (Tamat)
Part selanjutnya Sequel dari Novel INDA.
-----
Ciuman tanpa disengaja menyebabkan wanita bernama Amrita Venisa harus menikah dengan pria bernama Aziz.
Amrita yang jaim kerap kali mengerjai suaminya. Dan Aziz yang baik hati dia tidak pernah marah akan tindakan konyol sang istri. Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta pun tumbuh dalam hati keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INDA. Episode 17
Rumah Sakit Awal Bros
Amrita mengerjap, ia memegang kepalanya yang terasa sakit. "Aku di mana?" gumamnya pelan seraya melihat disekeliling.
Aziz membuka mata saat mendengar suara istrinya. "Amrita. Syukurlah, kamu sudah sadar" kata Aziz. Matanya mulai berkaca kaca.
Amrita menatap lekat suaminya yang kini duduk sembari memegang tangannya. "Om kenapa? Kenapa Om menangis?" tanya Amrita dengan bingung saat melihat suaminya menangis. Belum sempat Aziz menjawab, tiba tiba terdengar suara nyaring dari dalam perut Amrita.
Aziz yang tadinya menangis kembali tersenyum kecil saat melihat istrinya menggeram memegang perutnya. "Kamu mau makan apa?" tanya Aziz sembari menyeka air matanya.
"Apa Om mendengarnya?" tanya Amrita malu-malu.
Aziz mengangguk senyum. "Kamu mau makan apa?" tanyanya lagi.
"Apa pun itu, selama bukan racun maka aku akan memakannya" kata Amrita.
Aziz membuka apliksi grabnya. Ia memesan beberapa menu makanan dari rumah makan yang berbeda. "Ayam lalapan, sate ayam, apel dan lemon manis" gumam Aziz sembari mengklik satu persatu menu yang terbaca di layar ponsel. Hampir 15 menit menunggu, terdengar dering ponsel. Aziz pun menjawab panggilan dari nomor yang ia tidak kenal.
"Assalamualaikum" Aziz mengucap salam.
"Waalaikumsalam. Saya sudah di depan loby Pa. Bisa Bapa turun, harga totalnya 40 ribu" kata Pa gofood.
"Baik Pa, nanti saya turun" kata Aziz. Aziz memutuskan panggilan lalu berjalan menuju loby. Sesampainya di loby, ia menghampiri Pa gofood yang berdiri di depan pintu masuk rumah sakit.
"Pa, ini uangnya. Ambil saja kembaliannya" kata Aziz sembari menyerahkan uang total 50 ribu. Saat hendak melangkah masuk, ponselnya kembali berdering dan ternyata Pa gofood dari pesanan yang lain.
"Halo Pa, saya di depan rumah sakit" kata Pa gofood yang baru.
"Saya tunggu di loby" kata Aziz. Tak lama menunggu, Pa gofood pun datang lalu menyerahkan pesanan Aziz yang tak lain adalah apel dan lemon manis. Aziz mengambilnya sembari menyerahkan uang 50 ribu. Seperti biasa, Aziz tidak akan mengambil kembaliannya. Aziz melangkah menuju ruang VVIP, tempat istrinya di rawat.
"Amrita!!" teriak Aziz saat ia tidak melihat istrinya di hospital bed. Aziz meletakan makanan di atas nakas. Ia mencari istrinya di kamar mandi.
"Akkh!!!" teriak Amrita saat Aziz tiba tiba saja membuka pintu kamar mandi.
"Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah" Aziz mengucap istigfar sebanyak tiga kali saat tak sengaja ia melihat milik istrinya. Seketika rasa panik menjadi senyum bahagia.
"Dasar wanita ceroboh" gumam Aziz, ia kembali menutup pintu kamar mandi.
15 menit telah berlalu, Aziz masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Sedangkan Amrita, ia tak kunjung ke luar dari dalam kamar mandi. Berulang kali Aziz mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada sahutan dari dalam. Ia pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi.
"Om...!!" teriak Amrita saat Aziz tiba-tiba membuka pintu kamar mandi.
"Maaf..." balas Aziz lalu menutup kembali pintu kamar mandi.
Aziz menghela napas panjang. Ia berjalan menghampiri istrinya yang tengah berdiri. Aziz membuka pengait infus lalu menuntun istrinya ke luar dari kamar mandi.
"Sekarang kamu makan, makan semua makanan yang ada. Aku mau kamu gemuk, bukan seperti nyamuk yang kurus" kata Aziz santai.
"Om yang seperti nyamuk, bukan aku!" ketus Amrita. Tanpa menunggu lama, Amrita melahap semua makanan yang suaminya pesan. Setelah selesai makan, Amrita kembali merebahkan tubuhnya di atas hospital bed.
"Om, kenapa aku bisa berada di rumah sakit? Bukankah aku di kos" tanya Amrita menatap Aziz yang tengah duduk disampingnya.
Belum sempat Aziz menjawab, terdengar suara pintu terbuka. Amrita dan Aziz menoleh, senyum Amrita mengembang saat ia melihat beberapa seniornya dari anak Mapala.
"Kakak!!" sorak Amrita girang. "Aku kangen kalian, kapan kita mendaki lagi?" tanya Amrita.
"Amrita, kami masih di depan pintu tapi kamu sudah memberi kami pertanyaan yang bertubi tubi" kata Hendri, salah satu senior di Mapala.
Hendri dan tiga orang lainnya masuk menghampiri Amrita. "Selamat pagi Dok" sapa Hendri.
"Pagi" balas Aziz singkat. Ia menatap satu persatu empat pria yang sangat tampan, menurutnya.
"Kak Hendri, Kak Wawan, Kak Farid, kak Haidir. Kenalin, ini sepupu aku" kata Amrita memperkenalkan Aziz pada senior Amrita yang dari Kampus ternama di Kota Makassar.
Aziz membulatkan mata saat Amrita mengakuinya sebagai kakak sepupunya. "Apa dia sudah gila! Aku suaminya dan dia mengakuiku sebagai sepupunya!!" batin Aziz geram.
Hendri dan tiga lainnya memperkenalkan diri mereka. Setelah selesai, mereka berempat duduk di sofa.
"Amrita, selamat untuk pernikahanmu. Maaf kami tidak sempat hadir waktu itu, ada urusan mendadak jadi kami baru kembali dari Surabaya" kata Wawan.
"Tidak apa-apa kak. Aku senang kakak datang di sini, aku sangat merindukan kalian. Bdw, bagaimana dengan rencana yang di bahas dua bulan lalu?" tanya Amrita.
"Akan tetap di jalankan. Minggu depan kami akan mendaki di gunung kambuno. Cepat sembuh jika kamu ingin ikut. Dan jika kamu ikut, kamu harus meminta izin dulu pada suamimu" balas Wawan.
"Jangan mimpi! Aku tidak akan memberinya izin" batin Aziz.
"Aku penasaran dengan tampang suamimu. Aku rasa aku lebih tampan darinya" ujar Farid membanggakan diri.
"Jelas kamu lebih tampan. Aku dengar dari Hanin, katanya, suami Amrita itu sangat jelek dan sangat ngeselin, mana sudah tua lagi. Untung aku jadi laki-laki, jika aku perempuan, aku tidak akan gila seperti Amrita yang menikah dengan Om Om" timpal Wawan.
"Ceritakan pada kami, kenapa bisa kamu menikah dengan Om Om?" tanya Wawan.
Hendri melirik Aziz yang sedari tadi mengepal tangannya. "Jujur saja Amrita, aku masih mengharapkan kamu. Aku akan selalu menunggumu, menunggu kamu menjadi janda lalu menikahimu" kata Hendri dengan senyum.
"Berani sekali dia menyumpahiku. Aku pastikan, ini kali terahkir kalian bertemu dengan istriku" batin Aziz. Ia memilih ke luar dibandingkan mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari mulut berbisa empat pria yang kini sedang duduk di sofa.
"Hahahahahaha" tawa mereka berempat.
"Mampus kamu pria sialan, berani sekali kamu membuat adik kesayangan kami sakit!" ujar Hendri saat Aziz sudah ke luar.
"Jadi kalian hanya beracting!" Amrita membulatkan matanya.
"Iya Amrita. Teman-teman yang lain mengirim foto pernikahanmu di group jadi kami tahu siapa suami kamu. Dan kami sudah dengar curhatan kamu pada Hanin sebelum kamu kembali pingsan" ujar Haidir.
Saat sedang berbincang bincang. Aziz membuka pintu ruang rawat istrinya. Sebelum masuk, ia berharap ke empat pria tersebut sudah pulang dan ternyata mereka masih ada.
"Sekarang kalian pulang, Amrita harus istrahat" kata Aziz menatap tajam Hendri. Ia tidak suka Hendri karena Hendri menyukai Amrita.
"Om, di sini tidak ada suaminya Amrita jadi biarkan aku bermesraan dengan Amrita dulu. Aku sangat merindukannya" kata Hendri.
"Apa dia tidak tahu kalau aku suaminya!!" batin Aziz kesal. Rasanya ia ingin meninju wajah Hendri namun ia urungkan karena mereka masih di rumah sakit dan Aziz sedang mengenakan baju jas dokternya.
"Cepat pulang atau aku akan memanggil satpam!!" ancam Aziz.
"Santai Dok, kami bisa ke luar tanpa diseret. Bdw, jangan galak nanti kami membawa kabur adik kesayangan kami" kata Hendri memegang bahu Aziz. Hendri dan ketiga temannya berjalan ke luar dari ruang rawat Amrita.
Sebelum menutup pintu, Hendri masih menyempatkan waktu untuk menatap Amrita. "Jika suamimu kasar, beritahu kami agar kami memberinya pelajaran yang istimewa" ujarnya tersenyum kecil ke arah Aziz yang mulai panas menahan amarah.