Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.
Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.
Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.
Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.
Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: KEMENANGAN DION
“Kau sudah berani sekarang, ya, bocah! Kemari kau!”
Teriakan Darma menggema di dalam lapangan basket indoor. Suaranya berat, penuh ancaman. Ia melangkah mendekat dengan langkah besar, bayangannya menelan tubuh Dion.
Tangan Darma, besar, kasar, penuh tenaga, mendarat di bahu Dion dan langsung menekan ke bawah, seperti hendak mematahkan tulang dengan satu dorongan.
Namun, Dion tidak bergeming. Tak satu sentimeter pun.
Darma mengernyit. Dahinya berkerut, sorot matanya berubah. Ada ketidakpercayaan yang jelas terpancar di wajahnya. Di hadapannya seharusnya berdiri bocah kurus yang dulu mudah ditekan, mudah dijatuhkan hanya dengan satu tangan. Bocah yang selalu menunduk, yang bisa diperas tanpa perlawanan.
Tapi yang berdiri sekarang, tingginya bertambah, bahunya kokoh. Tatapannya tenang, seolah orang yang sama… namun bukan lagi sosok yang sama.
“Apa kau mencoba menekanku dengan tangan besarmu?” suara Dion terdengar dingin, datar, menusuk, “hanya segini saja kekuatanmu?”
Dion benar-benar tidak merasakan apa pun, tekanan yang dulu cukup untuk membuatnya terjatuh ke lantai kini terasa kosong, tak berarti. Bahunya tetap tegak, napasnya stabil.
Wajah Darma menegang, amarahnya naik seperti air mendidih. Bocah yang dulu ia anggap remeh, berani bicara seperti itu padanya?
“Cari mati kau, bocah!!”
Wuuush!
Darma menarik tangannya dan melesatkan pukulan lurus ke wajah Dion. Gerakannya cepat, tidak selaras dengan tubuhnya yang besar. Angin terbelah, udara bergetar.
BUAAAK!!
Suara benturan terdengar nyaring. Lantai lapangan basket bergetar ringan. Debu-debu halus dari permukaan lantai terangkat, mengepul, menutupi pandangan.
Kerumunan penonton tersentak.
“A-apakah Dion kalah?!” seru salah satu siswi dengan suara panik.
“Aku nggak tahu! Debunya tebal banget, nggak kelihatan apa-apa!” balas temannya dengan cemas.
Debu menggantung di udara beberapa detik, terasa seperti selamanya. Lalu perlahan, mengendap, pandangan mulai terbuka. Dan semua orang membeku, Dion berdiri di tempatnya.
Satu tangannya terangkat, menangkap kepalan Darma. Dengan mudah. Seolah tangan besar itu hanyalah bola yang dilempar anak kecil.
Mata Darma membelalak. Senyumnya lenyap, digantikan keterkejutan murni. Dion sendiri sedikit terkejut. Telapak tangannya berdenyut, rasa sakit samar menjalar.
'Bangsat…' batinnya mengumpat, 'pukulannya tetap sakit juga. Orang segede ini bukan bercanda…'
Namun wajahnya tetap tenang.
“Menarik!” Darma tertawa pendek, matanya menyala penuh gairah bertarung, “kau bisa menangkap pukulanku, bocah!” Semangatnya justru naik.
Wuuush!
Bak! Buk! Buaaak!
Darma bergerak lagi, lebih cepat. Jauh lebih cepat dari yang seharusnya bisa dilakukan tubuh seberat itu. Tinju, siku, dan ayunan lengan datang bertubi-tubi, menghujani ruang di depan Dion.
Kali ini, Dion tidak menahan, ia menghindar. Satu langkah ke samping. Sedikit memutar badan, menunduk, mundur setengah langkah.
Semua serangan Darma meleset, tipis, nyaris menyentuh, namun tak satu pun mengenainya. Padahal Darma bergerak liar dan cepat, seperti banteng yang kehilangan kendali.
Namun bagi Dion, semua itu terlihat jelas. Gerakannya terbaca, Ritmenya terasa. Tubuhnya ringan, refleksnya tajam. Menghindari pukulan-pukulan itu terasa, mudah.
Di bangku penonton, napas tertahan serempak, tak lagi ada bisik-bisik.
Yang tersisa hanyalah satu kesadaran yang mulai merayap ke benak semua orang, pertarungan ini… tidak akan berjalan seperti yang mereka bayangkan.
Di sisi lain bangku penonton, Kevin duduk dengan sikap tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menyaksikan pertarungan brutal. Matanya menyipit, mengikuti setiap pergerakan di tengah lapangan tanpa berkedip sedikit pun.
“Sangat menarik…” gumamnya pelan, “murid baru itu benar-benar kuat… tapi Dion bahkan belum menyerang balik.”
Pandangan Kevin tajam. Ia bisa membaca ritme pertarungan, melihat bagaimana Darma bergerak cepat meski bertubuh besar, bagaimana setiap pukulannya sarat tenaga. Namun yang lebih mengejutkan baginya adalah Dion. Pemuda itu terus bergerak ringan, menghindar setipis rambut, seolah sudah tahu ke mana serangan akan datang bahkan sebelum Darma mengayun tangan.
Wuuush!
Wuuush!
Buk! Bak! Buk! Bak!
Udara di lapangan terbelah berkali-kali. Benturan, ayunan, dan langkah kaki saling tumpang tindih hingga membentuk suara gaduh yang membuat telinga berdesing.
Di bangku penonton, kegemparan pecah.
“Cepat banget! Aku nggak bisa lihat apa-apa!” seru salah satu murid laki-laki, matanya melotot.
“Iya! Siapa yang unggul? Siapa yang kalah?!” sahut yang lain, panik sekaligus bersemangat.
Bagi kebanyakan dari mereka, pertarungan itu tak lebih dari bayangan kabur yang saling berkejaran. Namun di tengah lapangan, Dion dan Darma masih bergerak, cepat dan ganas.
“Tikus bangsat!” teriak Darma, suaranya menggema penuh amarah, “kau cuma bisa menghindar!!”
Ia menyerang lebih brutal. Tinju dan bahunya bergerak tanpa jeda, setiap ayunan dipenuhi niat menghancurkan. Keringat mulai membasahi leher dan punggungnya, napasnya berat, namun serangannya tetap liar.
Dion menghindar dengan tenang. Kadang menangkis ringan, kadang memutar tubuh, kadang mundur setapak. Wajahnya datar, matanya fokus.
'Beruang besar ini...' gumamnya dalam hati, 'dia benar-benar ingin membunuhku.'
Ia terus menghindar, bukan karena takut, melainkan menunggu. Menunggu satu celah yang tak bisa ditutup oleh tubuh sebesar itu.
Waktu berjalan, puluhan menit berlalu, dan perubahan itu akhirnya terlihat.
Langkah Darma mulai melambat. Hentakan kakinya tak lagi seberat tadi. Napasnya memburu, naik turun tak teratur. Tenaga besar itu mulai terkuras oleh tubuhnya sendiri.
Dion menyadarinya seketika. “Apakah kau mulai kelelahan, beruang besar?” ejeknya dingin.
“Kau!” Darma terengah, wajahnya memerah, “BANGSAT!!”
Ia menarik napas dalam-dalam, memaksa tubuhnya bergerak lagi. Namun kali ini, terlambat.
Wuuush!
Dion melesat maju, gerakannya tajam, lurus, tanpa ragu. Tinju Dion menghantam perut bagian samping kanan Darma, tepat di titik berat tubuhnya.
Buaaak!
Benturan itu tumpul namun dalam. Darma yang kelelahan tak sempat mengencangkan ototnya. Matanya membelalak, napasnya terputus. Tubuh besarnya terlempar ke samping, melayang beberapa meter sebelum akhirnya.
Braaak!!
Ia menghantam lantai lapangan basket dengan suara berat yang menggema ke seluruh ruangan.
Darma tergeletak, dada naik turun keras. Rasa sakit menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya, membuat dunia berputar.
Lapangan basket mendadak sunyi. Di bangku penonton, mulut-mulut terbuka tanpa suara. Untuk pertama kalinya. Beruang besar itu tumbang.
.....
Sesaat setelah tubuh Darma menghantam lantai, lapangan basket itu membeku.
Di bangku penonton, baik murid laki-laki maupun perempuan menatap ke tengah lapangan dengan mata terbelalak. Sosok besar dan tinggi yang selama ini disamakan dengan beruang, menjadi simbol kekuatan dan ketakutan, kini terkapar tak bergerak, dadanya naik turun samar.
Hening itu pecah oleh suara gemetar.
“Astaga…” gumam seorang siswa, nyaris tak percaya.
“D-darma… kalah?”
Detik berikutnya, kegemparan meledak.
“Di-Dion menang!!” teriak siswa lain dengan suara meninggi.
“Dia beneran ngalahin Darma!!”
Beberapa murid refleks mengangkat ponsel. Lensa kamera mengarah ke tengah lapangan, merekam detik-detik yang tak ingin mereka lupakan, sebuah momen yang akan beredar cepat di antara lorong-lorong SMA Cahaya Senja.
Sorak sorai menggema, memenuhi ruangan. Ada yang bertepuk tangan, ada yang bersiul, ada pula yang hanya bisa tertawa gugup karena terlalu terkejut untuk bereaksi normal.
Di salah satu sisi lapangan, Kevin berdiri diam. Tatapan tajamnya tertuju pada Dion. Untuk pertama kalinya sejak lama, ekspresinya benar-benar berubah.
“Satu pukulan…” gumamnya pelan, “dia menang hanya dengan satu pukulan…”
Kevin menghembuskan napas panjang, “Dion… orang ini… sangat kuat.”
Tak ada nada cemburu, tak ada kemarahan. Hanya pengakuan jujur dari seseorang yang mengerti arti kekuatan.
Perlahan, sorak sorai mereda. Murid-murid mulai beranjak pergi, sebagian masih membicarakan apa yang baru saja mereka lihat, sebagian lain sibuk mengirim video dan pesan ke grup kelas. Lapangan basket kembali berangsur sepi.
Namun Dion masih berdiri di tengah lapangan, kakinya menapak mantap di lantai, napasnya stabil. Ia menatap tubuh Darma yang terkapar, menunggu. Bukan dengan kebencian, bukan pula dengan kesombongan, melainkan dengan ketenangan yang dingin, seolah kemenangan ini, baru permulaan.