Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HILANG
Hari itu cuaca sangat panas, tapi suasana di rumah mereka justru terasa mendung dan gelap. Pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi. Keisha masih menyimpan rasa sakit hati karena tuduhan tes DNA, dan Arsen semakin hari semakin tertekan karena tahu istrinya sedang dimainkan oleh musuh bebuyutannya.
Malam itu, Arsen harus menghadiri rapat mendadak dengan investor luar negeri. Sebelum berangkat, dia memeluk Keisha lama sekali dengan wajah cemas.
"Sha, janji sama aku. Jangan keluar rumah. Jangan buka pintu buat siapa pun kecuali aku atau orang yang kamu kenal betul. Termasuk jangan buka buat Kevin," pesan Arsen serius, menatap mata istrinya dalam-dalam.
Keisha mendengus malas, memalingkan wajah. "Iya, iya. Dikira aku anak kecil apa. Kamu aja yang berlebihan."
"Aku serius, Sha. Bahaya. Aku merasa ada yang nggak beres."
"Ya udah sana berangkat! Nanti telat!" Keisha mendorong pelan pinggang suaminya keluar pintu.
Arsen menghela napas panjang, lalu mencium kening Leo yang sedang bermain. "Papah pergi sebentar ya Sayang. Jangan nakal sama Mama."
Malam berlalu. Sekitar pukul 9 malam, Keisha sedang sibuk di dapur menyiapkan susu untuk Leo. Tiba-tiba dia mendengar suara ketukan pintu yang sangat pelan, tapi bukan dari pintu depan, melainkan dari pintu samping yang menghubungkan ke garasi.
Tok... tok... tok...
Keisha mengerutkan kening. "Arsen ya? Kok pintunya diketuk dari situ?" pikirnya.
Dia berjalan mendekati pintu samping itu dengan santai. "Sebentar ya Sayang, kuncinya macet dikit nih..."
Keisha membuka kunci dan mendorong pintu itu terbuka.
Tapi yang ada di sana bukan Arsen.
"Wah, pintunya gak macet kok. Cuma empunya yang kurang waspada aja," suara itu terdengar sangat familiar dan membuat darah Keisha langsung turun ke kaki.
KEVIN!
"K-Kamu?! Ngapain kamu di sini?! Gimana bisa kamu ada di belakang pagar?!" Keisha panik ingin menutup pintu lagi.
Tapi tangan Kevin terlalu cepat dan kuat. Dia menahan pintu dengan satu tangan, lalu mendorongnya terbuka lebar dengan kasar. Kevin masuk ke dalam rumah dengan langkah perlahan dan menakutkan. Senyum ramahnya sudah hilang. Yang ada sekarang hanyalah wajah dingin dan menyeramkan.
"JANGAN BERISIK, KEISHA. ATAU ANAKMU YANG KENA IMPAKNYA," bisik Kevin tajam.
"LEPAS! KAMU GILA YA! INI RUMAH SAYA! KELUAR ATAU SAYA TERIAK!" Keisha gemetar hebat, matanya mencari benda apa pun untuk dijadikan senjata.
"Teriak aja. Siapa yang dengar? Rumah ini luas, tetangga jauh. Satpamnya udah aku kasih 'hadiah' biar tidur nyenyak," kata Kevin santai, tapi kata-katanya penuh ancaman maut.
Kevin berjalan mendekat, dan Keisha mundur ketakutan sampai punggungnya menabrak dinding.
"Kamu... kamu mau apa, Vin? Aku kira kita teman..." air mata Keisha mulai jatuh lagi. Rasa takut yang luar biasa menyelimuti hatinya.
"Teman? Hahaha!" Kevin tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar gila dan menyeramkan. "Kamu polos banget ya, Sha. Aku bilang berapa kali sih? Aku di sini bukan buat temenan. Aku di sini buat hancurin hidup Arsen! Dan kamu... adalah kuncinya."
Tiba-tiba dari arah ruang tengah, terdengar suara langkah kaki kecil.
"Mama... kenapa teriak-teriak? Leo mau pipis..."
Leo muncul dengan mata mengantuk, tapi saat melihat ada orang asing (walaupun dia kenal), anak itu langsung berhenti dan memeluk kaki ibunya erat-erat.
"Om Kevin...?"
Kevin tersenyum licik melihat anak itu. "Halo Sayang. Ayo sama Om. Om bawa jalan-jalan ke tempat seru ya."
"JANGAN! JANGAN SENTUH ANAKKU!" Keisha langsung berjongkok melindungi Leo di balik tubuhnya. "Vin, tolong... jangan libur anak kecil. Kalau kamu mau dendam sama Arsen, lawan dia! Jangan sakitin kami!"
"Justru dengan nyakitin kalian, Arsen bakal lebih sakit daripada mati," desis Kevin.
Dengan gerakan cepat, Kevin menarik tangan Keisha dan mendorongnya keras hingga gadis itu terhuyung jatuh terduduk di lantai.
"MAMA!!" teriak Leo.
"LEO!!" Keisha mau bangun, tapi Kevin sudah lebih dulu menggendong anak itu dengan kuat.
"LEPASIN SAYA! MAAMA!! TOLONG PAAPA!!" Leo menangis kencang, menendang-nendang tubuh Kevin.
"DIAM KAU ANAK HARAM!" bentak Kevin, lalu menepuk pipi Leo pelan tapi cukup keras untuk membuat anak itu diam dan menangis tersedu-sedu ketakutan.
BRUK!
Hati Keisha hancur melihat anaknya disakiti. Dia merangkak mendekat.
"JANGAN! JANGAN SAKITIN DIA! AKU MOHON! AMBIL AKU SAJA! AMBIL UANG SAYA! APA SAJA! TAPI KEMBALIKAN LEO PADAKU!" Keisha menangis histeris, merangkak memegang kaki Kevin memohon.
Kevin menendang perlahan tangan Keisha menjauh.
"Tenang saja. Aku tidak akan bawa dia sendirian. Kamu ikut juga," kata Kevin dingin. "Kalian bertiga akan bersatu... di neraka."
Kevin menyeret Keisha yang sudah lemas dan menangis, sambil tetap menggendong Leo yang menangis ketakutan, keluar menuju mobilnya yang sudah siap di belakang.
Pintu rumah dibiarkan terbuka lebar. Hening. Gelap. Hanya tersisa air mata dan rasa putus asa yang membeku di lantai ruang tamu.
Satu jam kemudian...
Mobil Arsen melaju kencang memasuki halaman rumah. Dia pulang lebih awal karena tidak tenang memikirkan istri dan anaknya.
Tapi apa yang dilihatnya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Pintu rumah terbuka lebar! Lampu dalam rumah menyala terang tapi tidak ada suara sama sekali!
"Keisha?! Leo?!" teriak Arsen panik setengah mati saat melompat turun dari mobil.
Dia berlari masuk ke dalam rumah. "SHA! KAMU DI MANA?!"
Ruangan kosong. Kamar kosong. Dapur kosong.
Hanya ada tas tangan Keisha yang tergeletak sembarangan di lantai dekat pintu samping. Dan di sebelahnya... ada mainan mobil-mobilan kesayangan Leo yang terlempar.
BRUK!
Arsen jatuh berlutut memegang mainan itu. Tangannya gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi.
"Mereka... mereka hilang..." bisik Arsen parau, matanya mulai berkaca-kaca. "MEREKA HILANG! KEVIN!!"
Arsen berdiri dan berteriak sekuat tenaga, suaranya pecah karena kepanikan dan amarah yang meledak.
Tiba-tiba ponsel Arsen berdering. Nomor tidak dikenal.
Tangan Arsen gemetar saat mengangkat telepon itu.
"HALO!! KAU DI MANA?! KEMBALIKAN KELUARGAKU!!" teriak Arsen gila.
Dari seberang sana, terdengar suara tawa mengejek yang sangat dikenal.
"Santai dong, Sayang. Istri dan anakmu baik-baik saja kok. Sedang tidur nyenyak di pangkuanku sekarang."
"KEVIN!! KAU BRENGSEK!! JANGAN BERANI BERI APA-APA PADA MEREKA!! AKU BUNUH KAU!!"
"Wah, galak banget. Dengerin ya, Arsen. Kalau mau selamatkan mereka, datang sendirian ke gudang lama pelabuhan Tanjung Priok. Jangan bawa polisi, jangan bawa bodyguard. Kalau aku lihat ada satu orang lain selain kamu... aku bakar mereka hidup-hidup. Paham?"
Tut... tut... tut...
Telepon dimatikan.
Arsen berdiri sendirian di tengah rumah yang kosong dan sunyi. Air mata pria tangguh itu akhirnya jatuh.
"Tahan ya... Tahan ya sayangku... Papa datang. Papa akan selamatkan kalian. Dan demi Tuhan... aku akan hancurkan hidup Kevin selamanya malam ini."