Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan di Depan Flash Kamera
Makan malam yang menegangkan itu akhirnya usai, namun ketegangan di dada Anya belum juga surut. Begitu mereka melangkah keluar dari pintu jati besar kediaman Alfarezel, angin malam langsung menerpa wajah Anya, membawa rasa lega yang teramat sangat. Ia berhasil bertahan di sarang serigala itu tanpa cacat.
"Kau melakukannya dengan sangat baik di dalam tadi," ucap Devan tanpa menoleh, langkah kakinya yang jangkung beriringan dengan Anya menuju area parkir halaman depan. "Sindiranmu pada Karina... sangat tepat sasaran."
Anya tersenyum tipis, memeluk lengannya sendiri untuk menghalau dingin. "Saya hanya mengatakan kebenaran. Ibu saya selalu mengajarkan untuk tidak pernah menundukkan kepala di depan orang yang mencoba menginjak kita."
Devan menghentikan langkahnya mendadak. Ia menatap Anya dengan pandangan yang sulit diartikan di bawah pendar lampu taman yang temaram. Ada riak kekaguman yang asing yang perlahan mengikis dinding es di hatinya. Namun, sebelum Devan sempat membalas ucapan itu, suasana tenang malam itu pecah berantakan.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Puluhan kilatan lampu flash kamera mendadak menyala serentak dari balik semak-semak dan gerbang luar. Segerombolan orang dengan kamera lensa panjang dan mikrofon berlarian menerobos pembatas keamanan, mengepung Devan dan Anya dalam hitungan detik.
"Pak Devan! Apakah benar wanita di sebelah Anda adalah calon istri Anda?"
"Nona, siapa nama Anda? Apakah Anda dari kalangan konglomerat juga?"
"Pak Devan, tolong konfirmasinya mengenai rumor ancaman pencopotan jabatan CEO jika Anda tidak segera menikah!"
Anya tersentak panik. Pandangannya mendadak putih silau karena puluhan flash kamera yang menembak ke arah wajahnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan dengan agresif itu membuatnya pusing dan kehilangan keseimbangan. Ia melangkah mundur, hampir saja tersandung oleh ujung gaun sutranya sendiri.
Sebelum tubuh Anya sempat terjatuh, sebuah lengan yang kokoh dan bertenaga menangkap pinggangnya dengan sigap.
*Grep!*
Devan menarik tubuh Anya dengan satu sentakan kuat, membawa wanita itu masuk sepenuhnya ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
Mengabaikan semua jepretan kamera, Devan memutar tubuhnya, memposisikan dirinya sebagai perisai hidup untuk melindungi Anya dari kepungan wartawan.
Wajah Anya terbenam sempurna di dada Devan. Ia bisa mencium aroma parfum woody yang maskulin bercampur wangi tembakau tipis yang sangat khas dari tubuh pria itu. Di balik rungu Anya, ia bisa mendengar suara detak jantung Devan yang beritme cepat dan kuat sama cepatnya dengan detak jantungnya sendiri saat ini.
"Tetap menunduk. Jangan lihat ke arah kamera," perintah Devan, suaranya bariton rendah namun terdengar begitu protektif di atas kepala Anya.
Dengan satu tangan mendekap erat pinggang Anya dan tangan lainnya menghalau sorotan kamera, Devan berjalan menerobos kerumunan wartawan dengan langkah besar yang intimidatif. Para petugas keamanan kediaman Alfarezel segera bertindak, membuat barikade barisan untuk membuka jalan bagi sang CEO.
Sopir Devan dengan cekatan langsung membuka pintu belakang mobil Rolls-Royce. Devan mendorong Anya masuk terlebih dahulu dengan hati-hati agar kepalanya tidak terbentur, sebelum ia sendiri menyusul masuk dan menutup pintu dengan bantingan keras.
*Brak!*
Suasana di dalam mobil mendadak senyap, berbanding terbalik dengan kekacauan di luar kaca mobil yang kini digedor-gedor oleh para pemburu berita. Mobil langsung melesat pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kilatan lampu yang perlahan memudar di kejauhan.
Anya masih terduduk dengan napas yang memburu. Tangannya yang dingin tanpa sadar masih mencengkeram erat kemeja abu-abu milik Devan. Ketika ia tersadar, ia mendongak dan mendapati wajah Devan berada sangat dekat dengannya. Napas hangat pria itu menerpa kening Anya.
Sepasang mata elang Devan menatap lurus ke dalam manik mata Anya, terkunci dalam keheningan yang sarat akan ketegangan seksual yang begitu pekat. Batasan kontrak profesional yang mereka sepakati di atas kertas beberapa jam lalu, mendadak terasa menguap begitu saja digantikan oleh debar aneh yang menyiksa dada mereka berdua.