Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Tiga hari berlalu sejak malam neraka di gua itu. Tiga hari di mana dunia mereka berubah dari sekadar buronan menjadi sekumpulan orang asing yang terikat benang takdir yang busuk dan berdarah.
Hutan hujan tropis yang lebat kini tak lagi terasa seperti rumah alam, melainkan labirin hijau yang tak berujung, penuh jebakan, lembab, dan bau kematian. Kabut tipis selalu menggantung rendah di antara pepohonan raksasa, membuat jarak pandang tak lebih dari sepuluh meter. Suasana selalu kelabu, seolah matahari pun enggan menyorot kelompok yang jiwanya sedang membusuk ini.
Formasi berjalan mereka berubah drastis.
Dulu: Arya di depan memimpin, Naya di tengah memegang tangan Sari erat-erat, Raga di belakang mengawasi. Satu kesatuan, satu keluarga.
Sekarang: Sari Dewi berjalan paling depan.
Gadis itu berjalan cepat, langkahnya panjang, mantap, tanpa ragu. Ia tidak menengok ke belakang. Ia tidak bertanya. Ia tidak mengeluh meski kaki kecilnya terbalut luka lecet, kuku jari kakinya memar, dan sepatu tempurnya yang kebesaran itu membuatnya terpeleset berkali-kali. Ia bangkit sendiri. Ia bersihkan darahnya sendiri. Ia terus berjalan.
Ia mengenakan jaket besar kebesaran milik Raga yang warnanya hijau gelap, tudungnya ditarik menutupi kepala, menyembunyikan rambut panjangnya yang dulu selalu terurai indah. Matanya yang cokelat madu, jendela jiwanya yang dulu hangat dan terbuka, kini tertutup tirai tebal, tatapannya tajam, memindai tanah, pohon, jejak, dan bahaya. Ia bergerak seperti bayangan—senyap, efisien, tak terlihat.
Di belakangnya, sekitar lima meter jarak aman, berjalan Raga.
Pria itu tidak lagi terlihat malas, sinis, atau arogan. Wajah kerasnya kini dipenuhi kekhawatiran yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Matanya tak lepas dari punggung kecil yang menjauh itu. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi. Ia sedang melihat cermin dirinya sendiri, 20 tahun yang lalu. Ia sedang melihat anak kecil yang dipaksa dewasa sebelum waktunya, dipaksa keras karena dunia terlalu kejam untuk menjadi lembut.
Raga benci melihat itu. Tapi anehnya, di dalam benci itu, ada rasa takut. Takut bahwa Sari Dewi akan berakhir sama seperti dia: Monster yang hidup di pinggiran dunia, kesepian selamanya, hanya ditemani rasa sakit dan dendam.
Jauh di belakang, tertinggal sekitar sepuluh meter, berjalan Arya dan Naya.
Mereka berjalan berdampingan, tapi ada jarak tak terlihat di antara mereka juga. Suami istri yang dulu tak terpisahkan, yang saling mengerti hanya dengan tatapan mata, kini berjalan dengan kepala tertunduk, mulut terkunci rapat, dipisahkan oleh tembok besar bernama Kebenaran dan Penyesalan.
Arya terlihat hancur. Matanya cekung, kantung matanya hitam pekat, janggutnya tumbuh liar, wajahnya kusam dan abu-abu. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ada beban batu raksasa di pundaknya. Beban itu bukan karena ransel berat, bukan karena medan sulit. Beban itu adalah kata-katanya sendiri.
"Kau darahnya! Kau benih iblis! Aku memelihara ular berbisa!"
Kata-kata itu berputar tanpa henti di kepalanya, seperti rekaman rusak yang tak mau berhenti. Setiap kali ia melihat punggung Sari di depan sana, setiap kali ia melihat cara gadis itu berjalan tegap, mandiri, dingin, ia tidak bangga. Ia merasa mual. Ia merasa bersalah luar biasa. Ia tahu, 90% dari dinginnya sikap Sari sekarang adalah ulahnya. Ia yang mematahkan hati gadis itu. Ia yang mendorongnya keluar dari surga kasih sayang.
Dan Naya... Naya mati rasa. Wanita yang dulu penuh semangat, cerewet, penuh cinta, kini menjadi bayangan pucat dirinya sendiri. Ia berjalan seperti robot, matanya kosong, air matanya sudah kering habis. Di kepalanya, dua wajah terus bertarung: Wajah Ayah yang ia puja, dan wajah Monster yang ia benci. Di hatinya, ada dua perasaan yang saling membunuh: Cinta tak bersyarat pada anaknya, dan rasa jijik biologis yang tak bisa ia kendalikan setiap kali ia sadar siapa ayah kandung anak itu.
Ia ingin berlari. Ia ingin memeluk Sari, mencium keningnya, menangis di bahu mungilnya, dan bilang: Aku tidak peduli siapa ayahmu. Kamu darahku. Kamu bagian dari dagingku. Aku cinta kamu lebih dari hidupku.
Tapi kakinya berat seperti timah. Mulutnya terkunci. Karena jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, di tempat gelap yang ia takut akui... ia takut. Ia takut Sari Dewi memang memiliki sisi gelap itu. Ia takut Arya benar. Ia takut anaknya memang bibit iblis, dan cintanya hanya akan menjadi racun yang memperkuat kejahatan itu.
Keheningan yang menyakitkan itu akhirnya pecah saat mereka sampai di sebuah aliran sungai kecil yang jernih, membelah hutan.
"Istirahat 20 menit," suara Raga terdengar rendah, kering, tanpa nada. Perintah, bukan ajakan.
Sari Dewi langsung bergerak ke pinggir sungai, berjongkok di atas batu pipih, jauh dari yang lain. Ia menurunkan ranselnya, mengambil botol kosong, dan mulai mengisinya dengan air sungai, menyaringnya dengan kain saring yang ia buat sendiri dari sobekan kaos. Ia melakukan semuanya dengan gerakan terlatih, cepat, diam, efisien. Persis seperti prajurit kecil.
Naya melihat itu. Hati ibunya teriris-iris. Dulu, anaknya manja. Dulu, Sari akan memanggil, "Bunda, tolongin", atau "Ayah, airnya berat". Dulu, Sari anak yang butuh perlindungan. Sekarang... anak itu tidak butuh siapa-siapa.
Naya memberanikan diri. Ia mengumpulkan seluruh sisa keberanian dan cintanya yang tersisa. Ia berjalan mendekati Sari, pelan, seolah mendekati hewan liar yang mudah ketakutan.
"Sari..." bisik Naya lembut.
Punggung gadis itu menegang. Gerakan tangannya terhenti sesaat, lalu dilanjutkan lagi tanpa menoleh.
"Bunda bawa biskuit. Kamu belum makan dari kemarin. Makan sedikit ya, Nak... tolong..." Naya duduk berjongkok di sebelah anaknya, jarak sekitar satu meter, tak berani terlalu dekat. Ia mengulurkan tangan dengan sebungkus biskuit keras.
Sari Dewi tidak menoleh. Matanya menatap pantulan dirinya di permukaan air sungai. Wajah pucat, mata tajam, rambut kusut. Ia terlihat asing bagi dirinya sendiri.
"Aku tidak lapar," jawab Sari singkat, dingin, suaranya datar tanpa intonasi. Ia menutup botolnya rapat.
"Sari, tolong jangan begini..." suara Naya mulai bergetar, air mata lama mulai merembes keluar lagi. "Bunda tahu kemarin itu berat. Bunda tahu Ayah salah. Bunda tahu kata-katanya menyakitkan. Tapi dia stres, Nak. Dia lelah. Dia kaget. Dia tidak bermaksud begitu. Dia sayang sama kamu. Kita berdua sayang sama kamu."
Sari Dewi perlahan menoleh. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk anak 13 tahun. Tidak ada amarah di matanya. Tidak ada tangisan. Justru karena kosongnya ekspresi itulah yang paling mengerikan.
"Sayang bagaimana, Bunda?" tanya Sari pelan. Suaranya lembut, tapi tajam seperti jarum es. "Sayang sama aku sebagai anakmu, atau sayang sama aku karena kamu masih berharap aku bukan anak Andri? Sayang sama aku karena kamu berharap gen-nya tidak keluar? Atau sayang sama aku karena kamu merasa bersalah karena aku jadi korban?"
Sari Dewi berdiri, menatap ibunya dari atas, karena ia sudah tumbuh cukup tinggi.
"Jangan bohong, Bunda. Aku bisa lihat di matamu. Sama seperti aku lihat di mata Ayah. Setiap kali kalian lihat aku, kalian tidak lihat aku. Kalian lihat dia. Kalian lihat kesalahan. Kalian lihat dosa. Dan aku capek, Bunda. Aku capek berusaha jadi 'anak baik', jadi 'anak pintar', jadi 'anak sempurna' cuma supaya kalian bisa lupa siapa ayahku. Aku capek jadi bukti bahwa aku tidak seperti dia. Aku capek membuktikan diri sendiri terus-menerus."
Gadis itu mengambil ranselnya, menggendongnya kembali.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan minta cinta kalian lagi. Aku sudah paham posisiku. Aku bukan anak. Aku aset. Aku kunci. Aku umpan. Dan selama aku berguna, kalian akan lindungi aku, kan? Itu saja cukup. Kita simpan hubungan kita profesional saja. Tidak perlu perasaan. Tidak perlu cinta. Cinta kalian terlalu menyakitkan untuk diterima."
"SARI!!" Naya menangis histeris, meraih tangan anaknya, tapi Sari dengan halus namun tegas menarik tangannya pergi dari genggaman ibunya. Gerakan itu... gerakan penolakan yang paling halus tapi paling mutlak.
Sari Dewi berbalik dan berjalan menjauh, kembali ke posisinya di depan, duduk di bawah pohon besar di tepi seberang, memunggungi semua orang.
Naya jatuh bersimpuh di pinggir sungai, menangis sejadi-jadinya, tubuhnya terguncang hebat. Ia merasa jiwanya tercabut. Ia kehilangan anaknya. Bukan karena mati. Tapi karena anaknya sadar, anaknya dewasa, dan anaknya menolak mereka.
Di bawah pohon itu, Sari Dewi menekan punggungnya ke batang pohon kasar, memejamkan mata rapat-rapat. Di balik kelopak mata tertutup, air mata panas akhirnya keluar, mengalir diam-diam di pipi pucatnya, jatuh membasahi tanah. Ia bukan tidak sakit. Ia sakit luar biasa. Ia merasa hancur berkeping-keping. Tapi ia belajar satu hal penting dari tiga hari terakhir ini: Menunjukkan rasa sakit hanya membuatmu jadi sasaran empuk.
Ia ingat kata-kata Raga dulu: Di dunia ini, kalau kamu lembut, kamu akan dikunyah dan dimuntahkan.
Benar. Ayah dan Ibunya, orang yang paling ia percaya, orang yang seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia... adalah orang yang paling dalam dan paling parah melukainya.
"Maaf, Nenek..." bisik Sari Dewi pelan di dalam hati. "Kamu bilang cinta adalah kekuatan. Tapi buatku, cinta ternyata cuma kelemahan. Dan aku tidak bisa lemah lagi. Kalau aku lemah, aku akan mati. Atau lebih buruk lagi, aku akan jadi seperti mereka: Penuh rasa takut, penuh rasa bersalah, penuh kebohongan."
Tiba-tiba, bayangan gelap menutupi wajahnya.
Sari Dewi membuka mata. Raga berdiri di depannya.
Pria itu tidak bertanya. Dia tidak mengucapkan kata-kata penghiburan bodoh seperti "Dia tidak bermaksud begitu" atau "Mereka sayang kamu". Dia tahu itu sampah. Dia tahu rasanya.
Raga hanya berjongkok di depan gadis itu, sejajar dengan matanya. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku rompi taktisnya—sesuatu yang ia sembunyikan, sesuatu yang ia selamatkan dari markas Andri.
Sebuah pisau lipat kecil, gagangnya terbuat dari tulang rusa tua, bilahnya baja hitam yang tajam sekali. Pisau itu terlihat tua, terpakai, tapi kokoh.
"Pegang," kata Raga singkat.
Sari Dewi menatap pisau itu, lalu menatap pamannya.
"Buat apa?"
"Buat pertahanan diri. Buat potong tali. Buat potong daging. Buat apa saja. Tapi yang paling penting..." Raga menaruh pisau itu di telapak tangan kecil Sari, lalu menutup tangan gadis itu di atas pisau dengan tangannya yang besar, kasar, dan hangat. "...ini simbol. Simbol bahwa dari detik ini, kamu tidak lagi bergantung pada perlindungan orang lain. Kamu punya kekuatan sendiri. Kamu punya hak untuk membela hidupmu sendiri. Kamu bukan lagi korban, Sari. Kamu bukan lagi anak kecil yang butuh izin orang tua untuk hidup atau mati. Kamu pegang kendali."
Jari-jari Sari Dewi mengepal erat mengeratkan gagang pisau itu. Dinginnya logam terasa menusuk sampai ke tulang, tapi ada rasa aman aneh yang menjalar dari benda itu.
"Kenapa kamu baik sama aku, Paman?" tanya Sari Dewi tiba-tiba, suaranya serak. Matanya menatap tajam ke mata abu-abu Raga. "Semua orang menolak aku. Ayah jijik sama aku. Bunda takut sama aku. Bahkan Kakek Hendrawan cuma butuh aku buat kunci. Kenapa kamu? Kenapa kamu tidak takut? Kenapa kamu tidak jijik? Kamu tahu aku darah Andri. Kamu tahu aku benih iblis."
Raga tersenyum. Bukan senyum sinis. Bukan senyum ironi. Senyum yang sangat langka, senyum tulus yang sedikit menyedihkan.
"Karena aku juga," jawab Raga jujur, tanpa ragu, tanpa topeng. "Aku juga darah Hendrawan. Aku juga benih iblis. Aku juga monster. Aku juga dibenci, ditolak, ditakuti, dan dianggap sampah oleh semua orang, termasuk oleh Ayahku sendiri, termasuk oleh Ayahmu, termasuk oleh Ibumu."
Raga menunjuk dadanya sendiri.
"Aku tahu rasanya, Sari. Aku tahu rasanya setiap kali kamu menatap cermin, kamu takut kamu akan jadi seperti orang yang paling kamu benci. Aku tahu rasanya merasa kotor, merasa terkutuk, merasa kamu tidak pantas dicintai. Aku tahu rasanya merasa kamu tidak punya tempat di dunia ini. Jadi..." Raga menatap mata keponakannya dalam-dalam, tatapan jiwa ke jiwa. "...aku tidak akan menolak kamu. Karena kalau aku menolak kamu, berarti aku juga menolak diriku sendiri. Dan kita berdua tahu... kita cuma punya satu sama lain sekarang."
Kalimat itu menghantam dada Sari Dewi lebih keras dari pukulan apapun.
Kita cuma punya satu sama lain sekarang.
Benar. Arya dan Naya sudah keluar dari lingkaran mereka. Lingkaran baru terbentuk. Lingkaran orang buangan. Lingkaran dua jiwa yang rusak, dua jiwa yang sama-sama dibuang oleh dunia, dua jiwa yang sama-sama membawa darah terkutuk.
Sari Dewi merasakan sesuatu pecah di dalam dadanya. Bukan rasa sakit. Tapi sesuatu yang keras, dinding es yang ia bangun tadi, retak sedikit. Ada koneksi. Ada ikatan. Bukan ikatan darah keluarga yang palsu. Tapi ikatan Survivor. Ikatan orang yang sama-sama terluka.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian di gua, air mata Sari Dewi jatuh bukan karena rasa sakit, tapi karena rasa lega. Ia tidak sendirian. Setidaknya ada satu orang di dunia ini yang tidak melihatnya sebagai Andri, tidak melihatnya sebagai kunci, tidak melihatnya sebagai masalah. Satu orang yang melihatnya sebagai Manusia yang Terluka.
Sari Dewi mengangguk pelan, menelan ludah, mengusap air mata dengan lengan jaketnya kasar.
"Terima kasih, Paman," bisiknya parau.
Raga mengangguk, lalu berdiri tegak kembali, kembali ke mode prajuritnya, kembali ke wajah kerasnya. Tapi di matanya, ada sesuatu yang berubah. Tekadnya makin membaja.
"Dengar baik-baik, Sari," bisik Raga serius, matanya mengawasi sekeliling hutan dengan waspada. "Aku tahu Ayah dan Ibu kamu... mereka lemah. Mereka punya hati yang besar, tapi mereka juga punya ketakutan terbesar. Mereka terikat masa lalu, terikat perasaan, terikat moral bodoh. Dan karena itu... mereka jadi beban. Jangan salah paham, aku cinta adikku. Aku hormat sama Arya. Tapi di hutan ini, di perang ini, rasa bersalah dan rasa jijik mereka adalah kelemahan mematikan."
Raga berjongkok lagi, mendekatkan wajahnya, suaranya jadi bisikan nyaris tak terdengar.
"Kalau terjadi sesuatu, kalau situasi jadi kacau, kalau kita diserang, kalau kita terpaksa memilih... Utamakan dirimu sendiri. Dan utamakan aku. Jangan pedulikan mereka kalau itu artinya kamu mati. Mereka sudah memilih jalan mereka dengan menolakmu. Sekarang, kamu harus pilih jalanmu sendiri. Kamu paham?"
Sari Dewi menatap pamannya lama. Berat. Gelap. Tapi jujur. Sangat jujur.
Sari Dewi mengangguk perlahan.
"Aku paham."
Saat mereka bersiap melanjutkan perjalanan, Arya mendekat. Ia melihat interaksi itu. Ia melihat bagaimana anaknya, yang dulu takut pada Raga, sekarang terlihat nyaman, aman, dan percaya penuh pada pria itu. Ia melihat bagaimana Raga, pria yang membenci dunia, sekarang menjadi pelindung utama putrinya.
Dan rasa cemburu yang pahit, rasa bersalah yang membakar, dan rasa takut yang dingin bercampur jadi satu di perutnya. Arya sadar. Ia bukan lagi pahlawan. Ia bukan lagi nomor satu di hati putrinya. Ia sudah digantikan. Oleh orang yang paling ia benci seumur hidupnya.
"Kita harus bergerak," kata Arya pelan, matanya menatap Sari penuh harap, berharap gadis itu akan menatap balik, berharap ada tanda maaf.
Tapi Sari Dewi hanya melirik sekilas, tatapannya kosong, acuh tak acuh, lalu berbalik badan dan mulai berjalan masuk ke dalam semak belukar, memimpin jalan, dengan pisau pemberian Raga tergantung di pinggangnya.
Raga melewati Arya, berhenti sebentar di sebelahnya. Tanpa menoleh, tanpa suara, Raga hanya berbisik cukup agar Arya mendengar:
"Kau kehilangan hakmu untuk melindunginya saat kau bilang dia kotor, Arya. Sekarang, kau cuma penumpang. Jangan jadi beban."
Dan Raga pergi, mengikuti langkah gadis kecil di depan sana.
Arya berdiri terpaku di pinggir sungai, air mengalir deras di kakinya. Ia melihat bayangannya di air, wajah pria yang dulu bangga, dulu benar, dulu suci. Sekarang, ia terlihat seperti orang tua yang rapuh, bodoh, dan menyedihkan.
Naya datang berdiri di sampingnya, tangan dinginnya menyentuh lengan suaminya.
"Kita hancurkan dia, Arya..." bisik Naya, suaranya mati. "Kita hancurkan anak kita sendiri."
"Ya," jawab Arya parau, air mata pria itu akhirnya jatuh, bercampur air sungai. "Kita baru saja menciptakan monster yang sebenarnya. Dan kita yang mengajarinya cara membenci."
Mereka melanjutkan perjalanan, tapi keseimbangan kekuatan di dalam tim sudah bergeser total.
Di depan sana, di bawah naungan pohon raksasa, Sari Dewi dan Raga berjalan berdampingan dalam diam, dua jiwa yang terluka, dua jiwa yang sama-sama dibuang, kini menyatu menjadi kekuatan baru yang mengerikan.
Dan jauh di belakang, di markas musuh, Andri Andalan duduk di kursi roda, menatap layar monitor satelit yang menampilkan pergerakan titik-titik panas itu. Ia melihat perubahan formasi. Ia melihat siapa yang memimpin. Ia melihat siapa yang menjauh.
Dan ia tertawa. Tawa kemenangan.
"Bagus... bagus sekali, anakku," gumam Andri, matanya bersinar gila. "Jauhi mereka. Benci mereka. Percaya padanya. Karena semakin kamu dekat sama Raga... semakin gelap hatimu... semakin mudah bagiku untuk mengambilnya kembali. Karena di kegelapan itulah, kita bersinar, Sari. Di kegelapan itulah, kita hidup."
Perjalanan masih panjang. Tapi sekarang, perjalanan ini bukan lagi sekadar lari dari musuh luar. Sekarang, perjalanan ini adalah perjalanan menuju jantung kegelapan masing-masing.
Dan Sari Dewi... Sari Dewi sedang berjalan cepat sekali ke arah sana.
Siap lanjut ke fase gelap ini? 🌑🏚️🩸