11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yg belum bisa digapai
Usai sorak-sorai penonton perlahan mereda, Aloska sekali lagi menepuk pundak Yuse dengan berat namun penuh rasa hormat.
"Lebih baik kalian segera pulang sekarang, sebelum Raja Allaric atau para tetua istana datang ke sini. Urusan soal gerbang dan prajurit yang terluka biar aku yang tanggung jawab."
Yuse mengangguk patuh, menatap sang panglima dengan pandangan penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih banyak, Panglima. Budi baik dan perlindungan Tuan hari ini tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup."
Belum sempat Yuse melangkah, suara nyinyir namun terdengar manis langsung terdengar dari samping.
"Betul, betul. Ayo cepat pergi. Kalau nanti Raja Al
Allaric datang dan lihat wajahmu, kerbau bodoh ini bisa-bisa dihukum gantung karena udah bikin rusuh dan hancurin gerbang istana ." Brisa melirik Yuse sambil menyunggingkan senyum jahil, lalu berjalan santai di depannya.
Wajah Yuse seketika memerah padam, telinganya sampai panas menahan kesal.
"Siapa yang kerbau bodoh?! Jelas-jelas aku datang jauh-jauh cuma karena khawatir sama kamu!"
"Khawatir katanya? Atau sebenernya kangen ya?" goda Brisa sambil terus melangkah, sengaja tidak menoleh agar tidak melihat wajah Yuse yang makin salah tingkah.
Di belakang mereka, Cindy yang diam saja sejak tadi cuma bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia ingin sekali memanggil nama Yuse, ingin menahan mereka agar tinggal lebih lama, namun sosok Aloska yang tiba-tiba berdiri tegak di hadapannya membuat niat itu terhenti.
"Putri Cindy," ujar Aloska dengan nada lembut namun tegas. "Sebaiknya Putri segera kembali ke kamar dan beristirahat. Biar saya yang mengantar tamu-tamu ini sampai keluar batas gerbang istana dengan aman."
Cindy mengerti maksud tersembunyi di balik ucapan itu. Sang Panglima sedang melindungi mereka, dan mengusir mereka sebelum Raja Allaric datang dan masalah makin besar. Dengan hati yang berat dan mata yang berkaca-kaca, Cindy akhirnya mengangguk pasrah.
"Hati-hati di jalan… Yuse… Brisa."
Matahari perlahan tenggelam sepenuhnya, digantikan oleh langit senja yang berwarna jingga kemerahan. Jalan setapak dari istana menuju desa kediaman Ibu Cyena lumayan panjang dan sepi, hanya diisi suara jangkrik yang mulai bersahutan serta suara langkah kaki mereka berdua.
Brisa yang sedari tadi berjalan di depan tiba-tiba berhenti. Ia memutar badannya, lalu berjalan mundur menghadap Yuse sambil menatap tajam namun matanya berbinar jenaka.
"Hei, Ksatria Pemburu Kupu-kupu," panggilnya pelan. "Tadi keren banget lho pas lawan Panglima Aloska. Aku sampai lupa bernapas lihat gerakanmu… TAPI…"
Yuse langsung menghentikan langkahnya, wajahnya penuh kewaspadaan. Tiap kali Brisa bilang kata "tapi", pasti ujung-ujungnya bakal bikin emosi atau bikin dia malu seumur hidup.
"Tapi apa?" tanyanya waspada.
"Tapi pas teriak di depan gerbang tadi, suaramu geter banget tau!" Brisa menirukan gaya bicara Yuse dengan nada yang sangat lebay dan berlebihan. "'DI MANA GADIS BERAMBUT PERAK ITU?!' — gitu lho teriaknya. Aku yang lagi duduk manis di taman sampai merinding parah. Kirain ada beruang raksasa yang nyasar masuk ke halaman istana, ternyata cuma kerbau bodoh yang panik!"
"BRISAAAA!!!" seru Yuse tak kuat lagi, wajahnya sekarang merah padam persis seperti tomat yang baru matang. "Itu karena aku panik dan takut ada apa-apa sama kamu! Kamu pikir enak apa denger kamu masuk ke istana tempat paling berbahaya dan penuh mata-mata itu?!"
"Iya iyaaa, aku tau kok~"
Tanpa diduga, Brisa tiba-tiba melangkah makin dekat sampai wajah mereka hampir berhadapan. Dengan santai ia menyentil pelan dahi Yuse, lalu menatapnya lekat-lekat dengan senyum yang tulus dan lembut — senyum yang jarang sekali ia perlihatkan.
"Makasih ya… Kerbau bodoh. Makasih udah panik sejauh itu, udah berantem sama banyak orang, dan udah rela bikin rusuh cuma demi aku."
Jantung Yuse seketika berhenti berdetak sejenak. Bentakan yang tadi siap keluar dari mulutnya mendadak macet total di tenggorokan. Gadis yang biasa galak, yang biasa berbicara tajam dan tanpa rasa kasihan, sekarang menatapnya dengan tatapan yang bisa melelehkan segala kemarahan di dunia ini. Cuma sedetik, tapi rasanya cukup bikin hati Yuse yang baru habis bertarung habis-habisan jadi berantakan dan berdebar kencang lagi.
Sebelum Yuse sempat mengumpulkan kesadarannya untuk membalas, Brisa sudah berbalik badan dan berlari kecil mendahuluinya.
"Kalau jalannya lelet banget gitu, aku tinggal lho! Nanti kamu dimarahin Ibu Cyena karena pulang malem, terus nggak dikasih makan daging enak!"
"Eh tunggu! Jangan lari-lari nanti jatuh!" teriak Yuse buru-buru mengejar, tapi kali ini rasa panik di suaranya beda banget — penuh kehangatan dan perasaan yang makin hari makin dalam.
Jauh di belakang mereka, dari puncak menara tertinggi istana, sepasang mata tua yang tajam sedang mengawasi kepergian mereka dari kejauhan. Raja Allaric Gulla berdiri tegak di balik jendela batu, tangannya menggenggam erat selembar kertas laporan yang baru saja diserahkan oleh mata-mata rahasianya.
Matanya menatap tulisan di atas kertas itu dengan tatapan yang makin lama makin gelap dan penuh amarah yang tertahan.
Gadis berambut perak… memiliki tanda lahir unik berbentuk seperti ranting kayu yang retak tepat di bagian dada sebelah kiri… Tanda khas keturunan KUMALITI.
Dahi Allaric gulla berkerut dalam, urat-urat di lehernya timbul menahan emosi yang meluap-luap.
"Jadi kau ternyata masih hidup… Keturunan terakhir dari bangsa yang seharusnya sudah musnah sepuluh tahun yang lalu…" gumamnya pelan, suaranya berat dan penuh ancaman mematikan.
"Cabang kayu yang retak… Kumaliti… Ternyata kau yang selama ini kami cari, ternyata sudah ada tepat di depan mata kami sejak awal."
Angin malam bertiup dingin menerpa wajah sang Raja, membawa serta firasat buruk bahwa badai besar yang akan mengguncang seluruh kerajaan.