NovelToon NovelToon
Realita Menikah

Realita Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cattygril

Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.

Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.

Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.

Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 (Celah di Balik Kesibukan)

...HAPPY READING...

...🧸💕...

Suara denting sendok yang beradu dengan piring memecah keheningan ruang makan pagi itu. Elvara bergerak dengan sangat tangkas, menyantap sarapannya dengan tergesa-gesa sembari sesekali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Hari ini butik akan sangat ramai, dan sebagai pemilik sekaligus desainer utama, ia tidak boleh terlambat semenit pun.

Arsen duduk di seberang meja, menyesap kopi hitamnya dalam diam. Matanya memperhatikan gerak-gerik sang istri yang tampak begitu sibuk dan dikejar waktu.

"Arsen, aku berangkat duluan, ya!" ucap Elvara setengah panik sambil meneguk air putihnya hingga tandas. Ia menyambar tas kerja dan beberapa berkas sketsa gaun di atas meja. "Hari ini jadwal fitting padat banget sampai malam. Kamu kalau mau pulang telat atau ada meeting lagi, kabari aku, ya."

Tanpa menunggu jawaban panjang dari suaminya, Elvara mengecup kilas pipi Arsen—sebuah kebiasaan manis yang tak pernah ia lewatkan—lalu melangkah terburu-buru keluar dari apartemen. Pintu depan pun tertutup dengan bunyi klik yang pelan. Begitu sosok Elvara menghilang, keheningan kembali menguasai ruangan.

Arsen perlahan menurunkan cangkir kopinya. Ia mengembuskan napas panjang, dan entah sejak kapan, bahunya yang sejak semalam menegang kini perlahan rileks. Ada rasa lega yang luar biasa besar yang mendadak menyusup ke dalam dadanya.

Kepergian Elvara dan jadwal padat istrinya di butik hari ini bagaikan sebuah berkah terselubung bagi Arsen. Dengan kesibukan yang menyita seluruh waktu dan energi Elvara seperti itu, sang istri dipastikan tidak akan memiliki ruang untuk menaruh curiga pada sikap anehnya semalam. Elvara juga tidak akan punya waktu untuk menginterogasi atau mengurus urusan pribadinya. Kesibukan Elvara adalah tameng terbaiknya saat ini.

Namun, di balik rasa lega itu, Arsen tahu dia tidak bisa bersantai. Ruang kosong yang ditinggalkan Elvara hari ini harus ia gunakan untuk memikirkan jalan keluar dari labirin mematikan ini: ancaman Kael yang siap membongkar semuanya, dan janin di dalam rahim Vivian yang kini mengikatnya tanpa ampun.

Setelah menyelesaikan sarapannya yang terasa hambar, Arsen bangkit dari kursi. Ia merapikan setelan jasnya di depan cermin besar dekat pintu masuk, menatap pantulan dirinya yang tampak luar biasa lelah sebelum akhirnya menyambar kunci mobil di atas meja konsol.

​Langkah kakinya terdengar tegas saat meninggalkan unit apartemen dan menuju basemen. Begitu berada di balik kemudi, Arsen segera menyalakan mesin. Sedan hitam itu bergerak mulus, membelah jalanan kota yang mulai padat merayap, meninggalkan halaman gedung apartemennya di belakang. ​Tujuan pertamanya pagi ini adalah kantor.

​Arsen tahu, sebagai seorang CEO, dia tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya begitu saja, terlebih ada beberapa dokumen penting yang membutuhkan tanda tangannya hari ini. Lagi pula, dia butuh suasana kantor untuk menenangkan diri dan menyusun rencana kelanjutan hubungannya dengan Vivian.

​Sepanjang perjalanan, otaknya berputar cepat. Ia sengaja memilih pergi ke kantor terlebih dahulu untuk mencari alasan yang logis jika sewaktu-waktu Elvara atau orang kantor mencarinya. Baru setelah seluruh urusan perusahaan beres siang nanti, ia akan bergerak menemui Vivian di apartemen wanita itu.

​Arsen perlu berbicara lagi dengan Vivian. Kali ini dengan kepala dingin. Ia harus memastikan kebenaran kehamilan itu dengan membawa Vivian ke dokter kandungan pilihannya sendiri. Arsen tidak boleh gegabah; ia harus memegang kendali atas situasi ini sebelum Kael mengendus pergerakannya dan menghancurkan segalanya.

​Begitu melangkah masuk ke dalam lobi kantor, atmosfer sibuk perusahaan langsung menyambut Arsen. Sapaan hormat dari para karyawan yang ia lewati hanya dibalas dengan anggukan samar. Wajahnya yang kaku dan aura dingin yang memancar kuat membuat tidak ada satu pun staf yang berani mengajaknya bicara di luar urusan pekerjaan.

​Arsen duduk di kursi kebesarannya di lantai teratas gedung. Di hadapannya, tumpukan berkas laporan kuartal dan proposal proyek baru sudah menanti.

​"Pak Arsen, ini dokumen audit dari divisi keuangan yang harus ditandatangani pagi ini. Lalu jam sebelas nanti ada rapat evaluasi dengan tim pemasaran," ujar sekretarisnya dengan sopan sembari meletakkan map tebal di atas meja.

​"Tinggalkan saja. Saya akan periksa sekarang," jawab Arsen pendek tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.

Setelah sekretarisnya keluar, Arsen memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia memaksa fokusnya kembali ke atas kertas-kertas di hadapannya. Jemarinya dengan cekatan membolak-balik halaman demi halaman, meneliti angka-angka anggaran proyek dengan jeli. Sebagai pemimpin, ia tidak boleh membiarkan satupun kesalahan fatal lolos, sekacau apapun kehidupan pribadinya saat ini.

​Arsen menandatangani lembar demi lembar dokumen itu dengan tarikan pena yang tegas. Namun, setiap kali ia menjeda gerakannya, bayangan wajah Vivian yang menangis dan ancaman Kael kembali berkelebat, merusak konsentrasinya.

​Tepat pukul sebelas, Arsen melangkah ke ruang rapat. Selama dua jam penuh, ia memimpin jalannya evaluasi bulanan. Suaranya terdengar tegas dan interupsinya sangat tajam saat menemukan target pemasaran yang tidak tercapai. Di mata para bawahannya, Arsen tetaplah sosok CEO yang perfeksionis, dingin, dan tidak tersentuh. Tidak ada yang tahu bahwa di balik setelan jas mewahnya itu, Arsen sedang menahan badai kecemasan yang luar biasa besar.

​Begitu rapat selesai dan jarum jam menunjukkan pukul satu siang, Arsen kembali ke ruangannya. Ia melonggarkan sedikit dasinya yang terasa mencebik leher. Urusan kantor telah beres, pertahanannya sebagai profesional sudah ia tunaikan. Kini, saatnya ia menghadapi kenyataan pahit yang sesungguhnya. Arsen menyambar kunci mobilnya kembali, bersiap menuju apartemen Vivian.

Arsen melangkah lebar menyusuri lorong apartemen Vivian dengan rahang yang kembali mengeras. Begitu pintu unit terbuka setelah beberapa kali ketukan kasar, sosok Vivian muncul dengan mata yang masih sedikit sembab. Sebelum wanita itu sempat menyapa, Arsen sudah lebih dulu melangkah masuk dan menutup pintu dengan bantingan pelan.

"Arsen? Kamu ke sini lagi? Aku kira kamu—"

"Ayo kita ke dokter kandungan sekarang," potong Arsen tanpa basa-basi. Ia berdiri tegak, mengeluarkan selembar kartu nama klinik spesialis dari saku jasnya. "Aku sudah buat janji dengan dokter kepercayaanku. Kita periksa kandunganmu hari ini juga."

Mendengar ucapan Arsen, raut wajah Vivian seketika berubah. Senyum tipis yang sempat terbit di bibirnya langsung lenyap, digantikan oleh ekspresi tidak percaya sekaligus tersinggung yang amat besar.

"Kamu... bilang apa?" Vivian mundur satu langkah, menatap Arsen dengan pandangan terluka. "Kamu mau bawa aku ke dokter pilihanmu? Kenapa? Kamu nggak percaya sama aku?!"

"Ini bukan masalah percaya atau nggak, Vivian," jawab Arsen, mencoba menahan nada suaranya agar tetap dingin dan logis. "Aku hanya butuh kepastian medis yang akurat sebelum mengambil tindakan lebih jauh. Itu wajar, kan?"

"Nggak! Itu nggak wajar!" suara Vivian meninggi, air matanya kembali merebak. Ia menolak mentah-mentah kartu nama yang disodorkan Arsen dan membuang muka. "Aku nggak terima diginiin, Arsen! Aku emang hamil anak kamu! Dua garis di testpack itu nyata, tubuh yang mual-mual ini juga nyata! Tapi kamu malah memperlakukan aku seolah-olah aku ini perempuan penipu yang sedang menjebakmu!" Vivian melangkah mendekat, memukul dada Arsen dengan tangan gemetar penuh emosi.

"Aku tahu kamu panik karena Elvara dan Kael! Tapi jangan jadikan kehamilanku sebagai sesuatu yang harus kamu curigai! Ini anak kamu, Arsen! Darah daging kamu sendiri! Kenapa kamu harus sejahat ini sama aku dan janin di dalam rahimku?!" tangis Vivian pecah, dadanya naik turun karena amarah dan rasa sedih yang bercampur jadi satu.

Arsen terpaku di tempatnya, membiarkan pukulan lemah Vivian mendarat di dadanya. Reaksi defensif dan ledakan emosi Vivian yang begitu hebat justru membuat benteng skeptis di kepala Arsen perlahan goyah lagi. Jika Vivian berbohong, wanita itu tidak akan senekat dan seberani ini untuk menolak. Melihat tangisan histeris itu, rasa bersalah kembali merayap, mencekik akal sehat Arsen yang semula ingin menuntut bukti nyata.

Melihat Vivian yang menangis histeris hingga tubuhnya gemetar hebat, ego dan kecurigaan Arsen seketika menguap. Ia tidak tega melihat wanita yang pernah—dan mungkin masih—mengisi hatinya itu tampak begitu rapuh dan terluka akibat tuntutannya.

Arsen melangkah maju, lalu menarik tubuh Vivian ke dalam dekapannya. Ia memeluk wanita itu dengan erat, menenggelamkan wajah Vivian di dada bidangnya sembari mengusap punggungnya dengan gerakan perlahan, berusaha menyalurkan ketenangan.

"Sstt... Sudah, Vivian. Maaf, maafkan aku," bisik Arsen lembut, nadanya melunak drastis, jauh dari kesan dingin yang ia tunjukkan beberapa menit lalu.

Vivian masih terisak, tangannya meremas kemeja Arsen meluapkan rasa sesak. "Kamu... kamu jahat, Arsen. Kamu nggak mikirin perasaan aku..."

"Aku tahu, aku minta maaf. Aku tadi cuma terlalu panik," sahut Arsen penuh penyesalan. Ia mengecup puncak kepala Vivian ragu, mencoba meredakan badai emosi yang menguasai wanita itu. "Aku nggak bermaksud menuduhmu penipu. Aku cuma... situasinya terlalu mendadak buat aku. Tolong tenang dulu, ya? Nggak baik buat kesehatan kamu."

Mendengar bisikan manis dan perlakuan hangat Arsen, tangis Vivian perlahan mulai mereda, meski sisa-sisa isakan kecil masih terdengar. Ia menyandarkan seluruh bobot tubuhnya pada Arsen, menikmati kemenangan kecil karena berhasil membuat pria itu tunduk kembali pada perasaannya.

Arsen terus mendekap Vivian dalam keheningan apartemen itu. Di satu sisi, ia merasa lega karena berhasil menenangkan Vivian. Namun di sisi lain, pelukan ini terasa seperti rantai yang kian erat mengikatnya. Dengan menerima kehamilan Vivian tanpa bukti medis lebih lanjut, Arsen sadar bahwa dia baru saja menutup pintu keluar dari kesalahan ini. Ia kini benar-benar terperangkap di antara tanggung jawab baru yang tak direncanakan, dan kehancuran rumah tangganya yang tinggal menunggu waktu.

Bersambung….. 

1
Aquarius1276 Nonamolek
tidak bertele²...bahasa yg mudah dimengerti
Aquarius1276 Nonamolek
kapan thor season 2 nya ...plus judul nya donk😍
Cattygril
okee
mba mawar34
oh noo gw pikir bakalan sama kael
Cattygril: haha, tidak kk
total 1 replies
mba mawar34
Next💪😍
mba mawar34
ceritanya bgus, dan oke di baca
Cattygril: terimakasih☺
total 1 replies
mba mawar34
semangat thir💪😍
Cattygril: iya dongg👌☺
total 1 replies
cynth
Everyone biggest nightmare.
Cattygril: heee☺
total 1 replies
Amelia
Next😍
Amelia
iya Thor gak papa, semangat trus update ya💪😍
Cattygril: terimakasih yaa😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!