Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Palsu - Chapter 8
HAPPY READING GUYS!
Setelah mengenal sifat pelit lelaki itu hari ini, Sophia benar-benar tidak yakin.
Bagaimana kalau besok Damian tiba-tiba mengirim daftar harga pakaian yang sedang ia pakai sekarang? Memikirkan kemungkinan itu saja sudah membuat Sophia merasa tekanan darahnya naik.
Namun beberapa detik kemudian ia mendengus pelan.
Kalau pria itu benar-benar berani meminta kembali pakaian ini, maka Sophia juga akan meminta ganti rugi untuk piyama murahnya yang tertinggal di rumah Damian.
Adil.
Lagi pula...
Mana mungkin pria normal menyimpan baju tidur wanita sebagai kenang-kenangan? Sophia mengangguk mantap pada dirinya sendiri.
"Aku akan menjualnya besok," gumamnya puas sambil berdiri. "Anggap saja kompensasi penderitaan batinku."
Semakin dipikirkan, semakin masuk akal.
Senyum kecil mulai muncul di bibirnya. Untuk pertama kalinya sejak tadi, suasana hatinya sedikit membaik.
Sophia segera berjalan menuju lemari sambil bersenandung kecil, lalu mulai berganti pakaian dengan santai.
Namun tepat saat ia baru saja ingin kembali merebahkan tubuh ....
Tok. Tok. Tok.
Gerakannya langsung berhenti.
Sophia menoleh cepat ke arah pintu. Jantungnya mendadak berdebar tidak nyaman.
"Apa dia kembali?" gumamnya pelan.
Entah kenapa, bayangan wajah Damian langsung muncul pertama kali di kepalanya. Lelaki itu memang terlihat seperti tipe manusia yang sanggup datang tengah malam hanya untuk menagih baju.
Sophia langsung menarik selimut mendekat tanpa sadar.
Namun belum sempat ia bergerak, handphone di atas meja tiba-tiba berbunyi. Sophia buru-buru meraihnya.
Nama Arkan muncul di layar.
Ia berkedip pelan.
Baru sekarang Sophia menyadari puluhan pesan dan panggilan tak terjawab memenuhi layar ponselnya.
Semuanya dari Arkan.
Sophia sedikit terdiam.
Ia benar-benar tidak menyangka lelaki itu akan mencarinya sampai seperti ini hanya karena ia tidak memberi kabar selama beberapa jam.
Entah kenapa, dadanya terasa sedikit hangat. Sudut bibir Sophia perlahan terangkat kecil. Namun tepat saat itu, satu pesan baru kembali masuk.
[Aku lapar. Kau sudah masak?]
*****
Tak lama kemudian, Sophia sudah berdiri di depan pintu apartemennya.
Begitu pintu terbuka, Arkan langsung terlihat berdiri di sana dengan ekspresi tenang seperti biasa. Tatapan lelaki itu sempat berhenti beberapa detik pada Sophia.
Wanita itu mengenakan piyama biru longgar. Rambutnya digulung asal ke atas memperlihatkan garis leher jenjang yang putih bersih. Wajahnya tampak polos tanpa riasan, namun justru terlihat jauh lebih lembut dibanding biasanya.
Sophia mengernyit kecil.
"Kenapa diam saja?" tanyanya heran.
Arkan baru tersadar beberapa detik kemudian sebelum akhirnya melangkah masuk begitu saja tanpa banyak bicara.
Sophia mendesah pelan sambil menutup pintu.
Lelaki ini juga aneh.
Begitu masuk ke dalam apartemen, Arkan langsung duduk dengan tenang di kursi makan seolah tempat itu sudah sangat familiar baginya.
Sophia berjalan ke dapur kecilnya lalu mengambil segelas air minum sebelum meletakkannya di atas meja.
"Minum dulu."
Arkan menatap gelas itu sesaat.
Entah kenapa, pemandangan sederhana itu justru membuat pikirannya melayang pada seseorang di rumahnya. Wanita itu juga sering melakukan hal yang sama.
Menyiapkan minum.
Menghangatkan makanan.
Menunggunya pulang.
Namun sampai sekarang, Arkan bahkan hampir tidak pernah benar-benar menyentuh semua yang diberikan wanita itu.
Kalau bukan karena .... Arkan langsung menghentikan pikirannya sendiri. Ia tidak ingin memikirkannya malam ini.
Dengan pelan, lelaki itu akhirnya mengambil gelas tersebut lalu meminumnya tanpa banyak bicara.
Sementara itu Sophia sudah sibuk bergerak di dapur kecilnya.
"Aku cuma bisa buat nasi goreng," katanya dari arah dapur. "Jangan protes."
"Aku tidak pernah protes."
Sophia langsung mendelik kecil.
"Jangan pura-pura amnesia, kau sering protes soal perkedel kentang."
Arkan hampir tersenyum mendengarnya.
Tidak lama kemudian, Sophia membawa sepiring nasi goreng hangat ke atas meja. Aroma bawang dan telur langsung memenuhi ruangan kecil itu.
Arkan mulai makan dengan tenang.
Sedangkan Sophia duduk di depannya sambil menopang dagu.
Tidak ada yang berbicara.
Namun anehnya, suasana itu tidak terasa canggung.
Hanya ada keheningan nyaman yang perlahan memenuhi ruangan kecil apartemen tersebut.
Beberapa kali Arkan ingin membuka pembicaraan. Ia ingin bertanya tentang Damian, tentang kejadian hari ini. Kenapa Sophia menghilang tanpa kabar. Namun setiap kali melihat wanita itu, kata-kata itu justru tertahan di tenggorokannya.
Sophia sendiri terlihat sibuk memainkan jemarinya di bawah meja.
Seolah sedang menghindari sesuatu.
Akhirnya Arkan tetap membuka suara.
"Kenapa tidak membalas pesanku?"
Sophia langsung tersentak kecil. Ekspresinya berubah terlalu cepat hingga Arkan langsung menyadarinya.
Bukannya menjawab, Sophia buru-buru berdiri lalu mengambil piring kotor ke wastafel.
Padahal piring itu bahkan belum perlu dibereskan.
Jelas sekali wanita itu sedang menghindar.
Tatapan Arkan perlahan berubah dalam.
Apa Damian mengatakan sesuatu padanya?
Arkan langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Sophia. Sedangkan dia yang sadar lelaki itu mendekat malah terlihat semakin sibuk membuka lemari atas dapur.
Beberapa detik kemudian ia mengambil satu kotak choco pie yang masih tersegel rapi.
Sophia berdeham kecil sebelum menyerahkannya pada Arkan.
"Aku beli ini dua minggu lalu di toko," katanya pelan. "Kelihatannya enak, jadi aku simpan buatmu."
Arkan menatap kotak itu cukup lama sebelum akhirnya menerimanya perlahan.
"Kenapa tidak kau makan sendiri?"
Sophia langsung menggeleng cepat.
"Itu buatmu."
"Aku bisa beli lagi."
"Tapi yang ini aku belinya pakai uangmu."
Sophia tertawa kecil sebelum melanjutkan, "Mana mungkin aku memakannya? Rasanya seperti mengambil hak orang lain."
Arkan langsung terdiam. Entah kenapa, ucapan sederhana itu justru terasa seperti tamparan keras baginya.
Sophia benar-benar memisahkan dengan jelas mana miliknya dan mana milik orang lain.
"Itu gratis," kata Arkan pelan. "Kau bisa memakannya kapan saja."
Namun Sophia hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
"Aku tidak terbiasa memakai milik orang lain."
Untuk beberapa saat, Arkan hanya bisa menatap wanita di depannya tanpa bicara. Ada rasa sesak aneh yang perlahan memenuhi dadanya.
Sophia mungkin tidak sadar.
Namun sikap sederhananya justru membuat Arkan semakin merasa bersalah.
Sophia kemudian melirik jam dinding sebelum kembali membuka suara.
"Sekarang sudah jam sebelas malam," katanya pelan. "Kalau urusanmu sudah selesai, sebaiknya pulang dan istirahat."
Arkan sebenarnya tidak ingin pergi. Ia masih ingin duduk di sana lebih lama. Masih ingin mendengar Sophia bicara. Masih berharap wanita itu mau menceritakan sendiri apa yang terjadi hari ini.
Walau ia sudah tahu semuanya.
Namun mendengar langsung dari Sophia jelas terasa berbeda.
Sayangnya wanita itu tetap memilih diam.
Pada akhirnya, Arkan hanya mengangguk kecil.
Namun sebelum pergi, ia sempat berhenti di depan pintu. Tatapannya kembali tertuju pada Sophia.
"Apa yang sudah kuberikan..." ucapnya pelan, "bukan hanya milikku."
Sophia terdiam.
Arkan melanjutkan dengan suara rendah.
"Uang itu juga milikmu. Jadi gunakan saja sesukamu."
B e r s a m b u n g ....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (◕ᴗ◕✿)