Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMPAT BERISTIRAHAT SEMENTARA
Rian menatap rumah dua lantai itu dalam diam.
Bangunannya terlihat seperti rumah hantu yang telah ditinggalkan bertahun-tahun.
Halaman depannya dipenuhi puing-puing.
Pagar besinya roboh.
Beberapa jendela pecah.
Bahkan sebagian dinding luar terlihat retak seolah bangunan itu bisa ambruk kapan saja.
Namun semakin lama ia menatap rumah tersebut, semakin panas cincin di tangan kirinya.
Tidak mungkin salah.
Ada sesuatu di dalam sana.
"Semua tetap waspada."
Ucap Rian sambil melangkah masuk lebih dulu.
Yang lainnya mengikuti dari belakang.
Begitu memasuki rumah itu, bau debu dan kayu lapuk langsung menyambut mereka.
Lantai dipenuhi pecahan kaca.
Perabotan berserakan di berbagai sudut ruangan.
Jejak-jejak darah tua terlihat mengering di beberapa bagian dinding.
Suasana yang sunyi membuat setiap langkah kaki terdengar sangat jelas.
Nadia tanpa sadar merapatkan genggaman belatinya.
"Apakah kamu yakin ingin memasuki rumah ini?" tanyanya pelan.
Rian menganggukkan kepala.
"Aku sangat yakin."
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
"Sepertinya kita memasuki sebuah dungeon yang belum sepenuhnya terbentuk."
Mendengar itu, semua orang langsung waspada.
Mereka sudah mengetahui apa arti kata dungeon.
Tempat berisi harta sekaligus bahaya.
Tempat yang mampu mengubah nasib seseorang dalam semalam.
Namun juga mampu menjadi kuburan bagi mereka yang ceroboh.
Sementara itu, cincin di tangan Rian terus menghangat.
Semakin lama semakin kuat.
Rian perlahan mengangkat tangannya.
Lalu mengarahkannya ke lantai dua.
Reaksi cincin itu langsung meningkat.
"Itu di atas."
Tanpa membuang waktu, mereka menaiki tangga yang sudah berderit rapuh.
Kraak...
Kraak...
Setiap langkah membuat semua orang bersiap jika sewaktu-waktu tangga itu runtuh.
Namun hingga mencapai lantai dua, tidak ada apa pun yang terjadi.
Yang mereka temukan hanyalah sebuah kamar yang hampir hancur.
Lemari roboh.
Kasur lapuk.
Dan debu tebal menutupi seluruh ruangan.
Namun tepat di tengah kamar.
Melayang sebuah botol kecil berwarna merah terang.
Cahaya merahnya berdenyut pelan di udara.
Seolah menunggu seseorang untuk mengambilnya.
Mata Budi langsung membesar.
"Item?"
Ridho juga terlihat terkejut.
"Benar-benar ada!"
Rian mendekat perlahan.
Saat tangannya menyentuh botol tersebut, sebuah panel transparan muncul.
---
Potion Kehidupan Tingkat Rendah
Memulihkan luka sedang dan mempercepat regenerasi tubuh.
Kualitas: Langka
---
Senyum tipis muncul di wajah Rian.
Meskipun bukan artefak legendaris.
Tetapi pada tahap awal kiamat, benda seperti ini tetap sangat berharga.
"Kita beruntung."
Ucap Indah pelan.
Tatapannya terus mengikuti gerakan Rian.
Sejak pertarungan di mall sebelumnya, pandangannya terhadap pemuda itu semakin berubah.
Awalnya ia hanya menganggap Rian sebagai seseorang yang kuat.
Namun semakin lama bersama, semakin banyak hal yang membuatnya terkejut.
Rian selalu mengetahui sesuatu lebih dulu.
Menemukan tempat-tempat penting.
Mengambil keputusan yang tepat.
Bahkan berkali-kali menyelamatkan nyawa mereka.
Dalam benak Indah, sosok Rian perlahan menjadi seseorang yang sulit diabaikan.
Saat yang lain melihat keberuntungan.
Indah melihat sesuatu yang berbeda.
Seolah Rian memang ditakdirkan berada beberapa langkah di depan semua orang.
Dan hal itu membuatnya semakin penasaran.
Bahkan sedikit terobsesi.
Tanpa sadar, pandangannya terus tertuju pada punggung Rian.
"Ada apa?"
Tiba-tiba suara Nadia membuat Indah tersentak.
"Tidak ada."
Jawabnya cepat.
Namun Nadia hanya tersenyum tipis seolah mengerti sesuatu.
Indah langsung memalingkan wajah.
Berusaha menyembunyikan rasa malu yang muncul.
Sementara itu, Rian yang tidak menyadari apa pun sudah menyimpan potion tersebut ke dalam cincin penyimpanannya.
Setelah memastikan tidak ada item lain yang tersisa, mereka segera meninggalkan rumah tersebut.
Tidak lama kemudian mereka kembali ke jalan utama.
Langit mulai menggelap.
Hari pertama mereka menjelajah setelah insiden mall hampir berakhir.
"Kita harus mencari tempat beristirahat."
Ucap Ridho.
"Benar."
Rian mengangguk.
"Malam hari jauh lebih berbahaya."
Pada kehidupan sebelumnya, banyak penyintas mati karena meremehkan malam pertama.
Beberapa monster memiliki kemampuan yang meningkat setelah matahari terbenam.
Bahkan ada yang hanya muncul pada malam hari.
Karena itulah mereka membutuhkan tempat berlindung yang layak.
Sekitar tiga puluh menit kemudian.
Mereka menemukan sebuah kompleks ruko yang relatif bersih.
Sebagian besar pintunya masih utuh.
Dan yang paling penting, lokasinya cukup mudah dipertahankan.
"Tempat ini lumayan."
Budi langsung menjatuhkan tasnya.
"Akhirnya."
Rahma dan Nadia mulai membersihkan area dalam ruko.
Sementara Ridho memeriksa pintu dan jendela.
Sedangkan Indah diam-diam melirik ke arah Rian yang sedang berdiri di dekat jendela.
Tatapannya terlihat jauh.
Seolah sedang memikirkan sesuatu.
Mungkin tentang masa depan.
Mungkin tentang ancaman yang akan datang.
Atau mungkin tentang rahasia yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Entah kenapa.
Semakin banyak misteri yang dimiliki Rian, semakin sulit bagi Indah untuk mengalihkan perhatiannya.
Dan tanpa ia sadari sendiri.
Rasa penasaran itu perlahan berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Sementara di luar ruko.
Kegelapan malam mulai turun.
Dan jauh di kejauhan.
Di arah yang tidak diketahui siapa pun.
Sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada zombie level 2 perlahan mulai terbangun dari tidurnya.