NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Teknik yang Tersembunyi

Diaken mengangkat tangannya tinggi. Huang segera mengeluarkan pedang peraknya dari cincin ruang.

"Mulai!" ucap Diaken keras.

Lan Dong berjalan santai ke arah Huang. Huang juga berjalan santai. Gelang besi di tangan dan kakinya menghasilkan suara berat yang aneh di telinga para penonton.

Duk... duk...

Saat jarak hampir dekat, Lan Dong menebas diagonal dari kanan atas ke kiri bawah.

Slash!

Huang segera bergeser ke kiri, membuat tebasan Lan Dong menebas udara kosong.

Pada saat itu Huang memberikan serangan balik. Pedangnya menebas menyamping ke arah kiri, mengincar rusuk Lan Dong yang terbuka.

Lan Dong mencoba menghindar ke belakang dengan melompat mundur.

Namun terlambat.

Sret!

Ujung pedang Huang mengenai perut Lan Dong. Darah segar mengalir dari robekan kecil di jubahnya. Lan Dong meringis, namun belum sempat bereaksi lebih, Huang sudah melesat lagi.

Wush!

Tubuh Huang tiba di samping kiri Lan Dong dalam satu tarikan napas. Pedangnya menebas dari kanan mengarah langsung ke leher. Lan Dong menyipitkan matanya, kemudian menunduk cepat.

Swoosh!

Bilah pedang meleset tipis di atas kepalanya.

Huang langsung menghentikan tebasan, lalu melompat mundur untuk menghindari serangan balik lawan. Gerakannya bersih. Tidak ada langkah yang terbuang.

Lan Dong terkejut melihat reaksi Huang. Matanya membelalak sesaat, lalu menyipit penuh kewaspadaan.

Hampir setiap orang yang menonton menelan ludah. Pertarungan baru dimulai beberapa tarikan napas, namun Huang sudah hampir melukai Lan Dong dua kali.

Lan Dong bangkit sambil menyalurkan energi spiritual ke pedangnya. Wajahnya berubah muram. "Berhenti bermain-main. Kali ini aku akan serius."

Huang tersenyum tipis. "Tidak ada bedanya."

Lan Dong terkekeh dingin. Dia mengangkat pedangnya lalu membuat dua tebasan berturut-turut.

"Teknik Tebasan Penghancur!"

Dua energi pedang berwarna hitam melesat ke arah Huang dengan sangat cepat.

Huang merasakan kekuatan penghancur dari teknik itu, segera melompat ke samping kiri dengan sekuat tenaga.

Boom! Boom!

Dua tebasan itu menghantam lantai arena. Batu retak dan pecah, menimbulkan dua parit kecil yang menganga. Serpihan batu beterbangan ke segala arah. Beberapa murid di barisan depan buru-buru mundur.

Huang mendarat dengan stabil, lalu segera melesat ke arah Lan Dong. Pedangnya siap menusuk ke dada.

Namun Lan Dong langsung menelan sesuatu yang diambil dari dalam jubahnya. Sebuah pil kecil berwarna merah gelap meluncur ke tenggorokannya.

Aura Lan Dong meledak.

Energi spiritual yang keluar dari tubuhnya tiba-tiba membesar berkali-kali lipat. Tekanan di arena langsung berubah.

Huang menyipitkan matanya. Dia tidak bisa melihat tingkat kultivasi Lan Dong dengan jelas. Energi di tubuh pria itu kacau, meluap-luap seperti api yang dipaksa membakar lebih besar dari seharusnya.

Semua penonton terkejut. Suara riuh rendah menyebar cepat.

"Apa yang terjadi?!"

"Kenapa auranya tiba-tiba sekuat itu?"

"Itu... Ranah Fondasi?!"

Tetua Wushuang mengepalkan tangannya di atas sandaran kursi.

"Murid Lan Dong sekarang berada di Ranah Fondasi. Meskipun tidak bisa disebut Tahap Awal sekalipun, namun itu tepat berada di ambang Fondasi."

Yun Guicheng membuka suara. "Aku melihat dia menelan pil. Pil itu bisa meningkatkan kekuatan beberapa jam, namun akan merusak pondasi kultivasinya, dan an yang terburuk... murid Tetua Mo bisa celaka."

Tetua Wushuang memukul pelan pegangan kursinya. "Ini harus dihentikan. Tidak boleh ada kecurangan."

Tetua Mo mengangkat kendi araknya tinggi-tinggi. "Sudahlah, apa yang kalian ributkan. Hanya Ranah Fondasi. Muridku paling parah hanya tidak sadarkan diri sebulan penuh."

Yun Guicheng sedikit terbatuk. "Rekan Mo, muridmu..."

Tetua Mo mengangkat tangannya memotong. "Sudahlah, nikmati pertandingannya. Jangan banyak mengeluh. Anggap saja aku meminjam kekuatan Lan Dong untuk mendidik muridku."

Yun Guicheng menghela napas panjang. "Kalau begitu kita biarkan saja. Jika terlalu berlebihan, segera hentikan."

Tetua Wushuang mengangguk setuju. Namun raut wajahnya masih tegang.

Di tempat duduk murid dalam, Dhu Yan tersenyum menyeringai.

"Bunuh dia dalam ketidaksengajaan," bisiknya pelan, hanya untuk dirinya sendiri.

Di arena, Huang menyipitkan matanya. Dia bisa merasakan bahaya besar dari aura Lan Dong yang meledak-ledak.

Tapi tiba-tiba... Lan Dong menghilang dari pandangannya.

Wush!

"Itu namanya Teknik Langkah Bayangan. Apa kau punya teknik ini... Ha, Huang..."

Suara Lan Dong terdengar tepat di belakang Huang.

Huang ingin bereaksi memberikan tebasan ke belakang, namun Lan Dong sudah menghantam bahunya dengan tinju yang diselimuti energi spiritual padat.

Bug!

Tubuh Huang langsung jatuh berlutut. Kemudian Lan Dong mengangkat kakinya tinggi-tinggi, lalu mengayunkan ke bawah untuk menghancurkan kepala Huang.

Wush!

Angin dari tendangan itu terdengar jelas.

Huang langsung berguling ke samping. Membuat tendangan Lan Dong menghantam lantai arena dan menciptakan retakan kecil.

Setelah itu Huang bangkit cepat menghadap Lan Dong, kemudian secara tiba-tiba dia menebas ke arah belakang tubuhnya sendiri, bukan ke arah Lan Dong.

Swish! Sret!

Lan Dong muncul tepat di belakang Huang dengan Teknik Langkah Bayangan, namun tangannya yang terangkat untuk menyerang justru terkena tebasan Huang. Darah segar mengalir dari lengannya.

Lan Dong terkejut. Matanya membelalak tidak percaya. "Kau... bagaimana kau tahu?!"

Huang tidak menjawab. Dia langsung mundur dan bersiap menghadapi serangan berikutnya.

"Waahhhh!" Pekik para murid luar yang menonton meledak antusias. Banyak yang melompat dari tempat duduk mereka.

Yang lainnya berbinar-binar. "Aku bilang apa! Huang itu spesial! Kalian saja tidak percaya!"

Yang lain memaki. "Sialan, itu hanya keberuntungan!"

Rekan Lan Dong wajahnya pucat.

"Itu hanya kebetulan saja!"

Lan Dong wajahnya yang sedari tadi tenang kini menjadi muram sekali. Dia langsung membentuk segel tangan dengan kedua tangannya. Energi spiritual hitam berkumpul di sekeliling tubuhnya seperti asap tebal.

"Huang! Kau yang memaksa ku!"

Setelah membentuk segel tangan, dari belakang Lan Dong muncul seekor serigala spiritual abu-abu setinggi dua meter. Tubuhnya terbentuk dari energi spiritual padat, matanya bersinar merah menyala. Aura dingin menyebar dari makhluk itu.

Huang terkejut. Kekuatan itu terasa begitu mengerikan. Tekanan dari serigala spiritual itu jauh lebih berat dibandingkan Lan Dong sendiri.

Lan Dong mengangkat tangannya lalu mengayunkan ke arah Huang.

"Pergi!"

Serigala itu melesat ke arah Huang.

Setelah dekat, cakar besar berenergi spiritual melayang cepat bertubi-tubi.

Huang menghindar dengan tenang. Geser ke kiri, tubuhnya berbalik menghadap cakaran berikutnya, lalu menghindar ke kanan. Sesekali dia memblokir cakaran serigala dengan pedang peraknya.

Trang! Trang!

Percikan api keluar dari benturan pedang dan cakar spiritual. Huang merasa lengannya bergetar setiap kali menahan serangan. Serigala itu tidak memberi jeda. Cakarannya semakin cepat, semakin ganas.

Huang berpikir cepat. Ini akan berbahaya jika dilanjutkan. Dia langsung melompat mundur untuk menjauh, menjaga jarak aman.

Huang lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Pedangnya mengarah ke langit. Energi spiritual mengalir deras ke seluruh bilah pedang peraknya. Lalu dia mengarahkan pedangnya ke bawah, tepat ke arah serigala spiritual.

"Tekan!"

Dum!

Serigala itu langsung dihantam kekuatan besar. Seluruh tubuh spiritualnya mendadak tertekan ke bawah.

Crak!

Retakan perlahan muncul di punggungnya, lalu menjalar ke seluruh badan. Makhluk itu mengeluarkan lolongan pelan sebelum akhirnya hancur menjadi serpihan cahaya.

Lan Dong terkejut. Semua orang terkejut. Teknik pertama yang Huang tunjukkan sangat aneh. Seperti tekanan seorang kultivator tingkat tinggi, namun berbeda. Para murid luar saling pandang dengan wajah bingung. Bahkan beberapa murid dalam mengernyitkan dahi mereka.

"Apa itu tadi?"

"Teknik macam apa?"

"Aneh... seperti gravitasi yang tiba-tiba muncul."

Di panggung utama, Tetua Mo menggelengkan kepalanya. "Bocah itu masih menahan diri. Menunjukkan semuanya di akhir? Ah, strategi yang terlalu kuno."

Di arena, aura Lan Dong meledak-ledak. Wajahnya berubah merah padam. Dia merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebuah jimat dengan banyak pola tengkorak. Energi spiritual gelap keluar dari jimat itu seperti asap hitam pekat.

Huang membelalakkan matanya. Dia tidak tahu apa jimat itu, namun nalurinya berteriak bahwa benda tersebut sangat berbahaya.

Dengan cepat Huang mengangkat tangannya, pedangnya mengarah ke langit, lalu dia turunkan.

"Teknik Pedang Gravitasi!"

Wumm!

Tekanan besar langsung menimpa tubuh Lan Dong. Pria itu menunduk sedikit, kedua kakinya bergetar menahan beban yang tiba-tiba muncul dari atas dan tarikan dari bawah.

Jimat di tangannya terjatuh.

Kemudian Huang menurunkan pedangnya lebih rendah. Gravitasi di sekitar Lan Dong semakin berat. Bahunya membungkuk. Lututnya gemetar hebat. Lantai batu di bawah kakinya mulai retak perlahan.

Krak... krak...

Pada saat itu Huang melesat maju. Tubuhnya bergerak sangat cepat, hampir tidak terlihat oleh mata biasa.

Setelah cukup dekat, pedang peraknya langsung menebas cepat tanpa jeda.

Sret! Sret! Sret!

Tebasan pertama mengenai bahu kiri Lan Dong. Tebasan kedua merobek lengan kanannya. Tebasan ketiga membelah dadanya.

Lan Dong mencoba mengangkat pedang untuk membalas, namun lengannya terlalu berat untuk bergerak. Gravitasi yang menekan tubuhnya membuat setiap gerakan terasa seperti melawan arus sungai deras.

Huang terus menebas. Satu tebasan ke paha. Satu tebasan ke rusuk. Satu tebasan ke punggung. Seluruh tubuh Lan Dong kini penuh dengan luka tebasan. Darah mengalir dari puluhan luka di sekujur tubuhnya.

Huang mengangkat pedangnya untuk tebasan terakhir ke arah leher.

Diaken langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Berhenti! Atau kau akan dikeluarkan!"

Wusss...

Tebasan Huang yang mengarah ke leher Lan Dong langsung terhenti, hanya selebar jari dari kulit leher lawan.

Kemudian Huang melompat mundur dengan tenang.

Diaken menghela napas panjang. Wajah tuanya tampak lelah. Dia memandang Lan Dong yang sudah berlutut dengan tubuh penuh luka, lalu memandang Huang yang masih berdiri tenang dengan pedang di tangan.

Diaken lalu berteriak lantang. "Pemenangnya... Huang!"

Seluruh pelataran meledak. Teriakan dan sorakan bercampur menjadi satu. Murid luar yang sebelumnya meremehkan Huang kini menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara kagum dan takut.

Rekan-rekan Lan Dong berdiri dengan wajah pucat, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

Dhu Yan duduk dengan rahang mengeras. Tangannya mencengkeram sandaran kursi sangat kuat hingga kayunya retak. Wajahnya yang tampan berubah muram. Rencananya gagal total.

Lan Dong terjatuh ke samping. Tubuhnya penuh luka, darah mengalir membasahi lantai arena. Beberapa murid segera berlari masuk untuk membawanya ke aula pengobatan.

Huang menyimpan pedang peraknya kembali ke dalam cincin ruang. Dia menangkupkan kedua tangan ke arah Lan Dong yang sedang diangkat keluar arena.

"Terima kasih atas bimbingannya, Kakak Senior Lan."

Kata-kata itu terdengar sopan, namun bagi yang mendengarnya, ada sesuatu yang dingin di baliknya.

Huang berbalik dan berjalan turun dari arena.

Di panggung utama, Tetua Mo tersenyum tipis. "Itu baru muridku."

Yun Guicheng memandang Huang yang sedang berjalan keluar arena. "Teknik gravitasi yang langka. Tetua mo sangat perhatian dengannya, hingga menurunkan teknik itu."

Tetua Wushuang mengangguk setuju. "Dan yang menarik, bocah itu masih menyimpan kekuatan."

Pertarungan babak pertama akhirnya selesai. Tiga nama kini resmi melaju ke babak terakhir. Ning Su. Qiao Rin. Dan Huang.

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!