Stefani Agnesia Smith, Dokter cantik berumur 22 tahun yang terlahir dari keluarga terpandang. Memiliki otak super cerdas dan cantik membuat semua pria tertarik kepadanya. Tapi karena sifatnya yang judes dan dingin membuat semua lelaki tidak berani untuk mendekatinya. Hingga ada seorang pria tampan yang merupakan ceo muda dari perusahaan terkenal mendekatinya.
Bisakah sang Ceo menaklukan hati si Dokter cantik?
Tunggu lanjutan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adik Penghalang
Pagi hari, Stefani sudah berada di ruang kerjanya. ia harus mengecek laporan kesehatan pasien-pasien yang ia kontrol. Karena kemarin dia tidak bisa hadir, terpaksa pekerjaannya ia serahkan pada Vanya. Kini diatas mejanya sudah menumpuk hasil pemeriksaan semua pasien. ia mengecek satu persatu untuk menentukan kondisi pasien itu sudah layak pulang atau tidak. Hingga kini tangannya memeriksa hasil pemeriksaan pasien bernama Rayn Ferlando Richard. ia membaca dengan seksama, seuntai senyuman terukir di wajah cantiknya. ia kemudian bergegas ke kamar rawat Rayn.
Setibanya di ruang rawat Rayn, Stefani langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Disana hanya ada Rayn seorang diri yang sedang bermain game di ponselnya.
"Selamat pagi Rayn" sapa Stefani. Rayn terlonjak kaget. ia bahkan hampir menjatuhkan ponselnya.
"Eh Dokter Stefani, dokter mengagetkan saya. Pagi juga Dok" sahut Rayn sambil memegang dada kirinya.
"Hehe, maaf mengagetkanmu. Bagaimana keadaanmu?, apa ada keluhan?" tanya Stefani sambil mengecek detak jantung Rayn menggunakan stetoskop.
"Nggak ada sih dok" jawab Rayn sambil terus menatap lekat ke wajah Stefani.
"Cantik" batin Rayn.
"Kondisimu meningkat pesat, luka jahitnya juga sudah mengering. Besok kamu sudah bisa pulang" ucap Stefani sambil tersenyum.
"Beneran?, yess akhirnya bisa pulang" girang Rayn.
"Lain kali hati², jangan sampai kejadian ini terulang kembali. Kamu tau, aku aja takut liat luka kamu waktu itu. Apalagi kamu punya hemofilia, kamu harus jaga diri baik², luka kecil bisa jadi sangat berbahaya untuk kamu Rayn" jelas Stefani.
"Iya dok, aku janji bakal jaga diri baik². dan makasih dokter Stefani udah merawat aku dengan sangat baik" ucap Rayn tulus.
"Itu udah tugas aku menjadi dokter" jawab Stefani.
"Rayn, gue bawa bubur buat...
Leo tiba-tiba datang, ia terkejut melihat Stefani berada di ruang rawat adiknya bahkan mereka seperti sangat akrab. Ada rasa sesak yang menyeruak di rongga dadanya saat melihat Stefani dekat dengan pria lain. Padahal dia tau bahwa dirinya dan Stefani tidak memiliki keterikatan apapun kecuali di dunia pekerjaan.
"Ehh lo kak, sini masuk!" seru Rayn. Perlahan Leo menghampiri mereka berdua. ia menatap sayu ke Stefani. Stefani yang di tatap demikian menjadi gugup.
"Nih orang ngapain cobak nfeliatin gue kayak gitu" batin Stefani.
"Nih gue bawain bubur buat lo" ucap Leo dingin sambil menyodorkan satu bungkus bubur ayam ke adiknya. Rayn menerima dengan senang hati. ia membuka box itu lalu memakan bubur ayamnya.
"Kalo gitu, saya permisi. Mari Rayn, tuan Leo" tak betah dengan kecanggungan yang ada, Stefani segera melangkah keluar ruang rawat Rayn. ia berjalan sambil memegang dada kirinya, ia merasakan jantungnya memompa dua kali lebih cepat.
"Gue kok tegang gini sih waktu liat matanya si Leo. hiii jadi takut gue" batin Stefani sambil bergidik ngeri. ia kemudian masuk ke ruangannya.
Stefani duduk sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. ia merogoh saku jas dokter dan membuka ponsel yang sedari tadi ia matikan. Ada sekitar 10 panggilan masuk dari Tania. Stefani lalu menelfon balik Tania.
"Hallo Tan, ada apa?" tanya Stefani saat panggilan sudah terhubung.
"Maaf nona, saya hanya ingin mengabari bahwa nanti malam pihak WLS Corp meminta pertemuan rapat dengan kita untuk membicarakan rencana kerja sama pembangunan mall di kota L, apa anda menyetujuinya?. Jika iya, biar saya atur tempat dan waktunya nona."
Stefani diam sejenak memikirkan ucapan Tania. ia menghela nafas panjang.
"Oke, aku setuju. Atur waktu dan tempatnya. Nanti sore aku ke kantor"
"*Baik nona"
tutt*....
Panggilan terputus, Stefani kembali menjalankan pekerjaannya sebagai dokter.
Di ruang rawat Rayn
"Lo tadi ngomongin apa sama Stefani?"tanya Leo dengan tatapan mengintimidasi.
"Tadi dia cuma bilang kalo besok gue udah boleh pulang" jawab Rayn sambil melahap buburnya.
"Ohh"
"Kak, dokter Stefani itu cantik ya. Pinter, baik lagi. Bener² istri idaman" ucap Rayn sambil tertawa kecil.
"Lo suka sama dia?" tanya Leo.
"Iya" jawab Rayn.
"Lo nggak boleh suka sama dia" tukas Leo dengan tatapan elangnya.
"Kenapa gue nggak boleh suka sama dia?" tanya Rayn sambil menaikan sebelah alisnya.
"Dia milik gue, dan lo nggak boleh suka sama dia" jawab Leo.
"Kenapa lo tiba-tiba mengklaim kalo Stefani itu milik lo. Lo pacarnya?, lo ada hubungan sama dia?" tanya Rayn sinis.
Leo tak bisa menjawab. Dia kehabisan kata-kata. Memang benar, dia tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Stefani. Tapi dia tidak rela jika Stefani dekat bahkan dimiliki oleh lelaki lain.
"Kenapa?, nggak bisa jawab kan lo. Lo gak bisa halangin gue kak" tukas Rayn. Tak bisa dipungkiri, dia memang menyukai Stefani sejak pertama kali bertemu. Dan dia akan berusaha untuk mendapatkannya.
"Gue emang belum ada hubungan sama dia, tapi gue akan jadiin dia milik gue. dan gue nggak akan biarin seorang pun rebut dia dari gue, termasuk lo" sarkas Leo. Leo tau watak adiknya, dia tak akan berhenti sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.
"Gue udah sering ngalah sama lo Ray, dalam segala hal dan dalam segala segi. Tapi untuk yang satu ini, gue nggak akan ngalah dan nyerahin dia begitu aja ke lo." lanjutnya dengan tatapan tajam.
"Oke, kita bersaing secara sehat" jawab Rayn.
Leo tak menjawab, ia segera pergi dari ruang rawat Rayn. Dengan perasaan kesal, ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Akhhh" teriak Leo sambil memukul setir berulang kali.
"Kenapa, kenapa lo harus suka juga sama Stefani. Kenapa harus Stefani, kenapa nggak perempuan lain aja. KENAPA..." racau Leo. ia menambah laju mobilnya. ia sudah seperti orang kesetanan, sumpah setapah terlontar dari mulut pengendara lain untuk dirinya. Tapi Leo tak peduli, ia terus menancap gas dengan kecepatan tinggi.
Mobil Leo terparkir di kantornya. ia turun dan mekangkah memasuki kantor. Aura dingin yang mencekam membuat para karyawan tidak berani menatapnya. ia memasuki lift dan menekan tombol lantai 30.
Tinggg
Pintu lift terbuka, Leo melangkahkan kaki dengan gagahnya. Sesampai di depan ruangan kerja, ia melihat Jessy (Sekretaris nya) menunduk takut.
"Ada apa?" tanya Leo dingin.
"Anu tuan, maaf. Di dalam ada Nona Shyla sedang menunggu anda. Saya sudah menghalangi tapi dia tetap membrontak dan nekad masuk tusn. Maaf" ucap Jessy tanpa mengangkat wajahnya.
Leo semakin kesal. Masalah tentang dirinya, Stefani, dan Rayn sudah membuatnya jengkel setengah mati. Ini malah ada ulat bulu hinggap di kantornya. Leo membuka pintu ruangannya dengan sangat keras hingga membuat sekretaris dan Shyla terlonjat kaget.
"Ngapain lo kesini?!" tanya Leo dengan nada tinggi.
"Aku mau ketemu kamu Le" jawab Shyla.
"Gue nggak mau liat muka lo, pergi!" bentak Leo.
"Le, ku mohon.Untuk terakhir kali, kamu mau ya nanti malem pergi sama aku sebentar. Ini yang terakhir, sebelum aku meninggalkan negara ini. Setelah itu, aku nggak akan nemuin kamu lagi" ucap Shyla dengan wajah memelas. Leo menghela nafas panjang.
"Jam berapa?" tanya Leo dingin.
"Jam 7, nanti aku shareloc tempatnya." jawab Shyla antusias. Leo mengangguk.
"Thanks Le, kalo gitu aku pulang dulu. See you nanti malem" ucap Shyla. ia kemudian meninggalkan kantor Leo.
Leo duduk di kursi kebesarannya. Tangannya mulai berkutat dengan laptop dan berkas-berkas yang ada. Ini satu-satunya cara agar dia tidak terlalu memikirkan masalah cinta segitiga ini.
**Tandai typo...
Like sama vote-nya mana nih guys. Budayakan meninggalkan jejak setelah membaca ya. Kalian bisa kirim masukan lewat coment.
Happy Reading 😘**