NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangat di Tengah Dingin

Pagi harinya, prediksi Aska tentang "paru-paru basah" hampir saja menjadi kenyataan. Aruna terbangun dengan kepala yang terasa seberat bongkahan timah dan tenggorokan yang perih seperti ditusuk-tusuk jarum.

Namun, bagi seorang Aruna, melewatkan satu hari sekolah tanpa alasan medis yang benar-benar darurat adalah sebuah pantangan besar dalam kamus hidupnya. Dengan sisa-sisa tenaga dan bantuan dua butir obat flu yang ia temukan di kotak obat, ia memaksakan diri untuk tetap berangkat.

Suasana SMA Cakrawala Bangsa di hari Rabu pagi terasa lebih tenang setelah diguyur hujan lebat semalaman. Aruna berjalan menyusuri koridor dengan syal rajut abu-abu yang melilit lehernya, mencoba menyembunyikan wajah pucatnya yang biasanya selalu terlihat segar.

Namun, mata tajam Sasha tidak bisa dikelabui sedikit pun. Begitu Aruna menginjakkan kaki di kelas, Sasha langsung menghambur ke arahnya.

"Na! Lo sakit ya?" tanya Sasha seketika. Ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Aruna tanpa menunggu jawaban. "Panas, Na! Ya ampun, lo pasti gara-gara kehujanan kemarin ya?"

Aruna terdiam sejenak. Ia belum menceritakan pada siapa pun kalau kemarin ia pulang dibonceng motor Aska di tengah badai karena banjir yang menutup akses jalan utama. Ia menarik napas berat yang terasa panas. "Kak Adrian ada rapat yang nggak bisa ditinggal, Sha. Jadi gue... ya, nunggu angkotnya kelamaan di lobi dan akhirnya nekat."

Tak lama kemudian, Adrian masuk ke kelas sebelum bel berbunyi. Ia membawa sebuah tumbler kecil dan sebuah kotak kecil berisi vitamin. Wajahnya tampak sangat cemas, lebih cemas dari biasanya, saat melihat kondisi Aruna yang tampak lesu.

"Na, aku bener-benar minta maaf soal kemarin," ujar Adrian sambil meletakkan tumbler itu di meja Aruna. Suaranya terdengar sangat menyesal.

"Maaf udah bikin kamu nunggu dan pada akhirnya kamu naik angkot, rapatnya berjalan jauh lebih lama dari yang aku kira karena ada evaluasi mendadak. Pas aku selesai, hujan udah deres banget dan aku nggak liat kamu lagi di lobi. Aku bener-benar ngerasa bersalah ninggalin kamu sendirian."

Aruna menatap tumbler itu, lalu menatap Adrian. Ia melihat ada gurat kelelahan juga di wajah Adrian. "Nggak apa-apa, Kak. Nggak ada yang salah. Kakak punya tugas, dan aku juga nggak bisa terus-terusan bergantung sama Kakak buat urusan pulang. Kemarin emang situasinya aja yang lagi susah karena hujan badai."

Adrian mengernyit, merasa tidak enak. "Tapi kamu jadi sakit begini. Ini ada cokelat hangat sama vitamin, diminum ya? Nanti istirahat aku antar ke UKS kalau kamu masih ngerasa pusing. Aku udah minta izin ke Bu Jasmine buat kamu kalau butuh istirahat di jam pertama."

Aruna hanya mengangguk lemas, mencoba memberikan senyum tipis untuk menenangkan Adrian. Perhatian Adrian sangat teratur dan sopan.

Namun, jauh di sudut hatinya, Aruna teringat sensasi nekat kemarin—bagaimana ia harus memegang erat jaket kulit Aska yang kasar saat motor itu membelah genangan air. Itu adalah pengalaman yang tidak "aman", tapi entah kenapa terasa sangat nyata.

---

Saat jam istirahat tiba, Aruna memilih untuk tetap di kelas. Kepalanya terasa berdenyut jika ia mencoba berdiri. Sasha, Jelita, dan Lulu sudah pergi ke kantin setelah memastikan Aruna memegang botol air minumnya, mereka ke kantin untuk membelikan makanan untuk Aruna dan berniat kembali lagi setelah membeli makanan.

Suasana kelas yang sepi mendadak berubah saat suara langkah kaki yang berat mendekat.

Aroma parfum citrus yang segar bercampur aroma sabun maskulin memenuhi indra penciuman Aruna. Ia mendongak perlahan.

"Masih sakit, Anak Pintar?"

Aska berdiri di sana, menyandarkan pinggulnya di meja depan Aruna dengan gaya santainya yang khas. Cowok itu memakai jaket *varsity* basket, terlihat sangat bugar seolah badai kemarin hanyalah angin sepoi-sepoi baginya.

"Lu liat sendiri," suara Aruna serak, hampir hilang.

Aska tidak tertawa mengejek seperti biasanya. Ia justru mengeluarkan sebuah kantong plastik dari balik punggungnya. Isinya adalah bubur ayam hangat yang uapnya masih mengepul dan sebuah kotak susu jahe panas.

"Makan. Jangan cuma minum cokelat manis atau vitamin kimia," ujar Aska sambil meletakkan plastik itu di depan Aruna. "Cokelat itu enak di lidah doang, tapi susu jahe ini yang bakal bikin badan lu beneran anget."

Aruna menatap plastik itu dengan bingung. "Lu... lu sengaja beli ini?"

Aska mengedikkan bahu, membuang muka sebentar. "Gue tadi lewat depan sekolah, terus kepikiran kalau ada orang pinter yang mungkin lagi meriang gara-gara sok jagoan nembus hujan. Ternyata bener."

Aruna menarik napas panjang, mencoba meredakan peningnya. "Makasih, Ka. Tapi lu nggak perlu segitunya. Kemarin udah nganterin, sekarang bawain makanan. Nanti orang-orang mikir apa."

Aska mencondongkan wajahnya, membuat jarak di antara mereka terkikis. Mata hitamnya menatap Aruna dengan intensitas yang berbeda. "Gue nggak peduli orang mikir apa, Na. Gue ngelakuin apa yang menurut gue bener. Dan sekarang, yang bener itu lu makan bubur ini sampe abis biar lu ada tenaga buat debat sama gue lagi."

Tepat saat itu, pintu kelas terbuka lebar. Adrian berdiri di ambang pintu dengan wajah yang seketika berubah kaku melihat posisi Aska yang begitu dekat dengan Aruna. Ada ketegangan instan yang memenuhi ruangan.

"Askara. Lu ngapain disini?" tanya Adrian, seolah sedang menegur siswa yang melanggar aturan.

Aska berdiri tegak dengan tenang, memasukkan tangannya ke saku jaket. Ia tidak terlihat terintimidasi sedikit pun. "Cuma nganterin sarapan yang 'berfungsi' buat orang sakit. Kenapa? Lu keberatan?"

"Aruna sudah aku bawakan vitamin dan minuman hangat. Kamu nggak perlu repot-repot ikut campur," balas Adrian sambil melangkah maju, berdiri di sisi lain meja Aruna.

Aska tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat sinis. "Vitamin? Dia butuh asupan makanan nyata, bukan sekadar suplemen. Lagian, menurut gue, ini bukan soal siapa yang repot, tapi soal siapa yang ada pas dia butuh bantuan di tengah banjir kemarin."

Wajah Adrian memerah. Ia tampak ingin membalas, rasa bersalah dari hari kemarin seolah diaduk-aduk kembali oleh kalimat Aska. Namun, sebelum perdebatan makin panas, Aruna memukul meja pelan.

"Cukup!" suara Aruna yang parau terdengar sangat tegas di tengah sunyinya kelas. "Gue hargai perhatian kalian berdua. Kak Adrian, makasih cokelatnya. Aska, makasih buburnya. Tapi tolong, jangan bikin kepala gue makin pusing dengan ribut di sini. Nggak ada yang salah dengan kemarin, dan nggak ada yang perlu dibanding-bandingin."

Kedua cowok itu terdiam. Aruna menatap mereka bergantian dengan mata yang sayu namun tetap tajam. "Sekarang, gue cuma pengen makan dengan tenang terus merem sebentar. Bisa kalian kasih gue ruang?"

Aska adalah yang pertama merespons. Ia menepuk meja Aruna sekali dengan gerakan santai. "Oke, Na. Habisin buburnya. Gue pergi." Ia melirik Adrian sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu berjalan keluar dengan langkah santai.

Adrian menarik napas panjang, mencoba menenangkan emosinya. "Maaf, Na. Aku cuma... aku cuma merasa nggak tenang kalau dia di sini. Tapi kamu bener, aku nggak seharusnya bikin kamu makin stres. Istirahat ya, nanti aku cek lagi pas pulang."

---

Sore harinya, Aruna pulang lebih awal karena izin sakit. Di dalam angkot, ia duduk bersandar di kaca jendela yang masih menyisakan sisa-sisa embun. Pikirannya tidak bisa berhenti memutar kejadian di kelas tadi.

Ia menyadari bahwa dirinya berada di tengah dua kutub yang sangat berbeda. Adrian adalah sosok yang mewakili keteraturan, keamanan, dan masa depan yang terukur. Segala sesuatunya dilakukan dengan cara yang "benar" dan sopan. Sementara Aska adalah anomali—sosok yang mewakili kejujuran yang liar, tindakan impulsif yang nyata, dan cara perhatian yang kasar namun tulus.

Aruna tidak ingin menyalahkan Adrian atas keterlambatannya kemarin, karena ia tahu Adrian punya tanggung jawab besar. Namun, ia juga tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran Aska yang mendadak di tengah badai telah menyentuh sesuatu di dalam dirinya yang selama ini tertutup rapat oleh logika.

Sesampainya di rumah, Aruna segera masuk ke kamar dan melihat dua pesan masuk di ponselnya.

**Adrian:** *Na, sudah sampai rumah? Tolong minum vitaminnya lagi ya. Besok aku bawakan catatan Kimia dari latihan olimpiade yang tadi kamu lewatkan ya supaya kamu nggak ketinggalan materi.*

**Aska:** *Buburnya abis kan? Susu jahenya jangan lupa diangetin lagi kalau udah dingin. Jangan keras kepala, istirahat total.*

Aruna menatap kedua pesan itu cukup lama. Ia tersenyum tipis. Baginya, hidup kini bukan lagi tentang mencari siapa yang paling sempurna untuk menjaganya. Ia mulai belajar bahwa setiap orang punya cara sendiri untuk peduli. Adrian dengan cara yang terstruktur, dan Aska dengan cara yang tak terduga.

Malam itu, di bawah selimut hangatnya, Aruna merasa bersyukur. Meskipun badannya terasa sakit, hatinya merasa jauh lebih "kaya". Ia bukan lagi Aruna yang hanya tahu cara memecahkan soal matematika, tapi ia adalah Aruna yang mulai memahami bahwa perasaan manusia adalah variabel paling kompleks yang pernah ia temui—dan ia siap untuk menjalaninya tanpa harus merasa bersalah pada siapa pun.

1
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!