NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Suasana di SMA Garuda Nusantara pagi itu terasa sangat tegang. Hari ini adalah pelaksanaan *International Baccalaureate (IB) Simulation*, sebuah ujian standarisasi internasional yang hasilnya akan menjadi penentu utama bagi siswa yang ingin mendaftarkan diri ke universitas bergengsi di luar negeri. Bagi Adelard, ujian ini adalah tiket emasnya untuk lepas dari ketergantungan finansial keluarga Mahendra di masa depan. Namun bagi Clarissa, ini adalah ancaman besar yang bisa mempermalukannya untuk kedua kali setelah kekalahan telatnya di simulasi nasional tempo hari.

Di dalam kelas yang sunyi, Adel meletakkan tasnya dan mengeluarkan peralatan tulisnya. Ia tidak menyadari bahwa Clarissa, yang duduk dua baris di belakangnya, sedang menatap punggungnya dengan mata merah penuh kebencian. Clarissa telah menyusun rencana rahasia dengan bantuan Sarah dan seorang pengawas ujian yang bisa disuap.

"Kita lihat, apakah otak jeniusmu bisa menyelamatkanmu kali ini," bisik Clarissa dalam hati.

Ujian dimulai. Suasana hening hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan goresan pena di atas kertas. Adel fokus sepenuhnya pada soal-soal Fisika tingkat lanjut yang sangat rumit. Namun, di pertengahan ujian, Adel merasa perlu mengambil penghapus di dalam saku depan tasnya yang ia letakkan di lantai.

Saat tangannya meraba ke dalam tas, jarinya menyentuh sesuatu yang asing. Sebuah amplop cokelat kecil yang terasa tebal.

Jantung Adel berdegup kencang. Ia belum sempat menarik tangannya keluar ketika tiba-tiba Pak Bambang, pengawas ujian yang dikenal sangat kaku—namun diam-diam telah menerima amplop tebal dari Nyonya Siska pagi tadi—berdiri tepat di samping meja Adel.

"Adelard Mahendra, apa yang sedang kau lakukan dengan tasmu?" suara Pak Bambang menggelegar, memecah kesunyian kelas.

Adel mendongak, wajahnya pucat. "Saya... saya hanya ingin mengambil penghapus, Pak."

"Berdiri!" perintah Pak Bambang. Ia langsung merampas tas Adel dan merogoh ke dalamnya. Dengan gerakan yang dramatis, ia menarik keluar amplop cokelat itu dan membukanya di depan seluruh siswa.

Di dalamnya terdapat naskah soal ujian internasional yang sedang berlangsung, lengkap dengan kunci jawaban yang ditulis dengan tangan yang sangat mirip dengan tulisan Adel.

"Menyontek? Dan mencuri naskah soal?" Pak Bambang menatap Adel dengan jijik yang dibuat-buat. "Saya tidak menyangka siswa peringkat satu melakukan tindakan serendah ini."

Seluruh kelas riuh. Clarissa berdiri dengan wajah yang pura-pura terkejut. "Adel? Ya ampun... kau melakukan ini? Pantas saja nilaimu selalu sempurna!"

"Bukan aku! Aku tidak pernah memasukkan amplop itu ke tasku!" Adel berdiri membela diri, matanya berkilat marah. Ia menatap Clarissa yang sedang menyeringai tipis di balik sandiwaranya.

"Ikut saya ke ruang Kepala Sekolah! Sekarang!"

---

Di ruang Kepala Sekolah, situasi semakin memburuk. Nyonya Siska datang hanya dalam waktu lima belas menit setelah ditelepon—seolah-olah ia memang sudah menunggu di gerbang sekolah.

Tuan Mahendra tidak bisa hadir karena rapat mendadak, meninggalkan Adel sendirian menghadapi penghakiman Nyonya Siska.

"Ibu, saya bersumpah, saya tidak melakukannya," ucap Adel saat mereka berada di dalam ruangan tertutup bersama Kepala Sekolah. "Seseorang menjebak saya. Tulisan di kunci jawaban itu hanya mirip, tapi itu bukan tulisan saya!"

Nyonya Siska tidak memberikan pelukan atau kata-kata penenang. Sebaliknya, ia melangkah maju dan melempar amplop itu ke meja dengan kasar.

"Cukup, Adel! Kau sudah mempermalukan nama Mahendra!" Siska berteriak, suaranya melengking penuh kebencian. "Kami membawamu ke rumah ini, memberimu status, memberimu kemewahan, dan ini caramu membalasnya? Dengan mencuri soal ujian?"

"Ibu, kenapa Ibu langsung menyalahkan saya tanpa mendengar penjelasan saya?" suara Adel bergetar. "Ibu tahu saya belajar setiap malam di paviliun. Untuk apa saya mencuri soal yang bisa saya kerjakan sendiri?"

"Karena kau rakus!" sela Siska. "Kau takut posisimu sebagai 'anak pintar' digeser oleh Clarissa, jadi kau melakukan cara kotor ini! Kau memang tidak punya martabat, Adel. Darah rendahanmu itu benar-benar tidak bisa diubah meski kau sudah memakai seragam mahal!"

Kepala Sekolah berdehem. "Nyonya Siska, konsekuensi dari mencuri naskah IB adalah diskualifikasi permanen dan kemungkinan dikeluarkan dari sekolah."

"Lakukan saja," sahut Siska dingin. "Keluarga Mahendra tidak butuh pencuri. Dia hanya anak angkat, dan jika perilakunya seperti ini, kami tidak keberatan untuk membatalkan adopsinya."

Adel merasa dunianya gelap. Ibunya sendiri... wanita yang seharusnya melindunginya, justru menjadi orang pertama yang ingin membuangnya ke jurang. Di luar ruangan, ia bisa melihat Clarissa sedang berdiri di balik kaca jendela, tertawa bersama teman-temannya sambil memegang segelas kopi mahal.

"Tunggu sebentar."

Pintu ruangan terbuka. Devan Dirgantara masuk dengan ekspresi yang sangat tenang, namun auranya sangat mengancam. Ia memegang sebuah tablet di tangannya.

"Tuan Devan? Ini urusan internal sekolah dan keluarga," ucap Kepala Sekolah dengan nada hormat yang berlebihan.

"Ini urusan saya juga, karena saya adalah saksi kunci," Devan meletakkan tabletnya di meja. "Baru saja saya meminta tim IT saya meretas kamera pengawas lorong kelas sepuluh menit sebelum ujian dimulai. Silakan Anda lihat sendiri."

Di layar tablet, terlihat jelas rekaman Sarah, tangan kanan Clarissa, berjalan mengendap-endap ke arah tas Adel saat jam istirahat sebelum ujian dimulai. Ia memasukkan amplop cokelat itu dengan sangat cepat sambil diawasi oleh Clarissa dari kejauhan.

Wajah Nyonya Siska mendadak kaku. Bibirnya bergetar.

"Dan ini," Devan menggeser layar, menunjukkan rekaman percakapan di aplikasi pesan antara Clarissa dan Pak Bambang mengenai 'insentif' untuk menjatuhkan seorang siswa. "Sepertinya ada yang perlu diklarifikasi lebih lanjut sebelum Anda mengeluarkan 'anak angkat' kebanggaan Tuan Mahendra ini."

Kepala Sekolah berkeringat dingin. "Ini... ini pasti ada kesalahpahaman."

Adel menatap ibunya. "Ibu sudah lihat? Clarissa yang melakukannya. Sekarang, apa Ibu akan tetap menyalahkan darah saya yang 'rendah' ini?"

Nyonya Siska terdiam seribu bahasa. Namun, bukannya meminta maaf pada Adel, ia justru menoleh pada Kepala Sekolah. "Hapus rekaman itu. Jangan sampai publik tahu. Aku akan mengurus Clarissa di rumah."

"Dan bagaimana dengan Adel?" tanya Devan dengan nada menuntut.

Siska menatap Adel dengan tatapan yang masih penuh permusuhan. "Dia bisa melanjutkan ujiannya. Tapi jangan berharap aku akan memujimu karena ini, Adel. Kau tetaplah pembawa sial di keluarga kami."

Siska berjalan keluar ruangan dengan langkah terburu-buru, bahkan tidak menoleh sedikit pun pada Adel yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya hari itu.

---

Setelah Siska pergi, Adel duduk lemas di kursi kayu. Devan mendekatinya dan meletakkan tangannya di bahu Adel.

"Aku sudah bilang, mereka tidak akan pernah memihakmu, Adel," bisik Devan. "Bahkan saat bukti ada di depan mata, ibumu lebih memilih menutupi kejahatan Clarissa daripada mengakui kebenaranmu."

Adel mendongak, matanya kering namun penuh dengan api dendam yang baru. "Terima kasih, Devan. Kau menyelamatkanku lagi."

"Aku tidak menyelamatkanmu. Aku hanya mempercepat kehancuran mereka," Devan memberikan tablet itu pada Adel. "Simpan salinannya. Gunakan ini sebagai peluru saat pesta ulang tahun pernikahan mereka nanti. Jangan biarkan mereka tidur nyenyak malam ini."

Adel memegang tablet itu dengan erat. "Kau benar. Selama ini aku berharap dia mencintaiku sebagai anak. Tapi sekarang aku sadar... baginya, aku bukan anak. Aku hanyalah ancaman bagi boneka kesayangannya."

Adel berdiri, merapikan seragamnya, dan berjalan keluar dari ruang Kepala Sekolah dengan kepala tegak. Di koridor, ia berpapasan dengan Clarissa yang tampak panik setelah melihat ibunya pergi dengan wajah marah.

Adel berhenti tepat di depan Clarissa. Tanpa peringatan, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Clarissa.

"Rencanamu gagal, Clarissa. Dan harganya sangat mahal," bisik Adel dingin. "Mulai hari ini, aku tidak akan lagi bermain sebagai korban. Aku akan memastikan setiap inci kenyamanan yang kau rasakan di rumah itu berubah menjadi duri yang menusukmu setiap malam."

Adel melangkah pergi meninggalkan Clarissa yang berdiri mematung dengan ketakutan yang mulai merayap di seluruh tubuhnya. Perang di sekolah mungkin berakhir hari ini, tapi perang di dalam Mansion Mahendra baru saja mencapai level yang mematikan. Adel bukan lagi putri yang mendamba cinta; ia telah menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa bagi kebohongan keluarga Mahendra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!