NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: BENIH YANG BERKECAMBAH DAN UJIAN PERTAMA

Enam bulan berlalu sejak malam penuh doa itu. Waktu di Gang Tebet seolah berjalan lebih lambat, atau mungkin karena kedamaian yang menyelimuti kawasan itu membuat setiap detiknya terasa bermakna.

Rumah mewah Aris dan Rina kini tidak lagi terasa asing bagi warga. Dinding pagarnya yang rendah sering kali menjadi tempat anak-anak kampung bermain petak umpet di sore hari, dengan izin dan senyuman dari Rina yang sering keluar membawa camilan. Masjid Ar-Rahman tetap menjadi pusat kegiatan, bukan hanya untuk salat, tapi juga untuk kelas mengaji gratis, pelatihan komputer, dan konsultasi kesehatan yang didanai yayasan Aris.

Namun, kehidupan tidak pernah benar-benar lepas dari ujian. Ujian kali ini tidak datang dalam bentuk keributan atau fitnah jahat, melainkan dalam bentuk kecemasan yang paling dinanti-nanti sekaligus paling ditakuti oleh setiap pasangan suami istri: Kehamilan

Pagi itu, di kamar mandi utama yang luas dengan bathtub marmer, Rina duduk di atas tutup kloset, menatap sebuah alat tes kehamilan kecil di tangannya. Tangannya gemetar hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terdengar di telinganya sendiri.

Ingatan tentang malam pertama mereka, tentang doa panjang Aris agar diberikan anak yang saleh dan tidak durhaka, berputar cepat di kepalanya.

"Ya Allah, jangan biarkan anak kami durhaka... jangan biarkan mereka mengalami nasib buruk..."

Rina menarik napas panjang, memejamkan mata, lalu membuka mata again menatap alat itu.Satu garis. Dua garis.

Garis kedua muncul perlahan, awalnya samar, lalu semakin jelas berwarna merah muda cerah.

Rina menutup mulutnya, menahan jeritan haru yang ingin meledak. Air matanya langsung tumpah. Bukan air mata sedih, tapi air mata syukur yang meluap-luap. Ia menyentuh perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar. "Ada... ada bayi di sini," bisiknya pada diri sendiri. "Anak kita..."

"Sayang? Kamu kenapa lama sekali? Apakah kamu sakit?" suara Aris terdengar cemas dari balik pintu.

Rina buru-buru menghapus air matanya, mengambil handuk, dan membuka pintu. Saat melihat Aris yang berdiri dengan wajah khawatir, Rina tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, menunjukkan alat tes itu, sambil tersenyum lebar di tengah aliran air mata.

Aris terdiam. Matanya membelalak, beralih dari alat tes ke wajah Rina, lalu kembali ke alat tes.

"Rin... ini..." suaranya tercekat. Ia mengambil alat itu, memastikan apa yang ia lihat benar. "Dua garis? Kita... kita akan punya anak?"

Rina mengangguk kuat-kuat, lalu menerjang pelukan Aris. "Kita akan jadi orang tua, Kak! Allah mengabulkan doa kita!"

Aris memeluk Rina erat-erat, seolah takut istrinya akan hilang. Tubuhnya yang tegap berguncang hebat oleh isak tangis bahagia. Pria kuat yang biasa menghadapi rapat direksi dengan dingin dan mengusir preman dengan tegas, kini luluh lantak oleh kabar kecil seukuran korek api ini.

"Alhamdulillah... Alhamdulillah..." Aris berulang kali mengucapkan kalimat itu, mencium puncak kepala Rina, lalu keningnya, lalu pipinya. "Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih telah mempercayai kami amanah ini."

Mereka berdua duduk di tepi ranjang, masih berpelukan, merasakan keajaiban hidup yang sedang tumbuh di dalam rahim Rina.

"Tadi malam aku mimpi," cerita Rina tiba-tiba, suaranya lirih. "Aku mimpi ada bayi laki-laki, wajahnya sangat mirip kamu, Kak. Dia tersenyum padaku, lalu dia memegang jari telunjukku. Rasanya... hangat sekali. Aku bangun langsung ingin tes."

Aris tersenyum, mengusap perut Rina dengan lembut. "Mudah-mudahan itu pertanda baik. Kita harus menjaganya baik-baik, Rin. Mulai hari ini, kamu tidak boleh lelah. Tidak boleh stres. Semua urusan rumah tangga biar pembantu yang urus. Urusan yayasan bisa saya ambil alih sementara atau kita delegasikan."

"Nggak, Kak," tolak Rina halus tapi tegas. "Aku ingin tetap aktif. Dokter bilang ibu hamil justru butuh aktivitas ringan dan kebahagiaan. Mengurus anak-anak yatim di yayasan membuatku bahagia. Itu bagus untuk bayi."

Aris menatap istrinya dengan bangga. "Kamu benar. Ibu yang bahagia akan melahirkan anak yang bahagia. Tapi janji sama saya, kalau capek sedikit saja, langsung istirahat. Oke?"

"Oke," jawab Rina sambil tertawa kecil.

Kabar kehamilan Rina menyebar lebih cepat daripada virus. Dalam hitungan jam, seluruh Gang Tebet tahu.

Ibu-ibu yang dulu suka bergosip kini berbondong-bondong datang ke rumah Aris, bukan untuk mencari kesalahan, tapi untuk memberikan doa dan hadiah sederhana. Ada yang membawa telur ayam kampung, ada yang membawa jamu tradisional, ada yang membawa kain bedong buatan sendiri.

Bu Lik Minah, yang dulu paling tajam lidahnya, kini datang dengan mata basah. "Masya Allah, Bu Rina. Selamat ya. Semoga anaknya sehat, shaleh, dan jadi pemimpin umat nanti. Ampuni saya ya Bu, dulu saya banyak bicara macam-macam."

Rina menerima semua dengan lapang dada, menjabat tangan mereka satu per satu. "Terima kasih, Bu Lik. Doa Ibu sangat berarti buat saya."

Siska dan Yuni juga datang, meski agak malu-malu. Mereka membawa baju bayi impor yang mereka beli dengan uang tabungan mereka. "Ini... buat keponakan nanti," kata Siska gugup. "Kami ikut senang, Rin."

Rina memeluk mereka. "Makasih, Sis. Yun. Kalian tetap sahabat saya."

Di sudut halaman, Dimas berdiri mematung. Ia mendengar berita itu dari obrolan warga. Hatinya sakit, tentu saja. Rasa iri itu masih ada, sisa-sisa luka lama yang belum sepenuhnya kering. Tapi melihat kebahagiaan Rina yang begitu nyata, melihat Aris yang begitu perhatian hingga亲自 (secara pribadi) mengantar Rina keluar mobil dengan hati-hati, Dimas menyadari satu hal: Mereka memang ditakdirkan bersama.

Dimas menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis, senyum pasrah yang ikhlas. "Selamat, Rin," gumamnya pada angin. "Kamu berhak bahagia. Dan dia (Aris) memang lelaki yang tepat untukmu."

Dimas berbalik badan, kembali ke bengkelnya. Ia bertekad untuk fokus pada hidupnya sendiri. Mungkin sudah saatnya ia mencari pasangan yang cocok untuknya, seseorang yang bisa menerima dirinya apa adanya, tanpa bayang-bayang masa lalu.

Malam itu, setelah tamu-tamu pulang, Aris dan Rina duduk kembali di ruang keluarga. Di depan mereka, terdapat Al-Qur'an terbuka.

"Aris," panggil Rina lembut. "Aku takut lagi."

"Apa yang kamu takuti sekarang? Kita sudah dapat kabar gembira," tanya Aris sambil mengelus punggung tangan Rina.

"Aku takut gagal jadi ibu," jawab Rina jujur. "Aku takut tidak bisa mendidik anak ini dengan baik. Aku takut masa laluku membayangi cara didikku. Bagaimana kalau aku terlalu protektif sampai anak ini malah memberontak? Bagaimana kalau aku terlalu lunak sampai anak ini manja?"

Aris menggeleng pelan. "Rin, ketakutanmu itu tanda bahwa kamu akan menjadi ibu yang baik. Ibu yang buruk adalah ibu yang tidak peduli dan merasa sudah paling benar. Keraguanmu adalah bukti cintamu."

Aris mengambil tangan Rina, meletakkannya di atas Al-Qur'an.

"Mari kita buat perjanjian lagi. Seperti malam pertama kita. Setiap malam, sebelum tidur, kita akan membaca surat Maryam dan surat Yusuf. Kita akan berdoa khusus agar anak ini memiliki keteguhan hati seperti Yusuf yang tidak tergoda zina, dan kesucian hati seperti Maryam yang dijaga Allah di tengah fitnah."

"Dan," tambah Aris serius, "kita janji, apapun yang terjadi, kita akan mendidik anak ini dengan cinta, bukan dengan ketakutan. Kita akan cerita jujur tentang masa lalu kita saat dia cukup umur, agar dia tahu bahwa orang tuanya pernah jatuh tapi bangkit. Agar dia belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir, tapi awal untuk menjadi lebih kuat."

Rina mengangguk, matanya berbinar. "Aku setuju, Kak. Kita akan jadi tim yang solid."

Mereka pun mulai membaca ayat-ayat suci itu. Suara Aris yang merdu dan Rina yang lembut bersahutan, mengisi ruangan yang hangat. Di luar, bulan purnama bersinar terang, seolah tersenyum menyaksikan keluarga kecil yang sedang membangun fondasi impian mereka.

Benih itu telah ditanam. Doa telah dipanjatkan. Kini, tinggal menunggu proses alam yang ajaib. Sembilan bulan ke depan akan menjadi perjalanan paling menakjubkan bagi Aris dan Rina. Perjalanan penuh harapan, sedikit kecemasan, tapi diatas segalanya, penuh cinta.

Dan Gang Tebet? Kampung itu pun seolah ikut hamil, mengandung harapan baru bahwa dari rahim seorang mantan korban yang pernah dihina, akan lahir generasi emas yang akan mengubah wajah negeri ini.

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!