𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10| Kecemburuan
Bibir Aluna bergumam takjub dengan bangunan mansion besar keluarga Van Houten, ia pikir setting tempat benar-benar sesuai ekspektasi Aluna. Dengan gaya pesta yang hanya bisa ia lihat di drama-drama luar negeri, entah berapa luas tanah yang dibutuhkan untuk mansion seluas milik Gavino. Bahkan beberapa pelayan yang hadir pun tampak terlatih dengan seragam yang sama, pria maupun wanita tampak tersenyum ramah melayani tamu yang hadir.
Sebastian melirik ke arah gadis dress hitam di sampingnya tampak celingak-celinguk mengedarkan pandangan matanya, disertai gumaman yang tak begitu jelas didengar oleh Sebastian. Sebastian berdehem dua kali, mengalihkan perhatian Aluna kembali tertuju padanya. Gadis itu mendongak, manik mata coklat almond bening itu bersitatap dengan mata hitam legam Sebastian.
"Ayo," kata Sebastian mengulurkan tangannya ke arah Aluna, dahi Aluna mengerut.
Ia melirik ke arah telapak tangan besar yang terulur padanya, lalu kembali menengadah menatap Sebastian. Sebastian menggaruk tengkuk belakangnya yang tak gatal, ekspresi wajahnya masih datar meskipun ia merasa salah tingkah.
"Malam ini lo pasangan gue," sambungnya terdengar berat.
"Jadi lo mau gue—"
"Kita masuk bersama seperti ini." Sebastian memotong perkataan Aluna membungkuk meraih telapak tangan gadis di sampingnya, tanpa terlihat canggung menyelusup jari jemari lentik Aluna di sela ruas jarinya yang kosong.
Mata Aluna melotot tak percaya, bibir merah cherry-nya terbuka lebar. Sebastian membuang muka, melangkah lebih dahulu tanpa melirik Aluna. Memasuki aula peserta di gedung belakang mansion, mendapatkan sorotan dari banyak mata terutama dari para remaja satu sekolah dengan keduanya. Suara denting musik piano menjadi satu dengan bisik-bisik lirih ketidak percayaan para remaja mendapati seorang Sebastian Fernandez mengandeng Aluna—biang onar, ada banyak spekulasi tentang hubungan keduanya mencuat di permukaan.
Zea mendengar suara opini dari sekitarnya ia mendadak mengalihkan pandangan matanya ke arah pusat perhatian dan pembicaraan. Zea membeku di tempat, seakan-akan tengah disiram air es. Manik mata Zea bergetar saat pandangannya turun ke arah tangan yang digenggam, sejak kapan kedua dekat.
Sang tokoh utama di pesta ulang tahun duduk di samping Zea bibirnya terbuka dan kembali tertutup saat ia mendapati perhatian gadis cantik di sampingnya itu teralihkan, Gavino membawa tatapan matanya ke arah Aluna dan Sebastian yang berjalan di tengah aula pesta. Manik matanya menatap tajam ke arah keduanya, Sebastian berhenti melangkah. Mengendarakan matanya, mata Gavino dan Sebastian bertemu.
Aluna tampak linglung dengan situasi saat ini tapi sorot mata setajam elang yang mengintai mangsa dari kejauhan memberikan perasaan tak nyaman, Aluna menarik tangannya yang digenggam. Sebastian menoleh ke samping, dahi Aluna berkerut.
"Lo nggak bakalan ke sana 'kan?" tanya Aluna nyaris berbisik.
Sebastian tak langsung menjawab, ia memperhatikan ekspresi Aluna yang berubah. Kedua manik mata Aluna bergerak gelisah, seakan takut pada seseorang.
"Gue hari ini ke pesta sama lo buat nunjukin ini ke Gavino, kalo gue punya rasa sama lo," sahut Sebastian saat ia mencondongkan tubuhnya ke samping hingga lengan Sebastian dan Aluna menempel.
Pekikan tertahan dari para gadis remaja terdengar samar, kala mereka melihat Sebastian yang kerap kali dijuluki 'cool boy' tampak intim dengan Aluna. Pria jangkung itu berbicara dengan suara pelan, hanya untuk didengar oleh Aluna. Aluna tampak melotot tak senang, lalu berdecak kesal di saat keduanya kembali melangkah menuju kursi yang Gavino dan Zea tempati.
Zea meremas jari jemari tangan di atas pangkuannya, Aluna boleh berulah dengan pria mana pun. Namun, tidak boleh dengan Sebastian. Mungkin di mata orang-orang Zea sangat dekat dengan Gavino, nyatanya tak seorangpun yang tahu kemana perasaan Zea berlabuh.
'Gue nggak terima ini, Aluna. Lo boleh ngegaet siapa pun, tapi jangan dia. Cuman dia yang gue mau dalam hidup gue.' Zea mengigit bibir, tepukan di atas punggung telapak tangannya menyentak Zea.
Zea menarik paksa kedua sisi sudut bibirnya ke atas, hanya untuk tersenyum pada Gavino yang meliriknya dengan sorot menelisik tanya bersuara.
...***...
Aluna merapikan penampilannya, dan mendesah kasar. Akhirnya ia bisa juga bebas dari lingkaran setan, dikelilingi tiga pria penting serta sang protagonis wanita. Jangan lupakan Karina—antagonis yang ikut berdiri di sampingnya, memberikan tekanan besar untuk Aluna.
"Kenapa gue ngerasa bukannya makin ngejauh dari para tokoh malah makin dipepet, ugh..., sial." Aluna bergumam kesal.
Kedua sisi pipinya menggembung, Aluna melangkah meninggalkan cermin wastafel. Ia keluar dari toilet, melangkah menuju aula pesta. Sepasang sepatu pantofel hitam mengkilap menghalangi langkah kaki Aluna, kepala Aluna mendongak.
"Oh Why?" Aluna nyaris ingin berteriak keras saat bertanya pada Kai.
Kai menarik tangannya dengan kasar, Aluna meronta menarik-narik tangannya yang digenggam erat. Perbedaan kekuatan keduanya membuat Aluna memaki kesal, keduanya berhenti di lorong temaram.
"Lo pergi sama Sebastian, bukan sama Karina. Ada hubungan apa lo sama Sebastian?" Kai memicingkan kedua matanya melirik Aluna.
Aluna menyentak kasar tangan Kai, mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
"Suka-suka gue, mau pergi sama Karina kek. Mau sama si Sebastian kek, apa hubungan coba sama lo," balas Aluna ketus.
Kedua sisi rahang Kai mengetat, matanya memerah. Erangan kasar terdengar samar kala punggung belakang Aluna membentur pilar saat kedua sisi bahunya di dorong kasar, pupil mata Aluna melebar. Kepalanya menengadah, semburan napas hangat Kai menerpa wajahnya.
"Ka—kai...." Aluna tergagap.
Mata Kai tajam dan ekspresi tegilnya menghilang, auranya tampak tak jauh berbeda dari Gavino. Jarak wajah keduanya terlalu dekat, kedua sisi bahu Aluna terasa sakit diremas tangan Kai.
"Gue jelas-jelas udah ngomong sama lo kalo gue mau lo jadi pacar gue. Tapi kayaknya lo nganggep perkataan gue cuma omong kosong semata ya, Aluna."
Mata Kai mengunci pandangan mata Aluna yang tampak bergetar, tangan Aluna menahan serta mendorong dada bidang Kai untuk menjauh. Seinci pun tak bergeser, Kai malah semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Aluna. Gadis itu menahan napas, degup jantungnya berdebar cepat.
"Kenapa? Apa yang kurang dari gue, apa yang menarik dari Sebastian sampek lo mau sama dia tapi nggak sama gue?" Jari telunjuk ramping Kai membelai sebelah sisi wajah Aluna perlahan namun, terasa mengintimidasi.
'Tenang, tarik napas dan buang perlahan. Jangan takut Aluna, jangan takut.' Aluna membatin mengatur napasnya, ia mengigit bibirnya mengalihkan perhatian.
Deru napas hangat Kai terdengar semakin memberat, manik matanya jatuh pada bibir yang digigit. Sapuan pada permukaan bibir Aluna membuat tubuh Aluna merinding, Kai mencondongkan wajah mendekati daun telinga Aluna.
"Apakah Sebastian hebat di ranjang?" bisik deep voice Kai, Aluna terkesiap mendengar pertanyaan di luar nalar.
Di dorongnya secara tiba-tiba dada bidang Kai sekuat tenaga, Kai terdorong mundur dua langkah ke belakang. Tatapan tajam dan marah Aluna menggelitik hati Kai, gadis ini sangat—mengairahkan.
Ibu jari tangannya dikecup dan kemudian dijilat, mata Aluna terbelalak dengan tindakan Kai. Ibu jari itu yang menyapu permukaan bibirnya, serigai nakal terbit di bibir Kai di kala ia mendapati wajah Aluna memerah.
"Manis," tutur Kai menatap lurus ke mata Aluna.
"Pria brengs*k," maki Aluna, daun telinganya ikut memerah.
Tawa Kai menyembur, perasan cemburu yang membakar dadanya seakan menguar dan menyatu di udara malam. Kai merasa perubahan di hatinya begitu cepat hanya karena melihat wajah Aluna yang memerah karena malu.