NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Samudra Merah

Pintu kayu gubuk nomor 4044 terbuka dengan suara derit pelan.

Meng Fan, yang sedang gelisah mondar-mandir menanti sejak tengah malam, langsung menoleh. Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat melihat sosok yang melangkah masuk.

Itu adalah Chu Chen, namun pemuda itu tidak terlihat seperti manusia. Seluruh kulitnya memancarkan cahaya merah terang, seolah-olah ada lahar yang mengalir tepat di bawah pori-porinya. Jubah hitamnya sebagian hangus, dan setiap embusan napas yang keluar dari mulutnya berupa uap panas yang membuat udara di sekitarnya beriak hebat.

"Chu Chen! Apa yang kau—"

"Tutup pintunya. Kunci." Suara Chu Chen serak, terdengar seperti gesekan dua bilah baja yang dibakar.

Tanpa menunggu Meng Fan selesai mencerna keterkejutannya, Chu Chen menyeret tubuhnya ke atas dipan kayu dan langsung duduk bersila. Kayu dipan itu mulai mengeluarkan asap tipis, hampir terbakar hanya karena bersentuhan dengan tubuhnya.

Di dalam Dantian Chu Chen, sebuah malapetaka kecil sedang terjadi.

Sepertiga Api Teratai Merah yang ia curi dari Tanah Terlarang mengamuk sejadi-jadinya. Api Surgawi itu adalah keberadaan yang memiliki naluri keangkuhannya sendiri; ia menolak ditundukkan oleh fana yang bahkan belum memiliki Lautan Qi. Lidah-lidah api berwarna darah terus menerjang dinding Dantian Chu Chen, mencoba membakar jalannya keluar.

Tunduk! raung Chu Chen dalam kesadarannya. Darah Naga Primordial, giling api ini!

Seni Kaisar Naga Penelan Semesta berputar pada batas mutlaknya. Meridian emas Chu Chen menyalurkan tekanan garis keturunan naganya untuk menekan Api Teratai Merah. Perlahan namun pasti, daya hisap dari teknik pelahap itu mulai mengurai kelopak api surgawi tersebut, mengubahnya menjadi tetesan cairan Qi yang sangat murni, sangat padat, dan berwarna merah keemasan.

Tetesan pertama jatuh ke dasar Dantian yang kosong.

Tess.

Diikuti tetesan kedua, ketiga, lalu aliran deras yang menyerupai air terjun lahar. Dantian Chu Chen akhirnya mulai terisi. Alam Penempaan Raga memfokuskan kekuatan pada otot dan tulang, namun saat cairan Qi ini menggenang, Chu Chen merasa jiwanya terangkat. Ia akhirnya melangkah ke alam para kultivator sejati.

Namun, di luar gubuk, ketenangan malam Puncak Luar hancur berkeping-keping.

TENG! TENG! TENG! TENG!

Sembilan bunyi gong raksasa bergema dari arah Puncak Utama, suaranya menyapu seluruh gugusan pegunungan Sekte Awan Suci. Sembilan ketukan adalah penanda status Darurat Tertinggi.

"Gong Sembilan Naga?!" Meng Fan pucat pasi, mengintip dari celah dinding kayu. "Itu hanya dibunyikan jika sekte diserang atau pusaka utama dicuri! Chu Chen... apa yang sebenarnya kau lakukan di luar sana?!"

Langit malam mendadak dipenuhi oleh ratusan garis cahaya. Para ahli Alam Inti Emas dan Istana Jiwa berterbangan dengan pedang mereka, memancarkan Niat Spiritual yang menyapu seluruh Puncak Luar seperti jaring laba-laba raksasa.

Suara berat yang dipenuhi Niat Membunuh menggema dari langit: "Seseorang telah menyusup ke Tanah Terlarang Tungku Pil! Tutup seluruh gerbang! Balai Penegak Hukum, geledah setiap gubuk, setiap murid, dan setiap tetua! Bawa Cermin Pencari Jiwa Api. Siapapun yang memiliki sisa hawa panas yang terlampau tinggi di tubuhnya, seret ke Alun-Alun Hukuman!"

Meng Fan merosot ke lantai. "Cermin Pencari Jiwa Api... tamatlah riwayat kita. Benda itu bisa mendeteksi gejolak unsur api yang tidak wajar dari jarak puluhan tombak. Chu Chen, kau bersinar seperti lampion di tengah malam! Mereka akan langsung menemukanmu!"

Di atas dipan, Chu Chen membuka matanya. Ia telah memadatkan separuh dari Api Teratai Merah menjadi Lautan Qi, namun separuh sisanya masih liar di dalam tubuhnya, memancarkan suhu yang memang tidak bisa disembunyikan dalam waktu singkat.

Suara langkah kaki berat yang seragam dan bentakan keras terdengar semakin dekat. Rombongan murid Balai Penegak Hukum sedang menendang pintu gubuk satu per satu di deretan mereka.

"Buka pintunya! Pemeriksaan Balai Penegak Hukum!"

BRAK! Gubuk nomor 4042 didobrak. Jeritan murid luar terdengar. Mereka sudah sangat dekat.

"Mereka di sebelah," bisik Meng Fan, air mata keputusasaan menggenang di matanya. Ia belum ingin mati.

Otak Chu Chen bekerja dengan kecepatan kilat. Menekan hawa panas ini sepenuhnya butuh waktu satu jam. Aku tidak punya satu menit pun. Jika aku tidak bisa menyembunyikan panasnya, aku harus menutupi ALASAN dari panas ini.

Mata naga Chu Chen beralih ke labu arak milik Meng Fan yang tergeletak di lantai, lalu ke Kantong Penyimpanan fana miliknya.

"Meng Fan, berikan arakmu. Semuanya," perintah Chu Chen serak.

"A-Apa? Untuk apa kau minum di saat—"

"BERIKAN!"

Meng Fan gemetar dan melemparkan labu arak itu. Chu Chen menangkapnya, membuka sumbatnya, dan menenggak arak keras yang murah itu dalam tiga tegukan besar. Namun ia tidak menelannya begitu saja.

Dari dalam Kantong Penyimpanannya, Chu Chen mengeluarkan satu butir Inti Kalajengking Jarum Besi yang masih tersisa. Inti itu mengandung sisa racun api dan asam tingkat rendah. Tanpa ragu sedikit pun, Chu Chen mengunyah inti batu beracun itu dan menelannya bersamaan dengan arak tersebut!

"Kau gila?!" Meng Fan menjerit tertahan. "Menelan inti binatang tanpa meredamnya akan memicu Penyimpangan Qi! Kau akan membakar meridianmu sendiri!"

Tepat sekali, batin Chu Chen.

Ia mematikan perlindungan garis keturunan naganya secara sengaja, membiarkan racun tingkat rendah dari inti kalajengking itu bercampur dengan arak keras, lalu membiarkannya menyebar ke saluran darah di dekat kulitnya. Pergolakan racun yang kasar itu seketika memicu demam mematikan dan suhu tubuh yang terlampau tinggi.

Warna kulit Chu Chen yang awalnya memancarkan cahaya keemasan (dari Api Teratai Merah), kini tertutup oleh warna ungu kehitaman akibat racun kalajengking dan ruam arak. Hawa panas dari Api Surgawi di Dantiannya kini tersamar sempurna oleh hawa panas kotor dari keracunan tingkat rendah yang menutupi permukaan tubuhnya.

"P-Penyimpangan Qi..." gumam Meng Fan melihat Chu Chen mulai terbatuk-batuk darah ungu kotor, tampak benar-benar seperti orang yang sedang sekarat karena kebodohannya sendiri.

BRAAAK!

Pintu gubuk nomor 4044 ditendang hingga hancur berkeping-keping.

Tiga murid senior dari Balai Penegak Hukum, mengenakan jubah putih bersulam pedang merah, melangkah masuk. Salah satu dari mereka memegang sebuah cermin perunggu bundar yang berkedip-kedip memancarkan cahaya merah saat diarahkan ke dalam gubuk.

"Cerminnya bereaksi kuat! Ada gejolak panas di sini!" teriak murid yang memegang cermin.

Ketiganya langsung menghunus pedang mereka, mengarahkan ujungnya ke arah Meng Fan dan Chu Chen yang sedang meringkuk di atas dipan.

"Jangan bergerak! Berlutut!" bentak pemimpin regu itu. Matanya menyipit saat menatap tubuh Chu Chen yang bergetar hebat, mengeluarkan uap panas, dan memuntahkan darah hitam bercampur arak. Bau asam racun dan arak murahan langsung memenuhi gubuk reyot itu.

"T-Tuan Penegak Hukum! Ampuni kami!" Meng Fan, yang memang tidak perlu berakting karena sudah ketakutan setengah mati, langsung bersujud di lantai. "T-Teman sekamarku ini... dia dungu! Dia putus asa karena tidak memiliki Akar Roh, jadi dia meminum arak dan menelan mentah-mentah Inti Kalajengking dari ujian kemarin untuk memaksakan terobosan! Dia mengalami Penyimpangan Qi!"

Pemimpin regu itu mengerutkan kening. Ia melangkah maju, menutup hidungnya karena bau busuk muntahan Chu Chen. Ia menatap cermin di tangan rekannya. Cermin itu memang bereaksi pada hawa panas, namun cahaya yang dipancarkan cermin itu keruh, tidak jernih.

"Pencuri Tanah Terlarang adalah ahli misterius yang bisa melewati dua Penatua Inti Emas tanpa disadari," ucap pemimpin regu itu dengan nada penuh rasa jijik. "Dan kau menyuruhku percaya bahwa pencuri itu adalah sampah dari Puncak Luar yang meracuni dirinya sendiri dengan Inti Kalajengking Tingkat 1?"

Murid yang memegang cermin itu mendengus pelan. "Gejolak panasnya memang berasal dari pembakaran meridian yang rusak karena racun binatang buas. Cermin ini bereaksi pada suhu tubuhnya yang ganjil. Cih, buang-buang waktu kita saja."

Chu Chen batuk keras, memuntahkan lebih banyak darah kotor ke lantai tepat di dekat sepatu pemimpin regu, membuat pria itu melompat mundur dengan marah.

"Dasar sampah fana menjijikkan!" Pemimpin regu itu menendang perut Chu Chen, tidak menggunakan Qi, namun cukup keras untuk membuat Chu Chen terpelanting ke dinding gubuk.

Chu Chen mengerang kesakitan, matanya tetap setengah tertutup, mempertahankan aktingnya sebagai orang sekarat dengan sempurna. Di dalam hati, ia tertawa dingin. Tendangan fana itu tidak terasa apa-apa bagi fisik Lapis Kesembilannya.

"Ayo pergi. Geledah gubuk selanjutnya. Jangan buang waktu dengan mayat hidup ini. Dia akan mati sendiri besok pagi akibat racun itu," perintah sang pemimpin.

Ketiga Penegak Hukum itu berbalik dan bergegas keluar, melanjutkan pencarian mereka ke barisan gubuk berikutnya, sama sekali tidak menyadari bahwa mereka baru saja berdiri kurang dari satu meter dari buronan utama yang telah merampok pusaka tertinggi sekte mereka.

Begitu suara langkah kaki mereka benar-benar menjauh, Meng Fan menghela napas panjang, merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada dipan yang rusak. Pakaiannya basah kuyup oleh keringat.

"Kita... kita selamat," bisiknya tak percaya. Ia menoleh ke arah Chu Chen. "Hei, kau... apa racun kalajengking itu benar-benar akan membunuhmu?"

Di sudut gubuk, Chu Chen perlahan bangkit duduk.

Ruam ungu di kulitnya mulai memudar dengan kecepatan yang bisa dilihat mata telanjang. Darah Dewa Naga Primordialnya membersihkan racun kotor itu dengan mudah, seolah hanya membersihkan setitik debu.

Ia mengangkat wajahnya. Hawa panas yang membakar telah sepenuhnya hilang, digantikan oleh aura tenang yang sedalam samudra dan semisterius langit malam.

Di dalam Dantiannya, Api Teratai Merah telah sepenuhnya ditundukkan. Api itu tidak lagi memberontak, melainkan melebur dan mencair, mengisi Dantiannya dengan cairan energi yang tak terbatas. Cairan itu berwarna merah darah dengan kilauan emas, beriak pelan menciptakan gelombang kekuatan yang belum pernah Chu Chen rasakan seumur hidupnya.

Alam Lautan Qi.

Chu Chen mengepalkan tangannya. Ia tidak hanya membentuk Lautan Qi biasa. Karena fondasinya dibangun langsung dari sepertiga Api Surgawi, ukuran Lautan Qi-nya sepuluh kali lipat lebih luas dari kultivator Alam Lautan Qi Puncak sekalipun.

Ia menatap Meng Fan dengan sepasang mata yang hitam pekat dan tenang.

"Mati?" Chu Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Meng Fan merinding. "Tidak. Aku baru saja benar-benar hidup."

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!