Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Harum antiseptik yang tajam seolah menjadi oksigen baru bagi mereka yang terjebak dalam penantian.
Dua hari mereka menunggu di depan ruang ICU, Sulfi dan Yuana hampir tidak pernah meninggalkan kursi besi yang dingin itu.
Tidur mereka hanya berupa sapaan singkat di antara doa-doa yang tidak putus, dengan pandangan yang selalu terkunci pada pintu kaca buram yang memisahkan mereka dari pria-pria yang mereka cintai.
Di dalam ruangan yang penuh dengan detak ritmis mesin penopang hidup, perlahan sebuah jemari yang terbalut kain putih bergerak sedikit.
Zaidan yang pertama kali membuka matanya. Kelopak matanya terasa sangat berat, seperti ada beban berton-ton yang menekan, namun cahaya lampu operasi yang terang memaksanya untuk
kembali ke alam sadar.
Kesadaran Zaidan kembali dengan rasa perih yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Ia melihat tangan dan kakinya yang penuh perban, membungkus luka-luka akibat serpihan ledakan dan luka bakar yang sempat merenggut kesadarannya dua hari lalu.
Ia mencoba menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah, namun hanya desahan lemah yang keluar.
Alarm pada monitor jantung tiba-tiba berbunyi lebih cepat, memanggil bantuan.
Tak lama kemudian, dokter memeriksa keadaan Zaidan dengan sigap.
Senter kecil diarahkan ke pupil matanya, sementara perawat memeriksa selang oksigen dan infus yang terpasang di tubuh kekar yang kini tampak rapuh itu.
"Tahan sebentar, Pak Zaidan. Jangan banyak bergerak dulu," ujar dokter dengan suara tenang namun tegas.
Di luar ruangan, detak jantung Sulfi seolah ikut berpacu dengan mesin di dalam.
Sulfi berdiri di depan kaca, kedua tangannya menempel pada permukaan kaca yang dingin, matanya tak lepas dari sosok Zaidan yang mulai merespons rangsangan dokter.
Air mata kembali mengalir, namun kali ini ada secercah harapan yang membuncah di dadanya.
Ia melihat suaminya masih ada di sana.
Zaidan masih berjuang untuknya, dan untuk buah hati mereka.
Sulfi membisikkan doa tanpa suara, berharap setelah Zaidan, Kompol Hendrawan juga akan segera menyusul untuk membuka mata, sehingga kegelapan yang dibawa oleh Bima benar-benar bisa mereka lalui bersama.
Ketegangan di dalam ruang ICU semakin memuncak saat dokter masih sibuk menangani Zaidan. Namun, seolah terikat oleh ikatan persaudaraan dan tugas yang sama, di menit berikutnya Kompol membuka matanya.
Kelopak mata sang perwira senior itu bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka perlahan, menatap langit-langit ruangan dengan pandangan yang awalnya linglung, namun kemudian berubah menjadi fokus yang tajam khas seorang prajurit.
Kabar mengenai sadarnya kedua perwira itu menyebar seperti angin segar di koridor rumah sakit.
Sulfi segera berpaling ke arah sahabatnya. Di sana, Yuana duduk di kursi roda melihat dari jarak jauh.
Kondisi fisiknya yang masih sangat lemah akibat syok dan mual kehamilan yang hebat membuatnya tak mampu berdiri lama, namun ia menolak untuk tetap tinggal di bangsal perawatan saat mendengar suaminya telah kembali dari kegelapan.
Petugas medis mendorong kursi roda Yuana mendekat ke arah kaca besar.
Dengan napas yang tersengal, Yuana menempelkan tangannya yang pucat ke kaca, matanya terkunci pada sosok Hendrawan yang kini mulai mencoba mengenali suara dokter di sekelilingnya.
"Mas..." bisik Yuana nyaris tak terdengar, air mata kelegaan membanjiri pipinya yang tirus.
Meskipun terpisah oleh sekat kaca dan berbagai peralatan medis, ada kekuatan yang tak terlihat terpancar dari tatapan kedua wanita itu.
Zaidan dan Kompol telah kembali. Meskipun tubuh mereka dipenuhi perban dan luka, nyawa mereka masih ada untuk menjaga keluarga yang sedang tumbuh.
Sulfi menggenggam bahu Yuana dari belakang, memberikan kekuatan tambahan.
Mereka tahu perjalanan pemulihan ini akan panjang, tetapi rintangan terbesar—maut yang dikirim oleh Bima—telah mereka lalui. Di balik kaca itu, kehidupan baru saja menang telak atas kebencian.
Pintu ruang ICU bergeser terbuka dengan suara desis pelan.
Sosok dokter yang tadi menangani Zaidan dan Kompol melangkah keluar, melepaskan masker bedahnya sambil menghela napas panjang.
Dokter keluar menuju ke Sulfi dan Yuana memberitahukan kondisi Zaidan dan Kompol yang baru saja melewati masa kritis mereka.
Sulfi dan Yuana segera menyambut sang dokter dengan tatapan penuh harap.
Yuana bahkan sedikit memajukan kursi rodanya, mencengkeram pegangannya dengan kuat.
"Kondisi vital keduanya sudah stabil, namun luka akibat paparan panas dan serpihan kaca cukup dalam," ujar dokter tersebut dengan nada serius namun memberikan rasa tenang.
"Kami sudah membersihkan luka-lukanya, tapi ada beberapa bagian di area wajah dan tangan yang mengalami kerusakan jaringan yang cukup signifikan."
Dokter terdiam sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya mengenai langkah medis selanjutnya.
Ia menyarankan untuk melakukan operasi plastik untuk luka mereka jika keluarga menginginkan pemulihan estetika dan fungsional yang lebih sempurna.
"Operasi ini bukan sekadar untuk penampilan, tapi untuk memastikan otot-otot di wajah dan tangan mereka bisa berfungsi kembali dengan normal tanpa terganggu oleh jaringan parut yang kaku nantinya," tambah sang dokter.
Sulfi menoleh ke arah Zaidan melalui kaca, hatinya teriris melihat perban yang menutupi sebagian wajah suaminya. Namun, ia tahu Zaidan adalah pria yang kuat. Apapun jalannya, ia akan mendukung kesembuhan suaminya.
"Lakukan yang terbaik, Dok," ucap Sulfi dengan suara yang mantap.
"Kami ingin mereka pulih sepenuhnya, bukan hanya sekadar selamat."
Yuana pun mengangguk setuju, air matanya kini mulai mengering berganti dengan tekad.
Meskipun bayang-bayang luka fisik itu membekas, mereka bersyukur karena nyawa kedua pria itu masih milik mereka.
Biaya atau proses panjang operasi plastik tidak menjadi masalah, asalkan Zaidan dan Kompol bisa kembali tersenyum dan menggendong anak-anak mereka yang akan segera lahir ke dunia.
Setelah prosedur pembersihan luka selesai dan kondisi vital dinyatakan benar-benar stabil, pihak rumah sakit segera melakukan pemindahan ke ruang perawatan sebelum esok melakukan operasi.
Zaidan dan Kompol Hendrawan ditempatkan di sebuah kamar VVIP yang luas, sengaja dipesan agar kedua sahabat itu bisa tetap berdampingan dalam masa pemulihan.
Suara roda ranjang rumah sakit yang bergesekan dengan lantai koridor terdengar ritmis, mengiringi perpindahan mereka dari dinginnya ruang ICU menuju suasana yang lebih hangat.
Sulfi berjalan di sisi ranjang Zaidan, tangannya tak pernah lepas menggenggam bagian jari suaminya yang tidak tertutup perban.
Sementara itu, Yuana tetap setia berada di kursi rodanya, didorong oleh perawat tepat di samping ranjang Kompol.
"Sabar ya, Mas. Malam ini istirahat total, besok tim dokter akan memperbaiki semuanya," bisik Sulfi saat mereka akhirnya tiba di dalam kamar perawatan.
Lampu ruangan diredupkan agar suasana menjadi lebih tenang.
Zaidan sempat melirik ke arah Kompol yang berada di ranjang sebelahnya.
Meski keduanya sulit untuk berbicara karena luka di area wajah, sebuah anggukan kecil dari Kompol seolah menjadi kode bahwa mereka adalah pejuang yang belum menyerah.
Petugas medis mulai memasang monitor portabel dan memastikan aliran infus tetap lancar.
Mereka harus benar-benar dalam keadaan bersih dan tenang sebelum memasuki ruang bedah esok pagi untuk menjalani prosedur operasi plastik rekonstruksi.
Sulfi kemudian membantu merapikan selimut Zaidan, lalu beralih ke arah Yuana.
"Kamu juga harus tidur, Yuana. Besok akan jadi hari yang panjang untuk kita semua."
Di ruangan itu, meski penuh dengan bau obat dan lilitan perban, ada kelegaan yang luar biasa.
Malam ini adalah jeda sebelum perjuangan terakhir untuk mengembalikan senyum pria-pria mereka.
Di bawah temaram lampu, Sulfi dan Yuana berjaga dalam diam, menanti fajar yang akan membawa langkah baru menuju kesembuhan total.