Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Musuh dalam Selimut
"Bang, lo gila ya? Ini pasti lelucon, kan? Bilang kalau ini cuma prank sampah demi konten YouTabe perusahaan lo!"
Suara melengking Elora memenuhi ruangan luas bernuansa abu-abu itu. Napasnya memburu, matanya melotot menatap sosok yang duduk tenang di balik meja kerja raksasa dari kayu mahoni. Elora baru saja melempar tas Vallenziana edisi terbatas miliknya ke sofa kulit, tidak peduli kalau barang seharga mobil itu lecet.
Elvano bahkan tidak repot-repot mengangkat wajah dari berkas di tangannya. Suara pena yang menggores kertas terdengar sangat nyaring di sela-sela kemarahan Elora.
"Duduk, Elora. Kamu menghalangi pemandangan kota," ucap Elvano datar, tanpa emosi. Pria itu memutar kursi kebesaran CEO-nya sedikit ke kiri.
"Gue nggak mau duduk! Lo janjiin posisi Public Relation, kenapa sekarang gue malah disuruh lapor ke divisi keuangan? Gue ini lulusan desain, Elvano! Desain! Lo mau gue ngitung duit receh?" Elora menggebrak meja kerja kakaknya itu dengan kedua telapak tangan.
Elvano akhirnya mendongak. Tatapannya dingin, setajam silet yang siap mengiris ego adiknya yang melambung tinggi. "Koreksi. Kamu nggak akan lapor ke divisi keuangan. Kamu akan diawasi secara personal. Masuk."
Satu kata terakhir itu bukan untuk Elora. Pintu ruangan terbuka otomatis. Langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah sepatu hak tinggi yang angkuh seperti milik Elora, tapi langkah sneakers yang ragu namun berusaha tegas.
Elora menoleh cepat, rambut panjangnya yang dicat ash-grey berkibas dramatis. Detik berikutnya, mulutnya terbuka lebar. "Lo? Cewek spion?"
Berdiri di sana dengan kemeja putih polos yang dimasukkan rapi ke celana bahan hitam, Aluna mematung. Gadis itu memeluk sebuah tablet erat-erat di dada, seolah benda itu adalah tameng pelindung dari radiasi kemarahan Elora. Aluna menelan ludah, matanya sempat melirik Elvano meminta pertolongan, tapi sang CEO hanya memberi kode dagu agar ia maju.
"Namanya Aluna. Dan mulai detik ini, dia adalah Personal Financial Controller kamu," Elvano memperkenalkan dengan nada yang tidak menerima bantahan.
"What? (Apa?)" Elora tertawa sumbang, tawa yang terdengar meremehkan. Dia berjalan memutari Aluna, menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan jijik. "Dia? Ngurusin duit gue? Beli baju aja kayaknya dia nunggu diskon tanggal kembar di marketplace. Lo mau dia ngajarin gue apa? Cara hemat beli mie instan?"
Wajah Aluna memerah padam. Dia ingin membalas, tapi tatapan Elvano menahannya.
"Elora, jaga mulutmu," tegur Elvano, suaranya memberat. Aura dominasi menguar kuat. "Mengingat track record kamu yang menghabiskan limit kartu kredit Black Card hanya untuk pesta di Ibiza bulan lalu, saya rasa kamu butuh seseorang yang tahu nilai uang. Aluna di sini karena dia teliti, jujur, dan tidak bisa kamu sogok."
"Gue nggak butuh pengasuh!" jerit Elora frustrasi. Dia beralih menatap Aluna tajam. "Dan lo! Ngapain lo mau aja disuruh-suruh sama diktator ini? Lo pikir lo siapa bisa ngatur gue?"
Aluna menarik napas panjang, memberanikan diri. "Saya cuma menjalankan tugas profesional, Nona Elora. Pak Elvano meminta saya memantau arus kas pengeluaran Nona selama masa percobaan kerja."
"Nona, Nona... geli gue dengarnya! Pergi lo dari sini sebelum gue panggil sekuriti!" usir Elora sambil mengibaskan tangan seolah mengusir lalat.
Bukannya pergi, Aluna malah melangkah maju satu langkah. "Maaf, tapi meja kerja saya sudah disiapkan di sudut ruangan ini. Saya tidak bisa pergi tanpa izin Pak CEO."
Elora melotot ke arah Elvano. "Kak! Usir dia atau gue yang keluar!"
Elvano tersenyum miring. Senyum yang membuat bulu kuduk Elora meremang. Pria itu mengambil ponsel pintarnya, mengetik sesuatu dengan santai.
Tring!
Ponsel di saku blazer Elora berbunyi. Notifikasi pesan masuk. Dengan kasar, Elora merogoh ponselnya. Matanya membelalak membaca pesan dari bank.
[Yth. Nasabah, Kartu Kredit Platinum Anda dengan akhiran 8890 telah DIBLOKIR permanen atas permintaan pemegang utama.]
"Apa-apaan ini?" Elora memekik.
Tring!
Notifikasi kedua.
[Yth. Nasabah, Akses M-Banking Anda untuk rekening Z-Prioritas telah DIBEKUKAN sementara.]
Elora nyaris membanting ponsel mahalnya. Wajahnya pucat pasi. "Elvano! Lo mblokir semua akses gue? Gue mau makan apa siang ini? Gue mau bayar bensin pakai apa? Lo mau bunuh gue pelan-pelan?"
Elvano berdiri, merapikan jas mahalnya yang tidak kusut sedikitpun. Dia berjalan santai menuju Aluna, lalu mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna biru laut dari saku jasnya. Kartu itu terlihat sangat biasa, jenis kartu yang limit hariannya terbatas.
"Semua aset kamu, papa dan mama sudah serahkan kuasanya ke saya selama mereka di Eropa. Dan ini..." Elvano mengangkat kartu debit itu di depan wajah Elora yang merah padam karena emosi. "...adalah satu-satunya sumber kehidupan kamu mulai sekarang."
Tangan Elora bergerak cepat hendak menyambar kartu itu, tapi Elvano lebih cepat menariknya menjauh.
"Eits, bukan buat kamu," ujar Elvano santai. Dia menyerahkan kartu itu ke tangan Aluna. "Pegang ini, Aluna."
Elora membeku. Rahangnya jatuh. Dunia rasanya runtuh. "Lo... lo kasih duit gue ke dia?"
"Ini bukan uang kamu lagi. Ini uang perusahaan yang dijatah untuk operasional kamu. Makan siang, bensin, pulsa, semuanya ada di situ," jelas Elvano sambil menyandarkan pinggang di meja Aluna yang baru. "Aturannya sederhana. Kamu mau belanja? Minta izin Aluna. Mau makan di restoran bintang lima? Ajukan proposal ke Aluna. Kalau dia bilang tidak perlu, berarti tidak ada uang keluar."
"Ini gila! This is insane! (Ini gila!)" Elora menjambak rambutnya sendiri. Dia berbalik menatap Aluna yang kini memegang kartu sakti itu dengan tangan gemetar. "Heh, siniin kartunya!"
Aluna refleks menyembunyikan kartu itu di balik punggungnya. "Instruksi Pak Elvano jelas. Saya yang pegang."
"Lo berani sama gue?" Elora maju, mengintimidasi fisik.
"Cukup, Elora!" bentak Elvano. Suaranya menggelegar, membuat Elora yang tadinya siap menerkam Aluna jadi terlonjak kaget. "Satu kali lagi kamu berbuat kasar pada staf saya, jatah makan siang kamu saya potong jadi nasi bungkus pinggir jalan. Paham?"
Elora menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan tangis yang bercampur dengan amarah meledak-ledak. Dia tidak pernah dipermalukan seperti ini. Apalagi di depan orang asing yang menurutnya levelnya jauh di bawah dia. Dia putri pemilik perusahaan, tapi diperlakukan seperti buronan yang asetnya disita negara.
Elvano melirik jam tangannya. "Saya ada meeting dengan klien dari Singapura. Aluna, pastikan dia mulai bekerja merekap data pengeluaran divisi pemasaran tahun lalu. Jangan kasih dia akses internet buat belanja online."
"Baik, Pak," jawab Aluna patuh.
Elvano berjalan melewati Elora tanpa menoleh lagi, meninggalkan ruangan yang kini terasa panas mencekam. Pintu tertutup otomatis, menyisakan dua gadis dengan status sosial yang bertolak belakang di dalam satu ruangan kedap suara.
Keheningan yang canggung menyelimuti mereka selama beberapa detik. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar mendengung halus.
Aluna berusaha bersikap profesional. Dia menarik kursi kerjanya dan duduk. "Emm, Nona Elora... mungkin kita bisa mulai dengan—"
Brak!
Elora menendang tong sampah di dekat meja Aluna hingga menggelinding jauh. Suaranya nyaring memekakkan telinga. Aluna tersentak kaget, memeluk tablet-nya makin erat.
Elora melangkah mendekat. Perlahan. Tatapannya bukan lagi tatapan anak manja yang merengek, tapi tatapan predator yang wilayahnya diusik. Dia menumpukan kedua tangannya di meja kerja Aluna, mencondongkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tinggal sejengkal. Aroma parfum mahal Elora yang menyengat langsung menusuk hidung Aluna.
"Dengar ya, cewek spion," desis Elora. Suaranya rendah, penuh ancaman. Matanya menatap lurus ke manik mata Aluna yang tampak gentar. "Lo mungkin pegang kartu itu sekarang. Lo mungkin merasa di atas angin karena kakak gue lagi main gila dengan ide disiplinnya ini. Tapi jangan harap hidup lo bakal tenang."
Aluna mencoba membalas tatapan itu, meski nyalinya ciut. "Saya cuma kerja..."
"Gue nggak peduli!" potong Elora cepat. "Lo udah masuk ke kandang singa. Dan gue pastikan, lo bakal nyesel pernah nerima tawaran Elvano."
Elora menegakkan tubuhnya, melipat tangan di dada dengan angkuh. Senyum sinis terukir di bibir merahnya.
"Awas lo ya. Gue bikin lo nggak betah dalam sehari. Siap-siap aja nangis darah."
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥