NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27: [Volume 2] — Protokol Pencucian Jiwa

Langkah kakiku bergema di koridor pualam yang sepi. Dua penjaga berseragam hazmat berjalan di belakangku, moncong senapan mesin mereka tidak pernah lepas dari punggungku. Dokter Aris menyebut tempat ini "Nirvana", tapi bagiku, ini tak lebih dari sekadar rumah potong hewan yang sangat bersih.

Logikaku terus bekerja. Aku menghitung setiap belokan, setiap kamera pengawas, dan setiap pintu akses yang kami lewati. Di fasilitas ini, pintu tidak dibuka dengan kunci fisik, melainkan pemindai retina dan pola gelombang otak. Itu berarti, jika aku ingin keluar, aku tidak hanya butuh senjata, tapi aku butuh salah satu dari para petinggi tempat ini—hidup atau mati.

"Zidan, berhenti di sini," perintah salah satu penjaga.

Kami berdiri di depan sebuah dinding kaca raksasa yang menghadap ke sebuah taman buatan. Di tengah taman itu, aku melihat Kurumi. Dia duduk di sebuah kursi kayu, mengenakan gaun putih yang senada dengan seragam fasilitas ini. Dia tampak tenang, terlalu tenang. Dia sedang membaca buku, dan sesekali dia tersenyum sendiri.

"Kurumi!" aku menghantam kaca itu dengan tinjuku.

Kurumi tidak menoleh. Dia tetap terpaku pada bukunya, seolah-olah dia berada di dunia yang berbeda.

"Percuma, Zidan. Kaca ini kedap suara, dan saat ini, Kurumi sedang berada dalam pengaruh 'Protokol Bliss'. Gelombang otaknya disetel pada frekuensi yang hanya memproses emosi bahagia," suara Dokter Aris muncul dari interkom di atas kepala.

"Sialan kau, Aris! Apa yang kau lakukan padanya?!" amarahku mulai meluap, melampaui logika dinginku.

"Kami hanya membersihkan traumanya. Bayangkan, Zidan. Tidak ada lagi ketakutan akan zombi, tidak ada lagi ingatan tentang kematian teman-temannya. Bukankah itu yang kalian cari? Kedamaian?"

"Itu bukan kedamaian, itu perbudakan mental!" aku berbalik, menatap kamera pengawas dengan kebencian murni. "Kembalikan dia padaku, atau aku akan merobek tempat ini sampai ke dasarnya."

Aris tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas amplas. "Kamu punya potensi untuk itu, Zidan. Tapi saat ini, kamu tidak punya apa-apa. Sekarang, ikuti penjaga ke ruang sinkronisasi. Jika hasil tesmu bagus, aku akan mengizinkanmu berbicara dengannya selama lima menit. Tanpa Protokol Bliss."

Itu adalah tawaran yang licik. Aris tahu persis di mana titik lemahku. Dia menggunakan Kurumi sebagai umpan untuk memancing "Predator Puncak" di dalam diriku keluar.

Aku kembali berjalan, namun kali ini dengan tujuan yang lebih jelas. Jika mereka ingin aku menjadi predator, maka aku akan menjadi predator yang paling mematikan yang pernah mereka ciptakan.

Aku dibawa ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan tabung-tabung berisi cairan kuning. Di dalam tabung-tabung itu, ada makhluk-makhluk yang tampak seperti manusia, tapi kulit mereka transparan dan otot mereka terlihat sangat besar. Mereka bukan zombi, tapi mereka juga bukan manusia lagi.

"Siapa mereka?" tanyaku pada salah satu penjaga.

"Proyek gagal," jawab penjaga itu singkat. "Mereka yang tidak punya logika sekuat kamu, Zidan. Pikiran mereka hancur saat mencoba sinkronisasi dengan frekuensi Subjek E."

Jadi, itulah alasan sesungguhnya aku ada di sini. Aku adalah satu-satunya yang punya kapasitas mental untuk menjadi "penerjemah" bagi kekuatan gadis kecil itu tanpa menjadi gila.

Tiba-tiba, lampu di koridor berkedip merah. Suara sirine rendah mulai meraung.

"Peringatan. Gangguan di Sektor Karantina B. Subjek percobaan melarikan diri."

Para penjaga di belakangku tampak panik. Salah satu dari mereka mencoba menghubungi pusat komando, sementara yang lain mengarahkan senjatanya padaku lebih erat.

Logikaku berbisik: Inilah celahnya.

Aku tidak membuang waktu. Saat penjaga yang satu sedang sibuk dengan radionya, aku berputar dengan gerakan yang sangat cepat—gerakan yang terasa otomatis, seolah otot-ototku sudah tahu apa yang harus dilakukan sebelum otakku memerintahkannya.

Aku menghantamkan sikuku ke dagu penjaga pertama, lalu merebut senapannya sebelum dia sempat jatuh ke lantai. Penjaga kedua mencoba menembak, tapi aku sudah lebih dulu menendang lututnya hingga patah, lalu menghantamkan popor senapan ke kepalanya.

Hening. Dua penjaga itu terkapar dalam waktu kurang dari tiga detik.

Aku memeriksa senapan mereka. P90 dengan amunisi khusus penembus baja. Bagus. Aku juga mengambil kartu akses yang tergantung di leher mereka.

"Zidan? Apa yang kau lakukan?" suara Aris kembali terdengar, kali ini nadanya tidak lagi tenang. "Kamu akan menghancurkan semuanya!"

"Aku hanya melakukan apa yang kau rancang, Aris," kataku sambil menembak kamera pengawas di langit-langit. "Aku sedang bertahan hidup."

Aku berlari kembali menuju dinding kaca tempat Kurumi berada. Aku tidak bisa memecahkan kaca itu dengan peluru, itu kaca antipeluru tingkat tinggi. Aku harus mencari panel kontrol manualnya.

Di tengah pelarianku, aku berpapasan dengan seseorang yang tidak kusangka. Subjek E. Gadis kecil itu berdiri di tengah koridor yang penuh asap, dikelilingi oleh mayat-mayat penjaga yang tampak mati tanpa luka fisik. Mereka mati karena pendarahan otak masal.

"Zidan... kamu terlambat," katanya dengan suara datar.

"E? Kenapa kamu ada di sini? Aku pikir kamu tenggelam dengan kapal itu," aku tetap waspada, senapanku tidak turun.

"Aku tidak bisa mati di laut. Air adalah penghantar frekuensi yang baik. Aku datang untuk mengambil apa yang mereka curi dariku."

"Kurumi?"

"Bukan. Hatiku. Mereka menaruhnya di dalam mesin di bawah pulau ini," dia menunjuk ke arah lantai. "Jika kamu ingin menyelamatkan temanmu, kamu harus membantuku menghancurkan mesin itu. Selama mesin itu hidup, Kurumi akan tetap menjadi boneka mereka."

Logikaku menghitung risiko. Membantu monster kecil ini berarti menghancurkan seluruh fasilitas Nirvana—dan mungkin membunuh semua orang di sini. Tapi itu juga satu-satunya cara untuk memutus kendali Aris terhadap Kurumi.

"Di mana mesin itu?" tanyaku.

"Ikuti nyanyianku, Zidan. Kali ini, nyanyianku tidak akan menyakitimu. Karena kamu adalah saudaraku."

Saudara? Aku tidak punya waktu untuk memikirkan istilah itu sekarang. Aku mengikuti gadis itu menuruni tangga darurat menuju lantai terbawah Nirvana. Di setiap langkah, aku merasakan getaran yang semakin kuat—seperti detak jantung raksasa yang terbuat dari mesin dan kabel.

Di sana, di tengah ruangan raksasa, aku melihat sebuah bola logam besar yang dialiri ribuan kabel saraf organik. Dan di atasnya, Dokter Aris berdiri dengan senyum kemenangan.

"Selamat datang di jantung Nirvana, Zidan. Subjek E, terima kasih sudah membawanya kemari. Sekarang, mari kita mulai Protokol Kiamat yang sebenarnya."

Aku mengangkat senapanku, tapi sebelum aku bisa menarik pelatuk, lantai di bawahku terbuka, dan aku jatuh ke dalam kegelapan yang penuh dengan cairan biru dingin.

"Zidan!" teriak Kurumi—suaranya terdengar nyata kali ini, penuh dengan ketakutan.

Aku tenggelam, tapi logikaku tidak mati. Aku mulai merasakan sesuatu masuk ke dalam aliran darahku lewat luka di bahuku. Sesuatu yang dingin, tajam, dan... sangat kuat.

Volume 2 bukan lagi soal pelarian. Ini adalah soal evolusi terakhir. Dan aku, Zidan, adalah variabel yang akan menentukan siapa yang akan tetap berdiri di atas reruntuhan dunia ini.

Catatan Penulis:

Chapter 27 membawa Zidan ke dalam inti konspirasi Nirvana. Dengan Kurumi yang dicuci otaknya dan Subjek E yang muncul kembali sebagai "saudara", Zidan harus memilih antara kemanusiaannya atau kekuatan Predator Puncak yang ada di dalam dirinya. Apa yang akan terjadi di dalam cairan biru itu? Jangan lupa Like, Favorit, dan Komentar kalian!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!