Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.
Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.
Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.
Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Aster
Edward dan Lyodra akhirnya dapat bernapas lega. Bala bantuan datang di saat yang tepat. Mereka berdua selamat dari amukan warga desa.
Emak-emak tukang gosip dan Bapak-bapak tukang nyolot dibawa petugas keamanan desa ke balai desa. Mereka akan ditahan di sana untuk sementara waktu sampai situasi mereda.
Pak Wicak mengajak Pak Sepri, Bu Ades, Edward dan Lyodra ke rumahnya. "Kita bicarakan baik-baik lalu kita cari solusinya dengan kepala dingin ya, Nak."
Edward dan Lyodra mengangguk setuju. Mereka berjalan bersama di belakang kepala desa dan perangkatnya.
Bu Wicak yang sudah menunggu kedatangan suaminya langsung berteriak lega. Berlari kecil segera menyambut suami dan tamunya yang lain.
Mereka semua dibawa ke ruang tamu dan duduk di sofa yang empuk, disuguhi minuman hangat dan singkong rebus untuk mengisi perut.
"Diminum dulu teh manisnya. Untuk meredakan rasa kaget karena dikeroyok warga desa," ucap Bu Wicak mempersilakan Lyodra dan Edward untuk mengambil makanan dan minuman.
"Terima kasih, Bu," ucap Lyodra dan Edward secara kompak.
Bu Ades yang berumur hampir kepala lima berdecak kagum mendengar suara Edward. "Sudah wajahnya ganteng, suaranya maskulin pula. Kalau aku masih muda dan secantik Lyodra, sudah aku kawinin ini bocah."
Pak Sepri berdehem dan geleng-geleng kepala.
"Maaf ya, Nak. Bu Ades ini selalu tak bisa menahan diri kalau ada anak muda seganteng kamu bersliweran di desa. Pasti ucapannya jadi sedikit kacau dan malu-maluin. Tolong jangan dimasukin hatinya, Nak."
Edward tersenyum. Dia sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu. Hampir semua wanita yang melihatnya berperilaku seperti Bu Ades. Berdecak kagum seperti melihat artis drama china saja.
Kecuali Lyodra.
Sejak bertemu Lyodra, gadis ini belum pernah memujinya. Hanya merona merah pipinya saat diperlakukan dengan manis olehnya.
Mungkin karena Lyodra adalah bunga desa. Sering mendapat perlakuan yang sama dengannya. Dikagumi dan disukai banyak orang karena kecantikannya di atas rata-rata.
"Iya, Pak. Saya paham, Pak. Bu Ades hanya kagum saja. Tidak ada maksud lain." Edward menjawab dengan santai.
Senyum Edward adem. Membuat Bu Ades jadi makin menyukainya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sampai terjadi masalah ini?" tanya Pak Wicak mulai membuka kasus.
Lyodra pun segera bercerita lebih dahulu, kemudian disambung oleh Edward.
Setelah jelas duduk permasalahannya, Pak Wicak dan istri, beserta perangkat desa akhirnya dapat menghela nafas lega.
"Maafkan kami, Nak Edward. Kesalah pahaman ini akan kami luruskan pada warga desa. Namun, demi menjaga nama baik Lyodra yang tercoreng, apakah saya bisa minta sesuatu kepada Nak Edward. Mungkin permintaan saya ini agak sedikit konyol. Namun, sebagai kepala desa dan sahabat baik Ibu Lyodra, saya harus menanyakan pada Nak Edward," ucap Pak Wicak dengan suara penuh wibawa.
"Monggo, Pak. Silahkan ditanyakan saja jika Bapak ingin bertanya. Saya akan menjawab jika memang saya bisa menjawabnya," ucap Edward lebih santai setelah Pak Wicak menanggapi masalah ini dengan bijaksana. Sesuai dengan namanya, Pak Wicak memang orang yang bijak.
Pak Wicak menarik nafas panjang.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf pada Nak Edward, jika saya nanti menyinggung atau membuat Nak Edward tidak nyaman bertandang ke desa kami. Begini, Nak. Apakah Nak Edward sudah menikah?"
Edward menggelengkan kepalanya.
"Belum, Pak."
Edward memamerkan kedua jemari tangannya. Tidak ada cincin yang melingkar di jari manisnya.
Pak Wicak kembali menghela nafas lega.
"Kalau begitu, apakah Nak Edward bersedia menikahi Lyodra?"
Glek!
Lyodra dan Edward seketika langsung melongo kaget. Mereka tidak menyangka Pak Wicak meminta Edward untuk menikahi Lyodra.
Lyodra berdehem.
"Maafkan saya, Pak Wicak. Bukan saya tidak setuju dengan niat baik Bapak untuk mencarikan solusi agar nama saya tidak tercoreng di mata warga, tapi ... saya belum ingin menikah. Saya masih ingin sendiri dan mandiri. Bekerja, menghasilkan uang untuk masa depan saya, Pak."
Lyodra mengedipkan mata pada Edward untuk ikut menolak permintaan Pak Wicak.
Edward menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya sibuk berpikir, alasan apa yang dapat membuat Pak Wicak tidak menikahkan paksa dirinya dengan Lyodra. Sekaligus mengungkap kebenaran di masa lalu yang sedang ia cari tahu.
Edward mengeluarkan kalung emas putih yang melingkar di lehernya. Ada sebuah cincin emas putih yang tergantung di kalung. Cincin dengan batu berlian warna biru kecil dan hiasan bunga aster di kedua sisinya.
"Saya memang belum menikah, tapi saya akan bertunangan sekembalinya saya ke kota besar. Cincin ini adalah cincin yang akan saya berikan pada calon tunangan saya di kota besar," ucap Edward sambil memegang cincin itu dengan penuh cinta.
Api kecil cemburu dan rasa kecewa muncul di hati Lyodra mendengar kebohongan yang baru saja dikarang Edward.
Ah, ternyata dia sudah punya calon tunangan. Mungkin dia memang bukan jodohku, batin Lyodra.
Mata Pak Wicak membulat lebar. Tubuhnya bergetar hebat.
"Ya Tuhan, ya Tuhan. Cincin itu ... Cincin itu milik ibu Lyodra. Bagaimana cincin itu bisa ada di tanganmu, Nak Edward?"
"Apa?!"
Semua orang terkaget-kaget mendengar ucapan Pak Wicak.
Edward segera melepas kalungnya. Mengambil cincin dan memberikannya pada Pak Wicak.
"Tolong dicermati lagi, Pak. Ini cincin ibu saya, bukan ibu Lyodra."
.
Pak Wicak segera mengambil cincin bermata biru itu. Mengamatinya dengan teliti.
Dia yakin itu adalah cincin pemberiannya pada Ibu Lyodra saat mereka masih jadi sepasang kekasih.
Tapi untuk menjaga perasaan Bu Wicak, Pak Wicak memilih bungkam dan bertanya hal lain.
"Kalau boleh tahu, siapa nama ibu Nak Edward?"
Edward pun menjawab, "Nama ibu saya Aster, Pak."
Duar!
Nama ibu Edward sama persis dengan nama ibu Lyodra. Aster. Nama bunga yang bermakna cinta, kesabaran dan keanggunan.
Semua orang terlonjak kaget.
"Kak Edward, nama ibuku juga Aster, Kak. Apakah ini sebuah kebetulan atau bagaimana? Kenapa namanya bisa sama ya? Apakah ibu Kak Edward juga penduduk desa ini?" tanya Lyodra ingin memastikan lagi.
Edward mengangguk. "Ibu saya adalah bunga desa di desa ini, Lily."
Lyodra mengerjabkan matanya tidak percaya. "Kak Edward yakin?"
"Yakin. Seyakin yakinnya. Oleh karena itu saya datang ke desa ini. Karena ayah saya meninggal dan mewariskan tanah pertanian yang sangat besar di desa ini. Saya datang ke desa ini untuk melihatnya. Karena saya ingin menjualnya untuk modal usaha bisnis saya," jawab Edward.
Lyodra hampir pingsan mendengar penuturan Edward. Ternyata mereka saudara kandung.
Pak Wicak menepuk-nepuk wajahnya agar tersadar setelah dipukul berita mengagetkan.
"Nak Edward, kalau boleh bapak tahu. Nak Edward lahir tanggal berapa?" tanya Pak Wicak.
Edward dengan jujur langsung menjawab. "Tanggal 20 Februari 2002, Pak."
Tubuh Pak Wicak kembali bergetar hebat. Matanya menatap nanar ke arah Lyodra yang tersentak kaget.
"Lyodra juga lahir di hari yang sama dengan kakak. Apakah kita anak kembar yang terpisah, Kak?" tanya Lyodra tak percaya.