Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.
Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.
Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Keturunan Songgo Langit
Maka bergegaslah mereka bangun, padahal kepala mereka masih pening, dan badan masih lemah.
Untuk melakukan aktivitas jelas harus dipaksakan. Namun karena tugas, mau tak mau harus dilakukan.
Sementara itu di bagian Xuan Huan, atau Xuan Nindya, saat ini dia sudah sampai di depan pintu kelasnya, yang saat ini pintunya sudah ditutup.
Tapi dia tak mau tau, tetap saja menerobos masuk, karena saat ini kebetulan guru kelasnya sedang tidak ada. Begitu juga dengan kelas kelas lainnya, karena guru gurunya sedang mengadakan rapat dadakan.
Jadi dengan berani nya dia membuka pintu, lalu berjalan masuk tanpa terlebih dahulu mengetuk pintunya.
Namun belum juga dua langkah Ia masuk, tujuh orang yang sebelumnya mencegatnya di jalan pun sampai, dan langsung memarahi mereka.
Dirman yang menjadi ketua nya langsung berkata. "Beraninya kalian mengabaikan juga meremehkan perintahku. Tak tahukah kalian siapa aku, ha!?" ujarnya.
Bugh!
"Ugh!"
Bukan anggukan atau jawaban yang didapat Dirman, malah tendangan kuat yang langsung mengenai perutnya.
Tubuhnya langsung melengkung dan tumbang sesudahnya.
"Sudah aku katakan, urus saja urusanmu sendiri. jangan mengurusi urusan orang lain, karena kalian belum pantas menyandang status itu."
"Jika lain kali aku lihat kalian masih berkeliaran di jam jam pelajaran, maka yakinlah, aku akan menghancurkan wajah wajah penipu kalian itu."
"Jadi sekarang bubar sebelum aku berubah pikiran!"
Bugh!
Brak!
Tubuh Dirman kembali terpental, dan melayang menembus pintu yang sudah terbuka, kemudian jatuh tak jauh dari tong sampah. serta mengenainya.
Brug, Brak! Prang!
Lalu pingsan.
Anak buahnya yang berjumlah enam orang itu sontak terpana, karena tidak menyangka Nindya yang dulunya penakut, sekarang berani melakukan itu di depan siswa siswa lainnya.
Mereka mengira Nindya akan takut serta segan pada mereka, tapi ternyata tidak.
Dia tetap pada pendiriannya, bahwa siapa pun yang berani mengganggunya sekarang akan dia lawan dengan sekuat tenaga, Tidak peduli resiko yang akan ditanggungnya nanti.
Baginya nanti atau sekarang itu sama saja. Sama sama dilema. Kelompok preman yang berkedok OSIS itu, sering menggunakan kekuasaannya untuk menindas yang lain, terutama siswa yang masuk karena prestasi, juga karena mendapatkan beasiswa.
Nindya dan Kirana adalah salah satunya. Jadi mereka sangat anti pada siswa yang seperti itu.
Menurut mereka, keberadaan siswa berprestasi tersebut akan menutup peluang yang lain untuk meraih juara, termasuklah kelompok OSIS tersebut.
Maka dengan gigihnya mereka terus menekan, membuli, memfitnah, menjelek jelekkan, termasuk usaha melecehkan, agar kelompok berprestasi tersebut dikeluarkan dari sekolah.
Namun kali ini mereka terkena batunya. Nindya yang sudah bertransformasi menjadi Xuan Huan ternyata berani melawan, bahkan sudah dua kali pula dia melakukan itu. dan korbannya adalah Dirman.
"Nindya!" teriak Oka. "Apa yang kau lakukan?"responnya.
"Cepat ikut kami untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu, dan menerima hukuman kami di sana!" sambungnya lagi, mencoba bersikap tegas, karena ingin menunjukkan dominasinya.
Namun apa yang ia dapatkan tidak sesuai dengan kenyataan. Nindya bergeming dan tetap berdiri tenang, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Siswa yang dipandang mengkerut nyalinya, karena mereka sadar bahwa Nindya sekarang telah berubah menjadi kuat, dan itu mereka sadari sepenuhnya.
"Kalian semua! Mungkin diantara mereka ada yang pernah membuli atau menghukum kalian tanpa dasar?"
"Namun karena takut melawan, jadi kalian diam saja, dan menerima perlakuan mereka dengan dendam yang teramat dalam."
"Oleh karena itu hari ini katakan padaku, apa yang harus aku lakukan pada mereka?" ujarnya.
"Nina! Tolong balaskan dendamku pada Oka. Dia pernah melecehkan ku karena tidak sengaja menabraknya saat berada di taman. dan saat itu dia bersama dengan lima lainnya, dan itu mereka semua. Jadi tolong balaskan dendamku pada Oka juga yang lainnya!" ucap seorang siswa perempuan bernama Rina.
"Benar begitu Oka? Apa yang Rina katakan itu benar, bahwa kau sudah melecehkannya?" respon Xuan Huan.
"Bohong! Itu fitnah. Kami semua adalah petugas sekolah, yang ditunjuk langsung oleh pembina OSIS untuk mendisiplinkan siswa yang membangkang, termasuk kalian!"
"Sebagai orang yang ditunjuk oleh pihak sekolah, tidak mungkin kami melakukan perbuatan tidak terpuji itu pada Rina. termasuk pada yang lainnya."
"Jadi sekarang sudah jelas, dia hanya ingin mendapatkan pembenaran, dan berniat menjatuhkan nama baik kami saja!" jawab Oka.
Kemudian diam, lalu menyambung kembali perkataannya. "Dengarkan semua! Teman kalian yang bernama Nindya juga Kirana ini setiap harinya datang terlambat. Tidak mematuhi peraturan, dan berani melawan petugas yang ditunjuk."
"Jadi menggunakan hak yang diberikan oleh bapak Pramana. kami datang ingin mendisiplinkan mereka!"
"Tapi tidak disangka, dia malah berani melawan, dan melukai ketua kami. Oleh karena itu mereka harus dihukum. Jika masih berani melawan, maka terpaksa kami akan melaporkannya pada pak Bima. kepala sekolah kita" ujarnya.
Kraaakk! Boom! Brug, brug, brug.
Belum juga kering mulut Oka karena memfitnah Xuan, mendadak lututnya juga lutut teman temannya menjadi goyah, dan langsung jatuh tersungkur ke lantai. Untuk berdiri jelas tidak mampu, karena Xuan Nindya sudah menekannya dengan energi spiritual.
"A a apa yang kau lakukan? Kenapa kau berani melawan kami, yang jelas jelas sudah ditunjuk oleh Pembina OSIS, di bawah perintah langsung ketua Yayasan?"
"Apa kau tak takut jika dikeluarkan, dan di blacklist dari seluruh sekolah yang ada di Kotavia ini?" ancam Oka.
"Masih berani melawan rupanya! Bersujud!" respon Xuan Nindya.
Brug, brug, brug.
Duk, duk, duk.
"Kurang ajar! Lepaskan kami! Ayo kita bertarung secara jantan. Jangan main curang seperti ini. Kau tukang sihir yang berkedok siswa!" respon Oka, sambil terus menahan rasa sakit ditekan dan dipermalukan seperti itu.
[Tuan, anak ini adalah keturunan penjaga Songgo Langit, yang leluhurnya sampai saat ini masih hidup. tapi mengasingkan diri di daerah pegunungan wilayah Tulban sana]
[Jika tuan terus menekannya seperti itu, maka darah leluhurnya akan bangkit, dan memicu gelombang elektromagnetik, yang bisa menimbulkan kekacauan menyeluruh pada anak keturunan yang lain, serta memicu anomali alam yang tidak biasa]
[Jadi saran Quan, tuan segel saja kekuatannya agar tidak bisa mengirim sinyal pada yang lain, serta jadikan kekuatan itu menjadi milik tuan. Jadi keadaan tuan akan aman untuk selamanya]
"Apa ada hal yang seperti itu Quan?" respon Xuan Nindya.
[Tentu saja ada tuan. Daratan Nusa ini tidak sama seperti daratan Naga tuan dulu. Di tanah ini penuh dengan hal hal mistis, yang dikaitkan dengan kehidupan alam ghaib, yang kekuatan pemimpin besarnya bisa menyamai kekuatan puncak tuan]
[Jadi cepatlah lakukan penyegelan, agar keselamatan tuan tidak terancam]
"Kalau begitu kau bantu aku. mumpung keadaan masih aman dan waktu pun sudah kau bekukan."
[Baik, akan Quan lakukan]
"Bagus! Ayo kita mulai!" jawab Xuan Nindya.