Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Artefak Bumi
Udara di perbatasan Federasi LIN bergetar hebat.
Benturan antara Pedang Langit Penembus Awan (Kelas Emas) dan Gada Penghancur Kerak Bumi (Kelas Bumi) menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan pepohonan di sekelilingnya.
Yan Bingchen bergerak seperti kilat ungu, memanfaatkan Langkah Bayangan Naga untuk menghindari serangan berat Jenderal Zhu yang didukung kekuatan Ranah Transformasi Sumsum.
KLANG! TRANG! KLANG!
Adu senjata terjadi dalam hitungan detik. Jenderal Zhu, dengan pertahanan kulit dan tulang yang sekeras baja berkat kultivasi sumsumnya, membiarkan beberapa tebasan Yan Bingchen mengenai zirahnya, hanya untuk membalas dengan ayunan gada yang mematikan.
Yan Bingchen mulai terdesak. Perbedaan ranah mulai terasa. Napasnya memburu, dan Mata Samsara-nya berdenyut tegang, memaksanya melihat aliran Qi lawan yang semakin masif.
Jenderal Zhu menyeringai, melihat celah pada pertahanan Yan Bingchen yang mulai kelelahan. Ia menghantamkan gadanya ke tanah, mengaktifkan kemampuan elemen bumi artefaknya.
"Goncangan Inti Bumi!"
Tanah di bawah kaki Yan Bingchen meledak, melontarkannya ke udara.
Saat Yan Bingchen kehilangan keseimbangan, Jenderal Zhu melompat, mengayunkan gada raksasanya dengan kekuatan penuh ke arah dada Yan Bingchen.
Yan Bingchen hanya sempat mengangkat pedang emasnya untuk menangkis.
KRAK!
Suara nyaring logam patah bergema. Pedang Langit Penembus Awan, artefak setia yang menemaninya sejak turnamen, hancur berkeping-keping di tengah bilahnya, tak sanggup menahan hantaman senjata Kelas Bumi yang didorong tenaga Ranah ke-5.
"Mati kau, Kelainan Darah!" teriak Jenderal Zhu, gada berlanjut menghantam dada Yan Bingchen.
BOOM!
Yan Bingchen terbanting keras ke tanah, menciptakan kawah sedalam satu meter. Ia terbatuk darah kental, Inti Sejatinya bergetar tidak stabil.
Jenderal Zhu mendarat, perlahan berjalan mendekati kawah dengan gada terangkat, siap memberikan hantaman terakhir.
GRRR-HAPH!
Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam melesat dari balik rimbunnya semak.
Si Hitam, serigala arwah itu, melompat dengan kecepatan penuh, rahangnya yang kuat menggigit erat pergelangan tangan kanan Jenderal Zhu yang memegang gada.
"Binatang sialan!" Jenderal Zhu mengerang sakit, namun kekuatannya terlalu besar. Ia mengayunkan lengan kanannya, melempar Si Hitam hingga menghantam pohon besar.
Si Hitam merintih kesakitan, salah satu kaki depannya tampak patah, namun gigitannya tadi berhasil membuat gada itu terlepas dari genggaman Jenderal Zhu dan jatuh beberapa meter jauhnya.
Di saat yang sama, Mo Ran, pemuda yang selama ini dianggap tidak berguna, berlari mendekat.
Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca karena ketakutan, namun ia mengingat janji setianya pada Yan Bingchen. Ia mengaktifkan Tahap Pengumpulan Qi (Ranah ke-2) miliknya yang tipis.
Tanpa senjata, Mo Ran melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: ia melompat dan memeluk leher Jenderal Zhu dari belakang, menutup mata sang Jenderal dengan kedua tangannya sambil berteriak histeris.
Gangguan dari Si Hitam dan Mo Ran, meski hanya berlangsung beberapa detik, sudah cukup bagi Yan Bingchen.
Melihat sahabat dan serigalanya terluka demi melindunginya, amarah yang dingin meledak dari dalam Inti Sejati Yan Bingchen.
Ia berdiri dari kawah, mengabaikan rasa sakit di dadanya. Mata dualitasnya menyala dengan intensitas yang menakutkan, warna ungu pekat menyelimuti seluruh tubuhnya.
Ia melesat ke arah gada Jenderal Zhu yang tergeletak di tanah.
Jenderal Zhu, yang sibuk mencoba melepaskan pelukan Mo Ran dari lehernya, tidak menyadari pergerakan Yan Bingchen.
Yan Bingchen mencengkeram gagang Gada Penghancur Kerak Bumi. Seketika, artefak Kelas Bumi itu menolak. Energi kuning tanah berontak, mencoba menghancurkan tangan Yan Bingchen.
Krrrk!
Tangan Yan Bingchen mulai retak dan berdarah. Namun, ia tidak melepaskannya.
Ia memaksakan Qi gabungan api dan esnya masuk ke dalam gada, secara paksa menundukkan kesadaran rendah artefak tersebut dengan dominasi kekuatannya yang unik.
Gada itu mendengung hebat, warna kuningnya perlahan berubah menjadi ungu pekat saat energi Yan Bingchen menguasainya.
Yan Bingchen melompat, mengayunkan gada raksasa itu ke arah Jenderal Zhu yang masih bergelut dengan Mo Ran.
DORR!
Hantaman gada itu mengenai pinggang Jenderal Zhu. Kekuatan masif gabungan dari artefak Kelas Bumi dan energi Inti Sejati Yan Bingchen menghancurkan pertahanan kulit dan tulang Jenderal Zhu.
Pria itu terpental jauh, menyeret Mo Ran bersamanya. Mo Ran terlepas dan pingsan dengan luka memar di sekujur tubuhnya.
Jenderal Zhu mencoba bangkit, terbatuk darah dan organ dalam. "K-kau ... bagaimana bisa kau menguasai gadaku ..."
Yan Bingchen tidak menjawab. Ia melompat lagi, gada ungu terangkat tinggi.
"Penghancur Jantung Bumi: Dua Kutub!"
Ia menghantamkan gada itu tepat ke kepala Jenderal Zhu. Energi api membakar sumsum tulangnya dari dalam, sementara energi es membekukan Inti Qi-nya seketika.
BOOM!
Kepala Jenderal Zhu hancur total, tubuhnya terkulai kaku, tewas seketika.
Yan Bingchen menjatuhkan gada itu, terengah-engah.
Seluruh tubuhnya gemetar, dan tangannya yang memegang gada tadi hancur melepuh. Ia perlahan berjalan mendekati Mo Ran dan Si Hitam.
Si Hitam merintih pelan, kaki patahnya bergetar, namun matanya menatap Yan Bingchen dengan rasa lega. Mo Ran masih pingsan, napasnya lemah namun stabil.
Yan Bingchen duduk bersila di antara mereka, air mata menetes dari mata merah-birunya. Ia gagal melindungi pedangnya, dan ia hampir kehilangan sahabat-sahabatnya.
Ia mengambil sisa-sisa patahan Pedang Langit Penembus Awan dan menguburnya di bawah pohon purba tempat Si Hitam menghantam tadi.
Kemudian, ia mengambil Gada Penghancur Kerak Bumi yang kini telah sepenuhnya tunduk padanya, menjadi senjata barunya.
Dengan tubuh penuh luka dan hati yang perih, Yan Bingchen, Mo Ran, dan Si Hitam perlahan meninggalkan medan pertempuran, melanjutkan perjalanan menuju Ordo Long.