NovelToon NovelToon
LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Misteri / Psikopat
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."

Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.

Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.

Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.

Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.

Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 FETISISME KOMODITAS DAN LABIRIN CERMIN SANG LEVIATHAN

[21:00 PM] GALERI NASIONAL SENI KONTEMPORER, DISTRIK PUSAT METROPOLIS

Hujan gerimis masih membasahi kaca-kaca gedung pencakar langit metropolis, namun di dalam Galeri Nasional, cuaca buruk itu hanyalah latar belakang estetis yang sengaja dibingkai oleh jendela-jendela setinggi langit-langit. Malam ini, galeri tersebut menjadi tuan rumah bagi Pameran Musim Gugur eksklusif, sebuah acara penggalangan dana yang hanya dihadiri oleh eselon tertinggi masyarakat: para pemegang saham, aristokrat baru, dan direksi eksekutif Konsorsium Aegis Vanguard.

Melangkah melewati pintu putar kaca, Dr. Saraswati memasuki ruangan yang bermandikan cahaya lampu gantung kristal keemasan. Alunan musik klasik String Quartet karya Schubert mengalun lembut, mengisi udara yang beraroma parfum haute perfumery dan sampanye vintage.

Saraswati mengenakan gaun malam sutra berwarna hitam pekat, berlengan panjang, dengan kerah tinggi yang menutupi lehernya. Pakaian elegan ini bukan sekadar pernyataan mode; ini adalah zirah pelindung yang disiapkan oleh jaringan bawah tanah Dr. Aria untuk menyembunyikan lapisan perban tebal yang mengikat bahu kanannya yang hancur. Setiap tarikan napas dan setiap langkah kaki yang diayunkannya di atas sepatu hak tinggi mengirimkan gelombang rasa sakit yang tajam ke seluruh sistem sarafnya.

Namun, mengutip Sigmund Freud, rasa sakit yang nyata ini adalah jangkar bagi Ego-nya. Rasa sakit ini menahannya kuat-kuat di dalam prinsip realitas (reality principle), mencegahnya jatuh kembali ke dalam halusinasi trauma masa lalu atau kebingungan Hayra.

Saraswati mengambil segelas air mineral dari nampan pelayan yang lewat, menggunakan tangan kirinya. Matanya yang setajam pisau bedah mulai membedah arsitektur kekuasaan di ruangan itu.

Di sinilah ironi terbesar dari Marxisme terpampang nyata. Karl Marx menulis tentang fetisisme komoditas (commodity fetishism)—sebuah kondisi psikologis di dalam masyarakat kapitalis di mana hubungan sosial antarmanusia digantikan oleh hubungan antar-benda, dan nilai sebuah benda tidak lagi ditentukan oleh fungsi gunanya, melainkan oleh status mistis yang disematkan pasar kepadanya.

Lukisan-lukisan kontemporer yang dipajang di dinding galeri ini mayoritas menggambarkan penderitaan manusia, kemiskinan urban, dan kekacauan revolusi. Karya-karya seni itu diciptakan oleh seniman yang merana, namun kini dibeli dengan harga puluhan miliar rupiah oleh para elit yang sama, yang menyebabkan penderitaan tersebut. Penderitaan kaum proletar telah direifikasi (dibendakan), dibingkai dalam kanvas emas, dan dikonsumsi oleh kaum borjuis sebagai hiburan estetis. Mereka mengonsumsi alienasi itu sendiri.

Lebih jauh, Saraswati mengamati para penjaga keamanan. Mereka bukan lagi polisi berseragam negara. Mereka adalah tentara bayaran Aegis Vanguard yang mengenakan setelan tuksedo hitam dengan pin lencana berbentuk perisai di kerah mereka. Pergerakan mereka sangat mekanis, dingin, dan terkoordinasi sempurna. Negara telah memprivatisasi kekerasan. Keteraturan Apollonian yang diagungkan Inspektur Bramantyo telah digantikan oleh efisiensi korporat yang jauh lebih tidak manusiawi.

Saraswati tidak datang ke sini untuk mengagumi seni. Sebuah cip enkripsi hitam berada aman di balik lapisan korset gaunnya. Pengirim misterius berinisial 'O' menantangnya untuk menemukan seseorang yang memahami "struktur trauma manusia."

[21:25 PM] MENCARI SANG SUBJEK DI ALAM ZAHIR

Simone de Beauvoir mengajarkan bahwa seorang perempuan harus menolak tatapan yang mencoba menjadikannya objek (Sang Liyan). Di tengah lautan kaum elit yang saling menilai kekayaan dan status, Saraswati bergerak sebagai Subjek yang mengawasi, bukan yang diawasi. Ia menolak imanensi (keterkungkungan) dari gaun malamnya dan mengafirmasi transendensinya sebagai seorang detektif yang sedang berburu.

Ia menyusuri lorong-lorong galeri, meninggalkan aula utama yang bising menuju area pameran instalasi kontemporer di sayap barat. Pencahayaan di area ini jauh lebih redup.

Di ujung lorong, terdapat sebuah karya seni instalasi spasial berukuran raksasa yang diberi judul: The Architecture of Repression (Arsitektur Represi).

Saraswati menghentikan langkahnya. Judul itu adalah sebuah panggilan yang terlalu eksplisit untuk diabaikan. Kata 'represi' adalah fondasi dari teori psikoanalisis Freud.

Instalasi itu berupa sebuah labirin yang seluruh dinding, lantai, dan langit-langitnya terbuat dari cermin satu arah. Di dalam labirin itu, lampu-lampu LED putih berkedip dengan ritme acak, menciptakan ilusi ruang tanpa batas yang memusingkan orientasi kognitif. Bagi orang awam, ini adalah karya seni tentang kehilangan arah. Bagi Saraswati, ini adalah perwujudan visual dari Barzakh—alam perantara di mana pikiran sadar dan ketidaksadaran saling bertabrakan, tempat di mana wujud fisik kehilangan maknanya dan digandakan hingga tak terhingga.

Ia melangkah masuk ke dalam labirin cermin tersebut.

Suara musik klasik dari aula utama segera teredam oleh material kedap suara instalasi itu. Kesunyian mengambil alih. Ke mana pun Saraswati menoleh, ia melihat puluhan pantulan dirinya sendiri: seorang wanita bergaun hitam dengan wajah pucat dan mata yang menyimpan terlalu banyak kematian.

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan pelan bergema dari salah satu dinding cermin di kedalaman labirin. Ketukan yang ritmenya sama persis dengan ketukan di pintu klinik bawah tanah Dr. Aria pagi tadi.

Saraswati mengikuti arah suara itu, bernavigasi di antara tipuan optik, hingga ia tiba di pusat labirin.

Di tengah ruangan bersudut delapan itu, berdiri sesosok pria.

Pria itu membelakangi Saraswati, sedang mengamati pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia mengenakan setelan jas bespoke berwarna biru malam yang jahitannya begitu sempurna hingga menyerupai kulit kedua. Postur tubuhnya tegap, memancarkan dominasi absolut yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.

"Ratusan pantulan di ruangan ini, namun tidak ada satu pun yang benar-benar nyata," ucap pria itu. Suaranya bariton, sangat jernih, tenang, dan memiliki resonansi yang menggetarkan tulang rusuk Saraswati. "Plato mengutuk seni karena ia menganggap seni hanyalah tiruan dari tiruan. Tapi di abad kedua puluh satu, kita telah melampaui Plato. Tiruan (simulakra) kini lebih berharga daripada realitas itu sendiri."

Pria itu berbalik perlahan.

Wajahnya sangat aristokratik, dengan tulang pipi tinggi, rambut hitam yang disisir rapi ke belakang, dan sepasang mata berwarna abu-abu baja yang menatap Saraswati tidak dengan nafsu atau kemarahan, melainkan dengan kalkulasi algoritmik yang murni. Pria ini berada di awal usia empat puluhan, namun auranya setua kapitalisme itu sendiri.

"Selamat malam, Dr. Saraswati. Atau haruskah saya memanggil Anda Sang Pembebas?" pria itu menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya.

"Kau bukan polisi, dan kau bukan prajurit," Saraswati berdiri tegak, menahan rasa sakit di bahunya. "Kau adalah 'O'. Siapa kau sebenarnya?"

"Nama publik saya adalah Orion," jawab pria itu, melangkah mendekat tanpa memutus kontak mata. "Saya adalah Direktur Operasi Eksekutif Aegis Vanguard. Dan saya adalah orang yang menahan perintah eksekusi militer ke rumah aman Sektor 3 tempat anak-anak asuhan Anda tidur malam ini."

[21:40 PM] DIALEKTIKA DUA LEVIATHAN

Saraswati tidak meraih senjata (yang memang tidak ia bawa). Di arena ini, senjata fisik adalah simbol dari keputusasaan kaum intelektual kelas bawah. Pertarungan di ruangan ini adalah pertarungan ontologis.

"Kau menyandera nyawa anak-anak yatim piatu untuk memaksaku datang ke pesta minum-minummu," desis Saraswati, suaranya setajam silet. "Taktik pemerasan yang sangat banal untuk seorang direktur eksekutif. Apa yang kau inginkan dari buronan nomor satu negara ini?"

Orion terkekeh pelan. Ia berjalan memutari Saraswati, mengamati sang detektif dari berbagai sudut cermin.

"Banal, ya. Tapi efisien," Orion berhenti di samping Saraswati. "Kau harus memahami posisi saya, Dokter. Tiga hari yang lalu, seorang gila bernama Kala dan kelompok penganut anarkismenya nyaris membakar sistem perbankan kota ini. Mereka melepaskan kekacauan Dionysian yang liar. Kala percaya bahwa dengan menghancurkan tatanan hukum dan modal, manusia akan terbebas dari alienasi mereka."

Orion menunjuk ke arah bayangan Saraswati di cermin. "Tapi Kala salah. Manusia tidak menginginkan kebebasan radikal. Kebebasan eksistensial itu menakutkan; ia membawa beban tanggung jawab yang terlalu berat bagi spesies yang pada dasarnya lemah. Manusia mendambakan struktur. Mereka menginginkan Apollonian. Mereka ingin diberitahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus dibeli, dan siapa yang harus dibenci. Aegis Vanguard tidak menindas kota ini; kami memberikan rahim kenyamanan yang mereka minta. Kami adalah Leviathan yang menjaga mereka dari anarki."

Logika yang diutarakan Orion sangat mengerikan karena memiliki pijakan sosiologis yang kuat. Jika Kala mewakili amuk Id yang menuntut pemuasan instan melalui kehancuran, maka Orion adalah manifestasi absolut dari Superego korporat—sebuah tatanan otoriter yang menekan kehendak individu demi efisiensi sistemis.

"Tapi ada satu kecacatan kecil dalam mesin sempurna kami," lanjut Orion, wajahnya kini berubah serius. "Kala mungkin sudah mati di dasar samudera, tapi ideologinya terlanjur menyebar. Dewan Direksi Aegis Vanguard saat ini sedang terpecah. Faksi militer radikal di dalam dewan kami ingin menggunakan darurat militer ini untuk membantai habis puluhan ribu buruh dan rakyat miskin di sektor industri, menghapus mereka dari peta dan menggantinya dengan otomatisasi kecerdasan buatan secara penuh. Mereka ingin melakukan genosida demografis."

Mata Saraswati sedikit melebar. Genosida demografis atas nama efisiensi modal. Ini adalah fasisme tahap akhir.

"Dan di mana posisimu dalam perpecahan itu, Orion?" tanya Saraswati, mencoba memetakan letak pria ini dalam spektrum kekejaman.

"Saya adalah penganut keseimbangan, Dokter," jawab Orion. "Menghapus kelas pekerja secara brutal akan merusak sirkulasi ekonomi global. Selain itu, pembantaian terbuka itu... tidak elegan. Faksi militer radikal itu dipimpin oleh Jenderal Ares, seorang pria yang otaknya beroperasi hanya dengan otot dan mesiu. Ia berbahaya bagi bisnis. Saya ingin menyingkirkannya dari Dewan Direksi."

Saraswati mendengus sinis. "Lalu kenapa kau tidak menggunakan pasukan bayaranmu sendiri untuk membunuhnya?"

"Karena Jenderal Ares mengontrol tujuh puluh persen kekuatan bersenjata Aegis. Jika saya menyerangnya secara militer, konsorsium ini akan pecah ke dalam perang saudara terbuka yang akan meratakan kota," Orion menatap langsung ke dalam jiwa Saraswati. "Untuk menghancurkan seorang pria yang tubuhnya dilapisi baja, saya membutuhkan seseorang yang bisa merobek tengkoraknya dari dalam. Saya membutuhkan seorang pembunuh psikologis."

Saraswati terdiam. Di sinilah teka-teki itu mulai membentuk gambaran utuh.

"Kau memberiku cip enkripsi itu," ucap Saraswati, memahami peran yang ditawarkan kepadanya.

"Ya," Orion mengangguk. "Cip di balik gaunmu itu berisi seluruh profil psikologis, rahasia masa lalu, trauma masa kecil, dan dosa-dosa paling menjijikkan dari Jenderal Ares dan loyalisnya di dewan direksi. Data mentah yang tidak memiliki arti di tangan seorang prajurit. Tapi di tangan seorang pakar psikoanalisis forensik bergelar doktor yang berhasil membedah pikiran Sang Pembebas? Data itu adalah senjata pemusnah massal."

Orion mengulurkan tangannya. "Saya menawari Anda sebuah kemitraan yang sangat menguntungkan, Dr. Saraswati. Bekerjalah untuk saya. Gunakan keahlian Freud dan deduksi Aristoteles Anda untuk menemukan titik kehancuran (breaking point) Jenderal Ares. Buat dia hancur dari dalam, buat dia bunuh diri, atau buat dia melakukan kesalahan fatal yang akan memaksanya dilengserkan. Jika Anda berhasil menyingkirkan faksi radikal itu untuk saya, saya akan mencabut status buronan Anda, membersihkan nama Anda, dan yang paling penting..."

Suara Orion menjadi dingin, sebuah ancaman yang dikemas dalam janji manis. "...Saya akan menjamin bahwa Aegis Vanguard tidak akan pernah menyentuh satu helai rambut pun dari anak-anak Panti Asuhan Tunas Abadi yang saat ini sedang Anda sembunyikan."

[22:00 PM] SINTESIS DARI KETIADAAN

Di dalam labirin cermin yang memantulkan sosok mereka berdua dalam jumlah tak terhingga, Saraswati menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam pusaran dialektika yang baru.

Jika ia menolak, Orion akan memberikan koordinat rumah aman itu kepada pasukan pembunuh. Anak-anak yang baru saja ia selamatkan dari neraka Sektor 7 akan dieksekusi sebelum matahari terbit. Ia akan mempertahankan kemurnian moralnya, tetapi dengan harga nyawa kaum yang tak berdosa.

Jika ia menerima, ia akan menjadi instrumen, menjadi Sang Liyan bagi seorang tiran korporat. Ia akan melacurkan intelektualitasnya demi melayani kepentingan faksi kapitalis yang memperebutkan takhta. Ia akan menjadi anjing pemburu yang baru.

Namun, eksistensialisme Beauvoirian tidak pernah tentang memilih di antara dua kejahatan yang disodorkan oleh sang penindas. Kebebasan sejati adalah kemampuan untuk membajak sistem sang penindas dan menggunakannya untuk menghancurkan mereka dari dalam.

Saraswati menatap Orion. Dalam konsep Ibnu Arabi, pria ini menganggap dirinya Tanzih—tak tersentuh oleh emosi manusia. Tapi Saraswati tahu, setiap manusia yang memiliki ego sebesar ini memiliki kelemahan narsistik yang bersembunyi di alam bawah sadarnya. Orion membutuhkan Saraswati, yang berarti Orion bergantung padanya. Dan dalam hubungan ketergantungan itu, relasi kuasa bisa dibalikkan secara perlahan.

Saraswati mengambil napas dalam-dalam. Rasa sakit di bahunya menjadi jangkar bagi tekadnya yang membatu.

"Karl Marx berkata bahwa kapitalis akan menjual tali yang akan digunakan untuk menggantung mereka sendiri," ucap Saraswati dengan nada suara yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang dipelajarinya dari Sang Pembebas.

Saraswati melangkah maju, memangkas jarak spasial di antara mereka, menginvasi ruang personal Orion, menolak tunduk pada dominasi fisik pria itu.

"Aku akan menerima tawarannmu, Orion," kata Saraswati, matanya mengunci mata abu-abu sang direktur. "Aku akan membedah pikiran Jenderal Ares. Aku akan mengupas setiap represi Freudian di kepalanya hingga ia hancur. Kau akan mendapatkan takhta dewamu."

Orion tersenyum puas, mengira ia telah menjinakkan sang Subjek. "Keputusan yang sangat logis, Dokter. Anda adalah aset yang—"

"Tapi dengarkan aku baik-baik," potong Saraswati, suaranya kini memancarkan frekuensi mematikan yang membuat senyum Orion memudar. "Aku tidak bekerja untukmu. Aku bekerja melalui dirimu. Saat ini, Aegis Vanguard mungkin mengira bahwa mereka memegang kendali atas rantai di leherku. Tapi ingatlah malam ini, Orion. Ingatlah saat kau membiarkan seekor serigala masuk ke dalam rumah kaca kalian."

Saraswati merogoh balik korsetnya, mengambil cip enkripsi itu, dan menunjukkannya di depan wajah Orion.

"Aku akan menghancurkan musuh-musuhmu. Tapi setelah mereka habis... jangan berpikir bahwa aku akan berhenti."

Ini adalah deklarasi perang terbuka yang diucapkan secara elegan di tengah pesta kaum borjuis. Saraswati telah memilih jalannya. Ia akan bermain di dalam Barzakh kekuasaan korporat. Ia akan mengenakan topeng pelayan Aegis, masuk ke dalam sistem mahadata mereka, menggunakan uang dan sumber daya mereka untuk mempelajari anatomi Leviathan ini dari dalam organ vitalnya.

Ia tidak lagi mencoba meruntuhkan menara dari luar. Ia akan menjadi parasit eksistensialis yang membusukkan jantung monster itu dari dalam.

Orion menatap Saraswati dalam diam selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya, sang direktur merasakan getaran Das Unheimliche—kengerian yang familiar—mengalir di tulang belakangnya. Ia mengira telah membeli seorang psikolog pelarian yang putus asa, namun yang berdiri di hadapannya adalah entitas yang matanya memancarkan ketiadaan yang menolak untuk mati.

"Kalau begitu, selamat bergabung di Aegis Vanguard, Dr. Saraswati," ucap Orion, mengancingkan jasnya dan membalikkan badan menuju pintu keluar labirin cermin. "Kata sandi untuk membuka cip itu adalah nama gadis kecil yang bersembunyi bersamamu di dalam lemari dua puluh tahun lalu."

Langkah Orion menghilang di balik cermin.

Saraswati berdiri sendirian di tengah labirin. Jantungnya berdetak liar. Kata sandi itu. Orion tidak hanya mengetahui tentang Kala. Orion tahu rahasia yang bahkan Saraswati sendiri masih berusaha menguburnya.

Keterasingan ini belum berakhir. Ia telah menjual jiwanya untuk melindungi anak-anak itu, dan kini, ia harus bersiap menyelam ke dalam lautan darah para penguasa dunia. Labirin ego telah runtuh, namun sangkar emas sang Leviathan baru saja menutup pintunya di belakang punggung Dr. Saraswati.

Permainan belum selesai. Ia baru saja naik level.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!