Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGIRIM BUNGA MISTERIUS
Keesokan harinya...
"Ahh sayang sepertinya sebentar lagi mama tidak bisa mengendong mu, kamu sudah berat sekali", ucap Mikha menciumi wajah Revan yang semakin berisi, sangat menggemaskan. Apalagi bayi tampan itu sudah mandi dan memakai pakaian bagus membuatnya semakin tampan.
Seakan sudah mengerti apa yang Mikha bicarakan, bayi tampan itu tergelak mengeluarkan suara khas bayi.
"Gimana mama nggak kangen kamu, kalau anak mama selalu membuat bahagia begini".
Mikha memangku Revan sambil menikmati makan pagi di pinggir kolam renang.
Tampak Ana menghampiri dengan membawa rangkaian bunga segar.
"Bu, ada yang mengirim ibu bunga", ujar Ana memberi tahu Mikha.
Mendengar itu alis Mikha bertaut. "Bunga? Dari siapa? Coba lihat siapa pengirimnya", ujar Mikha melihat bunga yang di letakkan Ana di atas meja bulat dekat pintu.
"Tidak ada nama pengirimnya bu tapi ada kartu ucapannya. 'Mawar merah suatu hari nanti akan berganti menjadi Hitam', jawab Ana membaca tulisan di kartu itu.
Sesaat Mikha memikirkan kata-kata itu, ia tidak mengerti maksudnya.
Namun senyum manis terlukis dari mulut Mikha. "Ya sudah taruh saja di situ. Aku tahu siapa yang mengirim bunga itu", ucap Mikha berdiri dari tempat duduknya. Melihat bunga yang sudah di tata di atas meja.
"Buket bunga mawar merah, sebagai simbol cinta abadi".
"Ternyata Dante sangat romantis, memberi kejutan seperti ini pada ku", ucap Mikha pelan. Wajahnya berseri seperti ABG yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Ayo kita ke kamar, kita telpon om Dante ya sayang. Kau sudah mengenalnya kan?", bisik Mikhaela sambil menciumi pipi Revan yang merasa geli dan tertawa khas bayi.
Tiba di kamar, Mikha mengambil ponselnya. Sekarang pukul sembilan. Ia berharap tidak menggangu Dante yang sudah berada di kantornya di hotel Emerald.
"Hm...kita melakukan video call atau panggilan biasa saja. Bagai mana menurut mu?". Mikha terlentang diatas tempat tidur bersama Revan yang langsung tengkurap sambil menggerakkan kaki dan tangan mungilnya seperti orang berenang.
Mikha tersenyum sambil membaca ulang kata-kata di kartu ucapan. Ia segera mengirim pesan singkat ke Dante. "Bunganya cantik banget. Aku suka. Kamu romantis banget pagi-pagi gini!".
Drt..
Drt..
Netra yang Mikha yang masih tertuju pada layar handphonenya tersenyum lebar begitu nama Dante tertera di sana. Tak perlu menunggu satu menit, ternyata Dante langsung menghubungi Mikhaela.
"Mikhaela... bunga apa yang kamu maksud? Aku aku tidak mengirim bunga itu untuk mu."
Seketika jantung Mikha seakan berhenti berdetak. Mendadak wajahnya cemas. Ia langsung duduk bersandar.
Mikha tertegun. Ia kembali menatap kartu ucapan tanpa nama yang ada di tangannya. "Beberapa saat yang lalu ada yang mengirim buket bunga untuk ku Dante, tidak ada nama pengirimnya tapi ia memberi kartu ucapan. ''Mawar merah suatu hari nanti akan berganti menjadi Hitam'.
Jari Mikha gemetar saat ia kembali membaca kalimat di kartu. Entah lah kalimat itu sangat menusuk setelah ia telaah.
"Segera buang bunga itu Mikha. Itu ancaman. Aku segera ke rumah mu sekarang juga. Jangan menerima apapun dari orang asing. Ingatkan pekerja di rumah mu!".
Mendengar perkataan Dante seketika Mikha melempar kartu yang tengah ia pegang. Berlari ke wastafel mencuci tangannya. Kemudian mengendong Revan kembali turun ke bawah. Memerintahkan Ana untuk membuang bunga yang di kirim orang misterius.
Perintah Mikha mengagetkan Ana dan Nurma tapi keduanya langsung mengerti setelah di beri penjelasan oleh Mikha.
*
Beberapa menit kemudian, Dante datang ke rumah Mikha. Laki-laki itu tidak sendirian tapi bersama Luthfi juga.
Keduanya langsung memeriksa bunga yang sudah berada di tempat sampah. Kalau-kalau ada alat penyadap ataupun kamera tersembunyi. Tapi tidak ditemukan apapun.
"Tenanglah, orang ku sedang menyelusuri tempat pemesanan bunganya. Kita segera tahu siapa orang iseng itu. Apa tujuan nya mengirimkan bunga itu", ujar Dante menenangkan Mikhaela di ruang tamu. Hanya berdua saja. Sementara Revan kini bersama Ana.
Terlihat Luthfi sedang berbicara dengan satpam juga Nando di luar. Ada juga dua laki-laki bertubuh kekar yang di bawa Dante.
"Mikha...jika dugaan ku benar, bunga itu sebagai ancaman untuk mu, aku akan mempekerjakan bodyguard untuk menjaga mu. Mereka orang-orang kepercayaan ku. Kau juga bisa mempercayai Marco dan Hadi".
"Tapi Dante, apa seserius itu? Sampai harus mempekerjakan bodyguard segala? Apa menurutmu ancaman di kartu itu serius? Bisa saja kan kerjaan orang iseng untuk menakut-nakuti aku".
Terdengar helaan nafas Dante. Laki-laki itu menatap lekat Mikhaela seraya menggenggam tangan kekasihnya.
"Sebenarnya sejak malam aku menelepon mu seminggu yang lalu, aku menyelidiki semua keluarga Dion. Masing-masing mereka memiliki kepentingan karena mempunyai masalah, Mikhaela".
"Apa maksud mu, Dante?". Mikha menatap intens wajah Dante meminta penjelasan kekasihnya tersebut. Keduanya berbicara di ruang tamu.
"Maafkan aku, aku tidak memberi tahu sebelumnya Mikha. Karena aku tidak mau membuat mu panik atau kuatir".
"Saudara tiri perempuan Dion bernana Nania Sadewa, diam-diam menawarkan perusahaan juga pabrik minyak yang kalian miliki ke beberapa pengusaha yang memiliki banyak dana, Mikha".
"Adik laki-lakinya bernama Tio Sadewa, terlilit hutang ratusan milyar rupiah karena judi internasional. Saat ini ia terdesak karena tagihan hutang itu".
Dante memberikan amplop yang ia bawa kehadapan Mikha. "Di sana semua bukti kelicikan mereka sudah jelas, mempunyai kepentingan masing-masing".
Mikha segera melihat isi amplop itu, membacanya sekilas karena begitu banyak informasi yang tertulis di lembaran kertas itu. Nanti Mikha akan membaca satu persatu.
"Saudara tiri?". Setengah berbisik Mikha mau Dante menjelaskan lebih lanjut tentang Nania. Karena yang ia tahu Nania, Dion dan Tio adalah anak-anak Sadewa dan Warda.
"Nania merupakan anak Sadewa dengan wanita bernama Sarifah yang merupakan istri pertama Sadewa dan sudah meninggal sejak Nania kecil. Sedangkan Dion dan Tio lahir dari pernikahan dengan Warda", ujar Dante menjelaskan secara singkat pada Mikha yang jelas saja kaget mendengar itu semua.
Mikha tertegun, ponsel di tangannya hampir terjatuh saking pikirannya sesaat menjadi blank.
Penyelidikan Dante bukan sekadar kecurigaan kosong, semuanya terbukti.
Sementara Dante membeberkan bukti audit gelap, Mikha harus menelan kenyataan pahit bahwa keluarga Dion sedang di ambang kehancuran.
Nania, yang selama ini terlihat ambisius namun tampak setia pada warisan keluarga, ternyata bergerak diam-diam untuk menjual perusahaan dan pabrik minyak. Sepertinya Nania merasa itu satu-satunya cara menyelamatkan diri sebelum kapal karam. Namun Mikha tahu jika pabrik itu lepas, ribuan karyawan akan terlantar dan sejarah keluarga Sadewa tamat.
Walau bagaimanapun, darah Revan putra Mikha mengalir darah Sadewa.
"Aku harus bagaimana Dante? Banyak nyawa yang bersandar di perusahaan dan pabrik. Aku tidak terlalu mengerti mengolah bisnis sebesar perusahaan Sadewa, namun aku memiliki saham terbesar di sana. Peninggalan suami ku yang akan di wariskan untuk anak kami.."
...***...
To be continue
Tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya 🙏
Thor jgn ada drama tiba-tiba dion msh hidup y. Asli dah biasa bgt kayak gitu 😂 btw visualnya selalu pas👍 Nania tuh sesuai dg karakter yg di gambarkan. Sadis😂