"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. NYAWA DI UJUNG PENA
Fajar di Teluk Finlandia pecah dengan warna oranye yang tampak seperti luka bakar di langit. Di atas kapal pesiar Sergei, kekacauan meledak lebih awal dari yang diperkirakan. Sergei, yang termakan umpan informasi palsu dari Viktor, tidak menunggu pukul lima pagi. Ia memerintahkan pasukannya untuk mengunci kamar medis Vadim dan mengalirkan gas tidur dosis tinggi sebelum menghabisinya.
Namun, Sergei meremehkan sesuatu Alexei Dragunov tidak pernah memberikan umpan tanpa memasang jaring di bawahnya.
"Sekarang, Mikhail," perintah Alexei melalui radio dari pos pemantauan pantai.
Dua perahu cepat hitam tanpa lampu meluncur membelah ombak, membawa tim elit Dragunov. Di salah satu perahu itu, Alana berdiri dengan tenang, mengenakan rompi anti peluru di balik jaketnya. Ia bersikeras ikut. Ia ingin melihat ketakutan di mata Vadim saat pria itu menyadari siapa penyelamatnya.
BUM!
Ledakan kecil menghancurkan mesin kapal pesiar, membuatnya terombang-ambing di tengah laut. Saat pasukan Sergei panik menghadapi serangan mendadak itu, Mikhail dan timnya berhasil menyusup melalui jendela kabin medis.
"Ambil target! Jangan biarkan dia mati!" teriak Mikhail.
Vadim, yang setengah sadar karena pengaruh gas dan luka bahunya, merasakan tubuhnya diseret kasar. Ia mengira itu adalah algojo Sergei, hingga ia melihat sesosok wanita berdiri di pintu kabin dengan latar belakang api yang berkobar di dek kapal.
"Alana...?" bisik Vadim parau.
Alana tidak menjawab. Ia hanya menatap pria tua itu dengan tatapan hampa. "Bawa dia. Pastikan dia tetap hidup sampai dia menandatangani semua dokumenku."
Tiga Jam Kemudian. Ruang Bawah Tanah Vila Inari.
Vadim terbangun dengan tangan terantai ke kursi besi di sebuah ruangan kedap suara yang dingin. Di depannya, sebuah meja kayu tua diletakkan, di atasnya tertumpuk puluhan map berwarna merah.
Pintu besi terbuka. Alana masuk sendirian, tanpa Alexei. Ia membawa sebotol air mineral dan sebuah pulpen emas.
"Minumlah, Paman. Kau butuh tenaga untuk menulis," ucap Alana pelan, meletakkan botol itu di depan Vadim.
Vadim tertawa getir, suaranya parau. "Kau menyelamatkanku dari Sergei hanya untuk ini? Kau pikir aku akan menyerahkan segalanya padamu, bocah ingusan?"
Alana duduk di kursi di hadapan Vadim, menyilangkan kakinya dengan anggun. "Sergei meminta tujuh puluh persen untuk nyawamu, Paman. Aku? Aku meminta seratus persen untuk sisa hidupmu yang memuakkan ini."
Alana membuka map pertama. "Ini adalah surat pengalihan saham Naratama Corp yang kau curi dari ayahku. Dan ini adalah kode akses brankas di Moskow yang kau banggakan itu. Tanda tangani, dan aku akan memberimu dokter terbaik untuk bahumu. jika kau menolak... aku akan membiarkan infeksi di lukamu itu menjalar hingga ke jantungmu."
"Kau iblis!" teriak Vadim, meludahi meja.
Alana menyeka noda itu dengan sapu tangan putih tanpa mengubah ekspresi wajahnya. "Aku belajar dari yang terbaik, Paman. Kau membunuh ibuku demi aset ini. Sekarang, kau akan menyerahkannya padaku agar kau bisa terus bernapas. Bukankah itu adil?"
Di balik kaca satu arah, Alexei berdiri memperhatikan interaksi itu. Ia menyilangkan tangan di depan dada, bibirnya membentuk senyum tipis yang penuh kepuasan. Obsesinya semakin tak terkendali. Ia melihat Alana yang sedang "memangsa" musuhnya dengan keanggunan seorang ratu.
Alexei masuk ke dalam ruangan, meletakkan tangannya di bahu Alana. "Apakah dia menyulitkanmu, Sayang?"
Alana mendongak, memberikan senyum tipis pada Alexei. "Hanya sedikit keras kepala. Tapi dia akan sadar bahwa di dunia ini, hanya ada satu Volskaya yang tersisa."
Alexei menatap Vadim yang kini gemetar melihat kehadirannya. Alexei membungkuk, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Vadim. "Tanda tangani dokumen itu, atau aku akan memanggil Mikhail untuk membawakan alat bedahnya. Aku dengar saraf manusia sangat sensitif jika dikuliti perlahan tanpa bius."
Wajah Vadim memucat. Ia melihat pulpen emas itu. Ia melihat Alana yang menatapnya tanpa kedip, dan Alexei yang tampak siap melakukan kekejaman apa pun demi wanita di sampingnya.
Dengan tangan gemetar, Vadim meraih pulpen itu. Satu per satu, tanda tangan yang akan mengembalikan kejayaan keluarga Elena Volskaya dibubuhkan di bawah pengawasan dua predator yang saling mencintai dalam kegelapan.
Malam Hari di Balkon Vila.
Alana memegang setumpuk dokumen yang sudah sah secara hukum. Ia merasa lega, namun ada kekosongan yang aneh di dadanya. Kekuasaan sudah di tangannya, tapi harga yang dibayar adalah nuraninya sendiri.
Alexei datang dari belakang, memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya di leher Alana. "Kau berhasil, Ratu-ku. Sekarang, kau adalah wanita terkaya dan paling berkuasa di Baltik."
"Ini baru permulaan, Alexei," bisik Alana. "Sergei tidak akan tinggal diam setelah kita mencuri mangsanya. Dia akan menyerang dengan semua yang dia miliki."
"Biarkan dia mencoba," Alexei membalik tubuh Alana, menatap matanya dengan penuh gairah yang sakit. "Selama kau bersamaku, kita akan membakar siapa pun yang berani menghalangi jalanmu."
Mereka berciuman di bawah langit Finlandia yang kelabu, sebuah persatuan yang kini bukan lagi didasari oleh paksaan, melainkan oleh ambisi berdarah yang sama. Namun, di kejauhan, telepon satelit Alexei berdering. Sebuah laporan masuk dari Mikhail.
Alexei segera mengambil ponsel satelitnya, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan otoriter. "Mikhail, jelaskan maksudmu! Pasukan Sergei masuk ke perimeter vila?"
"Tidak, Tuan," suara Mikhail terdengar terengah-engah di seberang telepon. "Sergei tidak mengirim pasukan ke vila. Dia tahu itu bunuh diri. Tapi dia baru saja meretas sistem pendukung hidup (life-support) di bangsal medis Nenek Sofia secara jarak jauh. Dia menanam virus di server medis kita saat ledakan tadi terjadi sebagai pengalih perhatian."
Alana merasa dunianya berputar. Neneknya yang sedang koma sangat bergantung pada mesin-mesin itu.
"Sergei mengirim pesan, Tuan," lanjut Mikhail. "Dia bilang, jika Alana tidak menyerahkan kembali semua dokumen aset yang baru saja ditandatangani Vadim dalam waktu satu jam, dia akan mematikan aliran oksigen dan jantung buatan Nenek Sofia dari jarak jauh. Dia memegang kendali atas napas Nenek Sofia sekarang."
Alana jatuh terduduk di kursi. Sergei sangat licik. Dia tahu dia tidak bisa mengalahkan pasukan Alexei secara fisik, jadi dia menyerang melalui perang siber yang menyasar nyawa orang yang paling dicintai Alana.
"Satu jam, Alexei..." bisik Alana, wajahnya sepucat salju di luar. "Dia ingin aku memilih antara harta keluargaku atau nyawa Nenek."
Alexei mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. Ia menatap Alana dengan tatapan yang sangat dalam. "Dia meremehkanku jika dia pikir satu-satunya cara untuk menyelamatkan Nenekmu adalah dengan menyerah."