Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan yang Mengguncang Hati
Sore di Gang Mawar terasa lebih sunyi dari biasanya. Matahari mulai tenggelam, meninggalkan cahaya jingga yang menyelimuti rumah-rumah kecil di sepanjang gang.
Rania masih berdiri di depan rumahnya.
Di hadapannya ada Arga, yang baru saja mengucapkan sesuatu yang membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
“Aku suka Mbak.”
Kalimat itu masih terngiang di kepala Rania.
Ia menatap Arga dengan wajah sedikit bingung.
“Arga… kamu serius?”
Arga mengangguk tanpa ragu.
“Serius.”
Tatapannya lurus, tidak main-main seperti biasanya. Untuk pertama kalinya Rania melihat sisi Arga yang benar-benar dewasa.
“Tapi aku tahu Mbak mungkin merasa aneh,” lanjut Arga pelan. “Aku lebih muda. Mbak punya anak. Banyak orang mungkin akan menganggap ini tidak masuk akal.”
Rania menunduk sebentar.
Ia memang memikirkan hal itu.
Sejak suaminya meninggal, Rania tidak pernah berpikir tentang cinta lagi. Hidupnya hanya berputar di sekitar Rafa dan pekerjaannya.
Namun sekarang…
Ada seorang pria yang berdiri di depannya dan mengatakan bahwa ia menyukainya.
Dan sebelum Rania sempat mengatakan apa pun, suara pintu mobil terbuka terdengar.
Damar keluar dari mobil hitamnya.
Tatapannya langsung tertuju pada Arga yang berdiri sangat dekat dengan Rania.
Beberapa detik terasa hening.
Arga dan Damar saling menatap.
Seolah-olah keduanya sudah memahami satu hal tanpa perlu berbicara.
Mereka adalah rival.
Rania merasa suasana tiba-tiba menjadi canggung.
“Damar…” katanya pelan.
Damar berjalan mendekat dengan langkah tenang.
“Aku hanya ingin memastikan Mbak Rania dan Rafa sudah sampai rumah dengan aman.”
Arga menyilangkan tangan di dadanya.
“Sudah kok. Aku juga di sini dari tadi.”
Nada suara Arga terdengar sedikit menantang.
Damar menatapnya sekilas, lalu kembali menatap Rania.
“Mbak Rania, Rafa di mana?”
“Di dalam rumah. Dia sedang bermain.”
Damar mengangguk kecil.
Namun sebelum ia sempat berkata lagi, Rafa tiba-tiba berlari keluar rumah.
“Bunda!”
Rafa langsung memeluk kaki Rania, lalu melihat dua pria di depannya.
Matanya berbinar.
“Arga! Om Damar!”
Arga tertawa kecil.
“Halo jagoan.”
Damar juga tersenyum lembut.
Rafa menatap mereka bergantian.
“Kalian mau main sama Rafa?”
Rania langsung berkata, “Rafa, jangan ganggu mereka.”
Namun Arga langsung menjawab cepat.
“Aku mau.”
Damar juga berkata hampir bersamaan.
“Aku juga.”
Rania menghela napas pelan.
Anaknya malah terlihat sangat senang.
“Ayo! Kita main robot!”
Rafa langsung menarik tangan Arga dan Damar masuk ke halaman rumah.
Rania hanya bisa berdiri di sana sambil menggeleng pelan.
Situasi ini… benar-benar aneh.
Beberapa menit kemudian, halaman rumah Rania dipenuhi suara tawa Rafa.
Arga duduk di lantai bersama Rafa, memainkan robot kecil sambil membuat suara efek yang berlebihan.
“Robot Arga menyerang!”
Rafa langsung tertawa.
“Robot Rafa lebih kuat!”
Damar berdiri tidak jauh dari mereka.
Awalnya ia hanya memperhatikan.
Namun Rafa tiba-tiba menarik tangannya.
“Om Damar juga main!”
Damar terlihat sedikit kaku, tapi akhirnya duduk juga di lantai.
Arga meliriknya.
“Tidak biasa ya?”
Damar menatap Arga.
“Apa maksudmu?”
“Main robot seperti ini.”
Damar hanya menjawab singkat.
“Untuk Rafa, tidak masalah.”
Arga tersenyum tipis.
“Ya… kamu memang kelihatan seperti orang serius.”
Damar menatapnya tenang.
“Aku hanya tidak suka bermain-main dengan sesuatu yang penting.”
Arga langsung mengerti maksudnya.
“Maksudmu… Rania?”
Damar tidak menjawab.
Namun tatapannya sudah cukup jelas.
Arga tertawa kecil.
“Sayangnya… aku juga tidak bermain-main.”
Damar menatap Arga beberapa detik.
“Aku tahu.”
Suasana di antara mereka terasa tegang, meskipun Rafa masih tertawa tanpa menyadari apa pun.
Sementara itu, Rania berdiri di dekat pintu rumah sambil memperhatikan mereka.
Pemandangan itu terasa aneh tapi juga hangat.
Dua pria yang berbeda.
Arga yang ceria, spontan, dan penuh energi.
Damar yang tenang, dewasa, dan misterius.
Keduanya sekarang duduk di halaman rumahnya… bermain robot dengan anaknya.
Rania menghela napas.
“Hidupku benar-benar berubah.”
Beberapa saat kemudian, Arga berdiri.
“Sudah hampir malam. Aku harus pulang.”
Rafa langsung berkata, “Jangan pulang!”
Arga mengacak rambut Rafa.
“Besok kita main lagi.”
Rafa mengangguk.
Arga kemudian menoleh ke arah Rania.
“Mbak Rania… tentang yang tadi…”
Rania langsung berkata cepat, “Arga.”
Arga berhenti.
“Aku belum bisa menjawab.”
Arga terdiam sebentar.
Lalu ia tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Aku bisa menunggu.”
Rania menatapnya, tidak tahu harus berkata apa.
Arga kemudian pergi menuju motornya.
Namun sebelum naik, ia menoleh sebentar ke arah Damar.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Kali ini lebih jelas.
Persaingan.
Arga akhirnya pergi.
Suasana tiba-tiba terasa lebih sunyi.
Rafa sudah masuk ke dalam rumah untuk mengambil mainannya lagi.
Sekarang hanya tersisa Rania dan Damar di halaman.
Damar berdiri diam beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan.
“Mbak Rania.”
“Iya?”
“Pria seperti Arga… dia jujur.”
Rania terkejut mendengar itu.
Damar melanjutkan.
“Dia mengatakan perasaannya secara langsung.”
Rania menatapnya.
“Lalu?”
Damar menatap Rania dengan tatapan yang dalam.
“Aku tidak seberani dia.”
Rania sedikit bingung.
“Tapi bukan berarti aku tidak punya perasaan.”
Kalimat itu membuat jantung Rania berdegup lebih cepat.
Damar melanjutkan dengan suara tenang.
“Aku tidak akan memaksa Mbak Rania memilih.”
Ia menatap rumah kecil itu.
“Aku hanya ingin memastikan Mbak dan Rafa bahagia.”
Rania tidak bisa berkata apa-apa.
Untuk kedua kalinya hari ini…
Seorang pria mengatakan sesuatu yang mengguncang hatinya.
Damar kemudian berjalan menuju mobilnya.
Namun sebelum masuk, ia berkata satu kalimat lagi.
“Jika suatu hari Mbak Rania membutuhkan seseorang…”
Ia menatap Rania dengan lembut.
“Aku akan selalu ada.”
Mobil hitam itu kemudian perlahan pergi meninggalkan Gang Mawar.
Rania masih berdiri di depan rumahnya.
Langit sudah gelap sekarang.
Angin malam bertiup pelan.
Ia memegang dadanya.
Hatinya benar-benar kacau.
Satu pria mengaku suka padanya.
Satu pria lagi diam-diam menunjukkan perasaan yang sama.
Dan Rania tidak tahu…
Siapa yang seharusnya ia pilih.
Atau apakah ia siap membuka hatinya lagi setelah semua yang terjadi.
Namun satu hal yang pasti.
Pertarungan hati ini baru saja dimulai.