Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Beberapa hari telah berlalu sejak percakapan Quinn dan Ryuga di rooftop sekolah. Namun alih-alih membuat hatinya tenang, justru kata-kata Ryuga terus berputar di dalam pikirannya.
Quinn merasa seperti berdiri di antara dua dunia yang berbeda.
Di satu sisi, ada masa lalu yang selama ini ia yakini sebagai kebenaran—bahwa Ryuga telah memilih Naomi, bahwa dirinya hanyalah orang yang datang terlambat dalam kisah itu.
Namun di sisi lain, kini ada kenyataan baru yang mengguncang keyakinannya. Ryuga tidak pernah bersama Naomi. Ryuga menolak Naomi. Dan yang paling membuat Quinn tidak bisa mengabaikannya adalah pengakuan Ryuga bahwa selama ini tempat di hatinya hanya untuk Quinn.
Sebagai seorang gadis yang terbiasa terlihat tegas dan tidak mudah goyah, Quinn merasa sedikit tidak nyaman dengan gejolak perasaannya sendiri.
Ia marah pada Naomi yang telah menanamkan kebohongan di masa lalu.
Ia merasa bersalah pada Ryuga karena telah pergi tanpa memberikan kesempatan untuk menjelaskan.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak bisa ia pungkiri—perasaannya pada Ryuga ternyata belum benar-benar pergi.
Perasaan itu masih ada, hanya saja selama ini tertimbun oleh jarak, waktu, dan kesalahpahaman.
Dan itulah yang membuat Quinn bimbang.
Ia takut jika semua ini hanyalah luka lama yang kembali terbuka. Namun ia juga takut jika diamnya justru membuat sesuatu yang berharga kembali hilang.
Siang itu suasana rumah Quinn terasa hangat dan tenang.
Rumah dua lantai bergaya modern itu berdiri di kawasan perumahan yang asri. Halaman depan dipenuhi tanaman bunga yang dirawat dengan rapi oleh Selena. Dari ruang tamu terlihat jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk dengan lembut.
Di ruang keluarga, Quinn sedang duduk di sofa panjang sambil menatap layar ponselnya tanpa benar-benar fokus.
Ia menghela napas kecil.
Pikirannya lagi-lagi melayang.
Namun tiba-tiba—
Ting tong...
Bel rumah berbunyi.
Selena yang sedang di dapur memanggil.
“Ra, tolong bukain pintunya!”
Quinn bangkit malas.
“Iya, Ma.”
Ia berjalan menuju pintu depan.
Saat pintu dibuka—
Seorang pemuda berdiri di sana dengan senyum lebar.
Tampan, rapi, dan terlihat sangat percaya diri.
“Halo, sepupuku yang cantik...”
Quinn langsung menghela napas.
“Arka.”
Arka mengangkat tangan santai.
“Lama nggak ketemu.”
Quinn menyilangkan tangan.
“Ngapain kamu ke sini?”
Arka masuk tanpa menunggu undangan.
“Kangen.”
Quinn mendengus.
“Bohong.”
Arka tertawa kecil.
Selena muncul dari arah dapur.
“Arka!”
Arka langsung menoleh dan tersenyum ramah.
“Tante!”
Selena memeluknya hangat.
“Wah, udah lama nggak datang.”
Arka tertawa kecil.
“Lagi sibuk, tante.”
Quinn menyela datar.
“Dia sibuk pura-pura jadi pengusaha sukses.”
Arka melirik Quinn.
“Iri ya?”
Quinn menjawab cepat.
“Nggak.”
Selena tertawa kecil melihat mereka.
“Udah duduk dulu. Tante ambilin minum.”
Arka duduk santai di sofa.
Quinn duduk di seberangnya.
“Sekarang jawab pertanyaanku.”
Arka mengangkat alis.
“Apa?”
Quinn menatapnya curiga.
“Ngapain kamu datang?”
Arka menyandarkan punggungnya.
“Aku mau minta tolong.”
Quinn langsung menyipitkan mata.
“Apa lagi?”
Arka menjawab santai.
“Temenin aku beli perabotan rumah.”
Quinn mengerutkan dahi.
“Rumah?”
Arka mengangguk.
“Iya.”
Quinn langsung melotot.
“Kamu serius?”
Arka mengangkat bahu.
“Serius.”
Quinn bersandar ke sofa sambil menatapnya tidak percaya.
“Kamu.beneran mau nikah muda?”
Arka menatapnya santai.
“Kalau nggak yakin, aku nggak bakal mau disuruh magang di perusahaan papa.”
Quinn mendengus.
“Terus mau kamu kasih makan apa istrimu?”
Arka langsung berdecak.
“Kamu lupa siapa sepupumu ini?”
Quinn memutar mata.
“Tukang ngopi?”
Arka tertawa.
“Owner kafe, tolong diperjelas.”
Quinn menatapnya datar.
Ia memang tahu Arka bukan sembarang anak muda.
Di usianya yang baru 17 tahun, Arka sudah memiliki beberapa cabang kafe yang cukup sukses.
Namun karena keinginannya untuk menikah muda, ayahnya memberikan syarat keras.
Arka harus magang di perusahaan keluarga dan benar-benar belajar bisnis dari nol.
Arka menyenggol meja kecil di depannya.
“Jadi? Mau nemenin aku atau nggak?”
Quinn menghela napas.
“Lihat nanti.”
Arka menatapnya penuh arti.
“Kamu sendiri juga mau nikah muda kan?”
Quinn terdiam sebentar.
Lalu ia berkata pelan.
“Dulu iya.”
Arka mengangkat alis.
“Sekarang?”
Quinn menggeleng pelan.
“Nggak.”
Arka menyipitkan mata.
“Kenapa?”
Quinn menjawab singkat.
“Belum ketemu yang cocok.”
Arka menatapnya beberapa detik.
Sebagai sepupu yang cukup dekat dengannya, Arka tahu Quinn tidak sepenuhnya jujur.
“Hmm.”
Quinn meliriknya.
“Apa?”
Arka menyeringai tipis.
“Yakin?”
Quinn mengernyit.
“Apaan sih.”
Arka berkata santai.
“Biasanya orang yang bilang ‘belum ketemu yang cocok’ itu…”
Ia menunjuk Quinn.
“…sebenarnya lagi nunggu seseorang.”
Quinn langsung mendengus.
“Kamu kebanyakan minum kopi.”
Namun dalam hatinya—
Ia tahu Arka tidak sepenuhnya salah.
Quinn memang sedang menunggu.
Bukan secara sengaja.
Bukan dengan rencana yang jelas.
Namun ada satu nama yang selalu muncul setiap kali ia memikirkan masa depan.
Ryuga.
Nama itu seperti jejak yang tidak pernah benar-benar hilang dari hidupnya.
Dan itulah yang membuat Quinn ragu untuk membuka hati pada siapa pun.
Bukan karena tidak ada yang cukup baik.
Tetapi karena hatinya masih diam-diam menoleh ke arah seseorang yang sejak dulu tidak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
...----------------...
Sore itu, Quinn dan Arka berada di sebuah toko perabot rumah tangga yang cukup besar di pusat kota.
Toko itu luas dan terang, dengan langit-langit tinggi serta lampu putih yang memantul pada lantai keramik mengilap. Rak-rak tinggi berjajar rapi, dipenuhi berbagai perabotan—mulai dari lampu meja bergaya minimalis, rak buku kayu, karpet berbulu lembut, hingga berbagai dekorasi rumah tangga seperti vas bunga, bingkai foto, dan peralatan dapur.
Di bagian tengah toko terdapat beberapa display ruang tamu contoh, lengkap dengan sofa empuk dan meja kecil yang ditata seolah-olah itu adalah ruang tamu sungguhan.
Suasana toko cukup ramai oleh pasangan muda yang tampaknya sedang menyiapkan rumah baru mereka.
Arka berjalan santai sambil mendorong troli belanja.
“Aku nggak nyangka belanja beginian ternyata ribet juga.”
Quinn berjalan di depannya, memperhatikan beberapa dekorasi rak.
“Makanya jangan nikah dulu.”
Arka mendengus.
“Kalau nggak sekarang, kapan?”
Quinn meliriknya.
“Masih tujuh belas tahun, Ka.”
Arka menjawab santai.
“Umur cuma angka.”
Quinn langsung menatapnya datar.
“Kamu ngomong kayak bapak-bapak.”
Arka tertawa kecil.
“Yang penting siap.”
Quinn menggeleng pelan.
Ia berhenti di salah satu rak yang cukup tinggi berisi dekorasi kayu dan kotak penyimpanan.
“Ini lumayan bagus.”
Arka melirik sekilas.
“Ambil aja kalau kamu suka.”
Quinn mengangkat alis.
“Ini buat rumahmu.”
Arka mengangkat bahu.
“Anggap aja kontribusi sepupu.”
Quinn memutar mata.
Namun perhatiannya kembali pada salah satu kotak dekorasi di rak atas.
Rak itu cukup tinggi.
Quinn berdiri sedikit berjinjit untuk meraihnya.
“Bentar…”
Ujung jarinya hampir menyentuh benda itu.
Namun tanpa ia sadari, salah satu kotak besar di atasnya sedikit bergeser.
Dalam hitungan detik—
Kotak itu jatuh.
BRUK!
Quinn membelalak.
Namun sebelum benda itu benar-benar menimpanya—
Seseorang tiba-tiba menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
Tubuh Quinn ditarik ke dada seseorang.
Sementara benda yang jatuh itu mengenai punggung orang tersebut.
DUK!
Quinn terkejut.
Ia mendongak.
Dan langsung membeku.
“Ryuga…”
Ryuga berdiri tepat di depannya, memeluk tubuhnya untuk melindungi dari benda yang jatuh tadi.
Tangannya masih melingkari bahu Quinn.
Wajahnya sedikit menegang.
“Lo nggak pa-pa?”
Nada suaranya terdengar tenang.
Namun dari cara ia menahan napas sejenak, terlihat jelas bahwa punggungnya baru saja menerima benturan.
Quinn langsung panik.
“Iya… tapi lo—”
Namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya—
Arka datang berlari dari lorong sebelah.
“ASTAGA, RA!”
Ia langsung menghampiri mereka dengan wajah panik.
“Kamu nggak pa-pa?!”
Ryuga sedikit tersentak.
Tatapannya langsung beralih pada pria di hadapannya.
Ia mengerutkan alisnya samar.
Ra.
Panggilan itu sangat familiar.
Selama ini yang ia tahu, hanya orang-orang yang sangat dekat dengan Quinn yang memanggilnya dengan sebutan itu.
Dan sekarang seorang pria asing memanggilnya dengan begitu akrab.
Quinn buru-buru menjawab.
“Aku nggak pa-pa.”
Arka menghela napas lega.
“Syukurlah.”
Namun detik berikutnya Arka baru benar-benar memperhatikan Ryuga.
Ia sedikit tertegun.
“Eh…”
Ia menunjuk Ryuga.
“Lo Ryuga kan?”
Ryuga mengangkat alisnya sedikit heran.
Namun ia tetap menjawab singkat.
“Hm.”
Arka terlihat semakin yakin.
“Gue tau!”
Ia tertawa kecil.
“Kapten basket SMA Lentera Cendekia.”
Ryuga menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Arka langsung terlihat senang.
“Lo inget gue nggak?”
Ryuga diam.
Arka melanjutkan dengan semangat.
“Gue kapten basket SMA Garuda.”
Ryuga mengingat sejenak.
Memang sekolah itu pernah menjadi lawan mereka di sebuah turnamen antar sekolah.
Ia mengangguk singkat.
“Ingat.”
Untuk ukuran orang biasa, sikap Ryuga bisa dianggap dingin atau bahkan sombong.
Namun Arka bukan tipe orang yang mudah tersinggung.
Ia tetap tersenyum ramah.
“Jujur aja…”
Ia berkata tulus.
“Gue kagum sama teknik permainan lo.”
Ryuga tidak menjawab.
Namun ia tetap mendengarkan.
Arka lalu tiba-tiba merogoh saku jaketnya.
“Oh iya...”
Ia mengeluarkan sebuah kartu undangan.
“Minggu depan gue nikah.”
Ia menyerahkan undangan itu.
“Datang ya.”
Ryuga yang menerima undangan itu sedikit tersentak.
“Nikah?”
Ia menatap Arka dengan heran.
“Lo mau nikah muda?”
Arka tersenyum lebar.
“Iya.”
Ia menjawab tanpa ragu.
“Nikah muda itu impian gue.”
Lalu ia menoleh pada Quinn.
“Ya kan, Ra?”
Sambil berkata begitu, Arka merangkul bahu Quinn dengan santai.
Quinn sedikit kaku, namun ia tetap tersenyum kecil.
“Iya…”
Ia menjawab pelan.
Sebenarnya Quinn masih merasa canggung sejak percakapannya dengan Ryuga di rooftop beberapa hari lalu.
Namun bagi Ryuga—
Pemandangan di depannya terasa seperti pukulan keras.
Ra.
Panggilan itu kembali terdengar di telinganya.
Lalu rangkulan Arka di bahu Quinn.
Dan yang paling menyakitkan—
Quinn tidak menolak rangkulan itu.
Dalam benak Ryuga tiba-tiba muncul potongan kenangan lama.
Beberapa tahun lalu—
Quinn pernah berkata dengan mata berbinar.
“Aku pengen nikah muda.”
“Kayaknya seru kalau punya keluarga dari awal.”
Saat itu Ryuga hanya tersenyum kecil sambil menjawab bahwa ia akan memastikan hal itu terjadi.
Namun kini—
Seolah semua kenangan itu berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Ryuga menatap undangan di tangannya dengan perasaan sesak.
Entah mengapa—
Di dalam pikirannya hanya muncul satu kesimpulan.
Bahwa Quinn akan menikah.
Bahwa pria di depannya adalah orang yang akan memenuhi impian Quinn tentang pernikahan muda.
Bahwa selama ini ia datang terlambat.
Dadanya terasa semakin sesak.
Namun wajahnya tetap dingin.
Ryuga mengangkat pandangannya.
Tatapannya berpindah dari Arka ke Quinn.
Lalu kembali ke Arka.
Sorot matanya tajam, namun di balik itu ada sesuatu yang retak.
“Selamat.”
Suaranya datar.
Tidak ada emosi yang terlihat.
Arka tersenyum lebar.
“Thanks.”
Namun tanpa berkata apa-apa lagi, Ryuga berbalik dan berjalan pergi.
Langkahnya tetap tenang.
Namun di dalam hatinya, sesuatu terasa runtuh.
Selama bertahun-tahun ia menunggu.
Ia menolak siapa pun yang mencoba mendekat.
Ia menyimpan tempat itu hanya untuk satu orang.
Namun sekarang—
Orang itu berdiri di depan pria lain.
Dengan senyum yang dulu pernah ia lihat saat Quinn berbicara tentang masa depan.
Beberapa langkah sebelum keluar dari lorong toko—
Ryuga berhenti.
Ia menoleh sedikit.
Tatapannya jatuh pada Quinn.
Di mata itu ada sesuatu yang sangat dalam—
kecewa,
luka,
dan kehancuran yang tidak ia perlihatkan sebelumnya.
Seolah-olah ia baru saja kehilangan sesuatu yang selama ini ia jaga dengan seluruh hidupnya.
Namun detik berikutnya—
Ia kembali berbalik.
Dan pergi.
Di sisi lain lorong—
Quinn berdiri diam.
Ia menatap punggung Ryuga yang menjauh.
Keningnya sedikit berkerut.
Dalam hatinya, ia bertanya-tanya.
"Kenapa dia lihat aku kayak gitu? Kenapa tatapannya barusan… kayak orang yang baru aja patah hati?"
...****************...
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Jangan berani²...
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁