"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pagi di Bandung menyapa dengan kabut tebal yang menusuk tulang, namun dinginnya tak sebanding dengan apa yang kurasakan di dalam dada. Hari ini adalah jadwal kepulangan rombongan studi banding sekolah kami. Teman-teman satu kamarku sibuk mengepak oleh-oleh dan tertawa membahas keseruan kunjungan kemarin. Sementara aku? Aku masih terpaku pada satu benda di genggamanku: ponsel yang membisu.
Masih sama. Tidak ada satu pun chat dari Guntur.
Karena tidak tahan dengan rasa penasaran yang membakar, aku akhirnya menelepon Kaila. Dia sudah pulang ke rumah lebih dulu karena rombongan Jogja berangkat dengan motor dan bus umum, berbeda dengan rombongan studi bandingku yang menggunakan bus sekolah.
"Halo, Kai? Lo udah sampai rumah?" tanyaku begitu sambungan telepon terangkat.
"Udah, Fis. Baru aja mendarat di kasur. Capek banget," suara Kaila terdengar serak di seberang sana.
Aku menggigit bibir bawahku, ragu namun butuh tahu. "Gimana... Jogja semalam?"
Kaila menghela napas panjang, nada bicaranya berubah sedikit canggung. "Seru sih, Slank pecah banget. Tapi..." ia menggantung kalimatnya, membuat jantungku berdegup kencang. "Guntur semalam aneh banget, Fis. Dia lebih banyak diem pas nonton. Terus pas lagu terakhir selesai, dia langsung cabut duluan tanpa pamit ke anak-anak. Alif aja sampai bingung nyarinya."
"Dia... dia nggak ada nanyain gue, Kai?" tanyaku lirih, mencoba membuang sisa harga diriku.
Hening sejenak di seberang telepon. "Nggak, Fis. Sama sekali nggak. Malah kayaknya dia sengaja ngehindar setiap kali Alif mau bahas soal lo."
Jawaban itu seperti hantaman telak tepat di ulu hati. Aku mematikan sambungan telepon setelah berpamitan singkat. Aku kembali menunduk, pura-pura sibuk dengan ritsleting tasku agar teman-teman satu kamarku tidak melihat mataku yang mulai memanas. Aku mencoba mengiriminya pesan terakhir sebelum bus rombongan kami berangkat meninggalkan Bandung.
Afisa: "Kak, aku sudah mau jalan pulang dari Bandung. Kamu sudah di rumah?"
Satu jam, dua jam, hingga bus mulai bergerak membelah kemacetan kota kembang, pesan itu tetap berstatus centang dua abu-abu. Guntur benar-benar memutus jembatan di antara kami. Dia membiarkanku menggantung dalam ketidakpastian yang menyiksa.
Aku menatap ke luar jendela bus. Pemandangan hijau di sepanjang jalan tol terasa abu-abu di mataku. Di Jogja kemarin, dia punya kesempatan untuk setidaknya memberiku kabar, tapi dia memilih untuk larut dalam keheningan yang menghukum.
"Sepertinya kamu benar-benar sudah selesai dengan aku ya, Kak?" bisikku pada kaca jendela yang berembun.
Heningnya Guntur bukan lagi karena dia kaku atau cuek. Heningnya kali ini adalah sebuah pernyataan. Dia sedang membangun kembali dinding es yang dulu susah payah aku ketuk, dan kali ini, dinding itu jauh lebih tebal tanpa menyisakan celah sedikit pun untukku.
Aku menutup mata, mencoba mematikan segala rasa. Besok, aku akan kembali ke sekolah. Besok, aku harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sosok yang selama ini menghangatkan layar ponselku setiap malam, mungkin sudah benar-benar menjadi orang asing.
Gedung sekolah yang biasanya terasa penuh semangat, hari ini tampak seperti penjara bagiku. Aku melangkah menyusuri koridor dengan perasaan waswas, menggenggam tali tas erat-erat. Setiap kali melihat siluet laki-laki dengan jaket olahraga, jantungku mencelos, berharap itu bukan dia—atau justru sangat berharap itu adalah dia.
Ponselku masih bisu. Pesan terakhirku kemarin bahkan belum berubah warna. Tetap abu-abu, seolah-olah namaku sudah masuk ke dalam daftar hitam di hidupnya.
"Fis! Baru sampai?" suara Alif menginterupsi lamunanku. Dia sedang berdiri di depan mading bersama beberapa anak bola lainnya.
Aku memaksakan senyum. "Iya, Lif. Baru naruh tas."
Mataku bergerak liar, mencari sosok yang sejak tadi menghantui pikiranku. Seolah tahu siapa yang kucari, Alif berdehem kecil. Wajahnya yang biasanya penuh canda kini tampak sedikit serba salah.
"Guntur ada di kantin belakang, kayaknya lagi sarapan sama temen-temen kelasnya," ujar Alif pelan. "Fis... soal Jogja semalam, gue minta maaf ya kalau suasana jadi nggak enak."
"Nggak apa-apa, Lif. Bukan salah lo," jawabku lirih, meski dalam hati aku menjerit ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Aku memutuskan untuk menyusul ke belakang. Aku butuh penjelasan. Aku butuh satu kalimat saja untuk memahami mengapa kehangatan di layar ponsel bisa membeku begitu cepat. Namun, baru saja aku sampai di belokan koridor dekat perpustakaan, sosok itu muncul.
Guntur.
Dia berjalan dari arah berlawanan, sendirian, dengan tangan dimasukkan ke saku celana abu-abunya. Langkahnya santai, wajahnya datar seperti biasa. Jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. Aku berhenti melangkah, menunggu ia mendekat.
Saat jarak kami tinggal dua meter, aku memberanikan diri. "Kak Guntur..." suaraku bergetar, nyaris tak terdengar.
Guntur tetap melangkah.
Dia melewati aku begitu saja. Matanya lurus menatap ke depan, tanpa ada sedikit pun kerutan di dahi atau lirikan di sudut mata. Seolah-olah aku adalah udara kosong. Seolah-olah ratusan pesan manis yang pernah kami tukar setiap malam hanyalah dongeng yang tak pernah ada.
Aku mematung. Dingin.
Rasanya lebih sakit daripada saat aku tahu dia tidak membalas chat-ku. Diabaikan secara langsung di tempat di mana semua orang tahu kami "dekat" adalah penghinaan yang luar biasa bagi perasaanku.
Aku berbalik, menatap punggungnya yang menjauh. "Kak!" panggilku sedikit lebih keras.
Dia berhenti sebentar, namun tidak menoleh. Hanya bahunya yang sedikit menegang.
"Salah aku apa?" tanyaku dengan suara yang mulai pecah. "Cuma karena aku nggak bisa ke Jogja? Cuma karena itu?"
Guntur diam selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya tanpa sepatah kata pun. Tidak ada pembelaan, tidak ada kemarahan, hanya keheningan yang menghakimi.
Hari itu, di koridor sekolah yang ramai, aku menyadari satu hal yang menghancurkan seluruh logikaku: Guntur tidak sedang marah. Dia sedang menghapusku.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2