NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: DARAH DAN PEDANG

Pagi di Klan Namgung terasa berbeda setelah kematian Seo Jin-ho.

Udara dingin menusuk tulang, meskipun matahari sudah naik setinggi tombak. Para pelayan berbisik-bisik dengan wajah pucat, menceritakan kembali kabar yang sudah menyebar seperti api: Pendekar Wudang itu ditemukan tewas. Tidak ada luka. Tidak ada tanda kekerasan. Ia mati seperti orang tidur.

Namgung Jin duduk di atap paviliun reotnya, menatap ke arah paviliun tamu di kejauhan. Dari sini, ia bisa melihat kerumunan kecil di depan kamar Seo Jin-ho—para penyelidik, pengawal, dan beberapa tetua Klan Namgung yang ikut sibuk.

"Dia mati karena aku."

Kata-kata itu berulang di kepalanya. Bukan penyesalan—ia sudah melewati fase itu ribuan tahun lalu. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang tidak biasa.

Simma di dadanya berdenyut. Denyutan sedih.

"Bocah sialan. Kau membuatku lemah."

Tapi ia tidak punya waktu untuk merenung. Dari bayangan di belakangnya, suara samar terdengar—Pemburu Kwon.

"Tuan Muda, ada laporan."

"Bicara."

"Tim penyelidik mengadakan pertemuan darurat. Mereka curiga ada yang tidak beres dengan kematian Seo Jin-ho. Beberapa mencurigai racun."

"Racun?"

"Tapi tidak ada jejak racun di tubuhnya. Tabib klan sudah memeriksa."

Namgung Jin tersenyum tipis. "Itu karena bukan racun."

"Lalu?"

"Dia bunuh diri. Dengan cara yang tidak meninggalkan jejak."

Pemburu Kwon terkejut. "Bunuh diri? Tapi kenapa?"

"Untuk melindungi seseorang."

"Siapa?"

Namgung Jin tidak menjawab. Ia hanya menatap ke kejauhan.

Pemburu Kwon mengerti. Ia tidak bertanya lagi.

"Ada lagi, Tuan Muda. Magyo mengirim pesan. Mereka ingin Tuan Muda datang ke Geumseong secepatnya. Ada... perkembangan."

"Perkembangan apa?"

"Tidak disebutkan. Tapi dari cara utusan bicara, sepertinya penting."

Namgung Jin mengangguk. "Aku akan pergi malam ini."

---

Di paviliun tamu, suasana tegang.

Biksu Myeongjin duduk di kursi dengan wajah muram. Di hadapannya, Tetua Seok Cheon-ho berjalan mondar-mandir, wajahnya merah karena emosi. Nyonya Hwa Ryun duduk di sudut, mengamati dengan mata tajam. Seok Cheon-myung berdiri di belakang ayahnya, diam tapi matanya penuh kebencian.

"Ini pasti ulah mereka!" Tetua Seok memukul meja. "Klan Namgung! Mereka membunuhnya agar tidak bisa bicara!"

"Tetua Seok, tidak ada bukti." Biksu Myeongjin mencoba menenangkan. "Tabib sudah memeriksa. Tidak ada tanda kekerasan atau racun."

"Tidak ada tanda bukan berarti tidak ada! Mungkin mereka punya cara lain!"

"Atau mungkin..." Nyonya Hwa Ryun angkat bicara. "...mungkin dia bunuh diri."

Semua menoleh.

"Bunuh diri? Kenapa?"

Nyonya Hwa Ryun mengangkat bahu. "Sejak kembali dari penyelidikannya, dia berubah. Pendiam, murung, tidak bersemangat. Mungkin dia menemukan sesuatu yang membuatnya putus asa."

"Atau mungkin dia diancam." Mata Tetua Seok menyipit. "Dan orang yang mengancamnya ada di klan ini."

"Tetua Seok, kau terlalu curiga."

"Aku realis." Ia berhenti berjalan, menatap Biksu Myeongjin. "Biksu, kau yang paling bijaksana di sini. Katakan padaku, apa mungkin bocah itu—Namgung Jin—terkait dengan semua ini?"

Biksu Myeongjin diam lama. Lalu ia menghela napas.

"Aku tidak tahu. Tapi ada satu cara untuk memastikan."

"Cara apa?"

"Pedang Mawanggeom. Jika bocah itu benar-benar terkait dengan Iblis, pedang itu akan merespons. Tapi kemarin, saat pedang itu bersinar, Seo Jin-ho yang ada di dekatnya."

"Mungkin itu tipuan."

"Atau mungkin kita harus menguji sekali lagi. Dengan situasi yang lebih terkendali."

Tetua Seok mengangguk pelan. "Setuju. Tapi kali ini, aku yang akan mengawasi langsung."

---

Malam itu, saat bulan mulai naik, Namgung Jin meninggalkan Klan Namgung.

Ia bergerak cepat di antara pepohonan, memanfaatkan kegelapan untuk bersembunyi dari para penjaga. Tubuhnya masih lemah, tapi ia sudah hafal setiap sudut dan celah di hutan ini.

Perjalanan ke Geumseong biasanya memakan waktu lima hari. Tapi dengan berjalan tanpa henti, ia bisa sampai dalam tiga hari.

Ia harus cepat. Sesuatu terjadi di Magyo. Dan ia harus tahu apa itu.

---

Tiga hari kemudian, ia tiba di lembah tersembunyi.

Geumseong berdiri megah di bawah sinar bulan, bangunan-bangunan batu hitamnya tampak lebih menyeramkan di malam hari. Para penjaga mengenalinya dan segera memberi jalan.

Cheon Wu-gun menunggunya di ruangan yang sama. Tapi kali ini, semua Roh hadir—Roh Perang, Roh Rahasia, dan Roh Iman (Cheon Wu-gun sendiri).

"Akhirnya kau datang." Suara Cheon Wu-gun tegang.

"Ada apa?"

Roh Perang menjawab. "Kami mendapat informasi bahwa Delapan Sekte akan melancarkan serangan besar-besaran ke markas kami. Mereka tahu lokasi kita."

Namgung Jin mengerutkan kening. "Bagaimana mereka tahu?"

"Kami tidak tahu. Tapi yang jelas, mereka akan datang dalam sebulan. Dengan kekuatan penuh."

"Seberapa besar?"

"Seribu pendekar dari berbagai sekte. Dipimpin oleh para tetua besar."

Seribu. Itu jumlah yang besar. Magyo mungkin punya banyak anggota, tapi tersebar di berbagai tempat. Markas ini hanya dijaga sekitar dua ratus orang.

"Kita harus pindah markas."

"Itu yang kami pikirkan." Cheon Wu-gun mengangguk. "Tapi pindah markas butuh waktu. Kita perlu mengulur waktu."

Namgung Jin diam, berpikir keras.

"Kita bisa menyerang lebih dulu."

"Menyerang? Dengan kekuatan kita?"

"Bukan serangan frontal. Serangan kecil di banyak tempat. Buat mereka sibuk memadamkan api di mana-mana. Itu akan mengulur waktu."

Roh Perang mengangguk. "Strategi yang sama seperti sebelumnya."

"Tapi kali ini dengan target yang lebih spesifik." Namgung Jin berjalan ke peta di dinding. "Lihat di sini. Jalur suplai mereka. Jika kita potong jalur ini, mereka akan kelaparan sebelum sampai ke sini."

"Tapi jalur itu dijaga ketat."

"Maka kita serang penjaganya, bukan jalurnya."

Ia mulai menjelaskan detail rencana. Satu per satu, para Roh mendengarkan dengan saksama. Matanya berbinar—bukan karena takut, tapi karena kagum.

Setelah selesai, Cheon Wu-gun berkata, "Kau benar-benar anugerah, Namgung Jin."

"Aku hanya melakukan tugas."

"Tapi ada satu hal." Cheon Wu-gun menatapnya tajam. "Tim penyelidik Delapan Sekte masih di klanmu. Dan mereka punya Mawanggeom."

"Aku tahu."

"Pedang itu berbahaya. Jika mereka menggunakannya dengan benar, mereka bisa mendeteksi keberadaan Iblis Murim."

"Atau..." Namgung Jin tersenyum. "...kita bisa mengambilnya."

Para Roh terkejut. "Mengambilnya? Itu gila! Pedang itu dijaga ketat!"

"Tidak perlu mengambil secara fisik. Cukup membuatnya tidak berguna bagi mereka."

"Maksudmu?"

"Biarkan aku yang mengurusnya."

Cheon Wu-gun menatapnya lama. Lalu ia mengangguk.

*"Baik. Tapi hati-hati. Jika kau gagal—"

"Aku tidak akan gagal."

---

Kembali di Klan Namgung, situasi semakin panas.

Tim penyelidik mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan "upacara pemurnian" dengan Mawanggeom. Semua anggota klan harus hadir, satu per satu, untuk "diperiksa" oleh pedang itu.

Ini adalah ujian terbesar.

Namgung Jin tahu, jika ia terlalu dekat dengan pedang itu, Mawanggeom akan bersinar lagi. Dan kali ini, tidak ada Seo Jin-ho yang bisa melindunginya.

"Harus ada cara."

Ia duduk di kamarnya, berpikir keras. Teknik Eunshim bisa menyembunyikan jiwa, tapi tidak bisa menyembunyikan ikatan darah dengan pedang itu. Mawanggeom adalah bagian dari dirinya. Mereka terhubuk pada level yang lebih dalam.

"Mungkin..."

Sebuah ide muncul. Ide gila. Tapi mungkin satu-satunya cara.

Ia harus melukai dirinya sendiri. Melukai dengan cara yang mengubah sementara aliran energinya. Dengan begitu, pedang itu mungkin tidak akan mengenalinya.

Tapi lukanya harus tepat. Tidak terlalu dalam sampai membunuh, tapi cukup untuk mengacaukan tanda energi.

"Aku butuh darah."

Ia mengambil pisau kecil di saku bajunya. Pisau ini selalu ia bawa—untuk jaga-jaga.

Tanpa ragu, ia menusukkannya ke perutnya.

Darah mengalir. Sakit, tapi ia tahan. Pisau itu bergerak, membuat luka kecil di dekat dantian—pusat energi.

Energinya kacau. Aliran gi terganggu.

"Cukup."

Ia membalut lukanya, lalu duduk bersila. Napasnya berat, tapi ia tersenyum.

"Sekarang, lihat siapa yang mengenaliku."

---

Upacara pemurnian berlangsung di halaman utama.

Semua anggota Klan Namgung berbaris satu per satu, berjalan melewati Mawanggeom yang diletakkan di atas altar. Biksu Myeongjin dan Tetua Seok duduk di samping, mengamati setiap reaksi.

Namgung Jin berada di urutan ke dua puluh tiga. Cukup jauh untuk mempersiapkan diri, tapi cukup dekat untuk mencemaskan.

Ia melihat para pendahulunya. Satu per satu berjalan, dan pedang itu tetap gelap. Tidak ada reaksi.

Hingga tiba gilirannya.

Ia melangkah maju, wajah tenang. Di balik jubahnya, luka di perut masih berdarah—tidak banyak, tapi cukup untuk mengubah aliran energinya.

Semakin dekat. Sepuluh langkah. Lima. Satu.

Ia berdiri tepat di depan Mawanggeom.

Pedang itu diam. Gelap.

Tidak ada cahaya. Tidak ada getaran.

Biksu Myeongjin mengamatinya dengan saksama. Tetua Seok mengerutkan kening, kecewa.

"Lanjutkan."

Namgung Jin melangkah pergi. Hatinya berdebar kencang, tapi wajahnya tetap datar.

Ia berhasil.

Tapi saat ia berbalik, ia melihat sesuatu di mata Tetua Seok. Bukan kekecewaan, tapi kecurigaan yang lebih dalam.

Pria itu tidak percaya. Dan orang yang tidak percaya akan terus mencari.

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!