Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 dungeon di papua
"Kurasa harus membuatkan tempat tinggal dibelakang apartemen" Gumam voltra melihat kuro.
"Jangan asal. Bicara, dasar kau!. Kita sudah sepakat untuk merahasiakan kuro bahkan di asosiasi hunter hanya ketua asosiasi yang tau" Balas Alina tidak setuju. "Pikiran cara lain" Lanjutnya menyuruh.
"Mengatur sekali" Balas voltra mendengus.
Ia berjalan ke arah kuro, pertumbuhan ukuran naga begitu cepat, bisa-bisa ruangan ini tidak cukup untuk menampung bayi naga itu. Voltra menggantikan mana miliknya, tubuh kuro terselimuti oleh mana itu membuat ukuran kembali menjadi lebih kecil, seukuran kucing.
"Aaa... Ini dia" ucap Alina mengangkat kuro. "Aku lebih suka saat kamu seukuran ini" Lanjutnya menggendong gemas bayi naga itu.
"Setuju, kuro keliatan imut" Timpal vanya mendekati.
"yah meksipun ukuran kecil, dia dalam nya dia terus tumbuh. Aku bisa melepaskan ukuran aslinya kapan saja" Batuk voltra bergumam sendiri.
Tiba-tiba handphone alina berdering keras, ia meminta kuro dari pelukannya ke pelukan vanya lalu mengambil handphone dari saku. Yang menelpon adalah ketua asosiasi hunter Indonesia, meskipun tidak terlalu jelas namun voltra bisa melihat raut wajah alina berubah serius.
"Kita ke asosiasi" ucap alina begitu panggilan selesai.
"Ogah" Balas voltra malas sambil membuka bungkus keripik.
"Ayoo" ujar alina menarik kerah voltra.
Vanya menangkal bungkus keripik yang sudah terbuka, kuro mencelupkan kepalanya ke dalam sana. Bayi naga itu pemakan segalanya, jadi ia akan memakan makanan apapun yang dilihat. Vanya sedikit heran melihat kakaknya diseret seperti itu.
"Ada apa?" Tanya voltra setelah didepan motor.
"Sistem asosiasi hunter Indonesia mendeteksi Adan pergerakan dungeon tingkat S di papua" Jawab Alina naik ke belakang motor voltra. "Cepat, aku yakin Raven sudah ada di Asosiasi lebih dulu" Lanjutnya berucap.
"Ck... Ada-ada saja" Gumam voltra menyalakan mesin.
Motor sport Voltra membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan yang nyaris membuat Alina terbang jika saja ia tidak memeluk pinggang Voltra dengan erat. Di tengah deru angin, pikiran Voltra melayang. Papua? Dungeon tingkat S? Seingatnya, di dunia lamanya, dungeon tingkat S yang muncul di daerah terpencil biasanya bukan sekadar gerbang monster, melainkan tanda bahwa energi dunia tersebut sudah mulai retak.
Sesampainya di sana, suasana sangat kacau. Helikopter lalu-lalang, dan para Hunter tingkat tinggi tampak berlarian membawa dokumen. Benar saja, Raven sudah ada di sana, duduk di atas meja rapat dengan wajah yang tidak lagi santai.
"Nah, ini dia dua bintang kita" sapa Raven dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. "Kalian terlambat lima menit. Tapi melihat rambut Alina yang acak-acakan karena angin, aku maklum" Lanjutnya tersenyum meledek.
"Diam, Raven," potong Alina tajam sembari merapikan rambutnya. "Jelaskan situasinya" Lanjutnya menyuruh.
Seorang pria paruh baya dengan seragam militer lengkap, Ketua Asosiasi Hunter, menekan tombol di meja, memunculkan hologram raksasa pulau Papua. Di bagian tengah pegunungan Jayawijaya, terdapat titik merah pekat yang berdenyut.
"Dua jam yang lalu, satelit mendeteksi fluktuasi Mana yang melampaui batas instrumen kami. Ini bukan sekadar Gate S-Rank biasa" sang Ketua menjelaskan dengan suara berat. "Ini adalah Double Dungeon yang sedang mengalami proses Rift. Jika tidak segera ditangani, seluruh pulau bisa tertelan ke dalam dimensi monster" Lanjutnya memberitahu.
"Berapa estimasi waktu penutupan?" tanya Voltra sambil bersandar di dinding, matanya menatap titik merah itu dengan pandangan dingin.
"Maksimal enam jam sebelum Dungeon Break" jawab Ketua Asosiasi. "Kami sudah mencoba menghubungi Hunter S-Rank lain, tapi bantuan tercepat baru tiba besok. Jadi... nasib wilayah Timur ada di tangan kalian bertiga" Lanjutnya.
"Aku sudah menyiapkan jet supersonik," sapa Raven sambil berdiri. "Alina, kau bawa perlengkapan medis dan penyokong Mana. Voltra... kau tahu kan apa tugasmu?" Lanjutnya bertanya.
"Menghancurkan apapun yang bergerak. Aku mengerti" sahut Voltra tersenyum maniak.
Selama perjalanan, Alina tampak gelisah. Ia terus mengecek ponselnya, memantau keadaan melalui Vanya di apartemen.
"Bagaimana Kuro?" tanya Voltra tiba-tiba, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin jet.
"Vanya bilang dia sedang tidur di atas kepalanya. Sepertinya bayi naga itu kelelahan setelah makan keripikmu" jawab Alina dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Voltra... kau merasa ada yang aneh dengan misi ini?" Lanjutnya bertanya.
"Kau takut?" Tanya balik Voltra.
"Tentu saja tidak" Jawab Alina tajam.
"Seharusnya Asosiasi sudah meminta bantuan pada hunter S negara lain" Gumam Raven memotong percakapan keduanya.
"Sampaikan pada pak tua itu, kita tidak perlu bantuan dari pihak asing" Balas Voltra bersedekap dada. "Kalian punya aku" Lanjutnya menujuk dirinya sendiri dengan bangga.
"Hah?" Kaget Alina dan Raven.
"Buang-buang anggaran saja menyewa hunter luar negeri" Balas Voltra mengibaskan tangan kanannya. "Memangnya negara mana saja yang bisa mengatasi gate rank S tanpa bantuan hunter luar negeri?" Lanjutnya bertanya.
"China, rusia dan Amerika" Jawab Alina.
"Mengesampingkan Amerika dan rusia, sebenarnya China lebih bagus. Mereka memiliki jumlah hunter terbanyak di seluruh dunia dan juga penjaga" ucap Raven bergumam.
"Penjaga?" Tanya Voltra.
"Kau tahu kan legenda China tentang hewan penjaga mata angin" ucap Raven diangguki oleh Voltra. "Katanya ada hunter memiliki kekuatan sepesial,ia bisa memurnikan monster menjadi hewan penjaga China. Bayarannya adalah hunter itu akan hibernasi selama 2 tahun setelah memurnikan" Lanjutnya.
"Simpan cerita itu untuk nanti" Balas Alina berkacak pinggang. "Kita harus menemui hunter rank s papua Natalius" Lanjutnya berucap.
"Natalius yah, sudah lama tidak melihat pria baik itu" Gumam Raven.
"Hunter baik?" ujar Voltra mengangkat alisnya mendengar deskripsi Raven. "Di dunia Hunter, biasanya kata 'baik' itu sinonim dengan 'cepat mati'. Aku harap dia tidak menjadi beban di dalam sana" Lanjutnya meremehkan.
"Jaga bicaramu, Voltra," tegur Alina sambil memeriksa muatan Mana di tas pinggangnya. "Natalius adalah salah satu dari sedikit Hunter yang benar-benar peduli dengan kelestarian alam Papua" Lanjutnya menjitak Voltra karena kesal.