Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Canggung
Sinar matahari siang itu terasa menyengat saat menembus kaca besar sebuah kafe bernuansa vintage di sudut kota, tak jauh dari kampus. Aroma kopi yang kuat bercampur dengan wangi bunga lili segar di setiap meja biasanya memberikan ketenangan bagi siapa pun yang berkunjung. Namun bagi Denzel Shaquille, atmosfer di dalam ruangan berpendingin udara itu terasa lebih menyesakkan daripada kemacetan Jakarta di bawah terik matahari.
Denzel duduk dengan punggung tegak di kursi kayu jati yang kaku. Di hadapannya, Leah Ramiro tampak sibuk dengan ponselnya, sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan kegelisahan yang tidak tertutup rapi. Di sebelah Leah, kursi kosong sengaja disiapkan.
"Nona Leah," suara Denzel rendah, memecah kesunyian di meja mereka. "Tuan Zefan menginstruksikan saya untuk segera kembali ke kantor setelah mengantar Anda makan siang. Ada berkas audit yang perlu saya tinjau."
Leah tidak mendongak. Ia menggeser layar ponselnya dengan gerakan cepat. "Kantor bisa menunggu satu jam, Denzel. Kak Zefan tidak akan marah jika asistennya sesekali menikmati makan siang yang layak. Lagipula, aku sudah bilang ini adalah permintaanku."
Denzel mengatupkan rahangnya. Ia tahu "permintaan" Leah adalah perintah yang dibalut sutra. Ia tidak bisa menolak tanpa terlihat tidak sopan, namun instingnya mencium sesuatu yang tidak beres. Sejak kejadian di kamar semalam, Leah bersikap seolah-olah ia sedang menjalankan sebuah misi rahasia.
Pintu kafe berdenting. Seraphina masuk dengan langkah riang. Ia mengenakan blus kuning pastel yang membuat wajahnya tampak bersinar, kontras dengan mendungnya suasana hati Denzel. Saat melihat meja mereka, mata Seraphina berbinar, dan senyumnya melebar hingga mencapai matanya.
"Maaf aku terlambat!" seru Seraphina sambil menarik kursi di sebelah Leah—tepat di hadapan Denzel. "Dosen statistik itu benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti bicara."
Leah mendongak, wajahnya mendadak cerah seolah beban dunia baru saja terangkat. "Tidak apa-apa, Sera. Kami juga baru saja memesan minum. Denzel, kau ingat Sera, kan?"
Denzel menundukkan kepalanya sedikit, sebuah sapaan formal yang sangat berjarak. "Selamat siang, Nona Seraphina."
"Sera saja, Tuan Denzel. Sudah kubilang kemarin, kan?" Seraphina tertawa kecil, ia meletakkan tasnya dan menatap Denzel dengan kekaguman yang jujur. "Wah, Anda terlihat sangat rapi hari ini. Apa setiap hari asisten Tuan Zefan harus memakai jas lengkap seperti ini?"
"Ini adalah standar profesionalitas yang saya pegang, Nona," jawab Denzel singkat. Ia melirik Leah, mencari petunjuk tentang apa yang harus ia lakukan, namun Leah justru sibuk membolak-balik menu seolah tidak terjadi apa-apa.
"Denzel itu orang yang sangat disiplin, Sera," Leah menimpali, suaranya terdengar sedikit terlalu bersemangat. "Tapi terkadang dia terlalu kaku. Itulah sebabnya aku mengajakmu bergabung. Aku ingin dia belajar bahwa hidup tidak hanya soal protokol dan keamanan."
Denzel merasa ulu hatinya seperti ditusuk. Protokol dan keamanan. Itulah dunianya. Itulah satu-satunya cara ia bisa bertahan hidup di dekat Leah tanpa menghancurkan dirinya sendiri. Melihat Leah dengan sengaja melemparkannya ke dalam percakapan yang penuh godaan dengan Seraphina membuatnya merasa seperti dikhianati secara halus.
Pesanan makanan datang, namun bagi Denzel, rasa pasta yang mahal itu terasa seperti tumpukan kertas kering di lidahnya. Ia lebih banyak diam, mendengarkan Seraphina bercerita tentang hobinya melukis dan bagaimana ia sangat menyukai sejarah—sebuah upaya jelas untuk mencari titik temu dengan hobi membaca sejarah yang disebutkan Denzel kemarin.
"Tuan Denzel, aku dengar Anda suka sejarah?" Seraphina mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat aroma parfum mawar yang lembut menyentuh indra penciuman Denzel. "Minggu depan ada pameran artefak kuno di museum pusat. Apakah Anda tertarik untuk pergi? Maksudku, jika jadwal Anda tidak terlalu padat."
Denzel terdiam. Garpunya tertahan di udara. Ia merasakan tatapan Leah yang tertuju padanya, penuh harap dan desakan.
"Jadwal saya biasanya sepenuhnya tergantung pada Tuan Zefan dan Nona Leah, Nona Seraphina," jawab Denzel diplomatis.
"Oh, kalau soal itu, aku bisa mengaturnya!" Leah menyela dengan cepat. "Minggu depan aku tidak ada jadwal kuliah sore. Kau bisa pergi, Denzel. Aku akan meminta Kak Zefan memberikanmu waktu luang. Kau butuh hiburan."
Rasa risih yang sejak tadi dipendam Denzel mulai memuncak. Ia bukan seorang bodoh. Ia menyadari bahwa ini bukan sekadar makan siang biasa. Ini adalah sebuah upaya penjodohan yang dipaksakan. Leah sedang mencoba "menyerahkannya" kepada Seraphina dengan cara yang paling sopan yang bisa dipikirkan gadis itu.
Denzel meletakkan alat makannya perlahan, ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain putih. Ia menatap Leah—bukan sebagai asisten kepada majikan, tapi sebagai seorang pria yang sedang menahan luka. "Nona Leah, saya sangat menghargai niat baik Anda. Namun, prioritas saya tetaplah tugas saya. Saya tidak ingin mengecewakan Tuan Zefan dengan meninggalkan tanggung jawab saya demi kepentingan pribadi."
"Tapi ini bukan sekadar kepentingan pribadi, Denzel. Ini demi kesehatan mentalmu," Leah membalas, suaranya sedikit meninggi. Ia merasa Denzel terlalu keras kepala. "Sera adalah orang yang menyenangkan. Kau tidak akan menyesal menghabiskan waktu dengannya."
Seraphina tampak sedikit tidak enak hati melihat ketegangan di antara mereka. Ia menyentuh lengan Leah pelan. "Leah, jangan dipaksa. Mungkin Tuan Denzel memang benar-benar sibuk."
"Dia tidak sibuk, Sera. Dia hanya terlalu patuh," Leah mendengus frustrasi.
Denzel melihat betapa Seraphina tampak kecewa, dan ia merasa bersalah. Seraphina adalah gadis baik yang tidak tahu apa-apa tentang perang batin di meja ini. Denzel tidak ingin menyakiti perasaan Seraphina, namun ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
"Maafkan saya jika kata-kata saya terdengar tidak sopan, Nona Seraphina," ucap Denzel, mencoba melembutkan suaranya. "Saya hanya merasa... saya belum siap untuk melakukan hal-hal di luar rutinitas saya saat ini."
"Aku mengerti," Seraphina tersenyum meski matanya tampak sedikit redup. "Mungkin lain kali."
Pertemuan itu berlanjut dengan kecanggungan yang luar biasa. Seraphina mencoba mencari topik lain, namun Denzel hanya menjawab dengan satu atau dua kata. Leah, di sisi lain, tampak kesal dan lebih banyak diam. Suasana kafe yang seharusnya hangat kini terasa seperti medan perang yang membeku.
Setiap kali mata Denzel tidak sengaja bertemu dengan mata Leah, ia melihat rasa bersalah yang besar di sana. Leah merasa bersalah telah melibatkan Denzel dalam masalah keluarganya, dan ia mencoba menebusnya dengan cara ini. Tapi bagi Denzel, tindakan Leah justru menambah beban yang sudah hampir tak tertahankan.
Kau mengusirku, Leah, batin Denzel. Kau mengusirku agar kau bisa menghadapi Jeff sendirian. Kau pikir ini adalah hadiah, tapi bagiku ini adalah hukuman mati bagi perasaanku.
Satu jam yang terasa seperti selamanya itu akhirnya berakhir. Denzel berdiri dan membayarkan tagihan atas nama keluarga Ramiro, sesuai instruksi Zefan. Saat mereka berjalan menuju mobil, Seraphina berpamitan dengan canggung.
"Terima kasih untuk makan siangnya, Leah. Tuan Denzel... sampai jumpa di kampus."
Denzel membungkuk kecil. "Selamat siang, Nona."
Setelah Seraphina pergi dengan taksi, Denzel membukakan pintu mobil untuk Leah. Gerakannya kaku, bahkan lebih kaku dari biasanya. Ia tidak bicara sepatah kata pun saat ia masuk ke kursi kemudi dan menyalakan mesin.
Leah duduk di kursi belakang, menatap punggung Denzel melalui spion. Ia merasa rencananya gagal total hari ini, namun ia belum mau menyerah. Ia percaya bahwa Denzel hanya butuh waktu untuk membuka diri. Ia percaya bahwa ia sedang melakukan hal yang benar.
"Denzel," panggil Leah saat mobil mulai bergerak.
"Iya, Nona?"
"Kenapa kau begitu sulit diajak bekerja sama? Sera itu cantik, dia menyukaimu. Apa susahnya mencoba mengenalnya lebih jauh?"
Denzel menghela napas panjang, sebuah embusan yang sarat akan kepedihan. "Ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan dengan logika, Leah. Dan ada beberapa tanggung jawab yang tidak bisa saya bagi dengan siapa pun."
"Kau hanya pengecut," desis Leah, ia membuang muka ke arah jendela.
Denzel tidak membalas. Ia mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih. Ia lebih baik disebut pengecut daripada harus mengakui bahwa ia sedang mencintai seseorang yang saat ini sedang berusaha membuangnya ke pelukan orang lain.
Pertemuan canggung itu meninggalkan bekas luka yang tidak terlihat di hati mereka masing-masing. Leah yang keras kepala dengan rencana "balas budi"-nya, Seraphina yang mulai menyimpan harapan palsu, dan Denzel yang terjepit di antara loyalitas, rasa risih, dan cinta yang terlarang. Perjanjian tanpa kata yang dimulai semalam, kini mulai memakan korban pertamanya: ketenangan batin mereka semua.