Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Emosi Tak Terkendali
Malam itu Mulan, Suwanto, dan Rody menikmati malam dengan jajan ronde di foodcourt Petak Enam. Suwanto sengaja duduk terpisah untuk memberi kesempatan kepada Rody untuk bisa duduk berdekatan dengan adiknya.
Terlihat Mulan agak risih, karena Rody terus mendekatkan dirinya kepada dia. Mulan menggeser tubuhnya ke kanan hingga sampai ke ujung bangku kayu itu, tapi Rody malah ikut bergeser lebih dekat, bahunya nyaris menyentuh lengan Mulan.
“Di China, minuman ini namanya tangyuan,” kata Rody sok tahu. “Sedang ronde yang di Indonesia ini sudah beradaptasi dengan lidah lokal, orang Belanda yang kasih nama rondje, yang artinya bulatan kecil.”
“Ah, siapa pula yang nanya,” kata Mulan dalam hati. “Nyesel juga aku ikut, aku tadinya cuma mau ngasih pelajaran ke Randy, agar jangan menyepelekan Mulan.”
“Waktu aku ke Hongkong, di sana juga ada penjual ronde atau tangyuan yang legendaris,” kata Rody, mulai dengan gaya flexing-nya. “Tapi isiannya wijen.”
Mulan diam saja tidak menanggapi.
Suwanto yang memperhatikan mereka hanya berbicara dalam hati, “Pinter-pinter aja lu, Rod, ngerebut hati adik gua, pokoknya gua udah kasih jalan. Sekali lagi maafin Ko Wanto ya, Lan, kalau nggak terpaksa Ko Wanto nggak rela lu jadian sama Rody.”
Tak berapa lama Randy tiba di foodcourt itu dan melihat Rody yang duduk berdekatan dengan Mulan. Hatinya sangat panas, lebih panas dari ronde yang sedang dinikmati Mulan, Suwanto, dan Rody. Randy meremas gagang gas motornya sekeras mungkin, dan matanya memerah saat melihat Rody duduk begitu dekat dengan Mulan. Lalu ia buru-buru menstandarkan motornya dan mendekati Mulan.
“Oh begini rupanya ya, pakai pura-pura nggak balas WhatsApp dan nggak angkat telepon,” kata Randy persis di depan muka Mulan. Tangannya terkepal dan melayang ke arah muka Rody, namun beberapa karyawan foodcourt itu memegang tangan dan badan Randy.
“Lepasin gue!” Randy meronta-ronta, namun pegangan justru semakin kuat.
“Randy, kamu jangan salah paham,” kata Mulan pelan dan mulai menangis. “Apa yang kamu lihat bukan seperti itu kejadiannya.”
Rody tertawa sinis melihat Randy dan berucap, “Siapa lu, apanya Mulan? Lu mau pukul gua?”
Lalu dia mendorong dada Randy dan bersiap memukulnya, namun beberapa karyawan foodcourt yang lain segera memegangi tubuh Rody, agar tidak terjadi keributan di situ.
Mulan sudah tak mampu membendung air matanya yang semakin membanjiri pipinya. “Randy, jangan bikin keributan di sini, please.”
Suwanto yang melihat kejadian itu hanya diam mematung tak bereaksi. Para pengunjung foodcourt juga sudah pada berdiri, sebagian terkejut karena terjadinya keributan yang mendadak itu.
“Pulang lu, semua! Jangan bikin keributan di sini!” bentak seseorang, yang sepertinya preman penjaga keamanan di situ mengusir Randy dan Rody.
Randy segera naik motornya dan meninggalkan tempat itu, dan preman tersebut mengawasi Randy sampai tidak kelihatan. “Kalau gua lihat lu lagi, gua habisin lu,” katanya berteriak lantang, nggak tahu kepada siapa maksudnya. Kalau kepada Randy, dia pasti sudah tidak mendengar.
Lalu Mulan berlari pulang meninggalkan Suwanto dan Rody di foodcourt itu.
“Lan, jangan pulang sendiri!” teriak Suwanto, namun Mulan tidak memedulikannya. Rody segera buru-buru menyelesaikan pembayaran ronde, lalu bersama Suwanto mengejar Mulan di malam yang gelap itu.
Randy yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu rupanya menunggu di depan rumah Mulan, dan melihat Mulan berlari pulang sendirian dikejar oleh Suwanto dan Rody. Randy turun dari motornya dan berjalan ke arah Rody, dan tanpa bicara sepatah kata pun langsung melancarkan pukulannya, dan mengenai dada Rody.
“Bangsat lu!” maki Rody dan meraih sepotong ranting pohon yang ada di dekat situ lalu mengayunkannya ke arah Randy.
Tampak Randy sudah gelap mata, dan tidak bisa mengontrol emosi seperti biasa.
Cu Niang yang kaget tiba-tiba melihat Mulan masuk rumah dengan menangis dan mendengar ada ribut-ribut di luar segera keluar dan mendapati Randy dan Rody sedang berduel.
“Semua berhenti!” bentak Cu Niang. “Ada apa ini? Kamu Randy kalau mau memukul, pukul muka Om dulu, dan kamu Rody kalau mau menggebuk juga gebug Om dulu!”
Randy dan Rody segera berhenti memukul, namun mata mereka masih saling berpandangan dengan tajam. Randy tampak terengah-engah menahan emosi di dalam dada, begitu juga Rody.
Beberapa warga juga mulai berkerumun di depan rumah Cu Niang dan ikut membantu Cu Niang melerai pertikaian Randy dan Rody.
Di dalam rumah Cu Niang, Mulan segera lari masuk ke dalam kamarnya sambil menangis. Buru-buru mama Mulan mengejar dan membelai rambut anaknya yang tengah menangis sambil bertelungkup dan menutupi mukanya dengan bantal itu.
“Mulan, cerita ke mama, ada apa sebenarnya,” kata mama Mulan dengan sabar.
Namun Mulan tidak berhenti menangis dan tidak menjawab pertanyaan mamanya itu. “Lan.”
Mulan diam saja dan terus menangis. “Randy, Ma.”
“Randy kenapa?” tanya mama Mulan dengan lembut. “Cemburu?”
Mulan menganggukkan kepala sambil terus menangis. “Ini salah Mulan juga, Ma. Maksud Mulan mau kasih pelajaran buat Randy agar jangan main-main dengan Mulan, malah dia cemburu ngelihat Mulan sama Rody.”
Di luar suasana masih panas, Randy dan Rody yang sudah dipegangi warga, masih tampak saling bentak dan saling ancam.
“Apa urusan lu, hey sok jago!” teriak Rody. “Suka-suka Mulan dia mau pergi sama siapa, nggak ada yang maksa.”
“Jangan banyak bacot lu,” bentak Randy dengan mata masih merah dengan napas terengah-engah. “Lepasin gua, gua mau hajar si bajingan tengik ini!”
“Rody, pulang dulu, biar sama-sama adem dulu,” kata Cu Niang. “Om bukan ngusir, tapi biar tenang dulu.”
Rody mendengus dan tanpa berkata apa-apa dia segera berbalik menuju mobilnya yang diparkir di mal.
“Hey, sok jago, gua kali ini pulang, bukan berarti gua kalah atau menang!” ujar Rody.
“Tinggal bilang kapan dan di mana kita ketemu, bangsat!” Randy tak mau kalah. “Gua kan ladenin!”
“Sudah Randy, sudah, jangan emosi,” kata Cu Niang. “Ayo masuk, kita bicara di dalam.”
Randy dengan gontai berjalan masuk ke rumah Cu Niang. Suwanto yang merasa bersalah karena menyebabkan kejadian itu mengikuti, tapi langsung masuk ke kamarnya.
“Gua nggak nyangka, reaksi Randy kayak gitu,” kata Suwanto dalam hati. “Nggak seperti biasanya, kali ini dia out of control.”
Kemudian dia segera mengeluarkan ponsel dari dalam kantongnya dan menulis pesan kepada Rody:
“Sorry, Rod, gua nggak nyangka bakal begini kejadiannya.”
Nggak berapa lama datang balasan dari Rody:
“Perjanjian kita batal, dan utang lu tetap harus bayar plus bunganya.”
“Sabar, Rod, gua sedang coba rencana cadangan,” balas Suwanto.
“Apa itu?”
“Gua ketemu dukun santet, dan sudah nyebar beras kuning kemarin buat nyantet Randy.”
“Bagus, dan itu upaya terakhir lu. Kalau gagal utang tetap utang!” balas Rody yang terasa seperti ultimatum bagi Suwanto.
Di dalam kamar Mulan, mama Mulan sedang berusaha membujuk Mulan agar mau ke ruang tamu menemui Randy agar masalah mereka beres. “Ayolah, Lan. Keluar sebentar, biar masalah selesai. Mama belum pernah lihat Randy out of control gitu, biasanya dia selalu cool.”
Mulan diam saja dan masih terus terisak.
Sementara di luar, Cu Niang juga sedang berusaha menenangkan Randy. “Nih minum liang teh dingin dulu, biar adem.”
Randy lalu meminum seteguk liang teh dari Cu Niang dan tampaknya dia mulai tenang dan mulai bisa mengendalikan diri.
“Sekarang sudah bisa cerita, ada masalah apa sama Mulan?” tanya Cu Niang dengan lembut.
“Nggak ada masalah apa-apa kok, Om,” jawab Randy yang sudah agak tenang itu.
“Jangan bohong. Nggak biasanya kamu seperti itu, pasti ada masalah,” kata Cu Niang.
Apakah papa dan mama Mulan bisa mendamaikan Randy dan Mulan? Atau malah badai semakin membesar?