“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 – Tangisan Kecil di Toko Es Krim
Sore itu langit kota terlihat cerah. Matahari mulai turun perlahan, meninggalkan warna jingga yang hangat di sepanjang jalan. Mobil hitam milik Areksa berhenti di depan sebuah toko es krim yang cukup terkenal di daerah itu.
Di dalam mobil, seorang anak kecil sedang duduk di kursi khusus bayi.
Resa.
Sejak tadi anak kecil itu terus merengek.
“Pa… es… es…”
Suara kecilnya membuat baby sitter yang duduk di kursi depan menoleh dengan sedikit cemas.
“Pak… Resa dari tadi minta es krim,” ucapnya hati-hati.
Areksa yang duduk di kursi pengemudi menatap kaca depan dengan wajah datar.
“Dia baru makan.”
“Iya, Pak. Tapi dia tetap merengek.”
Dari kursi belakang, Resa kembali bersuara.
“Papa… es…”
Areksa menghela napas pelan.
Resa memang jarang merengek. Anak itu biasanya tenang dan penurut. Namun jika sudah menginginkan sesuatu, ia bisa terus mengulanginya.
“Baik,” kata Areksa akhirnya.
Mobil itu pun berhenti tepat di depan toko es krim.
Bodyguard yang sejak tadi mengikuti mereka dengan mobil lain langsung turun lebih dulu. Ia membuka pintu mobil dengan sigap.
Areksa keluar.
Kemudian ia membuka pintu belakang dan mengangkat Resa dari kursinya.
Begitu turun, Resa langsung melihat papan besar bertuliskan Ice Cream di depan toko.
Matanya berbinar.
“Es!”
Areksa menatap anak kecil itu sebentar.
“Kamu memang keras kepala.”
Namun ia tetap berjalan masuk ke dalam toko.
Toko es krim itu cukup ramai. Beberapa keluarga duduk di meja sambil menikmati es krim mereka. Aroma manis susu dan cokelat memenuhi ruangan.
Areksa berjalan menuju meja kosong di dekat jendela.
Ia duduk sambil memangku Resa.
Baby sitter duduk di kursi seberang mereka sementara bodyguard berdiri tidak jauh dari sana.
Seorang pelayan datang.
“Selamat sore, Pak. Mau pesan apa?”
Areksa menjawab singkat.
“Vanilla.”
Pelayan itu mengangguk.
“Untuk anaknya?”
“Iya.”
Beberapa menit kemudian semangkuk kecil es krim vanilla datang. Resa langsung tersenyum lebar melihatnya.
“Papa…!”
Areksa menyuapi anak itu dengan sendok kecil.
Resa terlihat sangat senang.
Namun saat itu sesuatu menarik perhatian anak kecil itu.
Di meja tidak jauh dari mereka, seorang wanita sedang duduk sendirian.
Wanita itu mengenakan kemeja putih dan rok kerja sederhana. Rambutnya terikat rapi. Di depannya ada segelas es krim yang belum banyak disentuh.
Wanita itu adalah Ardila.
Ia baru saja pulang dari kantor dan memutuskan berhenti sebentar di toko es krim itu untuk menenangkan pikirannya.
Sejak menikah dengan Rafa, hidupnya terasa semakin rumit.
Ia hanya ingin beberapa menit tenang.
Namun tiba-tiba ia merasa ada yang menatapnya.
Ardila mengangkat kepala.
Dan matanya langsung bertemu dengan mata seorang anak kecil.
Anak kecil itu menatapnya dengan sangat serius.
Ardila sedikit bingung.
Resa menatap wanita itu lama.
Entah kenapa wajah Ardila terasa sangat familiar bagi anak kecil itu.
Seperti sesuatu yang hangat.
Resa tiba-tiba menunjuk ke arah Ardila.
“Papa…”
Areksa yang sedang memegang sendok menoleh.
“Apa?”
Resa masih menunjuk.
“Mama…”
Areksa langsung mengerutkan kening.
“Apa?”
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Resa sudah turun dari pangkuannya dengan langkah kecil yang goyah.
“Resa!” baby sitter langsung berdiri.
Namun anak kecil itu sudah berjalan menuju Ardila.
Ardila terkejut melihat anak kecil itu datang menghampirinya.
“Hai…?”
Resa berhenti tepat di depan kursinya.
Kemudian tanpa ragu, anak kecil itu memeluk kaki Ardila.
“Mama…”
Ardila benar-benar kaget.
“Apa?”
Ia menatap anak kecil itu dengan bingung.
Resa memeluknya erat.
“Mama…”
Ardila tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Ia menatap ke arah meja tempat anak kecil itu tadi duduk.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Areksa.
Pria itu sudah berdiri.
Tatapannya langsung bertemu dengan mata Ardila.
Untuk beberapa detik, waktu seperti berhenti.
Ardila tidak menyangka akan bertemu Areksa di tempat seperti ini.
Sementara Resa masih memeluknya erat.
“Mama… mama…”
Ardila menunduk melihat anak kecil itu.
“Sayang… kamu salah orang.”
Namun Resa menggeleng kecil.
“Mama…”
Areksa berjalan mendekat dengan langkah tenang.
Wajahnya kembali dingin seperti biasa.
Ketika ia sampai di depan mereka, Resa malah memeluk Ardila lebih erat.
“Mama…”
Ardila menatap Areksa dengan bingung.
“Anakmu?”
Areksa tidak langsung menjawab.
Ia menatap Resa.
“Resa.”
Anak kecil itu tidak melepaskan pelukannya.
“Aku mau mama…”
Ardila semakin bingung.
“Aku bukan mamanya.”
Namun Resa malah mulai merengek.
“Aku mau mama… main…”
Tangannya kecilnya memegang baju Ardila.
Areksa akhirnya membungkuk sedikit.
“Resa, lepaskan.”
Namun anak kecil itu menggeleng.
“Nggak…”
Ardila menatap Areksa.
“Apa dia sering memanggil orang lain mama?”
Areksa terdiam sebentar.
“Tidak.”
Jawaban itu membuat Ardila semakin bingung.
Resa menatap wajah Ardila dengan mata berbinar.
“Mama… main…”
Ia bahkan mencoba naik ke pangkuan Ardila.
Ardila refleks menahannya.
“Pelan-pelan.”
Entah kenapa ia merasa kasihan melihat anak kecil itu.
Namun Areksa langsung berdiri tegak.
“Resa.”
Nada suaranya lebih tegas.
Anak kecil itu menoleh.
“Kembali ke Papa.”
Resa menggeleng lagi.
“Tidak… mau mama…”
Air matanya mulai muncul.
Ardila menatap Areksa dengan canggung.
“Sepertinya dia hanya ingin bermain.”
Namun Areksa langsung mengangkat Resa dari pelukan Ardila.
Anak kecil itu langsung menangis kecil.
“Mama… mama…”
Areksa menatap Ardila dengan wajah datar.
“Maaf.”
Ardila hanya bisa mengangguk kecil.
Resa masih meronta di gendongan Areksa.
“Aku mau mama…”
Namun Areksa tetap memegangnya dengan kuat.
“Kita pulang.”
Anak kecil itu terus menoleh ke arah Ardila sambil menangis.
“Mama… mama…”
Ardila hanya bisa berdiri di tempatnya.
Melihat mobil hitam itu akhirnya pergi meninggalkan toko es krim.
Namun anehnya, suara kecil Resa yang memanggilnya mama masih terngiang di telinganya.
Dan untuk alasan yang bahkan ia sendiri tidak mengerti…
dadanya terasa sedikit sakit.