Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐
baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lucas vence
Selena baru saja mau membuka pagar sambil menenteng plastik berisi kecap dan sabun cuci piring, ketika ia menyadari ada yang aneh. Di depan rumahnya terparkir sebuah mobil putih dan terdengar suara tawa yang sangat nyaring dari dalam ruang tamu.
"Loh, kok rame? Ada hajatan?" gumam Selena bingung.
Begitu ia melangkah masuk ke pintu depan...
"SURPRISEEEE! SELENAAAA!"
Sesosok wanita paruh baya dengan dandan modis dan perhiasan yang gemerincing langsung menyerbu Selena dengan pelukan maut.
"BIBI?!" Selena kaget setengah mati. Itu adalah Bibi favoritnya, Bibi Lastri, yang baru saja pulang dari luar kota. "Bibi kok di sini? Katanya bulan depan?!"
"Kangen sama keponakan Bibi yang paling cantik! Eh, tapi bentar..." Bibi Lastri melepaskan pelukannya dan memundurkan tubuhnya, matanya menyipit menatap Selena dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Loh? Kamu pake jaket siapa ini, Sel? Gede banget, kayak jaket tukang begal!"
Selena Panik Mode: Aktif!
Selena mendadak pucat. Dia lupa kalau dia masih memakai jaket The Thunder Chain yang ukurannya tiga kali lebih besar dari badannya. Di belakangnya, Mamah Selena keluar dari dapur sambil membawa baki minuman.
"Nah, itu dia! Mamah juga heran, tadi dia pulang dianter motor berisik banget, terus pake jaket item sangar gitu," sahut Mamah sambil menaruh gelas.
Selena langsung memutar otak secepat kilat. Dia tidak mungkin bilang ini jaket pimpinan mafia sekolah yang dia juluki "Bos PLN".
"Oh... ini... ini jaket pinjaman, Bi! Tadi... tadi Selena ikut komunitas Relawan Listrik Keliling!" jawab Selena ngasal. "Iya! Makanya logonya petir kan? Ini buat jaga-jaga kalau pas masang kabel kena gerimis, biar nggak masuk angin!"
Bibi Lastri memegang bahan kulit jaket itu. "Relawan kok jaketnya mahal begini? Ini kulit asli lho, Sel. Kayak yang dipake aktor-aktor film aksi itu."
"I-itu sumbangan dari donatur, Bi! Donaturnya kaya banget, namanya Pak Alexandra," Selena makin ngawur membawa-bawa nama belakang Zeus.
Keluarga selena gak terlalu keluarga-keluarga terpandang ataupun yg Sangat kaya raya makanya biasa aja.
pandangan Bibi Lastri teralihkan ke kantong plastik yang dibawa Selena. "Terus itu apa? Kamu habis belanja sembako?"
"Iya! Ini titipan Mamah!" Selena langsung menyerahkan plastik itu ke Mamahnya dengan gerakan super cepat. "Tuh Mah, ada kecap, sabun, sama obat nyamuk. Semuanya lengkap!"
Mamah Selena mengecek isinya. "Loh, kok kecapnya yang botol kaca mahal? Mamah kan nitipnya yang refill biar hemat?"
Selena teringat momen Zeus yang asal ambil barang di toko tadi. Sialan, si Zeus pasti main ambil yang paling mahal desar sultan, batin Selena.
"E-eh... itu tadi lagi promo, Mah! Beli kecap dapet... dapet doa dari penjualnya!" Selena langsung nyengir lebar.
Bibi Lastri tertawa geli melihat tingkah keponakannya. "Yaudah, yaudah. Sana kamu ganti baju dulu, Bibi bawain kamu oleh-oleh banyak tuh di kamar! Ada baju-baju baru yang lebih pantes buat
Lagi asyik-asyiknya Selena menyembunyikan jaket Thunder di bawah tumpukan baju, tiba-tiba pintu rumahnya digedor dengan brutal.
BRAK! BRAK! BRAK!
"SELENAAAAA! BUKA PINTUNYA! DUNIA GUE RUNTUH, SEL!"
Selena tersentak. Dia tahu persis suara melengking itu. Begitu pintu dibuka, muncul Rora dengan wajah yang sudah ditekuk sampai ke dagu. Rambutnya berantakan, dan matanya terlihat sayu, sangat kontras dengan semangatnya yang biasanya meledak-ledak.
"Loh, Ror? Kenapa lo? Jangan-jangan Kena bully ?" tanya Selena khawatir.
"Eh tapi mana ada sih yg berani bully lo"
"Lebih parah dari itu!" Rora masuk dan langsung menjatuhkan diri ke sofa depan. "Gue barusan pulang sekolah, niat hati mau manja-manjaan sama kelinci gue di halaman belakang. Eh, gue baru sadar kunci kandangnya ilang! Terus... gue dapet chat dari nyokap, katanya dia baru bisa pulang lusa karena kerjaan di luar kota numpuk."
Rora menarik napas panjang, dramatis sekali. "Gue laper, kunci kandang ilang, kelinci gue nggak bisa keluar, dan gue sendirian di rumah lusa nanti. Hidup gue berakhir, Sel!"
"Kan cuma kunci kandang"selena sambil ikut duduk.
"Masalahnya rumah gw dikunci kunci cadangan gw ilang"rora stress.
"Sabar ini ujian"
Selena baru mau menghibur Rora, tapi tiba-tiba Bibi Lastri keluar dari dapur sambil membawa piring camilan.
"Eh, ada tamu? Temennya Selena ya?" tanya Bibi Lastri ramah.
Mata Rora yang tadinya redup mendadak menyala terang benderang saat melihat penampilan Bibi Lastri yang glamour dengan gelang emas gemerincing. Rora, si ratu adaptasi, langsung berdiri tegak dan memasang senyum paling manis sedunia.
"Waaah! Tante ini siapa? Cantik banget! Ini kakaknya Selena ya? Atau model iklan sabun yang lagi viral itu?" puji Rora tanpa rem.
Bibi Lastri langsung tertawa kegirangan, pipinya memerah dipuji setinggi langit. "Aduh, bisa aja kamu! Saya Bibinya Selena, Bibi Lastri. Panggil Bibi aja, sayang."
Dalam hitungan detik, Rora sudah duduk di samping Bibi Lastri, menggandeng tangannya seolah mereka sudah kenal sepuluh tahun. "Aduh Bibi, pantesan Selena cantik, ternyata bibit unggulnya dari Bibi toh. Gaya Bibi modis banget, kayak orang-orang di drama Korea!"
Selena cuma bisa melongo melihat perubahan sifat Rora yang lebih cepat dari kilat Thunder. Wah, si Rora mulai jualan mulut manis nih, batin Selena.
Bibi Lastri yang merasa sangat terhibur dengan kehadiran Rora langsung merasa iba. "Tadi kamu bilang laper ya? Terus nyokap kamu nggak pulang? Kasihan banget..."
Rora memasang muka sedih yang dibuat-buat. "Iya Bi, dompet Rora juga ikut 'korslet' kayak kabel listrik gara-gara sisa uang jajan dipake buat beli vitamin kelinci."
Bibi Lastri langsung merogoh tas branded-nya. "Duh, jangan sedih dong! Anak cantik nggak boleh sedih. Nih, buat kamu jajan besok sama buat beli kunci kandang baru!"
Bibi Lastri mengeluarkan beberapa lembar uang merah (seratus ribuan) dan memberikannya ke Rora. Mata Rora langsung hijau.
"WAAAA! MAKASIH BIBI CANTIK! BIBI EMANG MALAIKAT!" teriak Rora kegirangan.
Selena yang melihat itu tidak mau ketinggalan. Dia langsung ikut duduk di sebelah Bibi Lastri dan memasang muka paling melas yang dia punya. "Bi... Selena juga laper... Selena juga abis jadi 'Relawan Listrik' yang capek banget..."
Bibi Lastri tertawa dan mencubit pipi Selena. "Iya, iya, buat keponakan Bibi masa nggak ada? Nih, buat kamu juga! Biar besok kalau berangkat jadi relawan bisa beli vitamin!"
Selena dan Rora saling lirik dan melakukan high-five di belakang punggung Bibi Lastri. Hari ini mereka benar-benar menang banyak.
"Sel, kayaknya doa gue tadi dijawab instan ya?" bisik Rora sambil mengipas-ngipas uang merahnya.
"Bukan doa lo, Ror. Itu efek 'kekuatan mulut manis' lo yang melebihi racun ular Red Snake!" balas Selena sambil tertawa.
"Cepet ganti baju kamu daripada jaket segede karung itu."
"Siap, Bi! Selena ke kamar dulu ya! Ayo ror!"
Selena dan rora langsung lari tunggang langgang menuju kamar. Begitu pintu tertutup, dia langsung melepas jaket itu dan memeluknya. Harum parfum Zeus masih menempel kuat di sana.
Dia buru-buru menyembunyikan jaket itu di dalam lemari paling bawah, di balik tumpukan buku-buku lama. Dia tahu, kalau sampai Bibi atau Mamahnya tahu dia berteman dengan geng motor yang ditakuti satu kota, rumahnya bakal berubah jadi medan perang beneran.
"Agak lain temen gw yg satu ini kena pelet kah dia"rora gal habis pikir.
Tapi di sela kepanikannya, Selena tersenyum. Relawan Listrik Keliling... ide bagus juga kalau Zeus tahu, pikirnya sambil tertawa pelan.
Bersambung...
Di pagi hari jam 05:00....
Biasanya, Selena adalah tipe orang yang harus ditarik dari tempat tidur kalau belum jam 7 pagi. Tapi entah karena semangat dapet uang jajan dari Bibi atau rasa ingin pamer (secara sembunyi-sembunyi) di sekolah atau apalah tiba-tiba jam 5 pagi Selena sudah rapi.
Jalanan masih berkabut, udara Bandung pagi itu dinginnya menusuk tulang. Selena berjalan kaki dengan langkah ringan, sesekali merapatkan jaket seragamnya. Dia sengaja berangkat sangat pagi biar nggak perlu drama "pengawalan ketat" dari anak-anak Thunder.
"Aman... dunia milik gue kalau jam segini" gumamnya ceria.
Namun, di sebuah persimpangan jalan yang remang-remang...
BRUAKKK!
Karena melamun, Selena menabrak seseorang yang tubuhnya sekeras tembok beton. Tubuh mungil Selena terpental sampai terduduk di aspal dingin.
"Aduh! Aduh aduh... pinggang gue!" Selena meringis kesakitan. "Woi! Kalau jalan pake mata dong! Masih subuh udah cari gara-gara aja!"
Selena mendongak dengan wajah garang, siap menyemprot siapa pun itu. Di depannya berdiri seorang cowok jangkung dengan rambut hitam berantakan dan tatapan mata yang sangat tajam—seperti elang yang siap menyergap mangsa. Dia memakai jaket hitam dengan bordir ular merah di bagian lengan.
Cowok itu adalah Lucas vence, pimpinan tertinggi Red Snake.
Lucas tidak bersuara. Dia hanya berdiri mematung, menatap Selena dengan intensitas yang mengerikan. Tatapannya seolah-olah sedang memindai seluruh keberadaan Selena.
Selena yang dasarnya "pawang" segala jenis predator bukannya takut, malah makin sewot karena merasa diintimidasi.
"Apa lo liat-liat?!" bentak Selena sambil berdiri dan menepuk-nepuk debu di roknya. "Emang gue tontonan? Mau gue colok tuh mata biar nggak melotot terus?! Minggir! Ganggu jalan orang aja!"
Lucas tetap diam. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya tatapan yang semakin dalam, seolah dia baru saja menemukan sesuatu yang sangat menarik. Detik berikutnya, tanpa sepatah kata pun, Lucas berbalik dan berjalan pergi menembus kabut pagi.
Selena menatap punggung cowok itu dengan kesal. "Dih, aneh! Ganteng sih, tapi kayaknya bautnya lepas satu. Nggak punya mulut apa ya?"
Selena tidak tahu, di dalam kepalanya, Lucas sedang berpikir keras.
Jadi itu Selena? batin Lucas sambil terus berjalan. Gadis yang bikin Zeus Alexandra repot beli santan dan bagi-bagi jaket inti? Kecil, berisik, dan... nggak punya rasa takut sama sekali.
Lucas menyentuh bekas tabrakan di bahunya tadi. Selama ini dia mengira "kelemahan" Zeus adalah gadis anggun atau cantik yang lemah lembut. Ternyata, Zeus malah menjaga sebuah "bom waktu" kecil yang berani mengancam menolok mata ketua Red Snake.
"Menarik," gumam Lucas dengan senyum tipis yang dingin. "Ternyata rencana gue bakal jauh lebih seru dari yang gue bayangkan."
Selena sampai di gerbang sekolah jam setengah 6 pagi. Satpam sekolah lagi asik dengerin music ya Karena masih pagi jadi gk sadar.
Selena langsung menuju loker rahasianya di markas rahasia di sekolah itu tepatnya di belakang sekolah ya (menggunakan kartu akses dari Nathan). Dia ingin meletakkan jaket Thunder-nya di sana agar aman. Tapi begitu dia membuka lokernya...
"Loh? Kok isinya bukan cuma camilan?!"
Di dalam loker itu, selain tumpukan keripik dan cokelat, ada sebuah headphone mahal dan satu botol minyak kayu putih dengan memo kecil nempel di sana: "Buat kalau lo pusing dengerin bacotan Axel. - Zeus"
Selena tertawa kecil. "Bos PLN perhatiannya emang beda level."
Bersambung...