NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara "Pak" dan "Aku"

Naya membuka pintu perlahan, "Terima kasih, Pak," Ucapnya singkat, menunduk sopan.

CEO itu hanya mengangguk.

Langkah Naya diperhatikan oleh CEO itu.

Di teras, ibu Naya berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada.

Raut wajahnya bukan wajah lega karna anaknya pulang, melainkan wajah yang tegang. Garis di dahinya terlihat jelas, bibirnya terkatup rapat.

Naya menelan ludah, "Ibu,"

Saat melihat ibunya sudah berada disana, CEO itu lega, berarti Naya sudah aman.

Ia segera meninggalkan rumah itu.

Tatapan ibunya turun sebentar ke arah jalan, memastikan mobil yang baru saja pergi.

"Diantar lagi?" Nada suara ibunya terdengar datar.

"I-itu.... "

"Sekarang tempat pulang kamu ke rumah mereka?" ucapnya pelan namun tajam.

"Bu-bukan, Bu... Itu... " jelas Naya gugup.

Naya benar-benar takut ibunya salah paham lagi.

"Kamu bohong sama ibu? Kabarin ibu pun sudah tak sempat? Jam berapa ini, Naya?" tanya Ibunya kecewa.

Ayah Naya berdiri di belakang istrinya, "ada apa, Bu?" tanyanya.

"Bapak lagi.... Pasti akan belain mereka nanti." ucapnya jutek.

Naya menunduk, ayahnya tahu pasti Naya takut, takut hal kemaren keulang lagi. Terlihat dari raut wajah Naya.

"Nak?" Kata ayah Naya seolah meminta penjelasan.

"Bukan, Yah...."

Ibunya memotong cepat, " Itu kan, Pak! Dia sekarang udah..."

"Sudah lah, Bu. Dengarkan Naya dulu." Bentak suaminya.

"Na-Naya lembur hari ini, ada tugas kantor mendadak. Naya lupa kabari Ibu. Dan yang antar Naya tadi, itu a......"

Kalimatnya menggantung. Naya tetap masih menunduk, tak berani menatap ibunya. Jemarinya saling bertaut gelisah.

Ia tahu betul, setau ibunya, orang itu bukan atasannya.

"Siapa?" tanya Ibunya dengan suara keras.

"Teman Naya, Bu. Teman yang tolongin ibu kemaren pas di pasar." jelasnya.

Ekspresi ibunya yang masih menyimpan kemarahan, kekhawatiran tadi seketika berubah.

"Serius? " tanyanya sambil meraih tangan putrinya yang sedang menunduk.

Naya terkejut, menoleh kepada ibunya, dan mengangguk.

Genggamannya tidak keras, tapi cukup kuat untuk membuat Naya mengikuti langkah ibunya.

Mereka duduk di sofa ruang tamu. Ibunya menatap lurus ke matanya. Ada sesuatu di sana, bukan marah.

"Kamu telepon orang yang mengantarkan kamu tadi." minta ibunya.

Naya terdiam, "Hah? Tapi Bu..."

"Iya, sekarang." suara ibunya tegas. "Ibu mau dengar sendiri,"

Naya menelan ludah, "untuk apa, Bu?"

Ibunya menghela napas pendek, lalu berkata pelan namun penuh tekanan, "ibu cuman mau memastikan, itu bukan orangtua Damar."

Nama itu seperti membuat udara di antara mereka menegang.

Naya terpaku. Ayahnya juga hanya terdiam.

"Kamu nggak mau ada salah paham lagi, kan?" nada suaranya sedikit bergetar di akhir kalimat.

Permintaan itu membuat dada Naya terasa sesak. Ia tidak ingin mencampuradukkan dunia kerjanya dengan keluarganya, apalagi itu atasannya sendiri, yang sangat disegani di kantornya. Tapi ia juga tidak ingin membuat ibunya semakin salah paham.

Mobil CEO itu melaju menyusuri jalan yang mulai sepi. Kalimatnya sendiri terus terngiang, "kenapa aku bilang begitu sih... " gumamnya lirih.

Mobilnya melambat, lalu akhirnya menepi di sisi jalan yang lengang.

Ia menyandarkan kepala ke kursi, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apapun.

"Aku mengantar dia hanya karna atasan? Kewajiban sebagai atasan?" bisiknya pada dirinya sendiri. "Kenapa tidak bilang aja kalo memang aku ingin mengantarnya."

Ia mengusap wajahnya kasar.

Sebagai atasan, semua itu masuk akal. Kepedulian profesional. Tapi hatinya tahu, ada alasan lain yang tidak ia ucapkan.

Tangan Naya sempat ragu beberapa detik sebelum mencari nama kontak itu. Ia segera membuka grup divisi, mencari namanya di daftar anggota grup.

Ibu Naya duduk lebih dekat, ikut menatap layar.

Dalam waktu bersamaan, keheningan yang menyelimuti mobil CEO itu terus mengendap, hingga tiba-tiba ponselnya bergetar.Nama yang muncul bukan nama yang pernah ia simpan.

Bukan klien. Bukan rekan direksi. Bukan staf inti yang biasa menghubunginya langsung.

Nomor baru.

Ia menatap layar cukup lama, rasanya malas untuk mengangkatnya karna dia masih benar-benar kecewa pada dirinya.

"Tapi bagaimana jika itu penting?" pikirnya.

Ia akhirnya mengangkatnya, "Halo," Nadanya terdengar datar.

Suara di seberang sangat terdengar hati-hati.

"Maaf mengganggu,"

CEO itu langsung mengenali suara itu. Dia duduk lebih tegak.

Ia baru saja memikirkan gadis itu, dan kini suaranya terdengar jelas.Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Ia menatap lagi layar ponselnya sekilas.

Nomor yang belum pernah ada di riwayat telepon sebelumnya.

Di dalam mobil itu, CEO mencoba menormalkan suaranya seperti biasanya.

"Iya, ada apa?"

Naya menelan gugupnya, "maaf, ya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Tadi belum sempat,"

Tak ada lagi kata Pak yang diikuti kalimatnya. Kata saya berubah menjadi aku. Itu terlalu personal. Memberikan banyak pertanyaan, banyak dugaan di benak CEO itu.

"Secepat itu?" pikirnya.

Tak ada yang berbicara. Di antara mereka hanya sambungan telepon yang masih menyala.

"Kenapa, Nay?" tanya ibu Naya heran, melihat Naya hanya terdiam.

Suara ibu Naya memecah kebisuannya, membuat CEO itu kembali berbicara.

"Hanya itu?" tanyanya ringan, kalimat itu spontan karna ada yang menggelitik di hatinya.

"Iya." jawabnya cepat.

Naya tak mungkin mengatakan alasan sebenarnya.

Panggilan diakhiri.

CEO itu masih memegang ponselnya, melihat kembali kontak itu.

"Aneh. Apa dia lupa? Atau aku salah dengar? Tapi tak mungkin, tiga kalimat dan tetap saja sama, tak ada panggilan biasanya sebagai atasan."

Pertanyaan tentang Naya perlahan memudar. Digantikan oleh ingatan beberapa jam sebelumnya. Ia teringat asistennya.

Ia mengirimkan pesan, "Lanjutkan besok pagi saja. Dan kamu bisa pulang sekarang."

Tak lama, asistennya memberi balasan, "Baik, Pak. Saya sudah selesai mengerjakan dan saya sudah pulang, Pak."

Pesan itu terbaca, CEO itu lega setidaknya ia tak merasa bersalah.

Tak lama, disusul oleh pesan selanjutnya.

"Lanjutkan perjuangannya, Pak."

Pesan itu memang sederhana tapi terasa menjengkelkan.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!