Menceritakan tentang 2 gadis bersaudara dimana dia adalah seorang anak yang di hidupi oleh pengusaha yang sangat kaya raya dan setiap pesaing kalah bisnis dari orang tua nya selalu saja mereka ingin selalu menjatuh kan orang tua Cahya dan Megy....
" Cahya kamu janji ya, akan membalaskan kedua orang tua kita" kata Megy sembari mengelap air mata adik nya yang menetes di pipi.
"Oke, gue janji kak, lu juga janji ya, kak? Ucap Cahya sembari berhenti menangis.
Cahya sekarang usiamu muda, kamu bisa ikut ke medan perang! Di sana kamu bisa mempelajari ahli beladiri apa saja? Kata Megy dengan serius.
Baiklah kak, gue akan pergi dulu! Titip ayah ya? Ucap Cahya.
Apakah orang tua nya akan jatuh atas segala yang dilakukan penjahat..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebit S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Penyamaran.
Megy yang sedang melihat jasad tanpa baju serta kepala sudah pitak.
Lalu Megy memutuskan menggunakan baju yang dipakai oleh jasad Pramono yang masih utuh bajunya.
Megy lalu, berkata."wah, Iiiih..mana bau lagi nih badan orang! Aaah nggak apa-apa lah yang penting bisa masuk kesana dan selamatin ayah?"
Kemudian Megy langsung melepas baju Pramono kemudian Ia langsung mengambil rambut Pramono hingga Ia membuat Jambang, kemudian langsung mengeluarkan kaca untuk mendandani wajahnya.
Lalu tidak lama kemudian Megy sudah selesai mendandani wajahnya dan sudah lengkap dengan baju penyamaran.
Kemudian Megy langsung masuk kedalam Markas berandalan dengan penuh kepercayaan diri.
Tidak lama kemudian Megy sudah tiba didalam lalu bertemu dengan Allei yang sedang menjaga ingin mencari keberadaan Pramono dan dan Andre tetapi Allei belum bertemu dengan Pramono dan Andre.
Hingga Allei bertemu dengan Megy yang sedang berdiri mematung karena merasa takut dirinya akan ketahuan.
Lalu Allei pun, berkata."Bro, lu liat nggak, Pramono sama Andre katanya ingin berjaga disini, Tapi kok mereka nggak ada ya? Apa jangan-jangan mereka bohongin gue?"
"Aaaah, itu bro! Gue aja nggak tahu, baru aja jaga disini karena nggak ada orang! Makanya gue jaga disini? Tadi itu gue pikir belum ada yang jaga makanya gue disini?" Ucap Megy mencoba meniru suara cowok dengan nada berat.
"Oh ya udah gue jaga disebelah sana ya bro?" Kata Allei kemudian menuju kearah gerbang.
"Ya bro, gue mau kencing dulu, dari tadi gue jaga disini aman-aman aja? Lu jaga dulu ya disini?" Kata Megy beralasan untuk masuk ke dalam markas berandal perlahan-lahan.
Sementara di dalam Markas tempat lain disudut ruangan Cahya sedang mengendap-endap dan melihat kearea sekitar kemudian Ia melihat ada beberapa orang disebuah gang pinggir sudut.
Lalu dengan perlahan-lahan segera menuju kearah rombongan yang sedang berkumpul kemudian Cahya dengan perlahan-lahan mendekati mereka ingin menyerang namun tiba-tiba saja mereka berbalik badan dan melihat Cahya yang mencoba mendekati mereka.
"Eeeh bro, sini? Lu abis dari mana! Lu mau rokok nggak? Kita lagi bahas masa sekapan bos nih tadi, cuma lu keburu dateng?" Kata Hasan dengan riang menjelaskan ke arah Megy.
Tidak lama kemudian Cahya segera berpikir dan penasaran masalah tawanan lalu Ia pun segera langsung terpikirkan untuk mengetahui Ayah nya.
"Oh gitu ya bro, emang siapa sih yang disekap Bos, bro?" Kata Cahya mencoba menyelidiki.
"Itu sih pak Eko Wijaya! Yang lagi disiksa oleh bos?" Kata Husein langsung nyeletuk.
Cahya yang mendengar nama ayahnya di sebut lalu mengepalkan tangannya karena sudah emosi setelah mengetahui ayahnya disiksa.
Cahya pun bergumam, didalam hati lalu berkata."setaaaan, awas aja lu! Kalau gue ketemu yang nyiksa bokap gue, nggak bakal gue ampuni."
Lalu dengan dingin Cahya segera berkata dengan suara aslinya, lalu menatap mereka berdua, Cahya pun, berucap." Makasih ya."
"Bak....buk..brak...kraaaaaak.. gedebuk.."
dengan sangat cepat Cahya memberikan mereka serangan tanpa memberi mereka kesempatan untuk melakukan perlawanan hingga Hasan dan Husein seketika menjadi tewas.
Setelah melihat Hasan dan Husein tewas Cahya perlahan-lahan langsung menyeret mereka kearah Tong sampah untuk Ia sembunyikan.
Kemudian setelah berhasil menyembunyikan Jasad Hasan dan Husein di tong Cahya berjalan lagi dengan melihat kearah sekitar lalu mengendap-endap lagi melihat keadaan.
Hingga Cahya mundur-mundur lalu tanpa diduga di sebuah gang yang sama Megy juga mengendap-endap dengan Mundur-mundur hingga menyebabkan mereka menjadi terkejut dan langsung sama-sama melancarkan serang tetapi dengan sama-sama sigap mereka berdua saling pukul dan saling tahan serang lalu dengan melihat mata mereka, Cahya dan Megy akhirnya saling mengenali.
"Eeeh lu disini Cah!" Kata Megy dengan ekspresi kaget sekaligus senang.
"Ya, ini gue baru aja membunuh orang disana! Gue umpetin di dalam tong?" Kata Cahya sembari melihat kesekitar untuk memastikan keadaan aman.
"Oh ya gimana, lu udah dapet belum informasi ayah disekap dimana?" Kata Megy berharap Cahya menemukan lokasi yang pasti.
"Ya tadi gue membunuh orang udah tau, kak? Untung aja mereka buka mulut bahas tentang tempat ayah disekap!" Kata Cahya sembari tersenyum manis.
"Ya udah yuk, kita mulai cari aja! Ya selayaknya kita sebagai penjaga aja?" Kata Megy segera berbalik dan melihat keadaan sekitar lorong bangunan tua itu.
Tidak berapa lama kemudian Megy dan Cahya berjalan selayaknya seorang penjaga namun dengan hati-hati Megy melihat keadaan sekitar ketika sudah merasa aman, Megy lalu melihat kearah Cahya.
Megy lalu sembari berbisik pun, berkata."Cah.. lu kesebelah sana mungkin disana pintu yang kita cari?"
"Oke." Kata Cahya sembari memberikan kode oke dengan jempol lentiknya.
Cahya lalu mengendap-endap berjalan dengan perlahan-lahan celingukkan melihat keadaan dan sudah terlihat kemudian Cahya segera berjalan dilorong yang hanya sedikit sinar rembulan.
Karena sudah sampai malam hari mereka masih belum menemukan letak tempat Ayah mereka Eko Wijaya disekap.
"Cah..Cah.." kata Megy sembari berbisik memanggil nama Cahya yang sedang menuju lorong yang terlihat gelap.
"Ya, ada apa kak?" Kata Cahya sembari menatap Megy.
Megy kemudian melambaikan tangannya untuk menyuruh Cahya mendekat ke arahnya. Kemudian dengan tidak lama Cahya menghampiri Megy yang sedang bersembunyi di sudut.
"Ada apa, kak? Lu udah tau dimana tempat nya yang kita cari!" Kata Cahya sembari mengerutkan alisnya.
"Gue rasa, Ayah pasti disekap dilantai paling atas gedung Tua ini, karena setiap ruangan ini penjaga nggak terlihat! Kita mending langsung aja ke atap gedung?" Kata Megy sembari berbicara dengan pelan-pelan.
"Oh ya, ya.. kenapa gue nggak terpikir kesana? Hayo kita langsung kesana aja, tapi tetap waspada dan sembunyi-sembunyi aja?" Kata Cahya lalu segera menggandeng tangan Megy untuk bersama-sama langsung ke atas atap gedung.
Tidak berapa lama kemudian Cahya dan Megy sedang mengendap-endap melihat keadaan sekitar lalu terlihat aman Megy dan Cahya segera berjalan baru beberapa langkah Megy dan Cahya melangkah lalu tiba-tiba ada yang menyentuh pundak mereka berdua hingga membuat Cahya dan Megy terhenti dan diam mematung karena merasa diri mereka ketahuan.
Dengan perlahan-lahan kemudian Cahya dan Megy saling lihat bersama-sama lalu Cahya mengedipkan matanya kearah Megy sebagai kode untuk melakukan perlawanan.
Tetapi begitu berbalik Cahya dan Megy melihat Allei yang berdua dengan temannya bernama Tio.
Allei lalu, berkata."Eh bro lu kemana aja gue cari nggak ada, taunya lu disini?"
Tio pun berkata."Bro kita kesana yuk nongkrong! Gue bawa minuman nih, buat kita pesta-pesta?"
"Hah, pesta-pesta? Emang pesta apaan?" Kata Megy dengan terbengong.
Kemudian Allei sembari tersenyum, berkata."Ini saudara nya Tio, saudara iparnya lahiran anak pertama, jadi dia mau traktir-traktir kita minum?"
"Ooh" jawab Megy dengan dingin, lalu Cahya dan Megy saling pandang kemudian mereka berdua segera bertindak.
"Bak...buk..bak...buk... Gedebuk..aaaaah..."
Suara Jeritan Allei dan Tio terdengar kemudian mereka berdua sudah tewas kemudian Megy dan Cahya menggeret tubuh Allei dan Tio ke sebuah sudut yang gelap.
ini seperti isi teks yang langsung up tapi mungkin lupa di edit lagi tanpa di kroscek
padahal isi ceritanya cukup oke