Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Merampok Hernan
Begitu pintu apartemen tertutup, Bianca segera bangkit dengan semangat yang berbeda. Ia menutup bedak mahal berwadah kerang mutiara itu dengan bunyi klik yang mantap.
"Ayo Lora, kita berangkat! Aku sudah lama mengincar unit mewah itu sejak pertama kali menjadi simpanan Hernan,"
"Sudah tidak merajuk lagi?" tanya Lora, muncul perlahan di permukaan cermin besar yang kini kain penutupnya sudah tersingkap separuh.
Bianca tertawa, mengingat betapa konyolnya ia kemarin karena terbawa emosi. "Ayolah, bukankah kita best friends in crime?" Bianca menyambar tasnya, bersiap pergi.
Ia memasang handsfree di telinganya, sebuah tipuan cerdas agar orang-orang di sekitarnya mengira ia sedang menelepon, bukan bicara sendiri seperti ODGJ.
"Bisakah kau memberitahuku apa yang dibicarakan Hernan dan Aurèlie di pertemuan mereka nanti?" bisik Bianca pelan.
Lora tersenyum lebar, sosoknya memudar menjadi bayangan yang merayap masuk ke dalam tas mewah Bianca. "Tentu saja, Sayang. Aku akan menjadi lalat di dinding restoran itu. Nikmati belanja propertimu, sementara aku akan menyiapkan laporan yang akan membuat darahmu mendidih, hmm... atau mungkin, membuatmu tertawa puas."
...****************...
Di kantor agen properti, seorang wanita matang bernama Stella Odine memberikan saran-saran tepat bagi Bianca yang masih awam sebagai orang kaya baru.
"Stella, apakah unit itu sudah termasuk seluruh furniturnya?"
Stella tersenyum profesional sambil menggeser tablet berisi katalog interior premium.
"Tentu, Mademoiselle. Unit di kawasan ini bersifat fully furnished dengan standar haute couture. Setiap detailnya dikurasi oleh desainer ternama, jadi Anda hanya perlu membawa koper dan kunci. Untuk lokasi di jantung Paris dengan nilai investasi yang terus meroket, ini adalah pilihan yang paling cerdas untuk profil seperti Anda."
"Baiklah, aku ingin kamar yang menghadap langsung ke jalan raya besar dengan pemandangan Menara Eiffel yang menakjubkan. Bisa kau sarankan unit di lantai berapa?"
Stella mengangguk mantap, jarinya menunjuk pada denah lantai teratas.
"Tentu, Mademoiselle. Lantai 22 adalah jawabannya. Unit sudut tersebut memiliki jendela floor-to-ceiling yang menyuguhkan panorama ikonik Paris tanpa penghalang. Itu adalah posisi paling prestisius di gedung ini."
Tanpa ragu, Bianca menyerahkan kartu kredit hitam milik Hernan kepada Stella untuk melunasi pembayaran unit lantai 22 tersebut. Angka sebesar €4.200.000 tertera di layar mesin EDC—sebuah nilai fantastis untuk sebuah penthouse modern minimalis dengan pemandangan abadi ke arah Menara Eiffel. Begitu transaksi berhasil, Bianca tersenyum tipis, membayangkan kejutan yang sebentar lagi akan menghantam pria itu.
Di sebuah restoran mewah yang tersembunyi di kawasan Le Marais, Hernan sedang menatap lekat mata Aurèlie Moreau yang baru saja menyesap anggurnya. Namun, suasana romantis itu hancur seketika saat ponsel di saku jas Hernan bergetar hebat. Ia merogohnya, mengira itu pesan bisnis penting, namun wajahnya mendadak pucat pasi. Matanya terbelalak menatap transaksi sebesar empat juta Euro lebih yang baru saja ditarik dari limit kartu kreditnya.
Jantungnya berdegup kencang antara rasa syok dan amarah, sementara Aurèlie yang menyadari perubahan ekspresi itu hanya mengangkat alis dengan anggun, bertanya-tanya apa yang sanggup membuat seorang Hernan de Valois terlihat seolah baru saja kehilangan separuh nyawanya di depan meja makan.
"Ada apa, Hernan? Kau tampak pucat," tanya Aurèlie, suaranya lembut namun mengandung nada menyelidik. "Jujur, tadinya aku ingin menanyakan kebenaran soal desakan menikah dari ibumu. Tapi melihat wajahmu yang pucat pasi... aku jadi ragu untuk meneruskannya."
"Bukan apa-apa, hanya masalah administrasi kantor yang ceroboh," dalih Hernan dengan suara parau. Ia mencoba kembali fokus, meski pikirannya kini terbagi antara rencana masa depan dengan Aurèlie dan tindakan gila yang baru saja dilakukan Bianca.
"Ibuku memang selalu suka mencampuri urusan pribadiku, Aurèlie. Kau tahu itu. Tapi soal pernikahan... tidak ada yang resmi sampai aku sendiri yang memutuskannya," lanjut Hernan, mencoba tetap terlihat tenang meski ia tahu Bianca baru saja "merampoknya" di tengah hari bolong.
"Jadi, bagaimana? Bukankah kita bisa merajut kembali asa kita?" Aurèlie memajukan tubuhnya, menatap Hernan dengan sorot mata yang penuh permohonan.
"Aku jujur menyesal, Hernan. Rainer sangat protektif. Dia selalu merasa paling berkuasa atas karierku dan terus-menerus mengungkit jalan mulus yang dia berikan padaku. Aku merasa tercekik," lanjutnya dengan nada lirih yang sangat meyakinkan.
"Aurèlie..." pesan singkat masuk ke ponselnya, kali ini bukan dari bank, melainkan dari Bianca.
"Sayang, terima kasih banyak untuk hadiahnya! Agen properti Stella sangat membantuku memilih unit yang paling indah. Aku sudah mengirimkan bunga dan sebotol anggur terbaik untukmu melalui kurir ke kantormu—oh, atau kau sedang makan siang di luar? Nikmati waktumu, aku sedang berada di balkon baruku melihat Eiffel. Je t'aime!"
"Hernan? Kau melamun lagi," Aurèlie menyentuh punggung tangan Hernan, membuyarkan kemarahan yang mulai memuncak. "Siapa yang mengirim pesan? Urusan kantor lagi?"
Ia sedang membayangkan bagaimana caranya menjelaskan pengeluaran €4,2 juta ini kepada ibunya jika Béatrice sampai tahu.
"Hanya... asistenku yang melaporkan bahwa semuanya sudah beres," bohong Hernan. "Ayo, lanjutkan ceritamu tentang Rainer. Aku ingin tahu apa saja yang sudah dia lakukan padamu."
"Pulanglah ke Le Manoir d'Argent malam ini dan temui Hernan," perintah Bianca di cermin ruang tengahnya.
"Apa dia marah karena tagihan itu? Jika iya, buat dia menerimanya dengan lapang dada. Dan satu lagi, buat dia menyerahkan Lykan Hypersport miliknya padaku, lalu biarkan dia memutuskanku. Aku tidak mau tahu, mobil itu harus menjadi milikku. Setelah itu, aku akan berpura-pura menangis histeris, persis seperti yang kulakukan di kehidupan pertamaku dulu."
...****************...
Bianca tiba di Le Manoir d'Argent tepat saat suasana di dalam sana terasa mencekam. Ia berdiri di balik pilar ruang tengah, menyaksikan pemandangan yang sangat ia harapkan: Béatrice de Valois sedang duduk kaku sementara Hernan berdiri tegak di hadapannya dengan ekspresi melawan.
"Cukup, Mama! Kau bisa mengatur seluruh aspek bisnisku, tapi tidak dengan hidupku. Aku sudah bertemu Aurèlie. Aku tidak akan menikahi Bianca hanya untuk memuaskan egomu atau menjaga citra keluarga!"
Béatrice berdiri, matanya menyipit tajam. "Kau lebih memilih janda Rainer itu daripada wanita yang sudah kusetujui? Kau pikir siapa yang akan membereskan kekacauan jika kau mengejar cinta lama yang sudah membuangmu?"
"Aku tidak peduli! Aku akan mengakhiri semuanya dengan Bianca malam ini juga!"
Saat itulah Bianca melangkah keluar dari kegelapan. Matanya memerah—efek dari cubitan yang ia berikan pada pahanya sendiri di balik gaun.
"Hernan...?" suara Bianca terdengar sangat rapuh.
Hernan tersentak. Amarahnya sedikit mereda digantikan rasa canggung, namun tekadnya bulat. "Bianca, kau dengar sendiri? Aku tidak bisa melanjutkannya. Kita.. berakhir di sini."
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?