NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Payung yang tak sama

Waktu merambat menuju sore.

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, menandai berakhirnya hari itu. Murid-murid berhamburan keluar kelas, sebagian dengan wajah lega, sebagian lagi mengeluh lelah.

Namun hari itu menunda kepulangan mereka, tepat saat langit mulai menggelap.

Hujan turun deras.

Langit menggelap lebih cepat dari biasanya, dan air hujan mengguyur halaman sekolah tanpa jeda. Beberapa siswa berlarian sambil menutup kepala dengan tas, yang lain berhenti di bawah atap terdekat, menunggu hujan reda.

Di antara mereka, Azmi berlari tergesa dari arah gedung kelas.

“Aduh… deras lagi,” gumamnya sambil mempercepat langkah.

Ia melirik ke arah parkiran yang terlihat samar di balik tirai hujan.

“Parkiran mobil jauh lagi dari gerbang…”

Akhirnya, Azmi berhenti di sebuah sudut yang cukup teduh. Nafasnya sedikit tersengal saat ia berdiri di sana, menepiskan air dari rambut dan seragamnya.

Namun saat itulah ia menyadari—

Ia tidak sendirian.

Di tempat yang sama, sudah berdiri seseorang.

Rahmalia.

Ia berdiri di sisi lain, memeluk tasnya ke dada, pandangannya tertuju ke arah hujan yang jatuh tanpa ampun. Kerudungnya sedikit lembap, ujung seragamnya basah oleh cipratan air.

Keduanya terdiam.

Tidak saling menyapa.

Tidak juga saling menoleh.

Hanya suara hujan yang mengisi jarak di antara mereka.

...----------------...

Beberapa detik berlalu. Terasa lebih lama dari seharusnya.

Akhirnya, Rahmalia yang lebih dulu memecah keheningan.

“Hujannya deras, ya,” ucapnya pelan, matanya masih menatap langit abu-abu.

Azmi menoleh.

“Iya,” jawabnya singkat, lalu berhenti sejenak sebelum bertanya, “Kamu… nggak bawa payung?”

Rahmalia menggeleng pelan.

“Nggak,” jawabnya jujur.

“Payungku ketinggalan di mobil.”

Azmi mengernyit tipis.

“Mobil kamu… parkir di mana?”

Tanpa menjawab langsung, Rahmalia merogoh saku tasnya lalu menekan tombol kunci.

Tit. Tit.

Dari kejauhan, sebuah mobil berkedip di tengah hujan—terlihat samar di balik tirai air. Posisinya cukup jauh, hampir di ujung area parkir paling belakang.

Rahmalia ikut melirik ke arah sana.

“Di situ,” katanya singkat.

Azmi mengikuti arah pandangnya, lalu menghela napas kecil.

“Lumayan jauh juga,” gumamnya.

Ia kembali menatap hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Deras. Konsisten. Seolah memang berniat menahan siapa pun yang ingin pergi.

Dalam diam itu, Azmi akhirnya membuka suara.

“Gimana kalau aku lari ke mobil kamu?” katanya tiba-tiba.

“Ambil payung buat kamu.”

Rahmalia menoleh cepat, jelas terkejut.

“Lari?” ulangnya.

“Jangan. Nggak usah. Nanti kamu basah kuyup.”

Azmi tersenyum kecil, seolah menganggap itu bukan masalah besar.

“Gapapa,” ujarnya ringan.

“Hujan kayak gini biasanya lama redanya.”

Rahmalia menggeleng pelan, lebih tegas kali ini.

“Nggak usah,” katanya.

“Aku nunggu aja di sini sampai hujannya reda.”

Ia menatap Azmi sebentar, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan,

“Kamu jangan hujan-hujanan. Nanti kamu sakit.”

Kalimat itu sederhana. Tidak berlebihan.

Tapi cukup membuat Azmi terdiam.

Ia membuka mulut seolah ingin membantah—lalu menutupnya lagi.

Akhirnya, ia hanya mengangguk kecil.

“Iya,” katanya singkat.

“Kalau gitu… kita tunggu aja.”

Hujan masih turun dengan suara yang sama.

Dan untuk pertama kalinya sore itu, Azmi tidak keberatan menunggu.

...----------------...

Tak lama kemudian, dua siswi mendekat ragu-ragu. Langkah mereka pelan, wajahnya tampak salah tingkah.

“Ka-kak Azmi…” ucap salah satu dari mereka pelan.

“Kakak nggak bawa payung, kan? Ini… pakai aja payungku.”

Tangannya menyodorkan payung dengan hati-hati, seolah takut ditolak.

Azmi sedikit terkejut. Ia buru-buru menggeleng.

“Oh, nggak usah. Gapapa,” katanya sopan.

“Nanti kamu pakai apa kalau aku ambil?”

Siswi itu melirik temannya, lalu tersenyum malu-malu.

“Gapapa, Kak,” ujarnya cepat.

“Aku sama temanku barengan aja.”

Rahmalia yang mendengar percakapan itu menoleh sedikit. Pandangannya jatuh pada payung yang kini ada di tangan Azmi.

Belum sempat Azmi mengatakan apa pun lagi,

kedua siswi itu sudah keburu berlari kecil menjauh, tertawa pelan sambil menutupi wajah mereka karena malu.

Azmi berdiri terpaku beberapa detik.

Ia menoleh ke arah Rahmalia.

Rahmalia sedang menatapnya—dengan senyum kecil yang jelas penuh godaan.

“Ciee,” ucapnya ringan.

“Dikasih payung sama cewek.”

Azmi terkekeh, agak canggung.

“Haha… aku juga nggak nyangka,” katanya sambil mengangkat payung itu sedikit.

Ia lalu melirik ke arah parkiran, ke arah mobil Rahmalia yang masih jauh di sana.

“Kalau gitu,” lanjut Azmi,

“ayo ke parkiran. Aku anterin kamu. Mumpung ada payung.”

Rahmalia menatapnya, jelas terkejut.

“Serius?” tanyanya.

Azmi mengangguk.

“Iya. Ayo.”

Rahmalia terdiam.

Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak—bukan karena dingin atau hujan, tapi karena rasa canggung yang tiba-tiba muncul. Pipinya menghangat tanpa alasan yang jelas.

“Ayo cepet sini,” kata Azmi sekali lagi, suaranya tetap tenang.

Rahmalia mengangguk kecil, hampir tak terlihat.

“Iya…”

Mereka pun berjalan berdampingan menuju area parkiran.

“Mobil kamu yang itu, kan?” tanya Azmi sambil menunjuk ke arah belakang, ke deretan mobil yang paling jauh dari gerbang.

Rahmalia mengikuti arah jarinya.

“Iya… yang itu,” jawabnya pelan.

Azmi membuka payung.

Payungnya kecil—jelas tidak dirancang untuk dua orang.

Namun Azmi melangkah sedikit lebih ke samping, memiringkan payung agar sisi Rahmalia terlindungi. Bahunya sendiri mulai basah, seragamnya perlahan menyerap air hujan.

Rahmalia menyadarinya.

Ia melirik sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.

Azmi tidak berkata apa-apa.

Ia hanya terus berjalan, mempercepat langkah ke arah mobil Rahmalia—meski itu berarti melewati jarak yang lebih jauh, padahal mobilnya sendiri terparkir jauh lebih dekat.

Rahmalia menelan ludah.

Sesuatu dalam sikap Azmi yang membuatnya diam.

Bukan kata-kata.

Bukan perhatian yang berlebihan.

Tentang bagaimana Azmi memiringkan payungnya, dan bagaimana ia membiarkan bahunya sendiri basah demi memastikan Rahmalia tetap kering.

Dan itu cukup untuk membuat jantung Rahmalia berdebar lebih kencang.

Langkah Rahmalia sedikit melambat, sementara wajahnya menunduk, berusaha menyembunyikan rasa malu yang makin jelas terasa.

Hujan masih turun rapat.

Baru seperempat perjalanan mereka lalui—

sebuah sosok berdiri tepat di depan mereka.

Dio.

Ia berdiri di tengah jalur parkiran, tubuhnya setengah basah oleh hujan. Tangan kirinya masuk ke saku jaket, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah payung. Rambutnya sedikit basah, tetesan air hujan jatuh dari ujung rambutnya ke aspal.

Rahmalia dan Azmi spontan berhenti.

Keduanya sama-sama terkejut.

Tanpa berkata apa-apa, Dio langsung melangkah mendekat ke arah Rahmalia. Tatapannya singkat, ekspresinya sulit dibaca.

Ia mengulurkan payung itu ke depan Rahmalia.

“Nih,” ucapnya singkat.

“Pakai yang aku.”

Rahmalia refleks menerima payung itu, masih sedikit bingung.

“Eh—Dio—” ia baru hendak berkata sesuatu—

namun Dio sudah berbalik.

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari menerobos hujan, meninggalkan mereka berdua di tempat.

“Eh! Terus kamu gimana?!” teriak Rahmalia, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan.

Dio menoleh sekilas sambil tetap berlari.

“Pakai aja!” teriaknya balik.

“Aku bawa motor. Nggak bisa pakai payung!”

Dan dalam hitungan detik, sosoknya semakin menjauh—larut bersama hujan.

Rahmalia berdiri terpaku.

Payung itu masih tergenggam di tangannya.

Hangat.

Ia menunduk, menatap payung tersebut sejenak. Dadanya terasa aneh—bukan berdebar seperti tadi, tapi seperti ada sesuatu yang tertahan.

Azmi berdiri di sampingnya, diam.

Tatapan Azmi mengikuti arah Dio menghilang, lalu kembali ke Rahmalia.

“Hujannya tambah deras,” ucap Azmi pelan, memecah keheningan.

Rahmalia mengangguk kecil.

“Iya…”

Beberapa detik berlalu tanpa siapa pun berbicara.

Lalu Rahmalia tersadar. Pandangannya turun ke payung di tangannya—payung milik Dio.

“Eh…” katanya pelan, lalu menatap Azmi.

“Maaf ya,” lanjutnya agak canggung.

“Sekarang aku sudah ada payung. Cukup sampai sini aja.”

Ia membuka payung itu perlahan.

Azmi terdiam.

Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi tidak menemukan kata yang tepat. Bibirnya sedikit terbuka, lalu kembali tertutup.

“Ya sudah,” ucapnya akhirnya, suaranya tetap tenang.

“Hati-hati ya.”

Rahmalia mengangguk.

“Iya. Kamu juga… hati-hati.”

Nada suaranya lembut, tapi terdengar sedikit berbeda dari biasanya.

Mereka pun berpisah.

Rahmalia melangkah menuju mobilnya, payung terbuka menahan hujan yang masih turun deras. Langkahnya pelan, seolah pikirannya tertinggal di belakang.

Azmi berbalik ke arah sebaliknya.

Namun setelah beberapa langkah, ia berhenti.

Ia menoleh ke belakang—sekilas, memastikan Rahmalia benar-benar sampai ke mobilnya.

Melihat pintu mobil terbuka dan Rahmalia masuk ke dalam, barulah ia kembali berjalan.

Hujan masih turun.

Dan di antara langkah yang menjauh itu,

ada perasaan yang sama-sama tidak terucap—

tertahan,

dan mulai terasa lebih rumit dari sekadar kebetulan.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!