NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Yuna tertawa lepas, suara tawanya memenuhi kamar yang sejak tadi terasa hangat oleh percakapan hati ke hati.

“Ya ampun, Jordan. Baru juga jatuh cinta, sudah lupa adat,” godanya sambil mencubit lengan sepupunya pelan. “Pamer foto calon di depan kakaknya sendiri.”

Jordan meringis manja. “Habisnya kakak ngomel terus. Sekali-sekali aku menang, dong.”

Nenek Rita ikut tertawa kecil melihat dinamika dua cucunya itu. “Sudah, sudah. Kalian ini dari kecil gak pernah berubah. Yang satu suka menggodai, yang satu gampang terpancing.”

Yuna kemudian duduk di kursi dekat ranjang neneknya. Wajahnya yang tadi penuh canda, kini berubah lebih serius. Ia menatap Jordan lama, seperti sedang menilai sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar foto di ponsel.

“Jordan,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih lembut. “Kamu kelihatan berbeda.”

Jordan mengangkat alis. “Berbeda gimana, Kak?”

“Tenang,” jawab Yuna jujur. “Biasanya kamu itu rapi, sopan, tapi… kayak ada jarak. Sekarang, mata kamu hidup. Kayak orang yang akhirnya mendapatkan tempat ternyaman untuk kembali.”

Jordan terdiam sejenak. Lalu tersenyum kecil. “Mungkin karena Kakak benar.”

Yuna menghela napas pelan, lalu menoleh ke Nenek Rita. “Nek, kalau Jordan sudah kelihatan begini, berarti dia serius.”

Nenek Rita mengangguk mantap. “Nenek juga melihatnya.”

Yuna kembali menatap Jordan, kali ini tanpa godaan. “Aku cuma mau bilang satu hal. Kalau kamu benar-benar memilih perempuan itu—Nana, ya?—pastikan kamu gak cuma jadi pelindung waktu dia lemah. Tapi juga jadi pasangan saat dia sudah kuat.”

Jordan mengangguk tanpa ragu. “Jordan mau tumbuh bareng dia, Kak. Bukan cuma menolong.”

Yuna tersenyum, lalu berdiri dan merangkul bahu sepupunya. “Kalau begitu, aku restui. Tapi ingat—kalau suatu hari kamu bikin dia nangis, aku yang pertama datang nyamperin kamu.”

“Hei! Kok ancamannya serius banget sih?” protes Jordan.

“Karena cintanya juga serius,” jawab Yuna ringan, lalu terkekeh.

Suasana kembali mencair. Nenek Rita memejamkan mata sejenak, senyumnya tak luntur. Hatinya tenang—melihat cucu-cucunya tumbuh, jatuh cinta, dan belajar bertanggung jawab atas pilihan mereka.

____

Pintu kamar diketuk pelan, lalu terbuka. Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah tenang—ayah Jordan. Wajahnya teduh, tapi sorot matanya menyimpan banyak cerita yang belum terucap.

“Oh, kamu sudah sampai, Yuna,” sapanya sambil tersenyum. “Dari tadi ayah dengar suara ketawa. Kayaknya rame.”

Yuna menoleh cepat. “Iya, Om. Ini lagi nostalgia masa kecil Jordan yang gampang banget digoda.”

Jordan terkekeh kecil, sementara Nenek Rita melirik ayah Jordan dengan tatapan penuh makna—seolah memberi isyarat bahwa ada hal penting yang bisa dibicarakan.

Ayah Jordan menarik kursi dan duduk di samping Yuna. Ia menghela napas pelan sebelum bicara, suaranya rendah tapi jujur.

“Na, ayah sebenarnya mau cerita sesuatu ke kamu. Tentang Jordan.”

Yuna langsung menegakkan duduk. “Kenapa, Om?”

“Jordan menolak dijodohkan,” kata ayahnya tanpa bertele-tele.

Jordan refleks menoleh. “Ayah—”

Ayahnya mengangkat tangan pelan, menghentikan. “Tenang. Ayah gak marah.”

Lalu ia menatap Yuna lagi. “Awalnya, ayah dan ibu kamu agak kaget. Kamu tahu sendiri, keluarga kita terbiasa menyarankan, bukan memaksa. Tapi Jordan kali ini benar-benar tegas.”

Yuna mengerjap, lalu menoleh ke sepupunya. “Kamu nolak langsung?”

Jordan mengangguk pelan. “Iya, Kak. Jordan bilang jujur. Jordan gak mau menikah tanpa rasa.”

Ayahnya tersenyum tipis, ada kebanggaan yang tak ia sembunyikan.

“Dia bilang satu hal yang bikin ayah diam,” lanjutnya. “Jordan bilang, lebih baik menunggu dan bertanggung jawab pada satu pilihan, daripada menikah cepat tapi hidupnya setengah.”

Yuna terdiam beberapa detik. Lalu ia tersenyum kecil, matanya hangat.

“Pantes,” gumamnya. “Pantes kelihatannya beda.”

Ia menepuk bahu Jordan pelan. “Kamu berani jujur sama diri sendiri. Gak semua orang bisa.”

Nenek Rita ikut bersuara, suaranya lembut tapi penuh keyakinan.

“Ayahnya akhirnya mengerti,” katanya sambil melirik putranya. “Karena cinta itu bukan soal cepat atau lambat. Tapi soal siap.”

Ayah Jordan mengangguk. “Ayah cuma mau satu. Kalau kamu sudah memilih jalanmu, jalani dengan sungguh-sungguh.”

Jordan menatap ayahnya, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Yah. Itu sudah lebih dari cukup.”

Yuna berdiri, merangkul bahu Jordan dan om-nya sekaligus.

“Tenang saja, Om,” katanya ringan. “Kalau Jordan sudah sejauh ini, berarti dia tahu apa yang dia jaga. Ya kan?"

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!