Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Felicia mengikuti langkah Arion yang berjalan begitu cepat memasuki rumah. Kepalanya terus tertunduk menyadari aura dingin yang menyelimuti suaminya.
Setelah pintu tertutup, Arion berdiri menghadap ke arah Felicia dan menatapnya tajam.
Felicia masih terus menunduk. Dirinya seolah menjadi seorang terdakwa yang akan di interogasi. Rasa kesalnya tadi pada suaminya seolah mengabur seiring ketakutannya yang membuat nyalinya menjadi ciut.
"Darimana?!" tanya Arion datar. Namun, dari suaranya terdengar begitu menakutkan bagi Felicia.
Suara Felicia tercekat di tenggorokan. Membuatnya sulit untuk menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Jawab!" Arion mulai menaikan oktaf suaranya.
Felicia terjingkat mendengar sentakan suara yang begitu menggelitik indera pendengarannya. Bibirnya gemetar untuk menjawabnya. Dia tak pernah melihat Arion yang seperti ini. Namun, Felicia tetap berusaha keras untuk menjawabnya.
"A-aku da-dari tempat syuting Kak Fero," ucap Felicia pelan dengan ketakutannya. Bahkan Ia tak berani barang sedikitpun menatap wajah Arion.
Arion menyipitkan matanya mendengar ucapan Felicia. Telinganya terasa panas mendengar panggilan Felicia yang terasa begitu akrab memanggil nama aktor itu.
'sedekat itukah mereka?' gumam Arion dalam hati. Tangannya mengepal erat menahan kekesalannya.
Ada rasa yang Arion tak bisa Arion jelaskan saat melihat Felicia dan aktor itu bersama. Tatapan pria itu yang begitu lembut pada Felicia membuatnya gusar.
Berbeda dengan tatapan pria yang tadi pagi datang.
"Bagaimana Kau bisa mengenal aktor itu? Apa Kau tahu pemberitaan di luar sana tentang dirimu dan aktor itu?!"
Lagi-lagi suara Felicia kembali tercekat. Dia hanya bisa mengangguk saja.
Diamnya Felicia membuat Arion semakin gusar saja. Arion ingin tahu semuanya tentang hubungan apa yang terjalin antara Felicia dan aktor itu.
Arion menghela napas panjang. Menatap sang istri yang terus menunduk di hadapannya. Merasa Dia terlalu keras pada Felicia, Arion melembutkan tatapannya. Arion tak ingin membuat Felicia takut padanya.
Arion telah salah mengizinkan sang istri pergi ke dunia luar. Arion berpikir jika Felicia tak akan mengenal pria lain.
Kata-kata cinta yang Felicia ucapkan setiap hari untuk dirinya membuat Arion yakin jika tidak akan ada pria lain di benak istrinya. Namun, kini Arion merasa seperti sedang terancam. Dia tidak ingin Felicia dekat dengan pria lainnya.
"Mulai sekarang, Aku tidak akan mengizinkanmu keluar dari rumah ini kecuali ke rumah Daniel. Selebihnya jika Kau mau keluar, Aku yang akan menemanimu." Suara Arion mulai melembut.
Felicia langsung mendongak menatap Arion. Kini tatapan suaminya tak semenakutkan tadi. Felicia menggigit bibir bawahnya menekan rasa takutnya.
"Dan satu lagi. Aku tidak mengizinkanmu bertemu dengan aktor itu lagi. Apa lagi menyebut namanya di depanku!" lanjut Arion.
Felicia ingin menjelaskan. Namun dia tahu ini bukanlah saat yang tepat. Felicia tahu jika kemarahan Arion masih belum mereda. Dia ingin menjelaskan lain kali di saat suaminya sudah kembali tenang.
"Sekarang tidurlah, ini sudah terlalu malam!" Arion langsung membalikkan tubuhnya. Dia tak dapat mengontrol dirinya ketika melihat Felicia yang menggigit bibir bawahnya. Entah keinginan dari mana itu muncul, Arion ingin merasakan bibir merah muda milik Felicia.
'ini benar-benar gila! Kenapa Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri?!' Arion Merasa frustasi dengan keinginannya itu.
Ketika Arion hendak melangkahkan kakinya, Felicia menarik ujung baju milik Arion. Membuat Arion kembali membalikkan tubuhnya.
Tatapannya tertuju pada Felicia yang terlihat seperti seekor kucing yang sangat imut.
"Maafkan Aku...."
Dengan lembut, Arion langsung meraup bibir Felicia. Membuat Felicia sangat terkejut tak menyangkanya. Terasa begitu hangat dan sangat lembut. Dan ini terasa begitu nyata.
Arion lalu melepas ciumannya dan berbisik pelan di telinga Felicia. "Ini adalah hukuman kecil dariku. Jika sampai Kau melakukan kesalahan lainnya, maka bersiaplah mendapatkan sebuah hukuman lebih dariku." Arion tersenyum penuh arti. Dia lalu langsung pergi meninggalkan Felicia yang masih terperanjat di tempatnya.
Felicia mengkedip-kedipkan matanya masih tak percaya dengan yang Arion lakukan barusan. "Apa tadi katanya? Ciuman ini adalah hukuman kecil darinya? Huwaaaa... Rasanya Aku ingin melakukan sebuah kesalahan setiap hari agar bisa Kau hukum, Arion," gumam Felicia.
---
Sementara di sisi lainnya.
Cintia sedang berada di sebuah klub malam. Gadis itu merasa begitu frustasi karena Arion sama sekali tak membalas pesan darinya. Cintia sudah berharap jika Arion akan terpancing dengan pesannya yang sengaja ia kirim tadi dan membenci istrinya. Namun sepertinya usahanya hanya menjadi sia-sia. Gadis itu merasa sendirian.
Begitu besar harapan dirinya untuk kembali bersama masa lalunya. Hingga selama bertahun-tahun menikah dengan Kenzo, Cintia tak pernah melihat suaminya yang jelas ada di depannya.
Di saat seperti ini Cintia malah teringat dengan Kenzo yang dulu selalu sabar menghadapinya. Bahkan ketika Ia mengeluh akan cintanya pada Arion, Kenzo dengan sabar mendengarkan.
Cintia teringat pertengkarannya dengan Kenzo di pagi hari itu. Kenzo sempat menyodorkan surat perceraian untuk Cintia tandatangani. Kenzo berkata jika ia melepaskanya dan menyuruhnya untuk mengejar cintanya.
Cintia menangis dalam kesendiriannya.
Hingga tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada seseorang yang duduk tak jauh darinya. Seorang pria yang tidak begitu asing menurutnya.
Ada dua wanita yang duduk di sampingnya dan menggoda pria itu. Pandangan Cintia terus tertuju pada pria itu. Cintia ingin memastikan apakah pria itu adalah seseorang yang ada dalam pikirannya saat ini. Karena mereka terlihat begitu mirip.
Hingga akhirnya pandangan mereka pun bertemu. Pria itu segera mengalihkan pandangannya dan menatap gadis di sebelah kanannya kemudian mencium bibir wanita penggoda itu tanpa tahu malu. Cintia hanya bisa mengalihkan pandangannya ketika melihat hal itu.
Namun, jantungnya terus berdebar menyaksikan pria itu yang mencium bibir wanita di sampingnya. Ada rasa tak rela, sakit dan sebagainya.
Ketika pria itu beranjak membawa satu wanita itu, Cintia ikut berdiri. Dia menghampiri pria itu untuk memastikan bahwa Dia bukanlah pria yang Ia kenal.
"Kenzo?" ucap Cintia ketika berada di hadapan pria itu. Ya, Cintia meyakini jika pria itu adalah Kenzo. Dari wajah, postur tubuh dan yang lainnya terlihat begitu sama. Semua orang yang mengenal Kenzo, pasti akan bilang jika itu memanglah dirinya.
Namun, yang Cintia heran adalah, Kenzo yang sebelumnya terlihat sangat kalem dan tidak suka berada di tempat seperti ini. Apa lagi Kenzo paling anti di sentuh oleh wanita lain. Cintia tak mengerti semuanya.
Pria itu merangkul wanita di sampingnya itu dengan tangannya yang begitu nakal menyentuh bagian tubuh wanita penggoda itu. Membuat Cintia merasa begitu risih melihatnya.
"Apa Aku mengenalmu?" ucap pria itu sedikit menyipitkan matanya menatap Cintia yang tiba-tiba menghampirinya.
Cintia masih ingat betul bagaimana Kenzo. Suara pria itu pun juga sama. Namun anehnya pria itu seolah tak mengenalinya.
"Kau seperti seseorang yang ku kenal," ucap Cintia. Namun, pria itu tersenyum nakal menatapnya, membuat Cintia semakin risih.
"Lagu lama. Katakan saja jika Kau ingin bergabung dengan kami." Pria itu memperhatikan Cintia dari ujung rambut hingga kaki. "Tubuhmu lumayan juga. Bergabunglah dan bersenang-senang dengan kami." Pria itu tersenyum penuh arti.
Cintia menatap jijik pada pria itu. Kenzo tidak akan pernah berkata hal yang menjijikan seperti itu. Kali ini Cintia yakin jika pria di depannya bukanlah Kenzo.
"Jangan bermimpi!" ucap Cintia dan langsung pergi meninggalkan pria itu.
Melihat Cintia yang telah meninggalkan klub malam itu, pria itu langsung menyuruh wanita di sampingnya itu menjauh darinya. Pria itu bergegas berlari menuju toilet dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Bayangan dirinya yang mencium wanita malam tadi membuat perutnya bergejolak luar biasa.