"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.
Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.
Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.
Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Hidup Berjalan
Berbeda dengan Alana, setiap hari jadwal Rayyan penuh. Hidup Rayyan berjalan seperti biasa, hanya saja ada tambahan hal yang harus diurus, yaitu Alana.
Setelah bangun, Rayyan berjalan ke sisi ranjang Alana, mengecek apakah tidur Alana nyenyak dan dia baik-baik saja. Baru setelahnya Rayyan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Rayyan menjalankan sholat subuh di sisi ranjang.
Ketika keluar dari kamar, langkahnya pelan dan memastikan pintu tidak berderit ketika ditutup. Rayyan tahu Alana masih terlelap atau setidaknya, tubuhnya diam dengan mata tertutup.
Dapur kecil apartemen masih gelap. Rayyan menyalakan lampu kuning redup di atas meja makan. Dia menggulung lengan kaosnya, mengambil apron hitam kusam yang selalu dia gantung di sisi kulkas, lalu memakainya sambil menghembus napas panjang.
“Pagi lagi,” gumamnya pada diri sendiri.
Dia memotong daun bawang dengan ritme lambat namun terlatih. Pisau mengetuk talenan dalam pola yang rapi. Rayyan bersenandung kecil, suaranya rendah, tapi hangat.
Sementara dia mengaduk telur di wajan, aroma gurih mulai memenuhi dapur.
Lalu terdengar suara dari kamar. Suara seseorang yang sedang memuntahkan isi lambung keluar.
Rayyan spontan mematikan kompor. Gerakannya cepat, bukan panik, tapi familiar. Dia melepas apronnya dengan satu tarikan, menaruhnya asal di atas meja. Kedua tangannya dia bilas cepat sebelum berjalan cepat menuju kamar mandi.
Begitu memasuki pintu, Rayyan menemukan Alana berdiri membungkuk di wastafel, satu tangan bertumpu, satu lagi memegangi perut. Rambut panjangnya tergerai jatuh ke depan, sebagian menempel di pipi, sebagian hampir menyentuh wastafel.
Rayyan mengambil jepit rambut besar milik Alana dari rak. Dengan hati-hati, Rayyan menjepit rambutnya perlahan agar tidak menghalangi wajah.
Tangan Rayyan yang lain bergerak naik turun perlahan di belakang leher Alana, mengurut titik di bawah tengkuk. Gerakannya pendek dan sabar.
“Mual banget ya? Lo mual-mual terus tiap pagi.”
Alana tidak menjawab.
Begitu Alana berhenti, bahunya melemah, tubuhnya bergeser mundur. Wajahnya sayu, terlihat begitu lelah.
Rayyan mengambil tisu, membasahinya di air hangat, lalu mengusap sudut mulut Alana. “Kotor dikit.”
Alana tidak peduli.
Rayyan meraih kedua tangan Alana. Kedua tangan Alana basah, Rayyan mengelapnya pelan.
Alana tetap tidak menanggapi.
“Masih mual nggak?” tanya Rayyan.
Alana tidak menjawab.
Rayyan meraih bahu Alana dan membawanya kembali ke kamar. Alana bergerak, mengikuti Rayyan dengan pasif.
Rayyan membawa Alana untuk duduk di tepi ranjang.
“Gue ambil minum bentar,” ucapnya sebelum keluar dari kamar.
Tidak lama, Rayyan kembali. Dia membawa segelas air hangat dan sarapan.
Alana masih di tempat yang sama. Tidak bergerak sedikitpun. Tubuhnya tegak tapi kosong, kedua tangannya jatuh di sisi paha. Pandangannya lurus ke lantai, tidak fokus, kosong.
Rayyan duduk di sebelah Rayyan, mengambil segelas air hangat dan mengarahkannya ke bibir Alana. “Minum sedikit.”
Alana membuka mulut tanpa protes, tanpa ekspresi. Rayyan memiringkan gelas perlahan, memastikan dia tidak tersedak.
Rayyan diam, mengamati wajah Alana dari samping.
“Sarapan dulu ya sedikit. Lo udah beberapa hari ini nggak sarapan. Mumpung pagi ini gue di rumah.”
Rayyan menyuapi Alana perlahan. Alana membuka mulut kecil, mengunyah tanpa tenaga.
Alana hanya makan karena dia hidup, bukan karena dia ingin hidup.
Rayyan tidak memaksa. Setiap kali Alana berhenti lama, Rayyan hanya menunggu. Setiap Alana kembali mual, Rayyan kembali mengurut tengkuknya, lalu menunggu dengan sabar.
Satu jam berlalu, Alana baru selesai makan dan minum vitamin.
Rayyan bangkit. “Gue nyalain musik ya, Na. Biar nggak sepi. Nggak papa, kan?”
Alana tidak menjawab. Dia tetap menatap lantai dengan tatapan kosong.
“Oke, diam artinya setuju,” lanjut Rayyan santai.
...***...
Shift Rayyan selesai ketika jam menunjukkan pukul delapan malam. Dia melepas apron hitam yang sudah terkena sedikit noda susu, menggulungnya pelan sambil menepuk-nepuk bagian yang kusut. Aroma kopi yang menempel di kainnya ikut terangkat ke hidungnya
Dari pintu belakang, seorang cowok berkacamata masuk sambil melepas hoodie.
“Bro, gue takeover ya,” ucapnya sambil memakai apron dengan gerakan malas, seperti masih setengah mengantuk.
Rayyan mengangguk kecil. “Oke. Gue balik dulu.”
Rayyan menepuk bahu cowok itu sebelum keluar dari area bar, menyapa beberapa orang yang dikenalnya, lalu mendorong pintu kaca keluar.
Udara malam yang dingin menyentuh kulitnya yang hangat setelah berjam-jam di dekat mesin espresso.
Rayyan baru berjalan beberapa langkah menuju motornya ketika ponselnya berdering pelan di saku jaket. Dia merogohnya dengan satu tangan, melihat layar, lalu menggeser tombol hijau.
“Udah kelar shift lo?” tanya Jerry.
Rayyan naik ke atas motor. “Baru aja keluar. Ngapain lo telepon gue?”
“Sini gih, buru. Tempat biasa.”
“Ngapain?”
“Ngapain? Nongkrong lah. Anak-anak yang lain juga udah disini.”
Suara gaduh terdengar di belakang Jerry. Tawa, suara kursi digeser, dan musik pelan.
Rayyan diam sebentar, kemudian teringat Alana di rumah sendiri.
“Gue balik aja,” jawabnya akhirnya, suaranya rendah.
“Balik mulu lo. Ada apaan sih di rumah? Nih ya, dari kemarin-kemarin kalau gue ajak nongkrong selalu ada alasan. Buruan sini lah.”
Rayyan menghela napas panjang, menunduk sebentar. Tubuh terasa lelah, bukan hanya fisik tapi mentalnya juga. Mungkin, Rayyan memang perlu keluar sebentar untuk mencari udara segar.
Rayyan menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan tepat. Mungkin, satu jam tidak masalah. Lagipula, Alana sudah makan siang karena Rayyan baru pergi saat siang hari.
“Oke, satu jam deh. Kangen gue sama kopinya Keenan.”
“Padahal lo sendiri juga barista.”
“Gue juga pengen dibikinin, nggak gue terus yang bikin.”
Jerry tertawa. “Oh iya sekalian jemput Manda. Cewek gue ngambek, katanya sendirian di sini. Ngerengek mulu dari tadi.”
“Oke.” Rayyan membalas santai.
“Thanks bro. Buruan!”
Telepon terputus.
Rayyan memasang helmnya, menyalakan motor, lalu melaju keluar dari parkiran dengan kecepatan ringan. Lima menit kemudian, Rayyan sampai di depan rumah Manda.
Manda sudah menunggu di luar, berdiri rapi sambil memegang helm pink lembut di kedua tangannya. Perempuan itu tersenyum ketika Rayyan menghampiri.
“Hai,” sapa Manda.
Rayyan tersenyum, menatapnya dari ujung kaki sampai kepala. Rambut disisir rapi, lip tint tipis, cardigan rajut.
Rayyan menyengir tipis. “Wahh… ada yang dandan nih. Mau ketemu gue ya?”
Manda menunduk, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Pipinya sedikit merona. “Enggak juga. Lagi pengen aja.”
Rayyan tersenyum. “Nyokap lo di rumah? Biar gue izin dulu bawa lo keluar.”
“Mama lagi pergi.”
Manda mengangkat helmnya. “Tapi gue udah bilang mau keluar… sama lo.”
Rayyan mendecak sambil tertawa pelan. “Pake nama gue lagi ya.”
“Abisnya gue cuma boleh keluar malem kalo ada lo.”
Rayyan tertawa lagi, geleng-geleng. Dia menurunkan stepfoot. “Ya udah, ayo naik.”
Manda naik motor Rayyan dengan hati-hati. Tangannya memegang pinggiran jaket Rayyan.
Rayyan melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju coffee shop kecil langganan mereka.
Begitu masuk, lonceng kecil di atas pintu berbunyi.
“Hai, Ray,” sapa Keenan dari balik bar, senyumnya ramah seperti biasa. Tangannya mengelap portafilter sambil mengangguk pada Manda.
“Hai.”
Mata Rayyan menyapu isi cafe yang malam itu penuh. “Rame nih. Nggak mau nambah karyawan?”
Keenan tertawa. “Kalau lo mau, gue langsung terima.”
Coffe shop kecil itu milik Keenan. Semua hal diambil alih sendiri oleh dirinya. Keenan hanya punya satu karyawan untuk membantunya membersihkan cafe dan mengantar pesanan.
Rayyan ikut tertawa. “Wahh sorry nih, gue masih ada job di tempat lain.”
Keenan tertawa. “Americano double shot kayak biasa?”
Sejak Rayyan membantu Keenan memperbaiki portafilter yang ngadat, Rayyan menjadi cukup dekat dengan Keenan. Apalagi dia dan teman-temannya sering nongkrong di tempat itu.
“Yoi.”
Rayyan menoleh pada Manda, bertanya dengan tatapan matanya.
“Gula aren, less sugar.”
“Siap,” balas Keenan sambil mencatat pesanan.
Rayyan segera membayar kedua pesanan itu.
“Temen-temen lo duduk di meja pojok,” ucap Keenan sambil memberikan nota pembelian kopi.
“Oke thanks.”
Rayyan menuju meja pojok yang ditunjuk Keenan.
Begitu mereka muncul, Jerry, Thomas, dan Irfan langsung bersorak ramai. Sementara Manda langsung duduk di samping Dinar.
“Akhirnya cowok sibuk ini bisa ikut nongkrong juga,” celetuk Irfan.
Rayyan melepas jaket, menyampirkannya di kursi. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi.
“Kemana aja lo belakangan ini woi?” tanya Jerry.
“Nggak kemana-mana,” jawab Rayyan santai.
Rayyan menyandarkan punggungnya, menutup mata sebentar. Rasa lelah itu baru terasa sekarang.
Thomas menyipitkan mata. “Capek banget muka lo gue lihat.”
“Namanya juga hidup,” jawab Rayyan santai.
Jerry mencondongkan tubuh. “Lo ikut nggak nanti malem?” tanya Jerry.
“Kemana?”
“Biasa.”
“Sama siapa kali ini?”
“Anak gubernur songong itu lagi.”
Rayyan diam sebentar. Sudah lama Rayyan tidak ikut. Adrenalinnya masih hafal rasanya. Lintasan panjang. Lampu-lampu terang. Bau aspal. Sorakan orang ramai. Dan suara mesin yang memekakkan telinga.
“Kelakuan dia makin-makin sejak lo lama nggak ke lintasan. Makin songong aja," lanjut Jerry.
"Tapi gue penasaran, lo selalu ribut sama itu anak."
Rayyan menghela napas pelan. “Gue juga nggak tahu. Dia suka banget cari ribut sama gue. Kayaknya bawaannya kesel banget kalau lihat gue."
“Gimana nggak kesel, orang dia selalu kalah balapan sama lo," celetuk Jerry yang disambut tawa mereka.
"Gimana?” Ikut kan?" tanya Jerry lagi.
“Gue libur dulu,” ucapnya akhirnya.
Jerry mendengus. “Tumben? Biasanya lo paling semangat.”
Rayyan mengusap tengkuknya yang kaku. “Gue harus balik.”
...----------------...