Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Itu saja. Itu janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Tak seberapa lama ada wa masuk di hp Xeline
Dhani : Xel, ini aku Dhani.
Xeline : Iyaa.
Dhani : Gimana? Kamu repot nggak? Mau main ML sama aku?
Ada rasa senang saat Dhani mengajaknya bermain ML.
Xeline : Boleh
Dhani : Aku sudah login. Kutunggu di lobby
Xeline : Iyaa
Tak seberapa lama Xeline telah login di akun aplikasi ML miliknya. Ia mengamati kode ID Dhani dengan seksama. Entah mengapa ia merasa familiar dengan akun yang diberikan oleh Bhima tersebut. Setelah membuka tombol dibagian pertemanan, Xeline sangat kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Apa ini benar? Rasanya tidak mungkin. Ternyata Dhani telah lama mem follow akun ML ku? aku mengira akun ini Anidhz ini milik Arga, teman se geng Bhima juga. Ternyata ini akun ML milik Dhani. Aku tak tahu, apakah aku harus senang atau malah sedih? Senang karena ternyata Dhani, lelaki yang telah lama kusuka telah lama mem follow akun ML miliknya," batin Xeline.
Xeline : Dhani
Dhani : Iya
Xeline : Aku pakai hero apa?
Dhani : Sesukamu Xel
Xeline : Nanti kalau kalah gimana?
Dhani : Kalau kalah ya nggak pa pa. Wong namanya permainan. Pasti ada kalah dan menang
Xeline : Okeyy
Dhani : Aku nanti jadi beban gimana?
Xeline : Biasa aja Xel. Nggak pa pa kok.
Akhirnya mereka bermain game kesukaan mereka yaitu, Mobile Legend.
Xeline : Dhani
Dhani : Iya
Xeline : Maaf ya tadi aku kalah
Dhani : Nggak apa-apa Xel. Biasa aja.
Xeline : Tapi aku nggak enak hati sama kamu
Dhani : Biasa aja. Nggak usah dibawa perasaan. Main roblox aja gimana? Rumah hantu.
Xeline : Iya
Dhani : Ayo login
Xeline : Iya.
Xeline terlihat begitu ceria kali ini saat nge game. Tidak seperti biasanya.
"Lucu sekali ini anak. Ada hantu malah diem aja. Mengigil ketakutan. Nggak berusaha nyari kunci juga. Kapan selesai permainan ini bila seperti. Tapi lucu juga," gumam Xeline sambil tersenyum.
"Sedang nge game bersama siapa? Kelihatan bahagia sekali," selidik Mara pada Xeline, anak perempuannya.
"Dhani Bu."
"Dhani. Bukankah itu nama lelaki yang pernah kamu sukai? Ibu tidak salah orang bukan?" tebak Mara.
"Ya Bu. Benar Dhani yang itu."
"Sekarang kalian berdua sedang dekat?"
"Iya Bu."
"Kok bisa kamu mulai dekat dengan Dhani? Sudah dua tahun lamanya kamu suka, belum pernah bisa dekat sama Dhani."
"Dhani itu temannya Bhima."
"Teman apa?"
"Teman satu geng."
"Maksudnya Dhani itu sahabatnya Bhima?" selidik Mara ingin tahu.
"Iya Bu."
"Lucu sekali."
"Lucu gimana bu?"
"Yang kamu suka siapa? Yang confess ke kamu siapa?"
"Kadang aku mikirnya gini bu. Kenapa ya aku dan Dhani baru bisa saling deket setelah aku menerima cinta dari Bhima. Kadang aku merasa agak gimana gitu Bu. Seakan Tuhan sedang mengujiku
"Anggap saja itu ujian kesetiaanmu pada Bhima."
"Kamu masih suka sama Dhani?" Telisik Mara pada putri sulungnya.
"Setelah sekian lama suka dalam diam dalam waktu sekian lama, apa aku bisa melupakan Dhani begitu saja. Jelas saja tidak bisa Bu. Semua butuh proses. Aku juga sudah menjadi hubungan dengan Bhima. Aku menerimanya karena ia mencintaiku. Aku merasa akan lebih mudah bagiku mencintai seseorang yang telah mencintaiku daripada berharap pada lelaki yang tidak mencintaiku sama sekali. Bukankah begitu nasihat Ibu?"
"Iya. Mbak, kalau bisa tolong juga kurangin nge game bersama Dhani itu. Jujur saja ibu kurang suka dengan sikap kamu yang seperti ini."
"Kenapa Bu?"
"Entah mengapa ibu takut kamu semakin jatuh cinta pada Dhani."
"Ibu lebih memilihmu si Bhima daripada orang yang kau sukai?"
"Ibu bukan membela. Tapi bukankah Bhima itu pacarmu? Seharusnya kamu menjaga hati Bhima dengan tidak nge game dengan sembarang laki laki."
Xeline terdiam mendengar nasihat dari ibunya.
"Mbak, entah mengapa ibu memiliki feeling yang kurang baik pada Dhani?"
"Apa karena status Dhani lebih miskin dari Bhima?"
"Apa Ibu pernah melihat seseorang dari kekayaannya mbak? Nggak kan? Entah kenapa ibu lebih suka dengan ketegasan dan prinsip yang dimiliki oleh Bhima. Tapi ya kembali lagi. Rasa suka dan cinta itu sebuah rasa yabg tidak bisa paksakan dan juga tidak bisa dihentikan begitu saja. Terserah kamu saja. Tapi satu hal yang ibu harapkan dari kamu. Jaga sikapmu dengan baik. Jangan pernah menyiakan ketulusan orang lain dan membuat sakit hati orang yang mencintaimu."
"Andai Ibu tahu, sejak ayah pergi dari rumah, aku tak berani lagi meski hanya menyukai seorang lelaki. apalagi sampai pada tahap mencintai.Ada sebuah ketakutan tersendiri saat aku memiliki perasaan itu. Saat Bhima terlihat begitu konsisten dengan cinta dan sikap yang ditunjukkan olehnya, aku memiliki ketakutan tersendiri. Takut tidak bisa memberikan sebuah cinta dan sikap yang setara dengan apa yang telah diberikan padaku. Kadang saat memikirkan itu semua, dadaku terasa sesak. Ada rasa yang menyelinap begitu saja dalam diriku. Rasa tidak pantas memiliki Bhima serta tidak pantas diperlakukan begitu baik olehnya. Seharusnya Bhima bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku. Entah mengapa, aku ingin menjauh dari lelaki itu agar aku tidak merasa berhutang apapun, terutama berhutang cinta," Batin Xeline.
"Iya. Bu, aku ada perlu sebentar ke rumah Clara."
"Sesore ini?"
"Cuma ambil buku kok bu."
"Iya. Cepet pulang ya sebelum petang."
"Iya."
"Kalo nanti terlalu malam,saya Mamanya Clara untuk menemanimu."
"Iya."
Xeline segera mengambil hoodie warna hitam kesukaannya, meraih kunci motor matic dan bergegas pergi dari rumah. Ia sebenarnya tidak pergi ke rumah Clara, tapi hanya untuk membeli camilan dan sekedar duduk santai di sana. Pikirannya selalu tertuju pada Bhima, lelaki yang baru lima hari ini menjadi boy friend nya.
Di rumah,
Ada wa di ponsel ibu Xeline
Bhima : Selamat sore.
Mara membalas WA tersebut
Mara : selamat sore juga
Ada apa mas Bhima?
Bhima : Xeline ada Bu?
Mara : Xeline sedang ke rumah Clara. Ambil buku katanya. Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan ke Xeline?
Bhima : Nggak ada Bu. Nanti saja kalau di sudah pulang, suruh WA saya
Mara : Iya. Betewe kamu juga kenal dengan Clara.
Bhima : Kenal Bu. Dia sedang dekat dengan sahabat saya. Dhani
Mara : Dhani?
Bhima : Iya
Mara : Kukira mereka pacaran. Tapi saat kutanya hal itu, malah Dhani marah.
Mara : Kamu tanyanya gimana hingga Dhani marah seperti itu?
Bhima : Ya biasa. Kalian berdua kok dekat? Kalian pacaran?
Mara : Lha kamu tanyanya frontal gitu? Ya marah lah Dhani.
Bhima : Menurutku, pertanyaannya biasa saja sih. Mungkin Dhaninya aja yang lagi sensitif
Mara : Iya juga. Tumben hari ini nggak nge game sama Xeline
Bhima : Repot di rumah saudara. Ada acara
Mara : Oohh. Xeline sering nge game ya sama Dhani
Bhima : Sering
Mara : Kamu nggak marah?
Bhima : Nggak lah Bu. Dhani kan sahabat saya
Mara : Oh gitu. Sering ajak Xeline nge game nya, biar dia nggak game sama Dhani.
Bhima : Aku nggak bisa memaksa seperti itu Bu. Takutnya nanti dia bosen cuma game sama aku
Mara : Iya
Xeline sampai di rumah. Mara memberikan hp pada anak perempuannya.
"Tadi ada wa dari Bhima. Bila kamu pulang, suruh ngabarin," jelas Mara.
"Iya."