Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat peringatan
Arzetya melangkah keluar dari gerbang sekolah bersama Zayra, mereka menunggu Rania yang sengaja keluar kelas paling akhir.
Zayra mengintip ke dalam, "belum kelihatan, sepertinya dia tidak berani keluar." Katanya.
Panas matahari terasa menyengat kulit, jalanan terlihat lengang hanya beberapa orang saja yang berani keluar, para pedagang kaki lima pun tidak nampak bertahan di sana.
"Ugh, lama banget sih? mau nginap kali, ya?" kesal Tya, ia mengusap keringat di dahi, lalu memegang tenggorokannya, "mana tenggorokan ku terasa kering, haus..." keluhnya.
"Masih ada hari esok, kita pulang saja Ze!" ajak Zayra.
"Huft, ya sudahlah, ayok." Ucapnya.
Mereka pergi meninggalkan lingkungan sekolah, lalu kembali ke rumah masing-masing.
Dari dalam kelas, Rania mengintip untuk memastikan aman dari pertanyaan Tya. Dilihatnya pintu gerbang sekolah yang sudah sepi. Tak ada siapapun di sana, Rania pun pulang dengan wajah yang agak murung, tas di punggung terasa lebih berat dari biasanya. Teriknya matahari seolah hampir membuatnya meleleh.
Arzetya pulang sekolah dengan wajah yang tidak biasa. Biasanya ia akan pulang dengan berbagai macam keluhan, menonjolkan rasa kesal, dan lelahnya belajar—terlebih bila ada pelajaran matematika, yang menurutnya seperti hal yang paling menakutkan di dunia ini.
Kali ini dia pulang lebih santai, memasang senyum manis pada ibunya. Meletakkan tas dan sepatu ke tempat yang seharusnya.
Tidak ada drama banting tas, membuat Arumni menatap heran. "Wah, wah... ibu melihat pemandangan yang lebih indah dari biasanya." Ucap Arumni.
Tya tersenyum, "ibu pasti lelah mengurus pekerjaan rumah setiap hari kan? aku pijitin, ya?" ucap Tya dengan begitu manis.
Dahinya berkerut, "hmm, ibu curiga. Ada apa nih?"
"Nggak ada apa-apa, ibu. Sebentar ya, bu. Aku akan menganti baju ku dulu, ibu tunggu di sini, sebentar... saja, tunggu aku." Tya berjalan ke kamarnya, ia segera menganti pakaiannya, lalu kembali ke bawah, dengan niat akan membantu ibunya demi menyamarkan kesalahannya.
Arumni merasa curiga, tapi mungkin saja Tya memang sudah berubah.
"Apa yang harus aku bantu, ibu? ah iya, aku akan ke dapur untuk mencuci piring, mengangkat jemuran, lalu menyetrika." Ucap Tya tanpa memberi kesempatan untuk ibunya menjawab. "Ibu lihat, ya... aku sudah bisa melakukan itu semua dengan baik." katanya.
Arumni tersenyum, menatap aneh pada anaknya itu. "Pasti bu Vera yang sudah mengajarkan," pikirnya.
Arumni duduk, membiarkan anaknya itu yang menyelesaikan tugas-tugasnya, sesekali diam-diam mengamati. "Sepertinya anak ku mulai paham." Pikirnya.
Matahari mulai condong ke barat, jalanan mulai dipenuhi orang-orang yang pulang dari kerja. Arumni duduk menikmati hari yang cukup santai, "sore yang indah." Pikirnya.
Ia membuka pintu, menyambut suaminya pulang dengan perasaan bahagia.
Adit mengamati, "sepertinya ada yang beda?" ucapnya setelah melihat wajah Arumni begitu sumringah.
"Masuk lah dulu, nanti ku beri tahu." Katanya.
"Jadi, ada kejutan lain?" tanya Adit yang membuat Arumni bingung.
"Kejutan? memangnya ada kejutan?"
"Ada, kamu pasti akan sangat terkejut. Di mana Tya?" tanya Adit.
"Ayah...." Teriak Tya seraya menghampiri, lalu memeluk sang ayah.
Arumni menatap Adit, bahunya sedikit terangkat. Entah mengapa sepulang sekolah tadi sikapnya berubah.
"Ayah pasti lelah, kan? duduk lah, ayah. Akan aku buatkan minum." Ucap Tya segera menuju dapur, lalu membuatkan teh untuk ayah dan ibunya.
"Ada yang aneh sama anak kita." Lirih Arumni saat Tya sedang membuat teh di dapur.
"Aku tahu," tanggapan Adit yang membuat dahinya berkerut.
"Teh datang..." Tya begitu bersemangat menyuguhkan teh untuk ayah dan ibunya, untuk pertama kalinya. "Untuk mu, ayah. Untuk mu, ibu." Ucapnya sambil memberikan teh buatannya itu.
Adit menerima tehnya dengan tatapan tajam. "Bagaimana sekolah mu, hari ini?" tanya Adit dengan santai, lalu menyesap teh panas itu.
Tya hanya tersenyum paksa, ia mulai bingung bagaimana cara memberi tahu pada ayahnya, agar mau menandatangani surat peringatan itu, tanpa marah padanya.
"Di mana selembar kertas yang bu Vera beri?"
Pertanyaan Adit membuat kelopak mata Tya melebar, "dari mana ayah tahu?" bisiknya.
"Kertas? kertas apa, mas?" tanya Arumni yang tidak langsung dijawab oleh Adit.
"Ayah tahu semuanya." Adit menekankan, "mana surat yang harus ayah tanda tangani?"
"He.. he... maaf ayah." Jawabnya santai, lalu merogoh saku. Surat itu sudah ia siapkan di kantong bajunya, Tya berencana ingin memberitahu ayahnya di waktu yang tepat, ternyata ayahnya sudah lebih dulu tahu.
Arumni menjewer telinga Tya, "jadi maksud kamu begitu baik sama ibu, mengantikan tugas-tugas ibu, cuma buat perlindungan?" ucap Arumni kesal.
"Ampun, ibu..." Tya memegang telinganya yang seperti tarikan benang tipis, terasa panas hingga memerah akibat dijewer ibunya.
"Ayah tidak ingin melihat surat peringatan lagi. Kamu harus lebih fokus pada pendidikan mu. Kamu satu-satunya harapan ayah sama ibu, fokuslah pada pendidikan mu, kelak kamu akan menjadi orang yang sukses." Kata Adit sambil menandatangani surat itu.
"Iya, ayah. Aku berjanji."
"Oke, ayah percaya padamu, tapi jika ini terulang lagi, maka akan ada konsekuensi yang lebih berat."
Tya mengangguk, "iya, ayah."
* *
Rania menyambut kepulangan ibunya dengan wajah murung. Surat peringatan dari bu Vera masih ia genggam di tangannya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya ibunya lembut, lalu mengambil surat itu dari tangan sang anak. "Apa ini, Nia?"
"Maafkan aku, bu."
Winda membuka surat itu, membacanya dengan wajah serius. "Apa ini, Nia? kenapa kamu tidak mengikuti pelajaran?"
Rania menceritakan semua kejadian pada ibunya. Winda tidak marah, ia justru memeluk anaknya. "Lain kali jangan kamu ulangi ya, sayang?" ucap Winda seraya mengusap punggung Rania.
"Iya, bu. Aku berjanji," ucapnya.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/