NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anya Febiola Anggara

"Sebagai anak yang baik, aku harus membantu keluargaku menghabiskan uang," gumam Anya Febiola Anggara. Wanita cantik jelita itu kini tengah menatap jejeran barang branded di sebuah toko ternama di dalam mall.

Matanya yang indah menelusuri deretan kemewahan di hadapannya, bibirnya yang mungil tersenyum lebar, menikmati keindahan yang selalu memanjakannya.

"Inilah caraku berbakti pada keluarga," bisik Anya Febiola, bibirnya melengkung membentuk seringai kecil.

Deretan tas kulit, sepatu bertabur berlian, dan gaun sutra seolah memanggil namanya. Jari-jari lentiknya meraih sebuah berlian sebesar buah ceri, memantulkan cahaya lampu yang membuatnya semakin berkilau.

Dengan senyum manis, Anya mengambilnya dan berdiri di depan cermin, mematut-matut dirinya. Anya membiarkan pantulan dirinya terpukau oleh kilau berlian di lehernya. Sebuah senyum puas merekah di wajahnya. "Sempurna," bisiknya, lalu berbalik menuju konter pembayaran.

"Nona Anya, pilihan yang sangat tepat," sapa seorang pelayan toko dengan senyum hormat. Anya sudah menjadi pelanggan tetap di butik ini, dan para staf tahu betul bagaimana memanjakannya.

"Terima kasih," jawab Anya singkat, menyerahkan kartu kreditnya.

Pelayan toko itu dengan sigap menggesek kartu kredit Anya di mesin pembayaran. Namun, alih-alih lampu hijau yang menandakan transaksi berhasil, justru muncul tulisan "TRANSACTION DECLINED" di layar mesin.

"Maaf, Nyonya, sepertinya kartu Anda tidak dapat digunakan," ujar pelayan itu dengan nada menyesal.

Anya terkejut dan tak percaya. Bagaimana mungkin? Kartu kredit yang ia miliki adalah kartu unlimited dan selama ini tidak pernah bermasalah.

"Tidak mungkin. Coba sekali lagi," pinta Anya pada pelayan tersebut, dengan nada sedikit memaksa.

Pelayan toko itu mengangguk ragu, lalu mencoba menggesek kartu kredit Anya sekali lagi. Suara mesin berdecit, namun layar tetap menampilkan pesan penolakan. "Maaf, Nyonya. Masih tidak bisa."

Wajah Anya memerah. Ia tidak percaya hal ini terjadi padanya. Kartu kredit unlimited miliknya ditolak di butik mewah seperti ini? Ini penghinaan!

"Anda yakin mesinnya tidak rusak?" tanya Anya dengan nada meninggi, berusaha menutupi rasa malunya.

"Mesin kami berfungsi dengan baik, Nyonya. Mungkin ada masalah dengan bank Anda?" jawab pelayan itu sopan, namun mata beberapa pelanggan lain mulai melirik ke arah mereka.

Anya menggigit bibirnya. Ia tidak mungkin menelepon bank sekarang. Ayahnya pasti akan tahu jika ia menggunakan kartu kreditnya untuk membeli berlian semahal ini.

"Baiklah, saya akan coba kartu lain," ucap Anya akhirnya, berusaha menjaga martabatnya. Ia merogoh tas mewahnya, mencari kartu kredit cadangan. Jantungnya berdebar kencang. Bagaimana jika kartu yang ini juga ditolak?

Tangannya gemetar saat menyerahkan kartu berwarna hitam keemasan pada pelayan toko. Kali ini, ia berharap keajaiban terjadi.

Apakah kartu kredit kedua Anya akan berhasil? Apa yang akan ia lakukan jika kartu itu juga ditolak?

Pelayan toko itu menerima kartu hitam keemasan dengan senyum profesional yang sedikit dipaksakan. Ia kembali menggesek kartu itu di mesin. Anya menahan napas, matanya terpaku pada layar. Detik-detik berlalu terasa seperti berjam-jam.

Anya menahan napas, matanya terpaku pada layar yang menampilkan tulisan "TRANSACTION DECLINED" dengan huruf merah menyala.

Pelayan toko itu menatap layar mesin dengan ekspresi yang semakin canggung. "Maaf sekali, Nyonya," ucapnya lirih, nyaris tak terdengar. "Sepertinya kartu ini juga... ditolak."

Anya merasa darahnya berdesir. Wajahnya terasa panas dan dingin secara bersamaan. Ia berusaha keras untuk menjaga ekspresinya tetap tenang, namun getaran di tangannya tak bisa ia sembunyikan.

"Ini... ini tidak mungkin," bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. Ia menelan ludah, mencoba mencari alasan logis. "Mungkin... sistemnya sedang down? Atau... ada kesalahan teknis?"

Pelayan toko itu hanya bisa menunduk, tidak berani menatap mata Anya. Ia tahu betul siapa wanita di hadapannya ini. Anya Febiola Anggara, putri tunggal keluarga Anggara yang terkenal kaya raya. Bagaimana mungkin kartunya bisa ditolak?

"Maaf, Nyonya," sela seorang wanita paruh baya yang tampak seperti manajer toko. "Mungkin Anda ingin mencoba pembayaran dengan uang tunai? Atau transfer bank?"

Anya menggeleng lemah. Uang tunai? Ia tidak pernah membawa uang tunai dalam jumlah besar. Transfer bank? Itu sama saja dengan memberitahu ayahnya tentang pembelian ini.

"Saya... saya akan kembali lagi nanti," ucap Anya akhirnya, dengan suara yang nyaris bergetar. Ia meraih tas mewahnya dan berbalik, berjalan cepat keluar dari butik, meninggalkan berlian yang tadi sangat ia inginkan.

Anya mempercepat langkahnya menyusuri lorong mall, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai mengaburkan pandangannya. Rasa malu dan frustrasi menyesakkan dadanya. Ia, Anya Febiola Anggara, ditolak di butik mewah? Memalukan!

"Ayah... Apa ini perbuatan Ayah?" gumam Anya, amarahnya mulai tersulut. "Apa Ayah memblokir kartuku?"

Namun, ia segera menggeleng. "Tidak... tidak mungkin Ayah tega melakukan ini padaku. Selama ini, Ayah dan Bunda tidak pernah mempermasalahkan pengeluaranku."

Alih-alih terus menyalahkan ayahnya dalam hati, Anya memutuskan untuk mencari tahu kebenaran. Ia harus segera pulang dan menyelidiki mengapa kartu-kartu unlimited miliknya tiba-tiba tidak berfungsi.

Dengan perasaan yang campur aduk antara marah, malu, dan penasaran, ia menekan pedal gas dalam-dalam. Mobil sportnya meraung, melesat di jalan raya dengan kecepatan tinggi, membuat beberapa pengendara lain terkejut dan membunyikan klakson peringatan.

Setibanya di rumah, Anya langsung berlari masuk, mengabaikan sapaan para pelayan yang menyambutnya. Ia menuju ruang kerja ayahnya, namun pintu ruangan itu terkunci.

"Ayah!" teriak Anya sambil mengetuk pintu dengan keras. "Ayah, buka pintunya! Ada yang ingin aku tanyakan!"

Tidak ada jawaban.

Anya semakin panik. Ia mencoba membuka pintu itu dengan paksa, namun tidak berhasil.

Dari dalam ruangan, Bram Dewantara Anggara membuka pintu dengan kasar tatapan mata yang tajam langsung tertuju ke arah putrinya yang sedang berdiri di depannya.

"Ayah! Kenapa semua kartu Anya tidak bisa digunakan? Ayah tahu betapa malunya Anya di mall tadi?!" serbu Anya dengan nada tinggi.

Bram Dewantara Anggara mendengus sinis. "Memangnya apa yang kau beli lagi, Anya? Sampai kartu kreditmu diblokir?"

"Bukan urusan Ayah!" balas Anya dengan nada yang sama tingginya. "Yang penting, kenapa Ayah memblokir kartu Anya tanpa pemberitahuan?! Anya malu, tahu?!"

"Baguslah kalau kau malu," sahut Bram dingin. "Mungkin dengan begitu kau akan belajar untuk tidak menghambur-hamburkan uang seenaknya."

Anya terkejut mendengar ucapan ayahnya. Selama ini, ayahnya tidak pernah mempermasalahkan bagaimana ia menghabiskan uang. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Ayah... kenapa Ayah bicara seperti itu? Apa yang sudah terjadi?" tanya Anya dengan nada yang mulai melembut.

Bram menghela napas panjang, lalu menatap putrinya dengan tatapan serius. "Anya, ada hal penting yang harus Ayah bicarakan denganmu."

Apakah Bram akan mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa kartu Anya diblokir? Apa rahasia yang selama ini disembunyikan oleh keluarga Anggara? Dan bagaimana Anya akan menghadapi kenyataan yang akan diungkapkan oleh ayahnya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!