Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 NODA MERAH.
Cahaya pagi menyelinap perlahan melalui celah tirai kamar, jatuh di lantai seperti garis-garis pucat yang dingin. Udara terasa berat, seakan ikut menanggung beban yang tak terucap.
Ammar duduk di tepi ranjang, tubuhnya kaku. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling menggenggam kuat hingga buku-buku jarinya memucat. Napasnya tidak beraturan pendek dan berat.
Di sampingnya, Sari terbaring diam.
Wajah gadis itu tampak pucat. Kelopak matanya tertutup rapat, namun garis lelah dan sisa air mata masih jelas di pipinya. Rambutnya terurai tak beraturan, menutupi sebagian wajah yang biasanya tampak sederhana namun hangat.
Ammar menatapnya dengan perasaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.
Takut. Menyesal. Hancur.
Ketika Sari akhirnya bergerak pelan, Ammar refleks berdiri. Gadis itu membuka mata perlahan, pandangannya kosong, seperti butuh waktu untuk memahami di mana ia berada.
Tatapan mereka bertemu. Dan detik itu juga, hati
Ammar runtuh sepenuhnya. “Sari…” suara Ammar serak, hampir tak terdengar. “Aku aku minta maaf.”
Sari tak menjawab. Matanya berkedip pelan, lalu beralih memandang ke arah lain. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh satu per satu, membasahi bantal.
Ammar melangkah mendekat, namun berhenti sebelum terlalu dekat. Ia takut. Takut menyentuh. Takut suaranya sendiri.
“Apa yang terjadi semalam… itu salahku,” lanjutnya dengan suara gemetar. “Aku tidak dalam keadaan sadar. Aku membiarkan kemarahan dan kesepianku menguasai diriku.”
Sari tetap diam. Tangannya menggenggam selimut erat, seakan itu satu-satunya pelindung yang ia punya saat ini.
“Aku kesepian, Sari,” Ammar melanjutkan, suaranya pecah. “Rumah ini terlalu sunyi. Istriku tak pernah ada. Aku marah… aku kecewa… dan aku gagal menjadi laki-laki yang seharusnya.” Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Dan aku melukaimu.”
Isak Sari terdengar pelan. Bahunya bergetar, namun ia tetap tak berkata apa-apa. Diamnya jauh lebih menyakitkan daripada amarah.
“Aku tidak mencari pembenaran,” Ammar buru-buru menambahkan. “Aku hanya ingin kamu tahu… aku menyesal. Sepenuh hatiku.”
Ammar mengangkat wajahnya kembali, menatap Sari dengan mata merah. “Aku akan bertanggung jawab,” ucapnya tegas, seolah berjanji pada dirinya sendiri. “Apa pun yang kamu butuhkan. Apa pun keputusanmu nanti.”
Sari akhirnya menoleh. Tatapannya kosong, basah, dan penuh luka. Namun tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya.
“Aku tahu aku tidak pantas meminta apa pun darimu,” lanjut Ammar lirih. “Tapi… beri aku waktu. Aku harus menyelesaikan urusanku. Aku harus memperbaiki semuanya dengan cara yang benar.”
Ia menghela napas berat. “Aku berjanji, Sari. Aku tidak akan lari dari tanggung jawabku.”
Janji itu menggantung di udara.
Sari perlahan menyingkirkan selimut. Tubuhnya bergerak kaku, jelas menahan rasa tidak nyaman. Ammar refleks ingin membantu, namun ragu takut kehadirannya justru menyakitinya lebih jauh.
Dengan tangan gemetar, Sari meraih pakaiannya yang tergeletak di kursi. Ia mengenakannya perlahan, wajahnya menahan sakit, namun rahangnya mengeras menolak jatuh lebih lemah.
Ammar menyaksikan semuanya dengan dada terasa diremas.
“Sari…” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Sari berdiri. Kakinya sedikit goyah, namun ia tetap melangkah. Setiap langkahnya seolah menghantam nurani Ammar tanpa ampun. Ia melewati Ammar tanpa menoleh.
Tak ada kata.
Tak ada tangisan keras.
Hanya diam yang memekakkan.
Pintu kamar tertutup perlahan di belakang Sari.
Klik.
Ammar berdiri terpaku. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya terengah. Dadanya sesak, matanya panas.
Di benaknya, satu kenyataan menghantam tanpa ampun...
Separai putih yang selama ini ia jaga sebagai kehormatan seorang gadis desa… kini telah ternoda oleh tangannya sendiri.
Dan noda itu akan menghantuinya seumur hidup.
Ammar terduduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan.
Tak ada lagi alasan.
Tak ada lagi pembelaan.
Yang tersisa hanyalah satu kewajiban bertanggung jawab, apa pun risikonya.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
lembek🙃
kaulah ,...bodoh!
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...