Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepercayaan untuk Kirana
Sudah tiga bulan sejak hari pertama Kirana mengantarkan sepuluh porsi ayam goreng mentega. Sekarang, pesanan rata-rata sudah mencapai lima puluh porsi sehari, kadang lebih kalau ada arisan atau rapat dadakan di kantor suami Bu Anita.
Ruko kecil yang dulu cuma ada kompor gas mini dan talenan retak sekarang sudah berubah jadi dapur mini yang lumayan rapi.
Ada dua kompor gas besar (salah satunya donasi dari Bu Anita), rak stainless bekas yang dibeli murah di pasar loak, dan lemari es kecil yang cukup buat nyimpen ayam sama sayur segar.
Kirana bangun jam tiga pagi sekarang jadi rutinitas. Bukan lagi karena deg-degan, tapi karena excited. “Gio, bangun Nak. Hari ini kita bikin nasi box spesial!” serunya sambil nyalain lampu.
Gio yang sekarang sudah lebih terbiasa, langsung duduk sambil mengucek mata. “Spesial apa, Ma? Yang ada telur mata sapi di atasnya?”
Kirana ketawa, “Bukan, yang ada ayam rica-rica sama telur balado. Bu Anita bilang karyawan pada request menu pedes.”
Gio langsung semangat. Dia sekarang punya “jabatan resmi” di dapur: asisten potong bawang. Potongnya sih pakai pisau plastik mainan, tapi setidaknya dia merasa ikut berkontribusi. “Aku potong bawang banyak-banyak ya, Ma.” katanya dengan logat cadel khas anak kecil sambil menggerak-gerakan pisau plastik ke udara.
Kirana geleng-geleng sambil nyengir, “Hati-hati, Chef Gio. Nanti bawangnya malah kabur karena takut sama kamu.”
Pagi itu pesanan masuk lebih banyak dari biasa. Bu Anita telpon jam setengah enam. “Kir, hari ini ada pesanan besar. Delapan puluh porsi. Ada rapat besar sama klien dari luar kota. Bisa nggak?” Suara Bu Anita agak terburu-buru.
Kirana langsung menghitung dalam hati: bahan, waktu, tenaga. “Bisa, Bu. Tapi saya butuh bantuan tambahan. Saya telepon Mbak Sari sama Mbak Yuni ya,soalnya Siska hari ini izin tidak bisa membantu ?”
Bu Anita langsung setuju, “Silakan. Aku transfer dulu separuh uangnya sekarang biar kamu bisa belanja bahan.”
Setelah telpon ditutup, Kirana langsung gercep. Dia kirim WA ke Mbak Sari dan Mbak Yuni, dua tetangga yang sebulan terakhir sering bantu-bantu kalau pesanan numpuk.
Mereka berdua datang dalam waktu tiga puluh menit, masih pake daster tapi sudah siap kerja. “Wah, Bu Kirana jadi bos besar nih,” canda Mbak Sari sambil ikat rambut.
“Delapan puluh porsi? Kayaknya kita harus nyanyi biar semangat,” tambah Mbak Yuni sambil tertawa.
Dapur langsung rame. Kirana bagi tugas: Mbak Sari tumis bumbu dasar, Mbak Yuni goreng ayam dan telur, Kirana sendiri yang atur rasa dan packing.
Gio duduk di pojok, main puzzle yang dibeli Bu Anita minggu lalu. “Ma, kalau aku bantu boleh?” tanyanya.
Kirana angkat jempol menanggapi ucapan putranya , “Boleh banget. Tapi cuma tutup kotaknya ya, jangan ambil ayamnya.” .
Gio nyengir lebar, iya ,ma!”
Proses masak berjalan mulus, meski agak repot . Ada satu momen lucu pas Mbak Yuni salah tuang cabe rawit ke wajan yang seharusnya buat anak-anak karyawan.
“Ya ampun, ini pedesnya level dewa!” katanya sambil kipas-kipas mulut.
Kirana buru-buru ambil wajan itu, “Ini kita kasih label ‘Extra Pedas – Buat yang berani mati’ aja.” Semua ketawa ngakak, suasana dapur jadi lebih ringan.
Tepat jam sepuluh pagi, semua kotak nasi box sudah rapi di kardus besar. Bu Anita datang sendiri menjemput.
Dia masuk ke dapur, langsung mencium bau harum rempah menyambut.
“Kirana… ini bau apa sih? Kok kayak restoran Padang kelas atas?” tanyanya sambil mengendus-ngendus.
Kirana nyengir malu-malu, “Biasa aja, Bu. Cuma tambah daun jeruk sama serai lebih banyak.”
Bu Anita langsung ambil satu kotak, buka, cicip. Matanya langsung membesar. “Ini… ini enak banget. Aku yakin klien pasti suka. Kamu yakin nggak mau aku kasih kenaikan harga? Ini levelnya udah beda.”
Kirana geleng kepala, “Belum, Bu. Yang penting pelanggan senang dulu. Nanti kalau udah stabil, kita naikin pelan-pelan.”
Bu Anita menghela napas, “Kamu ini terlalu baik. Orang lain pasti langsung minta naik harga.”
Kirana cuma tersenyum kecil, “Saya dulu sering dimarahin mertua karena masak kurang garam. Sekarang saya belajar, yang penting hati senang masak, rasanya pasti enak.”
----
Sore harinya, Bu Anita telpon lagi. Suaranya excited banget. “Kir! Kliennya suka sekali! Mereka bilang ini catering paling enak yang pernah mereka makan di kota ini. Bahkan minta kontrak rutin, dua kali seminggu, minimal seratus porsi!” Kirana sampai terdiam.
Gio yang lagi main di sebelah langsung loncat, “Mama hebat! Mama hebat!”
Kirana peluk anaknya erat-erat, air matanya hampir jatuh. “Alhamdulillah, Nak…”
Malam itu Bu Anita datang ke ruko. Bukan cuma bawa uang bagi hasil, tapi juga bawa kertas kontrak sederhana.
“Kir, aku mau ngomong serius,” katanya sambil duduk di kursi plastik yang sekarang sudah ada empat biji. “Aku nggak mau lagi jadi orang tengah terus. Kamu yang pegang semuanya. Aku cuma bantu promosi dan ambil pesanan dari kantor suamiku. Sisanya kamu urus. Namanya Dapur Kirana, bukan lagi katering Bu Anita.”
Kirana kaget. “Tapi Bu… saya nggak punya apa-apa. Nggak punya rekening bisnis, nggak punya NPWP, apalagi izin usaha.”
Bu Anita tersenyum sabar, “Itu bisa diurus pelan-pelan. Yang penting sekarang, kamu percaya diri. Aku lihat kamu bisa. Kamu rajin, masakannya enak, dan yang paling penting: kamu punya hati. Karyawan-karyawan di kantor suamiku sampai berebut mau makan kotak dari kamu. Mereka bilang, ‘Ini kayak masakan ibu sendiri’.”
Kirana menunduk. Dia ingat dulu waktu masih tinggal sama mertua, masakannya sering dibilang biasa aja, bahkan kadang dibuang karena “kurang mewah”. Sekarang orang-orang malah bilang enak.
“Saya… saya takut gagal, Bu,” bisiknya pelan.
Bu Anita memegang tangan Kirana, “Semua orang takut gagal. Tapi lihat Gio kamu. Dia bangga sama Mama-nya. Itu sudah cukup buat alasan maju.”
Akhirnya Kirana mengangguk. “Baik, Bu.
Saya coba. Tapi tolong dampingi ya, saya masih banyak yang nggak tahu.” Bu Anita ketawa, “Tentu. Aku jadi penasehatmu sekarang. Gratis, asal kamu traktir ayam goreng mentega seminggu sekali.”
Besoknya, Kirana mulai berubah. Dia beli buku catatan kecil, mulai catat semua pengeluaran dan pemasukan. Dia juga mulai bikin daftar menu mingguan biar pelanggan nggak bosen. Ada ayam goreng mentega, ayam rica-rica, opor ayam, rendang sapi (yang ini baru pertama kali dicoba, untungnya enak), dan menu sayur variasi.
Gio ikut bantu bikin nama menu lucu. “Ini namanya Ayam Galak Rica-rica, karena pedesnya galak!” katanya sambil gambar ayam marah ala anak kecil di kertas.
Pesanan makin bertambah. Bukan cuma dari kantor suami Bu Anita, tapi mulai ada dari tetangga, temen Bu Anita, bahkan dari grup WA arisan ibu-ibu komplek.
Satu hari, ada pesanan ulang tahun anak kecil: lima puluh porsi plus kue tart kecil. Kirana panik, tapi akhirnya berhasil.
Ketika sedang mengirim pesanan ,ibunya anak itu bilang, “Masakan Mbaknya enak sekali. Kayak masakan rumah banget, nggak kayak katering biasa yang hambar.”
Kirana merasa bersyukur serta bangga ,bahkan sampai pulang ke ruko ia bernyanyi sambil senyum-senyum sendiri.
Tapi bukan berarti semuanya mulus. Ada hari-hari berat. Pernah gas habis pas lagi goreng ayam banyak, Kirana sampai pinjem gas ke tetangga.
Pernah juga ayamnya over cook karena lupa matiin kompor gara-gara Gio jatuh dan nangis. Kirana hampir nangis juga waktu itu. Tapi Gio peluk kakinya, “Nggak apa-apa, Ma. Besok bikin lagi. Mama kan hebat.”
Dari mulut anak kecil itu, Kirana dapat kekuatan lagi.
Satu bulan setelah kontrak resmi, Kirana akhirnya punya rekening bisnis atas nama Dapur Kirana.
Bu Anita bantu urus ke bank, bahkan bantu daftar NPWP. “Ini baru awal, Kir. Nanti kalau besar, kita buka cabang,” candanya.
Kirana cuma geleng-geleng, “Cabang? Wah, mimpi dulu kali ya, Bu.”
Malam itu, setelah Gio tidur, Kirana duduk di depan ruko.
Lampu jalan kuning temaram menyinari wajahnya. Dia pegang buku catatan kecilnya, lihat angka-angka yang sekarang sudah lumayan. Bukan kaya mendadak, tapi cukup buat makan, sekolah Gio, dan sisihkan sedikit. “Terima kasih, Ya Allah,” gumamnya pelan. “Dan terima kasih Bu Anita… terima kasih Gio… terima kasih spatula yang setia.”
Kirana tersenyum kecil. Dulu dia kabur dari rumah mertua dengan tangan hampa, cuma bawa tas plastik berisi mainan Gio dan segenggam beras. Sekarang, dia punya dapur sendiri, punya pelanggan yang percaya, punya mimpi yang mulai terasa nyata.
Besok pagi, dia akan bangun lagi jam tiga. Bukan karena takut, tapi karena semangat. Karena sekarang, Kirana bukan lagi
“Ibu rumah tangga yang kabur”. Dia adalah Kirana, pemilik Dapur Kirana. Dan itu, rasanya jauh lebih enak daripada ayam goreng mentega manapun.