NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Rahasia di Layar Ponsel Dibalik Kebenaran

POV Zea

Tangan itu terasa kasar.

Bukan kasar yang menyakitkan, tapi kasar yang maskulin. Ada bekas luka kecil di pangkal jarinya, seolah tangan ini terbiasa memukul benda keras atau bekerja berat. Sangat kontras dengan penampilannya yang terlihat seperti kutu buku pemalas yang jarang bergerak.

Aku menggenggam tangan Callen erat-erat, membawanya menembus kerumunan siswa di lapangan sekolah. Jantungku berdegup kencang, nyaris melompat keluar dari rusuk.

Apa yang kulakukan? teriak otak logisku. Zea, kamu itu primadona sekolah. Kenapa kamu malah menarik cowok ini  di depan ratusan orang?

Di belakangku, aku bisa mendengar bisik-bisik. Rara dan Dinda pasti sedang melongo. Anak-anak basket pasti sedang menatap heran. Tapi aku tidak peduli.

Aku menoleh sekilas ke belakang. Callen terlihat bingung, wajahnya datar tapi ada rona merah tipis di telinganya. Dia pasrah saja kuseret.

Mereka semua tidak tahu. Mereka semua buta.

Mereka melihat Callen sebagai "si pendiam yang tidak penting". Tapi aku? Sejak kemarin sore, aku tahu bahwa cowok yang sedang kugandeng ini adalah sebuah misteri yang jauh lebih menarik daripada drama sekolah mana pun.

Pikiranku melayang kembali ke kejadian kemarin sore. Di depan minimarket.

(Flashback: Kemarin Sore)

Callen baru saja pergi. Punggungnya menjauh seiring kayuhan sepeda Polygon-nya, menghilang di tikungan jalan komplek.

Aku, Rara, dan Dinda masih berdiri terpaku di teras minimarket. Di depan kami, Tante Genevieve—wanita yang lebih pantas jadi model Vogue daripada ibu anak SMA—masih tersenyum memandangi jalan yang dilalui Callen.

"Tante... serius itu anaknya Tante?" tanya Rara akhirnya, tidak bisa menahan diri. "Maksudku... Tante cantik banget, bule banget. Terus Callen... ya, dia ganteng sih kalau dilihat deket, tapi..."

Rara bingung mencari kata yang sopan untuk bilang 'Callen itu suram'.

Tante Genevieve tertawa renyah. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan bermerek Hermes miliknya.

"Cal memang begitu, Sayang. Dia suka menyembunyikan dirinya," ucap Tante Genevieve. Nada suaranya berubah, dari yang ceria menjadi sedikit sendu, tapi penuh kebanggaan. "Kalian teman kelompok pertamanya lho di SMA ini. Biasanya dia selalu nolak kalau disuruh kerja kelompok."

Aku tertegun. "Masa sih, Tan? Tapi kemarin dia pinter banget jelasin soal drainase. Analisisnya tajam."

Mata biru Tante Genevieve berbinar menatapku. "Ah, kamu sadar ya?"

Dia melangkah mendekatiku, lalu memberi isyarat agar Rara dan Dinda juga mendekat. Seperti anak SMA yang mau berbagi gosip rahasia.

"Sini deh. Tante kasih lihat sesuatu. Tapi janji jangan disebar ya? Cal bisa ngamuk kalau tahu Tante pamerin ini," bisiknya konspiratif.

Kami bertiga mengangguk antusias. Siapa yang tidak suka rahasia?

Tante Genevieve mengeluarkan ponselnya lagi, menggeser layar beberapa kali, lalu menyodorkannya ke depan wajah kami.

"Ini Cal, setahun yang lalu. Waktu liburan Summer Break di Paris, sebelum kami pindah permanen ke sini."

Aku menahan napas.

Di layar ponsel itu, ada sebuah foto candid. Latar belakangnya adalah menara Eiffel yang menjulang di kejauhan. Tapi bukan menaranya yang membuat mataku terbelalak.

Itu Callen. Tapi bukan Callen yang kulihat di sekolah.

Di foto itu, Callen mengenakan hoodie hitam oversized dari brand streetwear mahal. Dia sedang duduk di tepi pagar batu, memegang segelas coffee cup. Wajahnya tidak tertutup poni lempar yang berantakan seperti biasa.

Rambutnya ditata rapi dengan gaya curtain bangs (belah tengah) yang modern. Dan warnanya...

Biru elektrik.

Rambutnya dicat warna biru terang yang menyala, membuatnya terlihat seperti idol K-Pop atau karakter anime yang hidup di dunia nyata. Dia sedang menoleh ke samping, rahang tegasnya terekspos jelas. Matanya tajam, percaya diri, dan... luar biasa tampan.

"Gila..." desis Dinda tanpa sadar. "Ini Callen? Seriusan?"

"Ganteng banget woy!" pekik Rara tertahan. "Kenapa di sekolah dia kayak gembel?!"

Aku tidak bisa berkata-kata. Jantungku seperti berhenti berdetak sesaat. Cowok di foto itu memancarkan aura pemberontak, genius, dan karismatik yang sangat kuat. Jauh berbeda dengan cowok pendiam yang tadi makan es krim bersamaku.

"Waktu itu dia lagi fase 'pemberontak'," kekeh Tante Genevieve, mengusap layar ponselnya sayang. "Dia pintar, Nak Zea. Sangat pintar. Dia juara karate, dia menguasai tiga bahasa, dan nilai akademiknya waktu di sekolah internasional selalu sempurna. Tapi... dia lelah."

Tante Genevieve menatapku lekat-lekat.

"Dia memilih untuk jadi 'biasa' supaya dia bisa tenang. Dia sengaja ngacak-ngacak rambutnya, pake kacamata netral, dan nahan diri di kelas. Tapi sebagai Ibu, Tante tahu... dia kesepian."

Kalimat itu menohok dadaku.

Dia memilih untuk jadi biasa.

Tiba-tiba, semua kepingan puzzle di kepalaku menyatu. Cara dia menjelaskan peta, cara dia melihat masalah gerbang sekolah (yang sempat kulihat sekilas), sikap tenangnya... itu bukan sikap orang bodoh. Itu sikap orang jenius yang sedang menahan diri.

"Tolong ya, Nak Zea, Nak Rara, Nak Dinda," pinta Tante Genevieve lembut. "Jangan biarin Cal sendirian terus. Tarik dia keluar dari guanya. Dia butuh teman yang tulus, bukan yang cuma manfaatin kepintarannya atau uang papanya."

Aku menatap foto Callen berambut biru itu sekali lagi.

Saat itu juga, aku membuat janji dalam hati.

(Kembali ke Masa Sekarang)

Musik senam SKJ mulai berdentum keras, membuyarkan lamunanku.

Aku melepaskan tangan Callen saat kami sudah sampai di barisan. Dia berdiri di belakangku, sedikit canggung, membetulkan letak kacamatanya.

Aku berbalik menghadap depan, bersiap mengikuti gerakan instruktur. Tapi senyum di bibirku tidak bisa hilang.

Sekarang aku tahu rahasianya. Callen bukan "Jenius Rendahan" seperti yang orang-orang pikirkan. Dia adalah permata yang tertutup debu, dan dia sendiri yang menaburkan debu itu.

Tapi maaf ya, Cal. Aku nggak akan membiarkanmu sembunyi selamanya.

Mulai hari ini, aku, Zea, akan menjadi orang yang menggandengmu. Bukan karena kasihan, bukan karena tugas kelompok. Tapi karena aku ingin menjadi satu-satunya orang—selain Rafan dan keluargamu—yang tahu betapa berkilaunya dirimu yang sebenarnya.

Aku melirik ke belakang lewat bahu. Callen sedang meniru gerakan pemanasan dengan kaku, wajahnya datar tanpa ekspresi seolah ingin segera pulang.

Tunggu aja, Cal, batinku gemas. Suatu hari nanti, aku bakal bikin kamu nunjukin wajah 'Rambut Biru Paris' itu lagi. Khusus buat aku.

"SATU! DUA! TIGA! EMPAT!"

Aku berteriak mengikuti hitungan senam dengan semangat berapi-api, membuat Rara dan Dinda di sebelahku saling pandang keheranan.

Hari Jumat ini terasa sangat cerah.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!